Pangeran Ular Dan Sang Putri Yang Hilang

Pangeran Ular Dan Sang Putri Yang Hilang
Perjalanan


__ADS_3

"Hahaha.. lucunya.. mana ada ular takut ular..?? selain kamu.." ledek pangeran Candra.


"Aku kan ular kecil yg imut yg baru menetas.. Dinda yg kecil dan imut ini tidak akan berdaya menghadapi ular hitam besar yg ganas.." terang putri Hanindya membela diri dengan manjanya.


"Kata siapa? buktinya kemarin ada ular besar yg ganas yg di kalahkan oleh ular yg baru menetas itu" kata pangeran Candra sambil melirik-lirik putri Hanindya menyindir.


"Mana ada.. yg ada aku di pukul hingga berdarah-darah.." balas sang putri tidak mau kalah.


"Baiklah.. ular kecilku yg imut.. mari kita teruskan perjalanan kita.." ajak pangeran Candra.


"Hmmm.. Baiklah.." kata putri Hanindya dengan Wajah yg berubah lesu lagi.


"Semangat dinda.. jangan hawatir akan hal yg tidak-tidak.. aku akan slalu bersamamu.." hibur pangeran Candra yg melihat perubahan ekspresi kekasihnya itu.


"Ya Kanda.." jawabnya lagi.


" Mau kanda gendong..?" kata pangeran Candra melihat gadis kecilnya sudah sangat kelelahan. Karna perjalanan juga masih lumayan jauh.


"Tapi aku pasti berat.." tolak putri Hanindya malu.


"Tak apa ular kecilku yg imut,katanya baru menetas,pasti cuma seperti kapas saja.. Kanda juga pernah kamu gendong kan saat kanda terluka..?" candanya.


"Hmmm ya habisnya aku mana tau kalau itu adalah kanda Candra.. huh" jawabnya sedikit tersipu malu karna mengingat kejadian lalu.


"Kenapa belum dekat juga kanda?? kurasa kita sudah berjalan sangatlah jauh,seperti akan menembus hutan saja" tanya putri Hanindya heran.


"Yah..habisnya dinda tidak mau menggunakan jalan pintas,jadi lumayan jauh kan..?" protes sang pangeran dengan sedikit bercanda.


"Aku hanya ingin menikmati pemandangan ini bersama kanda" ujar sang putri.


"Dengan senang hati ular kecilku,naiklah..!" pinta pangeran Candra sambil merendahkan tubuhnya menawarkan diri untuk menggendong putri Hanindya.


Dengan malu-malu putri Hanindya naik ke punggung kokoh pemuda itu. Karna memang dia benar-benar sudah sangat lelah sekali berjalan sangat jauh. Ia mengalungkan tangannya di leher kekasihnya.


dag dig dug


Jantungnya berdegup sangat cepat,tidak ada jarak di antara mereka sekarang,ia dapat menghirup aroma tibuh kekasihnya bahkan putri Hanindya samar-samar juga mendengar detak jantung dan nafas kekasihnya itu.


Sesekali rambut pangeran Candra yg sangat panjang itu menyapu wajah putri Hanindya. Namun putri Hanindya sama sekali tidak terganggu dengan adanya itu. Dia sangat bahagia dan nyaman dapat bersama dengan seseorang yg sangat ia cintai itu.


"Apa aku sangat berat??" tanya putri Hanindya pada pangeran Candra setelah beberapa saat mereka terdiam.

__ADS_1


"Tidak sama sekali dinda.. kau sangat ringan.. selanjutnya kau harus makan yg sangat banyak lagi.." Jawab pangeran Candra sambil sedikit bercanda.


"Kenapa aku harus makan yg banyak? apa kanda ingin aku menjadi b*b*???" Kata putri Hanindya kesal.


"Tidak mungkin dinda.. kau kan ular.. tidak mungkin akan menjadi b*b* lagi.." kata pangeran Candra mencandai kekasihnya itu.


"Astaga kanda sangat menjengkelkan sekali.." jawabnya makin kesal.


"Hahaha.." Pangeran Candra tertawa gemas pada gadis kecilnya itu.


Setelah itu mereka diam beberapa saat,entah apa yg di fikirkan satu sama lainnya.


"Kenapa semua jadi diam..?" tanya pangeran Candra lirih.


Lalu tiba-tiba putri Hanindya bertanya suatu hal pada pangeran Candra.


"Kanda.. apa kita akan segera menikah jika mendapat restu dari Ayah kanda Candra??" tanya sang putri penasaran.


"Ya dinda.. apa kau masih keberatan soal itu..?" tanya pangeran Candra,karna hawatir kekasihnya belum siap.


"Tidak kanda.. tapi aku belum ingin tinggal di istana.. bagaimana dengan nenekku? dia tidak memiliki siapa-siapa selain aku.." kata sang putri sedih sambil menyandarkan kepalanya di punggung kekasihnya itu.


"Jangan hawatir.. kita bisa tinggal di rumah nenek untuk beberapa lama. Kita juga bisa membawa dayang dari istana untuk menjaga nenek jika kita sedang berkunjung ke istana..!". Jelas pangeran Candra.


"Tentu saja dinda.." kata pangeran Candra lagi.


"Tapi kau calon Raja kanda.. apa tidak apa seperti itu?" kata sang putri.


"Tenanglah dinda.. ayahanda masih duduk di singgasananya sekarang,,pasti ayahanda juga akan mengerti.."


"Baiklah terserah kanda saja". jawab sang putri pasrah.


"Kanda.. turunkan aku sekarang.." pinta sang putri.


"Ada apa..?" tanya pangeran Candra penasaran karna tiba-tiba kekasihnya ingin turun.


"Tidak mengapa.. Aku sudah tidak lelah lagi kanda.." Jawab sang putri.


"Baiklah.."


Kemudian pangeran Candra menurunkan putri Hanindya dari gendongannya itu.

__ADS_1


"Sebentar lagi kita akan sampai dinda.. Bersabarlah.." kata pangeran Candra penuh kelembutan.


"Ya kanda"


Itu yg di ucapkan putri Hanindya,tapi hati dan fikirannya sangat berdebar-debar mendengar itu semua.


Pangeran Candra menggenggam erat tangan kekasihnya itu yg sudah sangat ber keringat karna menahan gugupnya yg berlebihan.


Mereka menyusuri hutan dengan penuh canda dan tawa,hingga sampailah mereka agak jauh dari mulut goa yg dipenuhi oleh berbagai macam ular yg sangat ganas.


"Apa kita sudah hampir sampai kanda???" tanya putri Hanindya lagi


"Ya.. kita sudah sampai jangan gugup oke.." Jawab pangeran Candra.


"Baiklah kanda..",sambil celingak-celinguk melihat sekitarnya.


"Di mana istananya?? kenapa tidak ada apapun disini..?" pikir putri Hanindya yg sangat heran. Karna hanya ada pepohonan saja di tempat itu,sama sekali tidak ada keberadaan sebuah istana.


"Dimana kanda,,..?". Lalu putri Hanindya bertanya lagi karna tidak mendapat jawaban saat melihat sekitar hutan itu.


"Di depan sana dinda.. lihatlah..!" sambil jari telunjuknya ia arahkan ke arah sebuah goa.


Putri Hanindya melihat arah yg di tunjuk oleh pangeran Candra. Ia sangat terkejut saat melihat banyaknya berbagai macam ular di sekitar mulut goa itu.


"Arrggh.. Kanda.. kenapa banyak sekali ular di sini..??" jerit putri Hanindya ketakutan.


Tanpa sadar ia memeluk pangeran Candra Lagi.


"Dinda.. tenanglah.. mereka adalah ular penjaga di istana ini.. jangan takut oke.." kata pangeran Candra seraya mengusap kepala bagian belakang putri Hanindya yg masih memeluknya.


Pangeran Candra melihat ke arah para penjaga pintu gerbang istana itu. Ia mengisyaratkan sesuatu pada mereka semua. Seketika para penjaga merubah wujudnya menjadi manusia dengan seragam keprajuritan.


"Hormat kami pangeran,putri.." kata mereka serempak membentuk barisan.


"Lihatlah dinda.. Mereka sama seperti kita.. jangan takut..!" kata pangeran Candra dengan sikapnya yg sangat lembut.


"Sejak kapan pangeran bisa lembut dengan seorang wanita"


Dalam benak para penjaga itu. Mereka sangat heran dengan perubahan sikap pangeran mereka. Biasanya ia akan sangat dingin dan sekalipun tidak akan sudi di sentuh seorang wanita apalagi dipeluknya,,kecuali adik dan ibundanya saja.


* Bersambung dulu ya friends..

__ADS_1


* Jangan lupa like and coment atau kasih saran juga sangat boleh ya..


* Makasih yg udah mampir di ceritaku lagi 😘😘


__ADS_2