
Pangeran Wiraka kesal luar biasa di buatnya. ia kehilangan jejak gadis itu,padahal ia sangat penasaran dengan kalung yg di kenakan gadis kecil itu.
Ia memaki pangeran Candra dengan sebalnya.
"Awas kamu Candra...!!!"
"Berani-beraninya membawa dia kabur,,,sedikit lagi aku bisa mengambil kalung itu darinya"
"Arrrgghhh..."
"Aku harus tanyakan tentang kalung itu pada ibunda ratu sekarang,,pasti ibunda mengetahui sesuatu.". batin pangeran Wiraka.
"Tenanglah pangeran,masih ada banyak waktu,lain kali kita akan menemukannya lagi". kata salah satu bawahannya.
Pangeran Wiraka hanya mengabaikannya dan langsung memberi perintah untuk kembali.
"Kembali ke istana sekarang...!!" kata pangeran Wiraka dengan suara kerasnya.
"Baik pangeran" jawab bawahannya serempak sambil menunduk hormat.
Kemudian mereka langsung nenghilang dari tempat itu bersamaan,,,terlihat asap hitam yg perlahan menghilang setelah hilangnya mereka.
.
.
.
.
Di tempat lain,pangeran Candra dan Dewi.
"Sebenarnya kau ingin membawa aku ke mana..??" kata Dewi yg masih kesal dengan gerombolan pangeran Wiraka tadi.
"Tenanglah.. aku hanya membantumu menghindar dari kejaran Wiraka".
"Lagi pula bukannya kau yg menarikku untuk pergi tadi" godanya.
deg
Dewi sangat malu mendengarnya,memang benar dia sendiri yg menarik pangeran Candra untuk pergi dari hadapan Pangeran Wiraka dan para pengikutnya, wajah gadis itu sudah tidak bisa dikondisikan,wajahnya memerah dan terasa panas hingga ke telinganya.
Pangeran Candra tersenyum melihat gadisnya yg malu dibuatnya,raut wajahnya sangat menggemaskan baginya.
Pangeran Candra menghentikan langkahnya dan membawa Dewi ke bawah pohon yg rindang.
"Kita istirahat dulu disini dinda..! katanya.
"Tunggulah sebentar, aku akan mencarikanmu sesuatu". imbuhnya.
Dewi hanya menganggukkan kepalanya. Ia mendudukkan dirinya di batu besar yg kebetulan ada di bawah pohon itu.
__ADS_1
"Hah... menyebalkan sekali..!"
"Kenapa aku harus bertemu dengan si b*d*b*h wiraka itu..? sampai-sampai aku hampir membuka identitasku juga hampir kehilangan benda yg sangat berharga milikku. Semoga dia tidak sadar dengan perkataanku tadi". Ocehnya.
"Kalau terus begini aku tidak akan bisa mencari dimana keberadaan keluargaku,aku harus memiliki kekuatan untuk melawan para pengganggu itu. Aku bertaruh dia pasti akan mencariku lagi dan mengambil kalung ini dariku. Aku harus membentuk kekuatan diriku dari sekarang. Tapi siapa yg akan menjadi guruku untuk mengajariku itu semua,aku tidak memiliki teman yg bisa aku andalkan".
Dewi yg sedang kesal sedang berperang dalam fikirannya yg terus berkecamuk.
"Tunggu... bukankah aku bisa meminta Pangeran Candra untuk mengajariku ilmu bela diri..?? Tapiii aku tidak berani mengatakannya...". Seketika ia memiliki solusi namun ragu karna dia tak mungkin memintanya pada pria itu fikirnya.
Hufffftt....
"Pergi kemana dia sebenarnya... lama sekali,sampai-sampai aku kesemutan dibuatnya".
Dari kejauhan ternyata Pangeran Candra telah kembali dan membawa sekeranjang buah bermacam-macam jenis di tangannya.
Ia melihat Dewi yg masih cemberut duduk di atas batu besar itu. ia mendekatinya dan bertanya pada gadis kecilnya itu.
"Kenapa? Apa kau merindukanku karna aku sedikit lama?" Lagi-lagi ia menggoda Dewi sambil menyunggingkan senyum di bibirnya.
"Dari mana saja.. ku kira kau sengaja meninggalkanku sendiri disini" Jawab Dewi yg sedang marah dengan wajah cemberutnya.
"Mana mungkin aku meninggalkanmu..? sanggah Pria itu sambil mengacak rambut Dewi.
"Apa yg kau lakukan? rambutku jadi berantakan tau..!!"
"hahaha mf..." jawabnya.
"makanlah.. kau pasti lapar dari tadi marah-marah terus". kata pangeran Candra sambil menyodorkan buah-buahan yg ia petik tadi.
"Terus.. Apa bedanya?" kata pangeran Candra yg terus menggoda gadis itu.
"hahh... Terserah kamu saja lah".
"Ngomong-ngomong dari mana pangeran dapat buah-buahan ini jangan-jangan ada racunnya lagi,ini kan hutan belantara".
"hmmm.. Aku tau mana yg boleh atau tidak boleh dimakan di hutan ini" jawab pangeran Candra.
"pffftt... benarkah?"
"Iya.. jika tak percaya coba saja ini" sambil menyodorkan buah itu pada Dewi.
"Baiklah.. ". kata Dewi sambil menerima buah tersebut kemudian memakannya.
"Dinda.. jangan panggil aku pangeran.. panggil aku kanda saja itu akan terdengar lebih akrap rasanya".
"emmm.. tapi aku belum mengenalmu,, rasanya agak sedikit aneh,bukankah itu terlalu akrab". Jawab Dewi yg merasa ragu dengan permintaan pangeran Candra.
"Tak apa.. Lagipula sekarang kita sudah akrab kan?" bujuknya.
"hahh.. baiklah baiklah K-kan..da.." seketiaka ia merasa aneh mengatakan itu dan gugup.
__ADS_1
"Apa apa? katakan sekali lagi,aku belum mendengarnya.." pangeran Candra tak henti-hentinya menggoda gadisnya itu. Ia sangat suka ekspresi Dewi yg sedang malu.
"kamu sengaja ya..??" Teriak Dewi sambil mencubit pinggang pangeran Candra.
"Aauu ampunn... aku benar-benar ingin mendengarnya lagi. ayolah...!?!" bujuknya lagi
"Kandaa...!!!" teriak Dewi lagi-lagi yg di buat pangeran Candra kesal.
"iyaa ada apa dinda?" ia malah balik bertanya lagi padanya,dan sukses membuat Dewi kesal sekali. bibirnya sudah maju 5 senti saja karna ulah pangeran Candra yg usil.
"hahaha baiklah baiklah...aku cuma bercanda.. ayolah jangan marah lagi..." bujuk pangeran Candra.
"Tidak mau.." kata Dewi.
"hmmm... apa yg harus aku lakukan agar kau tidak marah lagi? katakanlah dinda.. aku akan menurutinya sebisaku" bujuknya lagi.
Mata Dewi berbinar-binar mendengar perkataan pangeran Candra.
"Benarkah? kau akan menuruti semua keinginanku?" tanya Dewi yg penasaran.
"Iya dinda.. katakan saja apa mau mu.." ia mengatakannya dengan penuh kelembutan.
Dewi berfikir sejenak dan ia memutuskan untuk...
"Aku... aku ingin kau mengajari aku bela diri,," kata Dewi sambil tertunduk.
"hmmm.. Apa kau takut diganggu oleh pangeran Wiraka lagi??" tanya pangeran Candra.
"Ya.. aku ingin lebih kuat agar bisa melindungi diriku sendiri jika terjadi sesuatu hal padaku". jawab Dewi.
Pangeran Candra yg mendengarnya merasa kagum,dan mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti. Dewi adalah gadis yg mandiri,ia tidak mau merepotkan orang lain dan bergantung pada orang lain pikirnya.
"Baiklah.. aku akan mengajarimu".. kata pangeran Candra sambil menyunggingkan senyumnya yg menawan.
"Benarkah??"
"Terima kasih k-kanda.." katanya malu-malu.
"Terima kasih kembali gadis kecilku..!" lagi-lagi ia menggoda.
"Siapa yg gadis kecilmu... menyebalkan..!"
"hmmm marah lagi.. Tapi aku suka kau saat marah sangat menggemaskan.
"Kandaaa...!"
"hehehe..!" pangeran Candra terkekeh karna berhasil membuat Dewi marah.
"Ngomong-ngomong Kenapa Wiraka bersikukuh ingin mengambil kalung milikmu itu?" tanya pangeran Candra yg mengingat kejadian tadi.
"Entahlah.. aku sendiri tidak mengerti..!" jawab Dewi seadanya.
__ADS_1
"Tapi tunggu.. Sepertinya kanda pernah melihat kalung seperti itu tapi kanda lupa di mana.." kata pangeran Candra yg sepertinya familiar dengan benda itu.
"Benarkah??? dimana???" tanya Dewi sangat antusias.