
Putri Hanindya sangat kesal dibuatnya,, karna ulah sang nenek yg kadang-kadang memusingkannya itu. Yah.. memang kadang neneknya itu bersikap tidak selayaknya orang tua seumurannya.
Padahal pangeran Candra hampir di ambang pintu. Tapi nenek Galuh malah bicara hal aneh hingga ia sangat malu.
"Nenek.. dia sudah depan.. apa kau masih akan mengatakan hal-hal aneh itu lagi..? huh" Putri Hanindya berbisik dengan kesal.
Sedang orang yg di bicarakan hanya tersenyum dan kemudian menyapa sang nenek.
"Permisi nek.." kata pangeran Candra ramah.
Nenek Galuh melihat sesosok pemuda yg menyapanya itu.
"Astagaa.. inikah calon suami cucuku yg dikatakan pangeran ular itu..? sangat tampan..! andai aku masih muda usia 17 thn,,sudah pasti akan ku rebut dari cucuku fufufu.. ups.. maaf suamiku.. cucuku.. aku sedang khilaf hohoho.."
Batin nenek Galuh yg malah berfikir entah kemana dan hanya ke bengonganlah yg nampak di muka si nenek Galuh itu.
Walaupun nenek Galuh mengatakan dalam batinnya tentang seorang pangeran ular,namun ia tidak menyadari bahwa pemuda itu benar-benar seorang pangeran.
Karna ke-pikunannya,ia juga melupakan cerita cucunya tentang pangeran ular putih yg telah cucunya selamatkan beberapa waktu lalu.
Putri Hanindya yg melihat neneknya masih bengong mencoba menyadarkannya.
"Nenek... kanda Candra memberi salam padamu.. Sadarlah nek.." kata putri Hanindya menyadarkan neneknya yg masih bengong.
"Ya ampunn..! maafkan nenek nak.. silahkan duduk.." kata nenek Galuh mempersilahkan pangeran Candra untuk duduk di kursi teras rumahnya yg memang telah tersedia disana.
"Terima kasih nek.." kata pangeran Candra dengan senyum khasnya yg menawan,kemudian masuk dan duduk di tempat yg telah di persilahkan sang nenek.
"Boleh juga selera cucuku ini,sudah ramah ganteng lagi" batin nenek Galuh lagi yg masih kesemsem dgn ketampanan calon cucu menantunya itu.
"Jangan sungkan nak.. anggap saja rumah sendiri..?"
"Oh ya.. siapa namamu nak?" tanya nenek Galuh pada pemuda di hadapannya. Karna tadi ia sedikit lupa saat cucunya memberitahukannya.
__ADS_1
"Panggil saja Candra nek.." jawab pangeran Candra memberitahukan namanya.
"Oh.. baiklah nak Candra,,"
"Dewi kedalam sebentar nek.." tukas Putri Hanindya sambil pandangannya singgah pada pria yg ia cintai kemudian ia memberikan senyumnya sekilas, pangeran Candra membalasnya juga dengan senyuman seakan-akan meng-iyakan.
"Yah... dasar anak muda malu-malu tapi mau" batin Nenek Galuh yg melihat dua anak muda di hadapannya yg saling melempar senyuman.
Dewi lalu beranjak pergi ke dalam untuk menyajikan minuman.
"Aiyaa.. bisa-bisa jantungku akan copot kalau dekat dengannya terus.." dalam hati putri Hanindya sambil berlalu pergi.
"Hmmm.. mungkin dia malu ada kekasihnya disini.. yah pergilah.. dari pada malu-maluin disini.. jangan gangguin nenek ya" kata nenek Galuh menggoda cucunya itu.
"Astaga nenek...! cucu sendiri di ledek habis-habisan olehnya.. di depan calon suami lagi,,beginikah nasip seorang cucu yg di pungut huhuhu" Kata Putri Hanindya lirih yg mendengar perkataan nenek jahilnya itu.
Nenek Galuh yg ternyata masih mendengar ocehan cucunya itu menahan tawanya sambil membungkam mulutnya.
"Ternyata meskipun nasip dinda Hanindya sangat malang,ia masih sangat beruntung di pertemukan dgn seorang manusia yg sangat-sangat menyayanginya". kata pangeran Candra dalam hati,ia memutuskan memanggilnya Hanindya juga karna itu memang nama asli dari kekasihnya itu.
Hingga cucunya keluar membawa dua cangkir teh dan juga camilan untuk neneknya dan juga pangeran Candra,lalu ia ikut duduk di antara mereka berdua dan ikut berbincang-bincang dengan mereka.
Setelah beberapa saat pangeran Candra mengutarakan maksud kedatangannya itu.
"Nek,,sebenarnya saya ingin mengajak cucu nenek untuk mengunjungi orang tua saya. Ia sangat ingin bertemu dengan cucu nenek ini. Semoga nenek berkenan mengizinkannya". kata pangeran Candra meminta izin pada nenek Galuh kurang lebih seperti itu.
"Baiklah.. bawa saja dia nak... nenek sudah jengkel dengan tingkah manjanya itu kau tau..? mungkin jika bersamamu dia akan malu dan tidak akan manja lagi hohoho" kata nenek Galuh lagi-lagi menggoda cucunya. Ia tertawa aneh sambil menutup mulut jahilnya itu.
Putri Hanindya hanya tersipu malu. yah,memang benar dia masih sangat manja dengan sang nenek. Jadi dia tidak bisa memungkirinya.
"Tidak apa nek.. saya suka kok dengan sifat manjanya itu" jawab pangeran Candra yg membuat hati putri Hanindya menjadi semakin tak karuan.
"Hmmm baiklah.. pergilah cucuku.. jaga dia baik-baik ya nak..!" kata nenek Galuh dengan kata-kata yg dibuat dramatis,ia memberikan izinnya pada pangeran Candra.
__ADS_1
Kemudian mereka berdua berpamitan dan pergi.
Nenek Galuh merasa terharu,melihat cucunya yg terlihat bahagia itu. Dia tidak menyangka ternyata cucu yg ia sayangi itu sudah hampir di miliki oleh orang lain.
"Ternyata cucuku sudah dewasa" kata nenek Galuh sambil mengelap air matanya dengan ujung lengan bajunya itu.
Ia memandangi cucunya hingga tak terlihat lagi.
Tak jauh dari tempat nenek Galuh berada. ada seorang pemuda yg ternyata mengamati mereka sedari tadi.
Ia merasa kesal dan memaki-maki pangeran Candra dalam hati.
"Sial.. Dewi-ku ternyata telah di bawa pergi orang lain...
Aku terlambat..!
Tidak..!! aku akan tetap memperjuangkannya apapun tantangannya..!!
Dari penampilannya, sepertinya pemuda itu hanya orang biasa.. dan mereka berjalan ke arah hutan.. pasti pemuda itu hanya orang rimba yg sangat miskin.. Dengan kekuatan keluargaku pasti aku bisa merebutnya dari pemuda misquin itu hahahaha" seringai pemuda itu dengan liciknya.
Ternyata pemuda yg mengintainya ini sama dengan pemuda yg kemarin bertemu dengan putri Hanindya itu. Yaitu Brata, Ia kembali mengintai rumah gadis yg mencuri hatinya itu. Setelah kemarin mengetahui dimana tempat gadis itu tinggal.
Pemuda itu adalah putra orang terkaya di desa sebelah,Ia sangat sombong dan serakah. Mungkin bisa dibilang orang tuanya adalah juragan terkaya di desa itu,yg memiliki kekayaan tak tertandingi dan sangat berkuasa. Ia suka menyogok seseorang jika menginginkan sesuatu.
Ia hidup dengan berkecukupan,bahkan mungkin bergelimang harta. Karna ia adalah putra tunggal dari orang terkaya di desanya. Maka ia menjadi putra kesayangan juragan besar itu.
Namun Brata tumbuh menjadi pria sombong tanpa belas kasih pada siapapun. apapun yg ia mau harus menjadi miliknya saat itu juga.
Tidak ada seorangpun yg mampu menentang kehendaknya karna pengaruh dari kekuasaan orang tuanya itu. Jika ada yg menentangnya maka ia akan membayar seseorang untuk menghabisi penentangnya itu tanpa belas kasihan.
* Siapa yg dah nungguin up?? selamat membaca ya..
* Terima kasih yg udah dukung Author.. yg udah like and coment juga. semoga harimu menyenangkan yaa..
__ADS_1
* tetap semangat untuk hari ini