
Pangeran Candra dengan telaten mengurus putri Hanindya tanpa mengeluh sedikitpun sejak putri Hanindya tidak sadarkan diri.
Ia sering kali mengelap keringat kekasihnya dan mengompres tubuhnya karna waktu itu putri Hanindya demam sangat tinggi.
Kini sang putri telah siuman,pangeran Candra akhirnya lega,telah melihat senyum kekasihnya itu lagi.
"Dinda.. sebaiknya kau makan dulu,karna sejak kemarin kamu belum makan.." kata pangeran Candra seraya mengambil makanan yg telah di sajikan oleh dayang di atas meja.
"Kemarilah..! aku akan menyuapimu.." Kata pangeran Candra pada kekasihnya itu.
"Terima kasih kanda.." balas putri Hanindya yg di balas lagi dengan anggukan dan senyuman oleh pangeran Candra.
"Kanda tidak makan??" tanya putri Hanindya saat ia melihat pangeran Candra hanya menyuapinya saja.
"Ya kanda nanti akan makan setelah dinda selesai" jawab pangeran Candra.
"Tidak mau jika kanda tidak makan aku juga tidak mau makan" kata putri Hanindya sambil cemberut.
"Baiklah.. baiklah.. kanda akan makan bersama dinda sekarang.. Jadi bukalah mulutmu.. bilang Aaaa..!" kata pangeran Candra menyetujuinya karna melihat putri Hanindya yg pura-pura merajuk.
"Aaaaa.."
Putri Hanindya menerima suapan pangeran Candra,kemudian setelah itu pangeran Candra menyuapi dirinya sendiri.
"Bagaimana.. apa masakannya lezat dinda..?" tanya pangeran Candra.
"Sangat lezat kanda.." jawab sang putri malu-malu.
"Ya.. karna kanda yg menyuapinya jadi terasa sangat lezat" dalam batin putri Hanindya.
"Baiklah.. Kalau begitu buka lagi mulut dinda.. aku akan menyuapinya lagi.." kata pangeran Candra. Ia sangat bahagia melihat putri Hanindya sudah ceria lagi dan melupakan sejenak kesedihan dan kekecewaannya.
Dengan penuh perhatian pangeran Candra menyuapi sang kekasih, sambil sesekali menyuapi dirinya sendiri. Canda dan tawa menghiasi ruangan itu. Mereka terdengar sangat bahagia.
Hingga membuat putri Yana yg sedang menyaksikan mereka di balik pintu sangatlah geram.
"*Dasar kamu gadis ingusan yg menyebalkan..!!!"
"Bisa-bisanya kamu mendapatkan kasih sayang dari pangeran Candra yg sangat ku dambakan itu...!! seharusnya aku yg ada di posisimu sekarang gadis jelek...!!"
"Aku sekalipun belum pernah ia perhatikan,,padahal aku selalu bersamanya sejak kami masih kecil dulu.. Entah apa yg membuatnya menjauhiku sekarang.."
"Aku tidak bisa menerima ini semua.. Aku harus mendapatkan kasih sayang pangeran Candra,apapun yg terjadi... hemmmp*.."
__ADS_1
Putri Yana sangat geram menyaksikannya,ia mengepalkan tangannya hingga kuku panjangnya melukai tangannya sendiri. Namun ia tidak merasakannya lagi,karna hatinya telah diliputi oleh kemarahan yg membakar hati nuraninya.
Putri Yana akhirnya pergi dengan amarah yg menggebu,darah di tangannya menetes di setiap jalan yg ia lalui. Namun ia masih mengepalkan tangannya dengan erat.
Setibanya di kamarnya,,putri Yana di sambut oleh dayang Utari,yaitu salah satu dayang pripadinya.
Brak.. Suara bantingan pintu oleh putri Yana.
"Putri ada apa?? lihatlah tangan anda terluka dan berdarah" kata dayang Utari yg kaget saat melihat junjungannya membanting pintu kamarnya itu dengan keras. Ia sangat menghawatirkan junjungannya itu namun yg ia dapat malah penyiksaan dari junjungannya atau putri Yana.
"Diam kau..!!" teriak putri Yana sambil menendang dayang pribadinya itu.
Duak.. Bruk..
Ia menendang dayang Utari hingga terhempas jauh dari hadapannya.
"Kau tidak tahu apa-apa tidak usah ikut campur dengan urusanku..!!!" kata putri Yana membentak dayang Utari dan memukulnya dengan kejam.
"B-ba..iklah putri" jawab dayang Utari tak berdaya.
Dayang itu tidak memiliki keberanian untuk melawan. Ia hanya menangis tanpa suara,menahan rasa sakit yg di buat oleh junjungannya itu tanpa perlawanan.
Dia tahu walaupun melawan dengan sekuat tenaga tidak akan berarti apa-apa untuknya karna dia hanya seorang pelayan rendahan tanpa memiliki kekuatan atau status apapun.
Putri Yana sebenarnya memiliki beberapa dayang pribadi,dia salah satu di antaranya. Namun nasipnyalah yg paling tidak beruntung.
Putri Yana tidak menyukai Utari karna dia tidak pandai menghasut seperti dayang licik lainnya yg biasa memberi trik licik untuk menjalankan siasat buruk putri Yana.
Walaupun begitu ia adalah dayang yg penurut. Ia melakukan apapun yg menjadi kewajibannya tanpa banyak bicara dan tanpa harus di suruh seperti dayang putri Yana yg lain.
Tapi ia tidak di hargai sedikitpun,bahkan sering di tindas oleh Putri Yana dan bahkan dayang putri Yana yg lain.
Parahnya tidak ada satu orang pun yg mengetahuinya dan membantunya.
Entah apalagi yg di lakukan oleh putri Yana padanya saat ini untuk melampiaskan kemarahannya itu.
Dayang Utari hanya bisa berharap seseorang akan datang membantunya dari semua penderitaannya.
*****
Di tempat pangeran Candra dan putri Hanindya.
Putri Hanindya heran kenapa pangeran Candra bisa tau tentang identitas dirinya,karna ia sangat penasaran ia menanyakannya segera pada pangeran Candra setelah mereka selesai makan.
__ADS_1
"Kanda.. sejak kapan kau tau tentang identitasku?" tanya putri Hanindya yg sangat penasaran,dari mana pangeran Candra tau tentang itu semua.
"Sejak kemarin waktu emosimu tak terkendali terakhir kali,kakakmu Wiraka yg memberi tahuku" Jawab pangeran Candra seadanya.
"Apa..? jadi orang aneh itu adalah kakakku???" tanya putri Hanindya terkejut.
"Ia dinda.." jawab pangeran Candra lagi.
"Astaga... yg benar saja jika kakaku adalah orang yg sangat sangat kasar dan tidak sopan seperti dia.. hufffft... membuatku muak saja mengingatnya.." ketus putri Hanindya.
** *hasshiing...
"Astaga... akhir-akhir ini kenapa banyak sekali yg memarahiku di luaran sana...?" kata pangeran Wiraka yg sering bersin-bersin akhir-akhir ini. *
"Ya.. walau bagaimanapun dia kakak kandungmu dinda..." kata pangeran Candra mengingatkan lagi.
"Huh.. kakak macam apa dia..? tidak baik sama sekali padaku.." ketus sang putri.
"Lagi pula Kanda melihat dia sangat-sangat menyayangimu juga akhir-akhir ini,yah walaupun cara mengekspresikannya kadang-kadang memang salah" jawab pangeran Candra santai.
"Lalu bagaimana dengan ibundaku??" tanya putri Hanindya yg penasaran dengan keadaan sang ibu.
"Bibi ratu Pradita,sangat cantik sepertimu dinda,dia wanita yg sangat lembut dan penyayang.." jelas pangeran Candra.
"Lalu kenapa Ibunda menikah dengan pria kejam seperti raja Darma sialan itu??" tanya putri Hanindya makin ketus.
"Karna mereka saling mencintai dinda.." jawab pangeran Candra sabar.
"Kenapa aku harus ada di dunia ini kalau aku tidak di inginkan..?" tanya sang putri lagi yg air matanya sudah menggenang.
"Kata siapa dinda??? kau ada hanya untukku.. aku yg menginginkanmu berada di dunia ini untuk bersamaku dan menemaniku.
Dinda.. janganlah menyalahkan keberadaanmu lagi oke..!"
Pangeran Candra segera memeluk putri Hanindya yg mulai sedih lagi dan menenangkannya.
** Hai hai... sekian update hari ini.. moga terhibur ya.. sahabat semua..😚😚
** Nantikan up selanjutnya.. jangan bosen baca ceritaku ya...
** Jangan lupa like and coment.. makasih atas kunjungannya..
** see you tomorrow..😉😉
__ADS_1