Pangeran Ular Dan Sang Putri Yang Hilang

Pangeran Ular Dan Sang Putri Yang Hilang
Derita sang dayang


__ADS_3


Di kerajaan ular putih,putri Hanindya sedang bersama pangeran Candra di taman istana. Ia terlihat murung dan tak bersemangat. Pangeran Candra jadi hawatir dengan kekasihnya itu.. Tentang apa yg sedang putri Hanindya fikirkan.


Karna putri Hanindya hanya diam saja pangeran Candra mencoba bertanya padanya.


"Dinda.. apa kau masih memikirkan kejadian di aula istana kemarin..?" tanya pangeran Candra.


"Tidak kanda.. itu sudah di selesaikan oleh Ayahanda.. Aku tidak terlalu memikirkan hal itu lagi.." jawab putri Hanindya datar.


"Lalu kenapa kau tampak murung..?" tanya pangeran Candra lagi.


Putri Hanindya tidak langsung menjawabnya. Ia terlihat ragu-ragu.


"Kenapa dinda..? katakanlah..!,,kanda akan mewujudkannya jika kanda bisa.." kata pangeran Candra dengan penuh kelembutan.


Akhirnya ia mengatakannya pada pangeran Candra tentang yg ia fikirkan.


"Kanda.. Aku sangat rindu dengan nenek.. Apakah dia baik-baik saja sekarang..? dia pasti akan merindukanku,,Aku ingin kembali dan melihatnya.. Bolehkah..??" kata putri Hanindya manja.


"Hmmm.. ternyata karna itu. Kenapa tidak langsung mengatakannya saja tadi..?" kata pangeran Candra lega.


"Aku takut kanda tidak ada waktu untuk mengantarku.. aku tidak ingin di antar orang lain...." jawab putri Hanindya dengan manja.


"Hmmm.. Benar kata nenek. Kau sangat manja sekali dinda.. Kenapa harus kanda yg mengantarnya coba..?" kata pangeran Candra sambil mencubit hidung sang putri.


"Hmmm.. apa kanda tidak ingin mengantarku..?" tanya putri Hanindya sambil memajukan bibirnya.


"Tentu saja ingin.. kemanapun kau ingin pergi aku akan mengantarkannya dinda" jawab pangeran dengan di sertai senyumnya.


"Hmmm.. Benarkah..?" tanya sang putri lagi sangat senang.


"Ya dinda.. Tenanglah.. tidak akan aku biarkan pria lain bersamamu.." jawab pangeran Candra.


"Kenapa..?? kalau itu kakak ku apa kanda juga tidak akan mengizinkannya???" Tanya putri Hanindya penasaran.


"Apa dinda merindukannya..??" tanya pangeran Candra penuh selidik.


"Hiiih... tidak mungkin..!" kata putri Hanindya dengan wajah kesal.


"Tapi kanda.. Aku sangat ingin bertemu ibunda Pradita... Pasti dia sangat merindukanku juga.."

__ADS_1


Tiba-tiba wajah sang putri berubah sendu. Pangeran sangat tau bagaimana kekasihnya itu. Ia sangat merindukan ibundanya karna memang belum pernah bertemu dengannya sejak ia kecil.


"Bersabarlah dinda.. Aku yakin sebentar lagi dinda akan bertemu dengan bibi Pradita. Benar-benar tidak lama. Dinda hanya perlu bersabar oke..!" Hibur sang pangeran.


Putri Hanindya hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya patuh. Setelah itu dia bergumam lirih.


"Huemmp.. Apa iya aku sangat manja..? aku rasa tidak kok" kata putri Hanindya lirih sambil memainkan kedua jari telunjuknya.


"Sangat menggemaskan.." kata pangeran Candra kemudian tersenyum saat melihat tingkah kekasihnya itu. Lalu mengacak pucuk rambut kekasihnya.


"Huh...jangan kanda..!! lihatlah..Rambutku jadi berantakan sekarang.." dengus putri Hanindya kesal.


"Maaf..


Baiklah.. Ayo kita temui nenek sekarang..! aku akan meminta izin ayahanda dahulu. Tunggu kanda oke.." kata pangeran Candra sambil menyentuh pucuk kepala sang kekasih kemudian berlalu pergi.


"Hemm" jawab putri tanda mengiyakan perkataan pangeran.


Putri Hanindya sangat bosan menunggu,kemudian ia berjalan-jalan tak jauh dari taman. Ia menikmati pemandangan indah disana. Hingga pandangan matanya tertuju pada seseorang yg berada di dekat danau.


"Sedang apa dia disana..? Coba aku lihat saja lah" batin sang putri yg penasaran dengan sosok orang itu. Ia pun segera mendekatinya.


Teriak putri Hanindya saat melihat seseorang itu hendak melompat ke danau. Seketika orang itu menoleh pada arah suara yg mencoba menghentikan dirinya untuk melompat ke danau. Dan..


Brukk


Dia terjatuh seketika karena tubuhnya lemas. Untung saja ia langsung di tangkap oleh putri Hanindya saat itu juga sehingga tidak jatuh ke danau.


"Apa yg kau lakukan..!!!" tanya putri Hanindya dengan perasaan kaget.


Tubuh orang itu sangat memprihatinkan, penuh dengan luka lebam dan luka goresan. Sang putri jadi penasaran apa yg telah ia lalui sampai-sampai ia hendak bunuh diri.


"Aku.. aku hanya...aku.." kata dayang itu gugup.. Entah apa yg ia takutkan.


"Katakanlah.. jangan takut..! Aku akan membantumu. Tenanglah oke..!!" kata putri Hanindya menenangkannya saat melihat dayang itu ketakutan,sambil ia melebarkan senyum tulusnya. Seketika dayang itu menjadi tenang dan ketakutannya menghilang, dan akhirnya ia mau bercerita pada sang putri.


"Aku sudah tidak sanggup mengalami ini semua.. Semuanya menindasku tidak ada yg peduli padaku. Aku juga tidak punya siapa-siapa lagi dan tidak memiliki orang yg dapat melindungiku hiks hiks.. Rasanya sudah tidak ada gunanya untuk terus bertahan hiks hiks hiks" Jelas dayang itu di sela tangis pilunya.


"Baiklah-baiklah.. sudah jangan menangis lagi.. Kemari.. aku akan mengobati lukamu.. Untung saja aku selalu membawa obat buatan nenek ini kemanapun aku pergi.. ternyata memang sangat berguna.." Kata putri Hanindya masih dengan senyum cerianya.


"Emmm.. A-anda adalah..??" tanya dayang itu agak gugup.

__ADS_1


"Namaku adalah Hanindya Dewi,,kau boleh memanggilku Dewi atau Nindy terserahmu saja.. Tenanglah.. jangan takut padaku oke.. aku akan membantumu sebisaku.." kata sang putri tulus.


"Sangat cantik dan baik hati.. andaikan putri Yana juga selembut ini mungkin pangeran Candra akan mencintainya..


Siapakah dia?? aku belum pernah melihatnya di kerajaan ini. Namun wajahnya sangat familiar.. mirip dengan seseorang.. tapi siapa ya..?" fikir sang dayang.


"sssh.." keluh dayang itu tiba-tiba.


"Apakah sakit..? Baiklah aku akan pelan-pelan sekarang.. maaf ya.." kata putri Hanindya dengan lembut.


"Tidak nona.. hanya sedikit ngilu saja.." kata dayang itu menyanggahnya.


"Bahkan dia tidak jijik saat merawat lukaku.. Sungguh gadis kecil yg sangat mengagumkan.. sungguh beruntung pemuda yg akan mendapatkannya.." Batin dayang itu kagum.


Dia teringat dengan kekejaman putri Yana saat memukulnya dan memerintahkan dayang lainnya untuk menyeretnya keluar setelah ia terluka parah,Putri Yana melihatnya dengan tatapan sangat jijik pada waktu itu.


"Kenapa kau melamun..? siapa namamu..?" Tanya putri Hanindya lembut.


"Ah.. Namaku Utari nona.. Terima kasih sudah mengobatiku.."


"Aku hanya bingung sekarang harus tinggal di mana.. Aku sudah di buang oleh majikanku.. Tapi jika aku masih ada di sini aku takut majikanku tidak akan senang" jawab dayang Utari yg kaget dari keterkejutannya. Kemudian Ia sangat murung saat ia mengatakan tentang majikannya itu.


"Apa kau sama sekali tak memiliki saudara..?" tanya sang putri prihatin.


"Ada tapi aku tidak tau apakah dia masih hidup atau tidak.." jawabnya lesu.


"Lebih baik kau mencarinya dan.." belum sempat putri Hanindya menyelesaikan perkataannya pangeran Candra telah memanggilnya.


"Dinda..." panggil pangeran Candra.


"Ia kanda aku disini.. Sebentar..!!" jawab putri Hanindya pada pangeran Candra.


"Sebentar ya.. aku akan menemui kanda Candra dahulu.." kata sang putri pada dayang Utari.


** Hai hai.. skip dulu yaa.. moga terhibur dengan ceritaku..


** Makasih yg udah mendukung Author selama ini..


** Jangan lupa like and coment ya..! Kasih saran juga boleh..πŸ˜‰πŸ˜‰


** Makasih juga yg selalu setia menunggu update dari author😘😘

__ADS_1


__ADS_2