Pangeran Ular Dan Sang Putri Yang Hilang

Pangeran Ular Dan Sang Putri Yang Hilang
Mengamuk.


__ADS_3

Setelah Putri Hanindya tidur beberapa saat ahirnya dia terbangun, mungkin dia sudah tertidur beberapa jam. Sambil menggosok-gosok matanya yg sedikit buram lalu ia mengerjapkannya.


"Haih.. dimana ini??" gumam putri Hanindya sambil melihat sekelilingnya.


Putri Hanindya tidak sadar jika dirinya ternyata sudah ada di kamarnya sendiri.


"Ternyata Kanda Candra sudah membawaku pulang kerumah sejak tadi" sambil mengingat-ingat kejadian tadi.


"Bukankah tadi aku di hutan dan bertarung dengan wanita sombong tadi..? dan aku terkena pukulannya.. tadi aku masih sadar kok.. kenapa tiba-tiba aku bangun di sini dan bersama pangeran Candra? setahuku tadi yg ada malah si pria menyebalkan itu..


Sangat aneh.."


Dia bergumam-gumam tidak jelas mengingat kejadian tadi. Kemudian ia sadar akan sesuatu. Ia ingat bahwa dia telah bertarung dengan putri Yana tapi dia tidak ingat sewaktu ia berubah menjadi sesosok gadis yg menyeramkan tadi..


"Kenapa aku malah ketiduran..? aku kan belum bertemu nenek.. bisa gawat kalau nenek tidak tau jika aku sudah pulang.."


Ia lalu merapikan tempat tidurnya dengan tergesa-gesa.


Tiba-tiba rambutnya terjuntai kebawah saat ia sedikin menunduk,ia baru sadar jika rambutnya yg semula hitam kecoklatan sekarang berubah warna menjadi perak.


"Astagaa...!! Kenapa rambutku jadi kaya nenek-nenek gini...? aduh.. bagaimana ini..? kalau tetangga lihat bisa berfikir aku tua mendadak karna stres gak pernah keluar bertemu mereka".


Putri Hanindya bingung karna perubahan rambutnya yg menjadi berwarna perak. Ia kemudian melihat pada cermin di kamarnya.


"Masih imut kok.. nggk keriput sama sekali,, tapi kenapa jadi berubah seperti ini ya..? kenapa aku tidak mengingat apapun tentang ini" putri Hanindya masih melihati penampilannya di cermin.


"Cantik kok.. biar aja ah..bodoh amat.. siapa juga yg akan peduli..? Kanda Candra aja cuek ehehehe.." sambil berlalu meninggalkan cerminnya,dan cuek dengan perubahan itu ia tertawa konyol sendirian.


Ia menikmati hari dengan riangnya,dan tidak mengingat-ingat kekesalannya tadi sewaktu bertemu putri Yana di hutan. Ia kembali ceria seperti biasanya.


.


.


.

__ADS_1


.


Sedangkan di tempat putri Yana berbeda. Ia berada di kamarnya yg sudah tak berbentuk karna pecahan barang-barang di kamarnya. Seperti itulah dia jika sedang marah,ia akan membanting apapun yg ada di dekatnya.


Tidak ada pelayan yg mampu menenangkannya,menghentikannya atau membantahnya sekalipun. yah.. karna yg tau itu semua memang hanya pelayan pribadinya.


Juga tidak ada yg berani melapor pada ayahnya karna para pelayan pribadinya tau jika putri Yana menyembunyikan sifat aslinya itu. Sekalipun Ayahnya sendiri juga tidak mengetahuinya. Yg ia tau putrinya itu adalah putri yg manis dan penurut.


Setelah ia tiba di kediamannya dia belum berhenti mengamuk. Kira-kira seperti ini mungkin teriakan-teriakannya di dalam kamarnya itu.


"Sial... Rencana yg sudah aku susun sedemikian rupa sekarang harus gagal dengan sia-sia...!! apa-apaan ini...?? kenapa aku bisa kalah dengan gadis di bawah umur yg menyebalkan itu...!!" Teriaknya geram.


"Tenanglah putri... kita bisa mencari cara lain.. jangan seperti ini.. lihatlah kamar putri yg indah sudah tak berbentuk.." kata dayang menenangkan tuan putrinya karna sudah lelah melihat kekacauan itu.


"Kau tidak tau apa-apa.. pangeran Candra sudah membenciku dan mengetahui rencanaku.. Sekarang sudah sangat sulit untuk mendapatkan kepercayaannya" bentak putri Yana yg sudak sangat emosi pada sang dayang itu.


Dayang itu seketika terdiam. Ia tak mau menjadi pelampiasan amarah tuan putrinya. Karna ia tau tuan putrinya itu adalah seorang yg sangat kejam. Apapun akan ia lakukan demi kepuasannya sendiri,dan tak segan mencelakai seseorang yg mengusiknya jika tersinggung.


"Aargh... apa yg harus aku lakukan sekarang...?" teriak putri Yana lagi-lagi.


"Alamak... putri.. bisa-bisa saya tuli mendadak jika tiap hari mendengar teriakanmu seperti ini". dalam benak sang dayang.


Sampai-sampai sang dayang yg berada di dekatnya menutupi telinganya karna tidak mau gendang telinganya pecah di buatnya.


"Aku harus bisa mendapatkan tahta itu..!!! ya.. apapun caranya akan aku lakukan" gumam putri Yana penuh tekat.


"Aduhai putri... kau tidak pantas menjadi ratu.. bisa-bisa rakyatmu akan bubar karna sikapmu yg kurang ajar itu" kata sang dayang dalam batinnya sambil sedikit menyeringai.


"Apa yg kamu fikirkan dayang b*d*h??" teriak putri Yana yg melihat ekspresi dayangnya yg aneh.


"T-tidak ada putri" kata sang dayang gugup.


"Aduh.. tau aja nenek sihir ini.. hiiii.. menakutkan sekali.." batin dayang itu.


"Tunggu apa lagi??? bereskan kamarku seperti sedia kala..!!! aku tidak mau melihat debu sedikitpun di kamarku ini..!!" bentaknya pada sang dayang malang itu.

__ADS_1


"B-baik putri.." jawabnya takut dan kemudian melaksanakan perintah junjungannya itu.


"Cih.. apa-apaan itu..? dasar dayang tidak berguna.. tidak cepat bertindak malah nunggu aku suruh dulu..!!"


Begitulah kekesalan dan amukan putri Yana yg sangat membuat pusing para dayang-dayangnya.


******


Sore itu sangat cerah.. Setelah putri Hanindya menemukan nenek Galuh ia berjalan-jalan di dekat Jembatan di desanya yg menghubungkan desa itu dengan desa sebelah.


"Ternyata pemandangan disini juga sangat indah.. melihat matahari yg hampir tenggelam sungguh sengat mengagumkan dan menenangkan hati.." kata gadis kecil itu sambil menatap sang surya yg menyinari dunia.


Sesosok pemuda menghampirinya dan menyapanya. Ia menatap kagum gadis itu.. baru kali ini ia melihat gadis yg sangat cantik.


Rambut peraknya melambai-lambai di terpa angin,kulitnya putih bersih wajahnya bak bidadari yg baru turun ke bumi. (buk... authornya jadi enek nulisnya)


"Adik cantik.. sedang apa disini sendirian..?" kata pemuda itu santai bagai di pantai.


Dewi yg menyadari ada seseorang yg menghampirinya segera menoleh.


"Aku sedang menikmati matahari terbenam. Ada apa? adakah yg bisa saya bantu??" kata putri Hanindya dengan senyum manisnya yg menawan.


"Astagaa.. cantiknya..". Batin pemuda itu kagum dan tanpa ia sadari ia menjadi bengong dibius oleh kecantikan putri cantik itu,diam memandang sang Dewi tanpa kata.


"Hei.. sadarlah....?" kata putri Hanindya menyadarkan lamunan pemuda itu.


"Eh...." pemuda itu terbelalak kaget.


"Aku hanya ingin menyapamu saja.. Siapa namamu? sepertinya aku belum pernah melihat gadis cantik sepertimu di desa ini,,,dari mana asalmu hai gadis kecil yg cantik?" tanya pemuda itu penasaran sedikit menggoda.


"Aku juga tinggal di desa sini tapi aku jarang berjalan-jalan keluar.. hanya kadang kala saja"


Saking banyaknya pertanyaan putri Hanindya tidak ingat menyebutkan namanya. Karna hari sudah sangat larut ia memutuskan untuk kembali.


* Gimana cerita hari ini? mf ya men temen kalo kurang menarik boleh kasih saran okeee..

__ADS_1


* Makasih yg dah mampir.. 😘😘 jangan lupa like and coment


__ADS_2