Pangeran Ular Dan Sang Putri Yang Hilang

Pangeran Ular Dan Sang Putri Yang Hilang
Memikirkan sebuah rencana


__ADS_3


"Kenapa dinda..?" jawab pangeran yg ekspresi wajahnya tiba-tiba berubah saja. Yg tadinya cemberut dan dingin kepada sang adik saat mendengar putri Hanindya memanggilnya menjadi penuh senyuman.


"Bisa gitu ya..??" batin putri Andini heran. Yg tiba-tiba saja di samping pangeran Candra.


"Jangan bertengkar terus dengan yunda kanda..!!" kata putri Hanindya cemberut.


"Iya iya dinda.. Apapun asalkan kau tidak marah padaku.." kata pangeran Candra masih tersenyum.


"Nah.. itu lebih bagus.." kata putri Hanindya yg tiba-tiba mengubah ekspresinya dengan senyuman.


Putri Andini yg mendengar kata pangeran Candra jadi risih.


"Sejak kapan kanda Candra jadi puitis seperti itu...?? hmmm.." batin sang adik sambil memegang dagunya.


"Ayo yunda kemarilah.. Aku akan perkenalkan yunda dengan nenek.." kata putri Hanindya yg membuyarkan lamunan putri Andini.


"Nenek.. ini adalah adik kanda Candra.. bagaimana..? cantik kan..?" puji sang putri.


Putri Andini tersenyum lebar saat dirinya di puji,ia menjulurkan lidahnya pada kakaknya atau pangeran Candra,mengejek.


"Ya.. sangat cantik.. kemarilah nak.. nenek akan menunjukkan sesuatu hal padamu.." kata sang nenek.


Tiba-tiba saja nenek Galuh membawa putri Andini entah kemana. Sampai-sampai ia belum menyapa pangeran Candra sama sekali. Karna putri Andini orangnya memang sangat penasaran dengan suatu hal baru. Ia mengikuti nenek Galuh dengan senang hati dan gembira.


Putri Hanindya yg melihatnya hanya bengong saja.


"Kanda.." panggil putri Hanindya.


"Hmmm..?" jawab pangeran Candra sambil memandang putri Hanindya yg bengong.


"Apa nenek telah melupakan kita..??" tanya sang putri masih dengan ekspresi bengongnya itu.


"Entahlah dinda..! Mungkin saja iya.." jawab pangeran Candra santai.


"Haah..?? yg benar saja..?" imbuh putri Hanindya sambil menoleh ke arah pangeran Candra.


"Sudahlah.. biarkan saja mereka dinda.." Kata pangeran Candra lagi.


"Hmmm.. baiklah.." jawab putri Hanindya pasrah.


"Padahal kemarin nenek menunggu putri sangat berharap putri segera kembali sampai ada pemuda yg datang kemari dia kira putri yg datang dan ternyata bukan dan membuatnya sangat kesal.. Sekarang putri telah kembali malah meninggalkan putri begitu saja. Cepat sekali suasana hatinya berubah.." kata dayang Aru tiba-tiba.


"Haah..!! Siapa kamu..??" tanya putri Hanindya kaget yg baru menyadari keberadaan dayang itu. Padahal yg menyambutnya tadi adalah sang dayang tapi dia baru menyadari itu semua sekarang.

__ADS_1


"Hamba dayang yg di kirim pangeran Candra untuk menjaga nenek Galuh putri.." kata dayang itu sopan.


"Benarkah..?" kata putri Hanindya sambil menoleh ke arah pangeran Candra.


Sedangkan pangeran Candra yg mendengar ada seorang pemuda kemari hatinya menjadi dongkol.


"Ya putri.." jawab dayang itu sopan.


"Kanda kenapa..?" tanya gadis itu yg melihat pangeran Candra yg sedang memasang muka kesal di sampingnya,tidak seperti biasanya.


"Siapa pemuda yg di katakan Aru dinda..??" tanya pangeran dengan suram.


"Tidak tahu.." jawab putri Hanindya dengan santai karna dia belum mengingat pemuda yg dimaksud.


"Aru..??" tanya pangeran lagi.


"Ah eh... anu pangeran dia berkata seseorang yg menemui putri beberapa waktu lalu" jawab dayang gugup karna ngeri dengan ekspresi pangeran Candra yg sedang cemburu.


"Hiii seram... padahal baru saja masih penuh dengan senyuman,ketika mendengar pemuda lain kemari ekspresinya jadi sangat seram dan dingin karna cemburu" dalam benak sang dayang yg ketakutan.


"Ternyata pemuda aneh itu.." kata putri Hanindya santai saat telah mengingatnya. Karna tidak sadar jika pangeran Candra sedang cemburu


"Dinda mengenalnya..?" tanya pangeran menahan sebal.


"Tunggu.. dayang.. apa yg di lakukan pemuda itu kemari..?" tanya putri Hanindya tiba-tiba.


"Dia ingin melamar putri katanya.." jawab dayang Aruni jujur.


"Apa..???" tanya putri Hanindya dan pangeran Candra dengan kagetnya.


"Eh.. iya pangeran,,putri.." jawap dayang Aru kaget dengan teriakan mereka berdua.


Dayang Aruni pun menceritakannya dari awal hingga akhir secara panjang lebar tanpa di kurangi dan di tambah sedikitpun. Pangeran Candra dan putri Hanindya sekarang mengerti masalahnya. Pangeran yg mendengarnya menjadi semakin geram saja dengan pemuda itu.


"Apa rencanamu dinda..?" tanya pangeran Candra.


"Belum terfikirkan kanda.. Mungkin aku akan memberinya pelajaran yg membuatnya menyesal karna telah menghina nenekku" kata sang putri sambil menyeringai.


"Dinda kenapa jadi semakin seram sekarang..?" batin pangeran.


"Apa dinda butuh bantuan??" tanya pangeran menawarkan diri untuk membantu.


Sebenarnya pangeran Candra ingin membalas perlakuan buruk pemuda itu saat ini juga,tapi dia tahu jika putri Hanindya tidak suka itu. Ia lebih suka membalasnya sendiri. Tidak mau di anggap lemah dan hanya mengandalkan orang lain untuknya.


"Tidak kanda.. Sepertinya aku punya suatu cara" kata sang putri dengan senyumnya.

__ADS_1


"Baiklah.. jika perlu bantuan jangan takut untuk meminta pada kanda" kata pangeran lagi.


"Siap..!" jawab gadis itu dengan semangat dan senyum cerianya.


Mereka mengobrol dengan canda dan tawa setelah itu. Tak terasa mereka sudah begitu lama di rumah nenek Galuh. Pangeran Candra dan putri Andini pun berpamitan untuk kembali ke istana segera.


Tinggalah putri Hanindya yg merasa sendiri sekarang. Ia melamun dan melihat kearah Jendela sangat lama setelah pangeran Candra pulang.


"Putri.. apa yg akan putri rencanakan untuk menggertak pemuda sombong itu..? hamba rasa dia pasti akan kembali lagi..


Beberapa hari hamba lihat dia selalu memantau rumah ini sebelum ia datang kemarin" kata sang dayang tiba-tiba.


"Hmmm.. biarkan saja Aru.. Kita lihat dulu apa yg akan dia lakukan nanti" Jawab putri Hanindya santai.


"Baiklah putri.." kata aru sopan.


"Aru.. besok aku akan ke kota Sabat.. Kau ikut denganku ya..!" kata putri Hanindya lagi.


"Untuk apa putri ke sana?" tanya dayang Aru penasaran.


"Ada suatu hal yg harus aku urus di sana. Bisakah kau membuat array pelindung untuk nenek sebelum kita pergi..?" tanya sang putri.


"Untuk apa putri..?" tanya dayang itu lagi yg tak mengerti yg di maksud junjungannya.


"Tentu saja untuk melindungi nenek dari bahaya Aru.." kata putri lagi.


"Oh.. ya putri hamba mengerti.." Kata dayang Aru sopan.


"Tunggu Aru.. jangan memanggilku seperti itu dan terlalu sopan.. membuatku terlalu risih.. aku rasa aku tidak pantas kau panggil demikian" protes putri.


"Tapi hamba harus menyebut anda bagaimana putri..? Anda adalah seorang putri dari kerajaan ular hitam dan juga calon Istri pangeran dari kerajaan ular putih tentu saja sangat pantas" Kata dayang Aru lagi


"Ya aku adalah seorang putri yg terbuang dan di benci ayahku sendiri Aru.. Apa kau tau itu..??" Kata putri Hanindya dengan nada sedih.


"Maafkan Aru putri.. Bukan maksud hamba mengingatkan soal itu.." kata Aru merasa bersalah.


"Tidak apa Aru.. sekarang kau harus memanggilku dengan nama ya..! jangan putri,yang mulia atau menyebutmu hamba saat kita hanya berdua saja" kata putri lagi dengan senyum tulusnya.


** Up date hari ini kembali lagi..


** Makasih yg udah setia menunggu author..


** Jangan lupa like and coment ya..😉😉


** Selamat pagi selamat beraktivitas untuk hari ini 😘

__ADS_1


__ADS_2