Pangeran Ular Dan Sang Putri Yang Hilang

Pangeran Ular Dan Sang Putri Yang Hilang
Menangis


__ADS_3


Karna marah dan malu putri Hanindya meninggalkan nenek Galuh dan dayang Aruni begitu saja tanpa mengatakan apapun yg membuat mereka berdua bingung.


"Jadi sebenarnya kita boleh ikut atau tidak..?" kata mereka bersamaan yg masih saling memandang satu sama lain dengan ekspresi bingungnya.


Ternyata putri Hanindya mendengarnya dan kembali lagi ke ambang pintunya tanpa di sadari oleh nenek Galuh dan dayang Aru yg masih saling memandang kebingungan itu.


"Cepatlah... jika tidak,aku tidak akan mengajak kalian ke istana..!!" kata putri Hanindya dengan masih membawa tampang muka kesalnya yg tiba-tiba nongol di pintu kamarnya itu.


"Eh..! Terimakasih putri..." kata dayang Aruni sambil melihat tuan putrinya itu dengan muka kegirangan. Namun dengan tiba-tiba dia berbalik begitu saja. Begitu juga nenek Galuh yg terlihat gembira,langsung nyelonong begitu saja.


Mereka berdua bergegas tanpa memperdulikan putri Hanindya yg makin kesal karna tingkah mereka berdua itu.


"Huh.. Semuanya menyebalkan.." gumam putri Hanindya yg kemudian masuk lagi ke kamarnya untuk bersiap.


Mereka sibuk mempersiapkan diri mereka masing-masih. Dan akhirnya mereka berempat segera pergi ke istana kerajaan ular putih bersama-sama.


Sebelum berangkat Pangeran Candra memberikan nenek Galuh sebuah mustika ular untuk menutupi hawa manusianya, sehingga nenek Galuh dapat berbaur dengan para bangsa ular,dan tidak di curigai oleh bangsa ular linnya.


Sekarang nenek Galuh dapat memasuki istana ular putih dengan leluasa tanpa terhalang ilusi yg di pasang oleh bangsa ular itu


Tidak butuh waktu lama mereka telah sampai di gerbang istana. Nenek Galuh sangat terkejut dengan para ular penjaga dan juga istananya itu. Namun karna dia sedang menyamar dia menyembunyikan keterkejutannya dari siapapun.


Dia tidak akan membuat cucunya dalam bahaya karna membuat kecurigaan para bangsa ular. Meskipun banyak sekali pertanyaan dalam benaknya,ia menepisnya dan bersikap biasa saja. Walau bagaimanapun sedikit banyak iya mengetahui seluk beluk kerajaan itu seperti apa.


Mereka telah sampai di dalam istana dan di sambut dengan meriah oleh orang dalam kerajaan.


Raja Arya yg melihat keponakannya segera menghampirinya.


"Putriku.. Kau sudah datang rupanya.." kata sang raja yg menghampiri putri Hanindya dengan gembira dan memeluk keponakannya itu.


"Ya ayahanda.. apa ayahanda merindukanku??" tanya putri Hanindya dengan manjanya seakan-akan berbicara kepada ayahnya sendiri.

__ADS_1


"Ya.. kami sangat merindukanmu putriku. Lihatlah.. ibumu sampai menangis karna terharu telah melihatmu kembali.." kata sang raja sambil menunjuk istrinya dan melepaskan pelukannya dari keponakannya kepada ratu Anjani.


"Kemarilah putriku..! Kenapa sangat lama..? Ibunda sangat rindu padamu.." keluh ratu Anjani sambil meraih dan memeluk keponakannya itu erat.


"Ya ibunda maafkan putrimu ini.. Ananda juga sangat merindukan ibunda.." kata putri Hanindya.


Putri Hanindya pun segera menghampiri bibinya itu dan masuk ke pelukannya.


Entah mengapa putri Hanindya menjadi sangat ingin bertemu ibunya karna mendapat pelukan dari bibinya itu.


Ia menangis terisak-isak karna sedih dan terharu. Sedih karna merindukan ibunya dan terharu karna telah ada yg menyayanginya dan merindukannya seperti ibunya sendiri.


"Seperti ini kah memiliki seorang Ibu dan ayah..? Aku ingin menikmatinya walau sejenak dan mungkin tidak ingin melepaskan karna kehangatan dan kasih sayangnya membuatku tenang dan tidak merasa takut akan apapun. Aku merasa tenang dan nyaman di pelukan bibi Anjani.." batin sang Putri yg masih terisak-isak.


Ratu Anjani mengerti apa yg di rasakan keponakannya itu dan membiarkan putri Hanindya mencurahkan kesedihannya


"Kenapa kau menangis sayang..? Lihatlah tangisanmu membuat ibunda dan ayahanda tanpa sadar juga mengeluarkan air mata" kata sang raja yg melihat keponakannya menangis di pelukan istrinya.


"Hmmm.. dinda.. Kau sangat mengerti keponakanmu itu ternyata..


Yah.. mungkin dia merindukan dinda Pradita. Untung saja aku telah membuat kejutan di pernikahannya nanti. Semoga putriku ini akan menyukainya" batin raja setelah mendapat isyarat dari sang ratu.


"Baiklah.. ayahanda tidak akan mengganggu mu putriku..! Tumpahkanlah rasa sedihmu dan kekesalanmu sepuasnya..! Ayahanda mengerti akan perasaanmu.." Kata sang raja sambil menyapukan tangannya pada kepala putri Hanindya yg berada di dekapan istrinya itu.


Putri Hanindya hanya diam saja dan masih menangis di pelukan sang bibi agak lama. Setelah tangisnya reda ratu Anjani segera membuka pembicaraan.


"Sudah sayang..! Apa kau tidak akan mengenalkan nenekmu pada ibunda dan ayahandamu ini..?" tanya sang ratu dengan lembut.


"Eh emmm.. maaf ibunda..!" Kata putri Hanindya yg tersadar dari tangisnya sambil mengelap air matanya. Dia sangat malu sekali sekarang menangis seperti anak kecil saja di pelukan ibu mertuanya di depan beberapa orang yg menyaksikannya.


"Tidak apa sayang..! Jadi apa ini nenekmu putriku..? masih sangat muda sekali ya..kanda.." Kata sang ratu dengan lemah lembut.


"Hmmm.. ya benar istriku.." jawab sang raja membenarkan ucapan istrinya.

__ADS_1


"Em iya ibunda.. dia yg merawatku sejak masih bayi hingga sekarang seperti cucunya sendiri.." kata putri Hanindya dengan senyumnya yg kembali mengembang.


"Hormat hamba yang mulia raja dan ratu..!" kata nenek Galuh sopan.


"Hahaha.. nenek.. jika seperti ini kaya bukan nenek saja.. sangat jauh berbeda dengan sikapnya di rumah.." Batin Putri Hanindya dan dayang Aruni yg sudah faham dengan sifat asli nenek Galuh biasanya.


"Nenek.. Jangan terlalu sopan pada kami.. Kami lebih muda dari anda nek.. Anggaplah kami anak-anakmu saja,lagi pula kami sangat senang memiliki seorang ibu lagi.." kata ratu Anjani dengan ramah.


"Tapi hamba tidak pantas yang mulia ratu.." jawab nenek Galuh masih dengan sopan.


"Tidak apa ibu..! Kami sangat berterima kasih anda telah menjaga dan membesarkan keponakan kami hingga sebesar ini.." kata raja Arya.


"Keponakan..?" tanya nenek Galuh kaget.


Raja Arya pun tersenyum dan menjelaskan maksud perkataannya.


"Ya bu.. Kami adalah paman dan bibi dari cucu anda ini.(sambil memeluk sayang putri Hanindya)


Karna nanda Hanindya adalah putri dari adikku dinda Pradita dari kerajaan ular hitam. Jadi saya dan dinda Anjani masih paman dan bibinya" kata raja Arya menjelaskan.


"Oh ternyata begitu.. Syukurlah cucuku telah menemukan Keluarganya sekarang.." kata nenek Galuh dengan senyum kelegaannya.


"Baiklah.. anda sebaiknya istirahat dulu sekarang.. Aru.. bawa ibu Galuh ke ruangan yg sudah di siapkan..!" perintah sang ratu dengan ramah.


"Baik yang mulia ratu..." jawab dayang Aru patuh.


"Mari nek.. ikut aku ke dalam.." ajak Aru sopan pada nenek Galuh.


** Hai hai men temen.. mf ya updatenya baru bisa satu episode dulu.. Semoga tidak kecewa ya..


** Jangan lupa like and comentnya ya..😉😉


** Semoga hari kalian menyenangkan.. Author sangat menunggu kunjungan kalian lhoo😘😘

__ADS_1


__ADS_2