
"Pedang dari mana itu..? kenapa tiba-tiba gadis itu memiliki pedang di tangannya..?" Batin Brata keheranan.
Namun tanpa ia sadari karna sibuk berfikir, lewat beberapa detik saja semua anak buahnya sudah di lumpuhkan oleh putri Hanindya dan sedikit bantuan dari dayang Aru.
Brata tercengang melihat kegesitan mereka berdua,dalam melawan berpuluh-puluh orang tanpa terkena pukulan sedikitpun. Dua gadis itu mampu mengalahkan anak buahnya dengan cepat.
"Tidak mungkin.. kenapa mereka berdua memiliki kekuatan sebesar itu..??" batin Brata yg tercengang.
Brata menjadi gugup dan takut. Nyalinya menciut begitu saja melihat keganasan gadis cantik itu. Ia ingin kabur dari kedai itu tapi putri Hanindya mengetahuinya.
Sang putri sangat marah dengan apa yg Brata lakukan sebelumnya. Tanpa menghiraukan ancaman putri Hanindya,Brata masih tetap ingin menghancurkan kedai neneknya.
Dan setelah upayanya gagal dia sekarang akan kabur. Sungguh membuat putri Hanindya naik pitam.
"Brata..!!" Teriak putri Hanindya dengan geram.
Brata pun ketakutan. Dia tidak habis fikir jika gadis cantik lemah lembut seperti Dewi ternyata sangat mengerikan saat dia marah.
"Siapa yg mengizinkan kau pergi..???" Tanya putri Hanindya dengan tatapan tajam.
"Aku aku.. tidak.." kata Brata yg takut dengan sorot mata putri Hanindya yg mengerikan itu.
"Sial.. aku tidak ada pilihan lain selain meminta maaf dan berpura-pura tunduk padanya dan mencari cara untuk menaklukannya lain kali.." dalam benak Brata menyusun rencana.
"Kau sudah mempermalukanku sebelumnya,juga nenekku dan temanku..,jangan harap kau lepas dari genggamanku hari ini..!!!" amuk putri Hanindya.
"Tidak.. tidak aku janji tidak akan mengulanginya lagi...!! tolong ampuni aku..!!"
Brata memohon ampun dengan menyedihkan. Dia tidak tahu harus bagaimana lagi.
Berpuluh-puluh orang terkuat yg ia bayar untuk membereskan gadis itu saja,tidak mampu melawan Dewi yg hanya di bantu oleh dayangnya,, apa lagi dia pria lemah yg hanya bergantung pada uang orang tuanya untuk membayar orang kuat dan menjadi mengawalnya. Sudah pasti dia tidak ada apa-apanya di depan gadis itu.
"Aku mohon.. aku mengaku salah.. jangan hukum aku.. Aku berjanji tidak akan mengganggumu lagi..!!" Bujuk Brata lagi-lagi.
__ADS_1
Dia bagaikan harimau yg kehilangan taringnya sekarang. Harus menyerah dan tunduk pada singa perkasa untuk hidup lebih lama lagi.
"Apa kau fikir orang yg berbuat semena-mena tidak akan pernah mendapat karma, Brata..?? Di mana keangkuhan dan kesombonganmu sebelumnya,, yg ingin menjadikanku sebagai budakmu..?? apa kau melupakan penghinaanmu tadi..???" Kata sang putri geram.
"Maafkan aku..! Aku berjandi tidak akan seperti itu lagi.." kata Brata lagi pura-pura memelas.
Sayangnya putri Hanindya tahu jika Brata bukanlah orang yg mudah menyerah begitu saja,dia pasti akan mencari kesempatan lain untuk membalas.
"Sayangnya aku tidak semudah itu dapat memaafkan orang yg penuh tipu daya sepertimu.. Aku tahu kata maafmu hanya di bibir saja..! pergi kau dari hadapanku sekarang juga..!!" kata putri Hanindya penuh amarah karna kebohongan Brata. Sambil mengibaskan tangannya kasar dan membuat pemuda sombong itu terpental keluar dari kedai sang nenek.
"Aaarrrggghh"
"Dasar perempuan sialan.. akan ku balas kau lain waktu...!!!" teriak Brata yg terjatuh tersungkur di halaman kedai menyusul para antek-anteknya.
Tampangnya sekarang bagaikan pengemis yg di usir pemilik rumah yg ia minta-mintai.
Dan ternyata apa yg sang putri duga benar adanya,kata maaf Brata hanya di bibir saja, dan pastinya lain kali dia akan mencari cara untuk membalas.
Brata yg terjatuh segera berusaha bangkit dan pergi dengan beberapa pengawalnya yg telah babak belur karna serangan dari putri Hanindya tadi.
"Dasar tak berguna..!!" kata dayang Aru mengejek setelah Brata selesai mengomel ria.
Sang putri pun segera menuju mejanya lagi dan berbicara dengan orang kepercayaan sang nenek.
"Paman Danu.. Aku percayakan kedai ini padamu,,jangan sampai ada manusia yg bernama Brata kembali kesini lagi.." kata putri Hanindya tegas.
"Baik nona.. saya akan mengurusnya dengan lebih baik lagi.. Jangan hawatir akan hal itu.." jawab tuan Danu sopan.
Mereka membahas panjang lebar tentang bisnisnya. Sambil menikmati hidangan yg di suguhkan.
Kekacauan sudah di atasi dan para pengunjung sudah seperti biasanya lagi,tentram dan damai.
Setelah mereka selesai membahas bisnis mereka,putri Hanindya dan sang dayang berpamitan untuk pergi dan kembali ke desanya.
******
__ADS_1
Hari-hari telah berlalu tak terasa pernikahan sang putri dan pangeran Candra sudah akan tiba. Para dayang istana sibuk dengan urusan masing-masing di dalam istana kerajaan ular putih untuk mempersiapkan pernikahan junjungan mereka.
Sedangkan sang putri masih di rumah sang nenek,hatinya berdebar menanti hari bahagia itu hingga tangan dan kaki sang putri berkeringat dingin karna sangat gugup.
Hatinya sedih bercampur bahagia sekarang,seharusnya di hari paling bahagia dalam hidupnya di dampingi oleh ayah dan ibunya,namun dia sangat malang. Melihat ayah dan ibunya saja belum pernah,apalagi sang ayah juga membencinya.
Gadis cantik itu melamun sepanjang hari di kamarnya dan mengurung diri.
tok tok tok
Tiba-tiba saja pintu kediamannya di ketuk dari luar. Sang dayang segera membuka pintu kediaman itu.
Kreekk
suara pintu di buka.
"Eh.. anda siapa..? ada perlu apa kemari" Tanya dayang Aru penuh kewaspadaan.
Dayang Aru kurang faham siapa yg ada di hadapannya. dia tampak asing dengan pemuda itu. Karna selama ini dayang Aru tidak pernah keluar dari kerajaan ular putih,ia hanya melayani ratu Anjani sepanjang waktu, dan seumur hidupnya baru kali ini ia hidup di luar istana.
Namun sang dayang tahu jika pemuda di hadapannya itu sama seperti dirinya yg bangsa ular.
"Aku Wiraka dari kerajaan ular hitam. Aku ingin bertemu adikku jangan banyak tanya lagi..!!" kata pangeran Wiraka dengan kasar.
"Apa...?? dia pangeran Wiraka..? tidak.. aku tidak akan menyerahkan putri.. aku dengar dia sangat kejam pada siapapun. Jangan-jangan ia datang kesini ingin membunuh putri atas perintah raja Darma.. Tidak akan aku biarkan kau menyentuh putri sehelai rambut pun dasar orang kejam" Batin Aru yg salah faham. Dia belum tahu jika pangeran Wiraka sangat menyayangi putri Hanindya. Yg ia tahu pangeran Wiraka adalah orang yg sangat arogan dan tanpa ampun dan tak ber perasaan.
"Tidak..Sedetik pun aku tidak akan membiarkan kau menemui putri..!!" teriak dayang Aru.
Putri Hanindya yg mendengar keributan di luar pun segera tersadar dari lamunannya dan keluar dari kamar menuju puntu depan.
"Kanda Wiraka.." sebut putri Hanindya terkejut.
** Bersambung..
** Met istirahat para readers.. mf telat update ya..
__ADS_1
** Jangan lupa like and coment...
** Makasih yg udah nungguin ceritaku..😘😘