
Pria itu menoleh ke arah suara yg meneriakinya. Di lihatnya gadis kecil yg masih sangat muda kira-kira baru berumur 15 atau16 tahun.
Salah satu dari mereka pun meneriaki Dewi dengan kesal karna telah berani mengganggu kesenangannya.
"Berani sekali gadis kecil sepertimu menghentikan kami?" ia melotot sambil berkacak pinggang pada Dewi.
"Ini daerah kekuasaan ku beraninya kau menghalangiku menarik pajak...!!" Teriak pemimpin bandit itu.
"Siapa kau?" bentak salah satu bandit itu lagi.
Pria bertubuh kekar itu berbicara dengan lantang sambil melihat gadis itu dari atas kebawah mencari jawabannya sendiri pada penglihatannya.
"Siapa aku itu tidaklah penting,seharusnya aku yg bertanya seperti itu pada kalian.." kata Dewi dengan kemarahannya.
Sungguh dia tidak habis fikir ternyata ada juga orang semacam itu di sekitar iya berada.
"Siapa kamu berani-beraninya menindas wanita lemah.. dan menarik pajak lagi dari para pedagang kecil ini,aku tau kau bukan suruhan pemerintah kota. Jika kepala kota atau raja tau kira-kira kalian akan di apaakan ya..??" Kata gadis itu menggertak.
Gadis itu mengetuk-ngetukkan jari telunjuk di pipinya sambil pura-pura berfikir.
"oh mungkin kalian akan dipenjara atau mungkin dipenggal ya?" Kata gadis itu kemudian.
Para bandit(atau kalo sekarang mungkin preman pasar kali ya?) itu pun bergidig ngeri dengan perkataan Dewi,dia takut jika gadis itu masih berhubungan dekat dengan keluarga pejabat kota atau bahkan kerajaan karna melihat dari pakaiannya yg tidak seperti gadis desa pada umumnya.
Meskipun pakaiannya terlihat biasa namun dia tau itu pakaian yg mahal dan tidak semua orang bisa memakainya.
Dia takut gadis itu akan melaporkannya atau malahan gadis itu memiliki pengawal bayangan dari kerajaan yang memata-matai dan menjaga nonanya itu. fikir para bandit itu.
.
.
.
Dari kejauhan ada sepasang mata yg memperhatikan gadis kecil itu yg sedang beradu argumen dengan para bandit di pasar,ia tersenyum melihat tingkah lucu sang gadis sambil memujinya..
"Ternyata kau bukan kelinci kecil yg penakut, gadisku,,,
hmmm.. sunggung mengagumkan". dalam fikiran pria tersebut.
__ADS_1
Ternyata pangeran Candra memperhatikannya saat tanpa sengaja ia mendengar keributan tadi. Ia membaur dengan para manusia dengan pakaian sederhana agar tidak terlalu mencolok.
Ia kebetulan sedang berjalan-jalan untuk melihat bagaimana kehidupan manusia.
.
.
.
"Hah..!! kenapa mereka malah berlari ketakutan..??" Batin gadis itu heran.
Dewi yg melihat para bandit lari tunggang langgang pun melongo, karna ia terheran-heran,,bisa-bisanya ia mengusir bandit itu tanpa menggunakan kekuatannya yg tidak seberapa itu,, hanya dengan perdebatan saja.
Ia memastikan di sekitarnya apakah ada orang lain yg membuatnya takut. Setelah ia merasa tidak ada satu pun yg dia rasa bisa membuat para bandit itu takut ia tertawa terpingkal-pingkal.
Ia tak menyangka hanya digertak saja mereka akan lari terbirit-birit. Padahal sebenarnya ia khawatir para bandit itu akan memukulnya tadi.
"hahaha... sungguh aneh..! badan aja besar tapi nyalinya ciut." celotehnya sambil terpingkal.
Kemudian..
"Tak apa nak,terimakasih ya nak kau sudah menolongku" wanita itu menjawab dengan diikuti senyuman.
"Mereka memang selalu memungut pajak lagi diluar pajak pemerintahan dan mengancam kami dan menyiksanya kalau-kalau ada yg berani melaporkan mereka. Dan pajak yg mereka tarik sangat tinggi sekali,bahkan hampir 2 kali lipat dari pajak pokok yg diajukan pemerintah, dan kalau tidak membayar mereka akan menghancurkan dagangan kami dan berbuat kasar dan menyiksanya". wanita paruh baya tersebut menceritakan kesusahannya menjadi pedagang kecil.
Dewi hanya mendengarkannya dengan antusian sambil sesekali ia mengangguk tanda mengerti.
"Kenapa tidak ada satu pun orang yg membantu bibi untuk melawannya..? kalau kalian bersatu pasti mereka akan kalah" kata gadis kecil itu.
"Entahlah.. kami sangat takut. Kami semua tidak bisa berbuat apa-apa apalagi pedagang kecil sepertiku ini,mereka sangat kejam dan tidak segan melukai bahkan membunuh para pembangkangnya". wanita itu menjelaskan apa yg terjadi selama ini padanya dan para pedagang lain di tempat itu.
"Oh.. pantas saja tidak ada yg berani menolong bibi". Dewi menyentuh dagunya sambil manggut-manggut karna ia mengerti sekarang,,kejadian sebenarnya.
"Tapi kenapa dengar perkataanku saja ia lari terbirit-birit? bukankah mereka itu kejam tanpa ampun? apa yg mereka takutkan dari gadis kecil dan imut sepertiku ini? Kan bisa saja iya menghabisiku langsung.." Dewi terheran-heran dibuatnya.
"Oh mungkin itu karena mereka mengira kamu berhubungan dengan pejabat nak. Karna pakaianmu tidak terlihat seperti gadis desa biasa". sela bibi itu pada Dewi.
"Benarkah begitu bi?" gadis itu memandangi baju yg di belikan oleh neneknya itu.
__ADS_1
"W**ow ternyata selera nenek bagus juga". dalam hati Dewi memuji neneknya.
sedangkan di rumah nenek Galuh yg barusan di bicarakan terhacing-hacing.
"Siapa ini yg membicarakanku??" kata nenek Galuh yg habis bersin.
.
.
.
"hahh untunglah kalau tidak pasti aku sudah di habisi para preman tadi",gadis itu menghela nafasnya lega.
"Terima kasih nenek,, kau telah menyelamatkanku" katanya dalam hati.
"Yasudah bibi ini untukmu"
kata Dewi sambil memberikan beberapa koin emas pada wanita itu.
"Terimalah semoga bisa meringankan bibi walaupun tidak seberapa".imbuhnya lalu gadis itu tersenyum manis pada wanita tersebut.
"Terima kasih nak,semoga kau mendapat karma baik berpuluh-puluh kali lipat dari pada ini" wanita itu menerima dengan gembiranya.
"Baiklah aku akan membeli kebutuhan dapur di tempat lain,bibi jaga diri baik-baik,,jangan sampai di tindas lagi oleh orang jahat" kata gadis itu dengan senyum manisnya.
"Baiklah nak" balas wanita tersebut.
Dewi meninggalkan bibi itu menuju tempat-tempat belanja kebutuhan lainnya yg belum sempat terbeli, karna tertunda gara-gara sedikit drama tadi,,setelah semuanya ia dapatkan, dia bergegas pulang takut neneknya akan khawatir.
"Hah.. Akhirnya selesai juga.." hela nafas lega gadis itu yg telah selesai berbelannya.
"Pasti nenek sudah khawatir sekarang,sebaiknya aku segera pulang". kata gadis itu sambil mencari kereta kuda yg masih kosong yg menuju desanya.
Tak butuh waktu lama ia telah mendapatkan keretanya. Setelah mendapat kereta gadis itu naik kereta kudanya untuk kembali pulang ke kediamannya.
"Di mana kediamannya nona..??" tanya tuan kusir
"Ke desa paling dekat hutan Kahiyasan ya tuan..!" kata gadis kecil itu dengan senyumnya yg ramah.
__ADS_1
Dewi pun menikmati perjalanannya dengan santai dan bahagia. Ia sangat senang dapat menolong sesamanya. Sesekali ia teringat kelakuan konyol para bandit di pasar tadi.