PARTNER TERPANAS KU

PARTNER TERPANAS KU
MAIN


__ADS_3

Di ruang tengah yang bercahaya redup,remang - remang. Tampak Lisa sedang duduk di sofa. Satu botol wine itu sudah habis di minumnya. Somat yang duduk di depannya memperhatikan Lisa sampai tidak berkedip. Senyum nya mengembang, dengan emosi nya, Lisa minum botol wine itu rakus tak bersisa. Dia sangat enggan akan melayani laki - laki yang kulitnya sangat kontras dengan kulitnya itu. Somat laki - laki kampung yang berkulit hitam, tampak dekil berbau.


Lisa mulai mengacau. Celoteh nya mulai ngawur. Somat menyaksikan tiap gerakan yang di mainkan Lisa. Di ambilnya ponsel untuk merekam tiap kejadian yang akan dia lakukan bersama Lisa. Somat tidak akan mensia - siakan kesempatan itu, untuk memeras wanita yang di hadapannya suatu saat nanti.


Lisa mulai gerah. Di bukalah satu persatu kain yang melekat di badannya. Somat mulai menelan ludah nya. Air liur itu mulai deras mengalir bak banjir. Kamera itu sudah siap merekam segala kejadian detik - detik pergumulan mereka berdua. Somat dengan hasratnya jiwa remaja yang masih sangat ingusan,mulai menjelajahi tiap lekuk tubuh Lisa. Lisa mulai menggeliat dan panas akan gerakan eksotis tangan - tangan nakal Somat. Lisa tidak mau kalah, dia ingin menguasai Somat sampai dia di posisi atas. Kesadaran nya mulai menurun. Kepercayaan dirinya muncul tak terkontrol oleh akal sehat. Hanya hasrat dan gejolaknya yang ingin tertumpah kan.


Malam semakin larut, dua insan itu bergelut dalam keringat yang mengucur. Geloranya meledak - ledak bak petasan yang bergemuruh. Makhluk Tuhan yang seketika lupa,jika hasrat dan keinginannya mendominasi raganya. Kontrol dirinya seketika lupa, akan aturan dunia yang harus di jalankan. Hidup yang bebas tak terikat dengan hukum Tuhan.


Somat mulai meninggalkan Lisa setelah, hasrat nya terlampiaskan dengan puas. Somat tersenyum, di timang nya kamera yang akan menjadi senjatanya untuk memeras wanita tak berbalut kain itu suatu hari nanti.


Somat bergegas ke belakang villa, dan mulai menyeduh kopi dan duduk menikmati rokoknya. Sesekali dia melihat reka ulang adegan yang telah ia lakukan dengan Lisa. Suatu saat nanti,video itu akan di jadikan senjata bagi dirinya untuk memeras Lisa baik duit maupun keinginan hasrat nya.


Suara de sah dan teriakkan manja mulai terdengar nyaring di telinga Somat. Somat mulai resah, rasa penasaran nya begitu besar untuk melihat suara - suara yang bisa membangkitkan emosi seksual nya. Somat mulai bergerak dan melangkah ke arah suara yang berada. Di kamar belakang, tampak pemandangan yang bikin Somat terperanjat dan terkejut dengan adegan yang di perankan oleh dua laki - laki dan satu wanita. Dia adalah Rita, Rodeo dan Wanto. Somat dengan cepat mengambil adegan itu dan direkamnya di kamera nya.


"Ini akan menjadi senjata lagi buatku...hehehe." kata Somat pelan.


Air liur Somat ikut mengalir melihat tiap - adegan yang panas itu. Tidak pernah ia lakukan selama ini, model gaya seperti itu. Jiwa mudanya mulai muncul. Kembali senjatanya mulai menegang seperti kayu yang mengeras.


" Ah sial!" umpat Somat.


Setelah di rasa cukup merekam adegan untuk usia dua puluh satu tahun ke atas itu, Somat dengan cepat kembali ke ruang tengah dimana Lisa masih tergeletak lemah pasrah tak berbalut kain di tubuhnya. Dengan cepat, Somat kembali menggarap Lisa dengan semakin ganasnya. Memakan habis tak bersisa. Mahkota itu bak tidak ada harganya di koyak - koyak bagai kain sudah tidak layak pakai.


Gelap semakin gelap. Cahaya lampu yang remang - remang membuat redup hati dan jiwa manusia. Seketika lupa,seketika jadi gila,jika manusia di kuasai oleh ambisi nafsunya.


*******


Di rumah Aziz. Tia sedang duduk bersama Sintia adik Dodo. Tia adalah putri tunggal dari walikota di daerah itu. Kedatangannya ke rumah itu tidak lain dan tidak bukan adalah ingin menjumpai Aziz.


Dengan mendekati Sintia adalah salah satu cara agar lebih mengenal seluruh anggota keluarga Aziz. Sore itu Dodo sudah pulang dari kantor lebih cepat di banding Aziz yang sering pulang larut malam. Dodo sedang menikmati secangkir kopi dan pisang bakar di meja makan. Mata Tia mulai menjelajahi ruangan rumah yang cukup mewah itu. Sintia masih setia menemani Tia yang duduk santai sambil memainkan ponselnya.


" Mas Aziz sering pulang malam Mbak." kata Sintia sambil memakan cemilan yang ada di tangannya.


" Iya tidak apa - apa. Aku tidak ada kegiatan hari ini. Jadi biarkan aku menunggu Mas Aziz." ucap Tia.


" Atau kita jalan - jalan dulu ke mall yuk Mbak!" ajak Sintia.


" Aku lagi males Sin." sahut Tia.


" Oh!" ucap Tia dan langsung terdiam.


" Mbak Tia sudah makan belum?" tanya Sintia sambil mendekati Dodo yang asyik menikmati kopi hitamnya dengan ditemani rokok yang menyala di tangannya.


" Tumben Mas Dodo sudah di rumah. Biasanya habis kerja klayapan entah kemana." ucap Sintia.


" Lagi malas!" sahut Dodo.


" Duduk di sini saja Mbak Tia! Gabung dengan Mas Dodo!" ajak Sintia.


Tia melangkah mendekati meja makan dimana Sintia dan Dodo sedang duduk di sana.


" Suka kopi tidak Mbak?" tanya Sintia.


" Suka!" jawab Tia singkat sambil menggeser kursi itu dan mendudukkan pantatnya.


" Mas Aziz, temani Mbak Tia dulu yah! Aku mau buatin kopi untuk Mbak Tia." kata Sintia sambil berjalan ke dapur.


Dodo dan Tia mulai sibuk dengan ponsel di tangan masing - masing. Tidak ada percakapan di antara keduanya. Lagi pula memang tidak punya bahan untuk mengobrol diantara ke duanya.


" Mas Aziz suka main game?" tanya Tia yang berusaha memecah keheningan.


" Kadang - kadang saja!" jawab Dodo singkat.

__ADS_1


" Ooh?"


" Maaf! Asap rokok ku terbang ke arah kamu yah?" ucap Dodo yang melihat Tia mulai tidak nyaman dengan asap rokok yang mengebul ke arah dirinya.


" Eh? Tidak apa - apa Mas!" sahut Tia.


" Kamu bisa pindah duduk mu!" kata Dodo.


" Nah! Ini kopinya Mbak Tia!" kata Sintia yang sudah datang membawa secangkir kopi buatannya.


" Terimakasih Sintia!" ucap Tia.


" Mas Aziz, belakangan ini pulangnya jam sebelas malam." cerita Dodo.


" Hah? Tapi bukannya pulang kantor sampai jam setengah delapan malam?" tanya Tia.


" Mas Aziz langsung ke rumah gebetannya!" sahut Dodo yang tidak menjaga perasaan Tia.


Tia terdiam sejenak. Tangannya mulai mengambil secangkir kopi buatan Sintia lalu meminumnya. Bola matanya menatap Dodo yang masih asyik memainkan ponselnya.


" Eh Bagaimana kalau kita main Ludo yuk!" ajak Sintia.


" Tentunya yang kalah kita coret dengan lipstik!" tambah Sintia.


" Ayo Mas Dodo!" ajak Sintia sambil membuka ponsel nya dengan permainan Ludo yang di tawarkan.


" Sintia! Mas lagi malas!" sahut Dodo.


" Kasihan Mbak Tia! Biar tidak bosen nunggu Mas Aziz pulang." kata Sintia.


Akhirnya dengan malas, Dodo ikut bermain Ludo dengan Sintia dan Tia. Permainan itu, lama kelamaan makin seru, apalagi ketika Dodo kalah dan kena beberapa coretan di wajahnya dengan lipstik. Tawa Sintia dan Tia pecah ketika melihat wajah Dodo yang penuh dengan merah - merah lipstik itu.


" Hehehehe.Jangan khawatir mas! Mas Dodo selalu kelihatan ganteng walaupun di coret - coret seperti ini." kata Sintia sambil tertawa terkekeh.


Tia mulai terlihat tertawa karena melihat ekspresi Dodo yang lucu. Coretan - coretan di wajah mulai ada di wajah Sintia dan Tia. Akhirnya mereka semua ikut tertawa. Dodo yang awalnya malas dengan permainan Ludo itu,jadi bersemangat bermain. Ketiga nya mulai menikmati permainan itu sampai menjelang malam.


" Cukup! Kalian sholat magrib tidak? Mas, mau sholat magrib dulu." kata Dodo sambil meninggalkan mereka berdua.


******


Waktu menunjukkan pukul sebelas malam. Mobil sport milik Aziz mulai memasuki pekarangan rumah mewah yang di depannya ada pos jaga. Mobil itu mulai masuk di garasi rumah. Selang beberapa lama, Aziz keluar dari mobil itu dan masuk kedalam rumah.


Tia duduk di depan televisi. Di temani Sintia yang berbaring dengan karpet. Kedatangan Aziz membuat mata Tia jadi segar dan bersemangat.


" Mas! Mbak Tia dari sore nunggu Mas Aziz pulang lhoh!" teriak Sintia.


" Hah?" Aziz terkejut dengan adanya Tia di rumah.


" Hem! Maaf yah! Aku harus istirahat!" kata Aziz sambil masuk ke dalam kamarnya.


" Eh Mas Aziz!" teriak Sintia lalu mengejar Aziz masuk kedalam kamarnya.


" Sintia! Adikku yang paling ku sayang! Mas, baru pulang dan capek loh!" ucap Aziz.


" Tapi kasihan Mbak Tia, dari sore nunggu Mas Aziz pulang." cerita Sintia.


" Mau ngapain?" tanya Aziz.


" Ingin jumpa dengan Mas Aziz!" jawab Sintia.


" Tolonglah mas! Kasihan! Di temui dulu." tambah Sintia.

__ADS_1


" Iya! ..Iya!" sahut Aziz sambil keluar ke ruang tengah.


Tia masih duduk di depan televisi. Melihat dengan kosong acara di layar kaca itu. Aziz datang dan menghampiri Tia.


" Tia!" panggil Aziz.


" Iya Mas!" sahut Tia.


" Kita duduk di meja makan saja yah!" ajak Aziz.


" Iya Mas!" jawab Tia sambil mengikuti Aziz yang sudah duduk di meja makan itu.


" Kamu sudah makan?" tanya Aziz.


" Sudah mas! Tadi sama Sintia." jawab Tia.


" Sudah larut malam. Kenapa kamu tidak pulang Tia!" kata Aziz.


" Iya! Setelah menjumpai Mas Aziz, aku akan pulang kok!" kata Tia sambil menunduk.


" Eh?" Aziz jadi iba.


" Kamu bawa mobil bukan?" tanya Aziz.


" Iya mas!"jawab Tia singkat.


" Lain kali, kalau mau mencari aku telepon dulu,biar tidak menunggu terlalu lama." kata Aziz.


" Iya mas Aziz. Aku juga sekalian main dengan Sintia. Tidak apa - apa kok." ucap Tia.


" Aku yang jadi tidak enak hati." kata Aziz.


" Oh! Mas Aziz kenapa baru pulang?" tanya Tia.


" Aku dari tempat gebetan ku!" ucap Aziz dengan jujur.


" Oh!"


" Eh? Maaf Tia!" ucap Aziz.


" Iya tidak apa - apa mas!" sahut Tia sambil menunduk.


" Kamu kalau ingin tidur di sini, di kamar Sintia saja yah! Sebenarnya aku mau istirahat. Besok harus bangun pagi, ada rapat di kantor." cerita Aziz.


" Iya mas Aziz! Aku pulang saja sekarang." ucap Tia sambil berdiri dari tempat duduknya.


Aziz mengikuti langkah Tia yang keluar dari rumah itu.


" Tia! Hati - hati di jalan ya!" kata Aziz akhirnya.


" Iya mas Aziz! Terimakasih banyak!" ucap Tia.


" Terimakasih untuk apa?" tanya Aziz.


" Mau menjumpai aku!" jawab Tia.


" Oh?"


Betapa sesak hati Tia dengan situasi itu. Perasaan cinta nya seperti tidak terbalas. Cinta nya seperti bertepuk sebelah tangan. Namun bukan Tia namanya jika mudah menyerah.


" Aku pasti bisa menaklukkan kamu, mas Aziz! Aku yakinkan itu, cepat atau lambat!" batin Tia.

__ADS_1


__ADS_2