
Lisa dan Rodeo lagi berkencan di sebuah villa. Om Pras dan Imey pun juga lagi perjalanan ke villa. Mereka sama-sama berkencan dengan pasangan rahasia nya. Pasangan yang aneh tapi itulah adanya.
Di dalam villa yang asri dengan dikelilingi pohon-pohon Cemara yang tinggi, menambah suasana romantis bagi pasangan muda - mudi.
Lisa dan Rodeo sedang duduk santai di sofa. Di atas meja penuh dengan makanan ringan dan minuman yang memabukkan. Dengan lampu yang remang - remang membawa kedua nya dalam suasana panas yang menggairahkan. Inilah dunia mereka. Dunia yang tanpa batasan. Aturan yang ada hanya untuk di langgar. Semakin lama semakin terdengar suara laknat dan suara-suara nakal diantara ke duanya.
Penjaga villa yang masih di dalam dapur, akhirnya berlari kecil keluar villa karena tidak tahan mendengar suara - suara yang bikin gairah seseorang tiba - tiba menjadi muncul tak terkendalikan.
Di depan villa, penjaga itu meminum kopi buatannya dan sambil menghisap batang rokok yang sudah menyala. Usianya masih sangat muda untuk menjadi penjaga villa. Jauh lebih muda di banding Rodeo dan Lisa.
Penjaga villa itu bernama Somat dengan keturunan Sunda. Pasalnya, ayahnya lah yang selalu menjaga villa itu. Tetapi karena ayahnya lagi masuk angin, Somat lah yang menggantikan untuk mengurus tamu - tamu yang datang untuk menyewa villa.
Malam semakin larut, Somat mulai penasaran dengan pasangan yang ada di ruangan itu. Somat mulai bergerak mengintipnya. Pelan - pelan Somat melangkah kan kaki nya mendekati ruangan itu. Alangkah terkejutnya Somat melihat pemandangan yang bikin air liurnya menetes itu. Sepasang laki - laki dan perempuan tergeletak tanpa sehelai kain yang menutupinya.
"Gila! Ini benar - benar gila!" gumam Somat yang tidak bisa membendung gelora laki - laki nya.
Somat mendekati ke duanya. Laki - laki itu terkapar tertidur di karpet bawah sofa. Sedangkan yang wanita tertidur dengan terlentang di atas sofa.
Somat segera mengambil ponselnya dan segera memotret keduanya. Pikiran nakal mulai menjalar di otaknya. Air liurnya sudah tidak bisa terkontrol lagi melihat tubuh wanita tanpa sehelai kain terlentang menantang kejantanan nya.
"Gila! Ini benar-benar membuatku gila! Aku tidak bisa mengendalikan hasrat ku." kata Somat pelan.
Akhirnya Somat tidak bisa mengendalikan diri. Wanita itu yang tidak lain adalah Lisa. Akhirnya di nikmati oleh Somat. Lisa yang dalam keadaan mabuk berat tidak bisa membedakan antara Rodeo dan Somat. Lisa menikmati semua perlakuan Somat, sampai beberapa kali.
Malam semakin meninggalkan asa. Kabut malam pun kian kelam. Pergi bersama Mega - Mega. Dunia hanyalah sementara. Akal manusia sudah tidak bisa mengendalikan nafsu manusia lagi jika dirinya di kendalikan minuman yang memabukkan.
Pagi telah tiba. Somat tertidur di pos jaga. Somat merasa kelelahan karena semalam Beberapa trip menikmati tubuh wanita itu. Tiba - tiba ada sebuah mobil masuk ke area villa. Somat segera mendekati mobil itu dan mulai menyapanya.
"Selamat pagi pak! Bisa saya bantu?" tanya Somat bersikap ramah.
" Saya butuh kamar satu yang luas." kata laki - laki paruh baya dengan seorang wanita.
" Oh tentu bisa pak. Di villa ini baru di huni satu kamar saja dan hari ini mereka akan keluar. Tapi mereka semalam masih tidur di ruang tengah. Kiranya bisa membuat bapak dan ibu tidak nyaman." cerita Somat.
" Oh! Tidak jadi masalah! Biar saya langsung ke kamar lantai dua saja bisa?"
" Bisa pak! Mari saya antar." kata Somat sambil mengantar ke dua tamu itu.
" Mari lewat tangga ini saja pak." kata Somat sambil menunjuk kan jalan yang langsung menuju lantai dua agar tidak melewati ruangan yang di gunakan Rodeo dan Lisa.
"Ini kamarnya pak." kata Somat setelah membuka kunci kamar itu. Lalu pasangan itu segera masuk dan menutup kembali pintu kamar itu.
"Momo! Enak tidak suasananya?" tanya om Pras.
Tamu yang datang itu tidak lain adalah Imey dan Om Pras.
" Enak Om!" jawab Momo.
" Eh Om? Momo turun sebentar yah. Ada barang Momo tertinggal di dalam mobil."
" Ya sudah! Jangan lama - lama!" kata Om Pras.
Momo berjalan ke arah mobil dan mengambil barang yang tertinggal. Tiba - tiba Momo melihat Rodeo berjalan dengan wanita lain masuk ke dalam mobil. Momo segera bersembunyi di dalam mobil sampai mobil yang di kendalikan Romi berlalu meninggalkan villa.
" Satu sama!" kata Momo sambil tersenyum lalu keluar dari mobil dan kembali ke kamar villa.
*******
Luna duduk bersama Karin sahabat dekatnya. Menikmati hari libur bersama. Secangkir kopi hitam kesukaan Luna sudah tinggal setengahnya. Luna yang sedari mengoceh tanpa jeda membuat Luna jadi terasa haus. Yang bersuara siapa, yang haus siapa. Aneh bukan?
" Bagaimana kabar Dodo sekarang Luna?" tanya Karin akhirnya membuka topik pembicaraan lain.
" Dodo? Dia baik - baik saja. Kenapa bertanya denganku?" tanya Luna sambil menghabiskan kopi yang masih tersisa.
" Kenapa tidak kamu terima saja pinangan Dodo? Supaya kamu tidak kesepian lagi. Lagi pula, Dodo orangnya baik, mapan lagi." kata Karin.
" Aku dari dulu menganggap Dodo sebagai sahabat. Tidak lebih dari itu." cerita Luna.
" Oh ho! Sedikit pun rasa suka tidak ada?" tanya Karin semakin menyudutkan Luna.
" Sudahlah jangan membahas Dodo. Bagaimana dengan Galah? Kalian ada rencana lebih jauh tidak, setelah nikah siri?" tanya Luna menyelidik.
" Belum! Cuma kami selalu baik - baik saja!" kata Karin sambil tersenyum.
" Atau kamu mengikuti jejak ku saja, mencari brondong dan menikah siri." tambah Karin sambil terkekeh.
" Otakmu kurasa sudah konslet ya Karin?" sahut Luna sambil men jitak kepala Karin.
" Ow! Sakit nyoya!" teriak Karin.
Tiba - tiba datang dua orang pemuda membawa tas belanjaan dan tas plastik yang berisi makanan siap makan.
" Sudah lama menunggu ya?" tanya Dodo sambil meletakkan beberapa kotak nasi.
" Tidak!" sahut Karin.
" Ayo kita makan!" ajak Luna sambil membuka kotak nasi yang berisi kan nasi dan iga bakar dengan lalapannya.
" Galah harus makan banyak Karin." sambung Luna.
" Kenapa rupanya?" tanya Karin.
" Biar tidak kurus kering seperti itu." tambah Luna sambil tersenyum.
"Galah memang menginginkan kurus seperti itu Luna!" kata Dodo.
" Kenapa?" tanya Luna.
" Karena Karin suka yang kurus - kurus." jawab Dodo.
" Galah! Cepat lah kemari! Kita makan sama - sama." ajak Dodo.
" Lanjutkan! Aku mau ngopi dulu bang." sahut Galah yang lagi membuat kopi di dapur.
" Abang mau kopi tidak?" tanya Dodo.
" Boleh!" jawab Dodo.
" Aku baru tahu kalau Ima suka yang kurus - kurus." cerita Luna
" Ah aku tidak milih - milih seperti kamu Riana." sahut Karin sambil melirik Dodo.
" Aku tidak milih - milih, hanya belum ada yang berani melamar aku saja." kata Luna akhir nya.
" Bang? Abang sudah dengarkan? Cepat lamar Luna." sahut Ima.
" Eh??" Luna terkejut sampai memerah pipinya.
" Luna mana mau denganku?" sindir Dodo sambil melirik Luna.
"Hah??" Luna terkejut dan menatap Dodo.
" Maaf! Jangan tersinggung." sahut Dodo.
" Jadi gak selera makan!" kata Luna sambil meninggalkan mereka semua.
" Eh? Luna marah beneran ya?" tanya Karin.
" Lagi M mungkin!" sahut Galah sambil membawa dua cangkir kopi lalu di letakkan di atas meja.
" Wanita kalau lagi M, bawaannya emosi saja ya?" tanya Dodo.
" Tidak juga!" jawab Karin.
" Lalu? Kenapa Luna jadi baper?" tanya Dodo.
" Mungkin Abang tidak paham kode Mbak Luna."
" Maksudnya?" tanya Dodo.
" Coba Abang ungkapkan perasaan Abang sebenarnya dan kesungguhan Abang untuk menikahi Mbak Luna." kata Galah serius.
"Bukan dalam situasi bercanda." tambah Galah
" Dulu sudah sering aku lakukan,tapi selalu di tolak." cerita Dodo.
" Dulu dengan sekarang lain bang." kata Galah sambil menghisap batang rokok nya yang sudah menyala.
__ADS_1
"Baiklah! Nanti akan aku coba lagi." kata Dodo sambil tersenyum.
" Sejak kapan Abang menyukai mbak Luna?" tanya Galah.
" Sejak kuliah!" jawab Dodo singkat sambil minum kopi buatan Galah.
" Lama juga ya. Bertahan dengan satu nama sampai sekarang. Hebat!" kata Galah.
" Iya hanya satu nama nya saja." sahut Dodo sambil tersenyum.
*******
Di rumah Pras, yang super megah dan mewah, Mama - mama muda sedang berkumpul untuk arisan. Pasalnya istri Pras ini, sering mengundang kawan - kawan sosialitanya datang ke rumah. Tentu saja, rata - rata berpenampilan mewah dan mengikuti trend mode masa kini.
" Lisa Kamu tambah cantik lho, pasti brondong kamu bisa memuaskan keinginan mu." kata Susi, mama muda yang punya dada yang besar dengan suara pelan.
" Tentu saja!" jawab Lisa sambil tertawa.
" Susi! Kamu ingin barter denganku?" tanya Lisa.
" Haha." Susi tertawa.
" Kalau kamu mau, kita bisa buat variasi gaya." kata Lisa mulai memunculkan ide nakalnya.
" Hah? Gila kamu Lisa! Hahaha."sahut Susi yang tertawanya membuat Rita jadi ikut bergabung dekat mereka duduk.
" Membicarakan apa ini?" tanya Rita.
" Barter brondong!" jawab Susi berbisik.
" Kenapa tidak buat kencan bareng saja Minggu depan?" usul Rita.
" Ya ampun! Ternyata ada yang lebih gila di banding Lisa, " sahut Susi.
" Mau gak?" Tanya Rita akhirnya.
" Dimana?" tanya Lisa.
" Di rumahku saja." jawab Rita.
" Hah?" Lisa terkejut.
" Di rumahku yang di Tangerang, di sana kan kosong." jawab Rita.
" Oh...Boleh juga!" kata Susi.
" Aku bisa Makai punyamu kan Rit?" tanya Susi.
" Silahkan saja! Hahahaha."
" Aku penasaran dengan punya Lisa yang sekarang. Seperti nya Tamara terpuaskan deh." sahut Rita.
" Iya! Aku juga mau cobain punya Lisa." sahut Susi.
" Atau kita main triple saja Sus." ide gila Rita.
" Kamu pernah coba?"
" Pernah!" jawab Rita singkat.
" Hahahaha." mereka bertiga tertawa terbahak- bahak.
"Lisa! Kalau kamu dengan Pras bagaimana?" tanya Rita.
" Bagaimana apanya?" tanya Lisa.
" Hubungan selayaknya suami istri, kamu dengan Pras, suamimu?" tanya Rita.
" Ah Pras selalu tidak bergairah dengan aku." cerita Lisa.
" Ya ampun! Kasihan sekali kamu!" sahut Susi.
" Sudahlah! Kita makan yuk!" ajak Lisa.
" Nanti saja, kita lagi seru cerita soal ginian." kata Susi.
" Pras lagi di kamar atas?" tanya Rita.
" Tidak mungkin Sus. Kalau kamu mau coba lah goda dia di kamar atas!" kata Lisa.
" Ya ampun! Kamu tidak takut kalau suamimu tergoda denganku?" kata Susi sambil menoyor kepala Lisa.
" Coba dulu! Nanti kalau sudah panas, aku bisa masuk dan main dengan kalian." kata Lisa sambil tertawa nakal.
" Kamu serius Lis?" tanya Susi.
" Kamu mau Sus?" tanya Rita.
" Kalau di ijinkan Lisa, aku mau coba ke atas." jawab Susi.
" Silahkan naik ke kamar atas! Aku ingin lihat! Suamiku mudah tergoda dengan wanita selain aku tidak?" kata Lisa.
" Kalau Pras tergoda?" tanya Susi.
" Aku akan ikut gabung, main dengan kamu." jawab Lisa.
" Ya ampun! Gila kamu!" sahut Susi.
" Aku sudah pernah main tiga. Rasanya lebih nikmat." cerita Rita.
" Dan bikin nagih lho!" tambah Rita.
" Ya ampun! Kamu ternyata lebih gila juga ya Rita! Memang suami kamu tidak pernah pulang yah?" tanya Susi.
" Iya! Sudah setahun ini gak pulang - pulang." cerita sedih Rita.
" Oh pantas saja!" sahut Susi.
" Jadi? Aku boleh bergerak Lisa!"
" Silahkan! Nanti kalau sudah setengah jam kamu tidak turun. Aku akan menyusul ke atas." kata Lisa.
" Aku boleh ikut juga tidak?" tanya Rita.
" Hah?" Susi terkejut.
" Boleh! Silahkan!" jawab Lisa.
" Gila!" sahut Susi.
" Kamu lagi tidak stress kan Lis! Atau kamu belum minum obat?" tanya Susi.
" Sudahlah! Cepatlah kamu ke atas! Nanti aku dan Rita menyusul ke atas."
" Baiklah." sahut Susi sambil melangkahkan kakinya ke tangga dan naik ke kamar pribadi Lisa dan Pras.
Dunia adalah pilihan. Manusia di beri akal sehat untuk mencari kebenaran. Dengan berpegang keyakinan, manusia tidak akan memilih jalan yang menghina kehormatan nya sendiri. Tuhan mengutus seorang nabi dan rasul, untuk memperbaiki akhlak manusia. Memperbaiki aturan - aturan yang sesuai dengan kitabNya. Supaya manusia menjalankan perintah nya dan menjauhi segala larangannya.
*******
Pernah kah kau rasakan perasaan sepi, ketika kamu berada di keramaian kota? Pernah kah kau merasa kan kerinduan ketika kamu berada jauh dengan kekasih hatimu? Pernahkah kamu merasa sendiri, ketika orang - orang yang kamu sayangi meninggalkan kamu sendiri? Semua akan menjadi sangat sepi, ketika hati kosong belum terisi. Jiwa meronta seperti dahaga di dalam gurun pasir yang kering kerontang.
Luna, wanita ini masih di sibukkan dengan laporan - laporan keuangan perusahaan yang bertumpuk. Di depannya ada laptop yang selalu setia menemaninya. Ketika semua di singkirkan, dia kembali merasa sepi dan dalam masa ke kosongan.
Lina melangkah ke kamar anak angkatnya yang sudah tertidur pulas di samping pembantu rumah tangga nya. Sejak perceraian itu, anak semata wayangnya di temani oleh pembantu barunya. Ibu dan bapak mertuanya sudah tidak mau tinggal bersama dengannya. Tentu saja, karena merasa tidak enak karena Rodeo anaknya bukanlah bagian dari kehidupan Luna lagi.
Ananda Rizki Anta, nama yang di berikan untuk anak angkat nya itu dari bayi. Di belai dengan lembut rambut anaknya itu dengan kasih sayang.
" Ananda! Maafkan ibu yang tidak bisa menjadi ibu yang baik untukmu." kata Luna pelan.
Luna kembali ke luar dari kamar Ananda dan menyeduh kopi hitam kesukaan nya. Baru pukul delapan malam, dan waktu masih cukup panjang untuk terbuai dalam tidur.
Luna mulai bergerak membuat gerakan - gerakan yoga. Badannya harus lebih fresh, agar pikiran nya bisa melupakan kenangan - kenangan masa lalu di dalam rumah itu. Riana tidak ingin terpenjara dalam ingatan nya bersama Rodeo.
Awal perjumpaan dengan Rodeo begitu manis. Rodeo yang suka jogging tiap pagi di alun - alun, menjadi awal perkenalan dengan Luna. Di hari Minggu pagi itulah, awal mereka berkenalan. Di saat itu, Luna dengan Dodi me lakukan jogging bersama di tempat itu.
Awal mulanya, mobil yang di kendalikan Dodo menabrak Rodeo yang berkendara sepeda motor sehingga terjadi lah insiden yang tidak di inginkan. Rodeo dan Dodo ribut karena motor Rodeo mengalami kerusakan yang parah dan luka - luka ringan di kaki dan tangan Rodeo.
__ADS_1
Berawal dari sana, Luna mulai menunjukkan perhatian kepada Rodeo. Selanjutnya, Rodeo semakin sering datang berkunjung di rumah Luna dengan dalih sekadar mampir. Saat itu, Dodo sangat cemburu dan memilih menjauh dengan Luna.
Akhirnya hubungan antara Rodeo dan Luna berjalan dan berkembang selayaknya pasangan muda - mudi yang berpacaran. Dua tahun kemudian, mereka memutuskan untuk menikah dan lima tahun kemudian mereka memutuskan untuk berpisah. Perceraian itu sangat menyakitkan bagi Luna. Tapi itu sudah menjadi keputusan yang menurutnya lebih baik.
Setelah perceraian itu, Dodo mulai mendekati Luna kembali. Bentuk perhatian yang di berikan Dodo masih belum cukup menggoyahkan hati Luna. Kegagalan rumah tangga nya menyadarkan dirinya untuk lebih berhati - hati dan selektif dalam memilih pasangan hidupnya kembali. Tidak semudah itu menerima walaupun di hati Luna ada rasa ketertarikan dengan Dodo.
Seperti malam ini, Dodo kembali hadir berkunjung ke rumah Luna ketika Luna masih melakukan aktivitas senam nya.
" Cukup! Istirahatlah Luna! Lihatlah aku membawakan makanan kesukaan mu." kata Dodo sambil menggoyang goyang badan Luna yang bersila dengan memejamkan matanya.
Dodo mulai jahil, ke dua mata Luna di bukanya dengan paksa dengan tangannya. Seketika tawa Luna meledak ketika melihat wajah Dodo dengan menunjukkan gaya terjelek nya.
" Hahaha! Tidak ada yang lebih jelek di banding itu?" tanya Luna sambil menyudahi Yoga nya.
" Ayo! Kita makan!" ajak Dodo sambil menarik tangan Luna agar bangkit dari duduk bersila nya.
" Bawa apa sih? Ribut sekali?" tanya Luna sambil membuka kotak makan an yang sudah di atas meja.
" Hem! Lumayan lah!" sahut Luna.
" Kemana? Ayo kita makan dulu!" kata Dodo.
" Bentar lagi! Minum juz dulu." kata Luna sambil berjalan menuju lemari es nya.
" Tumben Ananda sudah tidur Lun?" tanya Dodo.
" Mungkin kecapekan main tadi siang." jawab Luna.
******
Di rumah Dodo. Dodo lahir dari keluarga yang berada. Papa dan Mama nya lahir dari lingkungan ningrat. Masih memegang tradisi dan selalu memperhatikan seseorang dari bobot,bibit,bebet nya. Setiap putra putri nya memperkenalkan calon selalu di hadapkan dengan permasalahan ini. Ujung - ujungnya berakhir putus dan akhirnya di jodohkan oleh pilihan dari papa mama nya.
Dodo anak dari lima bersaudara. Dodo, anak nomer empat dan masih punya adik satu perempuan. Di antara yang lainnya, yang belum menikah di keluarga Dodo ada tiga orang yaitu kakaknya nomer tiga, Dodo dan adiknya.
Suasana di rumah Dodo memang penuh keakraban dan perhatian, tetapi urusan menentukan pilihan pendamping hidup seperti nya sudah hak mutlak papa mama mereka. Ketika papa mama Dodo tidak setuju dengan calon yang di kenalkan, kakak - kakak nya tidak bisa melanjutkan lagi hubungan mereka. Ke dua kakak Dodo akhirnya menikah dengan jodoh pilihan papa mama nya. Memang semua melalui proses perkenalan sampai akhirnya ke jenjang pernikahan. Mungkin saja, nasib kakak ke tiga, Dodo dan adik nya tidak sama. Semua akan di lihat dari calon yang di kenalkan ke mama papa mereka nanti. Layak tidaknya, menurut ukuran papa mama Dodo.
Setelah sembahyang maqrib, mereka berkumpul di meja makan. Dengan menyantap menu yang sudah di sajikan, mereka mengobrol ringan membicarakan beberapa bisnis dan kerjaan. Di sana ada Dodo yang asyik melahap menu favoritnya. Adik nya yang bernama Sintia juga ikut gabung di meja makan itu. Papa dan mama Dodo malam ini di rumah sehingga suasana di rumah semakin penuh kehangatan. Kakak nomer tiga yang bernama Aziz pun ikut bergabung di meja makan itu. Biasanya Aziz kabur - kabur terus kalau di rumah lagi sekadar kumpul untuk makan. Usia Aziz sudah 35 thn, selisih tiga tahun dari Dodo yang genap 32 thn.
"Aziz! Kapan kamu mau mengenalkan pacarmu ke papa dan mama?" tanya mama Dodo ambil tersenyum melirik suaminya.
" Belum ada Ma!" jawab Aziz.
" Belum ada atau takut mama papa tidak setuju?" sahut Sintia.
" Ye! Anak kecil jangan sok tahu!" kata Aziz sambil menoyor kepala Sintia.
Papa dan Mama Dodo saling pandang.
" Kenalkan dulu ke kami!" kata papa Dodo.
" Belum ada pa! Nanti kalau sudah ada dan Aziz merasa cocok dengannya, pasti Aziz ajak kemari pa." cerita Aziz.
Dodo yang dari tadi asyik menyantap makanan,hanya menjadi pendengar setia percakapan ringan di meja makan itu.
" Kalau Mas Dodo sudah ada tuh Pa!" kata Sintia.
Dodo yang mendengar ucapan Sintia jadi tersedak. Papa mama Dodo jadi tersenyum dan memandangi Dodo yang sudah salah tingkah.
" Kamu kalau sudah ada calonnya, kenapa tidak di kenalkan ke kami Dodo? Usiamu sudah cukup untuk menikah dan punya anak." kata mama Dodo.
Aziz tersenyum dan membelai rambut Dodo yang duduk di sampingnya.
" Kalau sudah ada calon mu, kenalkan pada kami dek! Mas gak papa di dahului oleh kamu. Lagi pula Mas belum menemukan yang pas." cerita Aziz.
" Mas Aziz ini ngomong apa sih? Aku pun juga lagi tahap mengejar cinta sejati." cerita Dodo.
" Asyik! Cinta sejati nih ye!" sahut Sintia.
Papa dan mama Dodo saling berpandangan dan tersenyum melihat ketiga anak - anaknya yang sudah dewasa.
" Ya sudahlah! Siapapun pilihan kalian dan menurut kalian cocok dan terbaik, papa dan mama pasti setuju. Usia kalian sudah matang dan harus segera menikah." kata Papa.
Aziz, Dodo dan Sintia tersenyum lebar. Bagi nya ini adalah gerbang bagi mereka menuju kebebasan memilih pasangan untuk hidupnya kelak. Tidak ada perjodohan lagi.
*******
Di rumah Karin. Di hari Minggu pagi, Aziz sudah di depan teras Karin Di temani secangkir kopi dan roti bakar di atas meja bulat itu. Galah duduk di samping Aziz ikut menemani, menikmati udara pagi itu di teras rumah Karin yang tidak terlalu luas.
Karin sedang bersiap untuk jogging pagi ini. Pasalnya Aziz sengaja datang untuk menjemput jogging Karin dan Aziz di alun - alun kantor gubernur. Aziz menghisap rokok Sampoerna yang sudah menyala itu pelan - pelan. Kopi hitamnya yang sudah mulai hangat di minumnya. Galah memperhatikan Aziz yang sedari tadi diam.
" Mas!" panggil Galah.
" Eh iya?" Aziz terkejut dengan panggilan Galah.
" Melamun ya mas?" tanya Galah.
" Oh tidak! Kopi buatan mu memang enak Ga!" jawab Aziz.
" Mas Aziz kok masih mau berteman dengan Karin ya, padahal Mas Aziz atasan Ima lo." kata Galah dengan spontan.
" Itu kan di kantor! Kalau di luar kita semua sama saja." sahut Aziz.
Tiba - tiba mobilio Putih berhenti terparkir di depan rumah Ima. Galah yang sudah mengenal mobil itu langsung berlari membuka gerbang rumahnya.
" Biar parkir di sini saja Ga!" teriak Luna karena Galah membuka gerbang untuknya.
" Ah di masukkan saja mobil nya mbak Sini biar aku masukkan ke dalam mobilnya. " sahut Galah sambil meminta kunci mobil Riana.
" Karin lagi ngapain?" tanya Lun sambil melangkah menuju ke rumah Karin.
Sampai di teras, Luna tersenyum dan menyapa Aziz.
" Eh Mas! Kawan Karin yah?" tanya Luna.
" Iya! Kenalkan aku Aziz!" jawab Aziz sambil mengulurkan tangannya.
Luna menyambut nya.
" Oh! Saya Luna sahabat dekatnya dari SMA!" cerita Luna sambil tersenyum.
" Kok saya baru tahu ya? Biasanya kawan - kawan Ima semuanya aku sudah mengenalnya." cerita Aziz.
" Memang saya jarang main ke mari Mas! Karin yang sering main ke rumah saya." cerita Luna.
" Oh pantas saja!" sahut Aziz sambil manggut - manggut.
" Karun nya mana?" tanya Luna sambil masuk ke dalam rumah Ima dan mulai mencari keberadaan Karin dan meninggalkan Aziz di teras.
" Karin!" panggil Luna sambil masuk ke kamar Karin yang tidak di kunci.
" Eh? Halo say! Kamu kesini juga? Kebetulan aku mau jalan pagi ke alun - alun. Ayo ikut sekalian!" ajak Karin.
" Wah? Kostum ku tidak cocok Nic!" sahut Luna.
"Pakai bajuku yah?" tanya Karin sambil membuka almari dan mengambil pakaian sport.
" Tapi?" sahut Luna.
" Cepetan! Aku sudah di tunggu bos ku tuh di depan!" cerita Karin sambil memberikan setelan baju olah raga itu ke Luna.
" Bos mu?" tanya Luna sambil melepas baju yang ia pakai.
" Iya! Dia pimpinan ku di kantor cabang." jawab Aziz.
" Oh!" sahut Luna sambil mengenakan baju olahraga yang di berikan Karin.
" Ayolah Lun Cepat sedikit!" teriak Karin sambil mengenakan sepatu sport nya.
" Oke! Oke! Ini sudah siap!" sahut Luna lalu ke luar dari kamar Karin.
" Maaf pak Aziz! Jadi lama menunggu!" kata Karin yang sudah di teras menemui Aziz.
" Karin, Ini bukan di kantor. Aku belum cukup tua kalau di panggil bapak lho!" kata Aziz sambil berdiri dan merapikan bajunya.
" Eh iya mas Aziz." kata Karin.
" Kita naik mobil saya saja yah!" kata Aziz sambil melangkah menuju mobil nya yang terparkir di luar.
__ADS_1
" Luna Ayo!" teriak Karin.
" Iya! Bawel!" sahut Luna sambil mengikuti Karin yang masuk ke dalam mobil Aziz.