
"Dodo,Mas Aziz ada di rumah tidak? Aku coba telpon gak diangkat nya." ucap Luna dalam sambungan telepon nya.
" Ada di rumah! Mungkin saja masih tidur Luna!" jawab Dodo berusaha menutupi kejadian yang sebenarnya.
Aziz masih berdua dengan Aura di dalam kamarnya. Setelah mengenal Aura, Aziz lebih suka di dalam kamar setelah pulang dari kantor. Intensitas Aura datang ke rumah kediaman Pak Suntoro itu lebih sering setelah kejadian di hotel itu. Hubungan keduanya sudah intim dan dekat. Tentu saja, orang tua Aziz yang mengetahui kabar kedekatan diantara Aura dan Aziz sudah sedekat itu,mereka memilih diam tanda menyetujui. Bukankah Aura memang orang yang dijodohkan dengan Aziz?
"Oh begitu yah? Aku ada janjian dengan Mas Aziz, mengunjungi Karin yang lagi sakit." cerita Luna.
" Oh ya? Karin sakit apa Luna?" tanya Dodo masih di sambungan telepon itu.
" Tidak tahu pastinya. Aku belum menjenguk nya." jawab Luna.
" Aku ikut menjenguk yah? Sebentar lagi aku ke rumah kamu yah?" kata Dodo bersemangat.
" Eh? Tidak perlu Dodo! Aku bisa sendiri datang ke rumah sakit." sahut Luna.
" Baiklah! Aku akan datang langsung ke rumah sakit saja!" ucap Luna akhirnya.
" Iya! Begitu lebih baik bukan!" sahut Luna.
" Oke! Sampai jumpa di rumah sakit Luna!" kata Dodo.
" Oke! Sampai kan ke Mas Aziz, kalau aku sudah ke rumah sakit ya!" ucap Luna.
" Baiklah!" sahut Dodo.
Sambungan telepon itu sudah terputus. Setelah reuni kampus itu, hubungan Dodo dan Luna sudah mulai membaik seperti dahulu. Cuma Luna selalu berusaha menjaga jarak dengan Dodo. Tentu saja, karena Luna adalah kekasih dari Aziz, kakaknya.
" Dari siapa Mas?" tanya Sintia yang duduk diruang tengah tidak jauh dari Dodo menerima telepon.
" Dari Luna!" jawab Luna singkat.
" Mas Dodo mau ke rumah Mbak Luna?" tanya Sintia.
" Tidak! Mau ke rumah sakit." ucap Dodo.
" Aku boleh ikut tidak?" tanya Sintia.
" Gak boleh!" jawab Dodo.
" Aku kan kenal dengan Mbak Karin!" ucap Sintia.
" Eh kamu mencuri dengar?" ucap Dodo.
" Bukan mencuri dengar. Karena Mas Dodo ngomongnya di dekat aku,jadi aku dengar percakapan antara Mbak Luna dan Mas Dodo. Lagi pula Kenapa juga di louspeker." ucap Sintia.
" Eh! Mas Aziz masih di dalam kamar?" tanya Dodo.
" Iya!" jawab Sintia.
" Kenapa gak pulang - pulang sih cewek itu!" ucap Dodo.
" Maksudnya Aura?" sahut Sintia.
__ADS_1
" Ya iyalah! Siapa lagi?" kata Dodo.
" Oh ho! Mas iri yah dengan kebahagiaan mereka!" ucap Sintia.
" Bukan begitu! Mas Aziz seharusnya menentukan pilihan. Jangan serakah seperti itu dong! Ini dua - dua nya diembat semua!" ucap Dodo.
" Tuh kan! Mas Dodo iri yah!" sahut Sintia.
" Kamu ini! Kalau kamu jadi Luna, mau diduakan seperti itu?" kata Dodo.
" Ya enggaaaakk mau dong!" sahut Sintia.
" Nah itulah!" sahut Dodo.
" Iya deh! Tapi cepat atau lambat semua akan terungkap!" kata Sintia.
" Tapi kita tidak perlu mencampuri urusan pribadi Mas Aziz dan Luna. Biar saja Luna tahu dengan sendirinya." ucap Dodo.
" Mas Dodo tidak memberi tahu Mbak Luna?" tanya Sintia.
" Enggaklah! Biar Luna tahu dengan sendiri. Kalau aku yang memberi tahu,dikira aku menjelekkan Mas Aziz. Walaupun aku masih menyukai Luna." Ucap Aziz.
" Hem! Jadi benarkan? Kalau Mas Aziz masih belum melupakan Mbak Luna." sahut Sintia.
" Tidak semudah itu Sintia!" sahut Aziz.
" Bagaimana dengan Mbak Tia?" tanya Sintia.
" Sintia? Kami tidak ada hubungan apa-apa kok." sahut Aziz.
" Tidaklah! Tia bukan tipe aku!" ucap Aziz.
"Yaelahhh!" sahut Sintia.
" Aku ke rumah sakit dulu yah!" kata Aziz.
" Oke! Semangat ya Mas! Mendekati cewek impian mas!" ucap Sintia.
" Semangat dong!" sahut Aziz.
*******
Luna mencoba menghubungi Aziz kembali. Sampai beberapa kali sambungan telepon masuk itu tidak di angkat oleh Aziz.
Sampai akhirnya,membuat rasa penasaran oleh Aura yang ada di pelukan nya.
" Dari siapa sih Mas?" tanya Aura.
" Ah tidak penting!" jawab Aziz sambil meletakkan ponselnya jauh dari Aura.
" Aku mandi dulu lah!" ucap Aziz sambil berdiri dan menuju kamar mandi yang ada didalam kamarnya. Aziz lupa meletakkan ponselnya yang tergeletak di atas kasurnya.
Ponsel itu kembali berbunyi. panggilan masuk itu berkali-kali bunyi yang membuat telinga jadi risih. Aura mulai mendekati ponsel Aziz itu. Dilihatnya ada nama tertera di sana.
__ADS_1
" Belahan jiwa?" gumam Aura.
" Ya ampun! Ada juga jiwa yang di belah? Sial!" kata Aura pelan dan nekat mengangkat panggilan masuk itu.
" Halo!" ucap Aura.
" Eh? Benar ini ponselnya Mas Aziz kan?" tanya Luna mulai ragu - ragu karena ponsel Aziz yang mengangkat seorang perempuan.
" Iya betul! Mas Aziz lagi mandi!" ucap Aura.
" Kamu siapa nya?" tanya Luna mulai menyelidik.
" Aku calon istrinya!" jawab Aura.
" Hah? Siapa?" tanya Luna dengan keterkejutan nya.
" Aku Aura Mbak! Calon istri dari Mas Aziz!" ucap Aura.
" Eh?" Luna terkejut dan tidak lagi bersuara.
" Ada yang bisa aku sampaikan ke Mas Aziz Mbak?" tanya Aura.
" Oh tidak usah!" ucap Luna sambil menutup sambungan telepon itu.
" Eh kamu Aura! Kenapa kamu membuka ponsel aku? Siapa yang telepon?" tanya Aziz yang tiba-tiba keluar dari kamar mandi melihat Aura masih memegang ponselnya.
" Habis ponsel kamu bunyi terus sih!" ucap Aura tidak mau disalahkan.
" Siapa yang telepon?" tanya Aziz mulai marah.
" Belahan Jiwa!" jawab Aura sambil teriak marah.
" Apa?" sahut Aziz langsung mencoba menghubungi kembali Luna.
Sudah beberapa kali Aziz telepon belum diangkat oleh Luna. Hal itu lah yang membuat Aziz mulai marah dengan Aura.
" Ini semua gara - gara kamu!" ucap Aziz yang mulai panik jika Luna nantinya bakal mengetahui hubungan antara Aura dengan dirinya. Perselingkuhan ini akan menjadikan senjata bagi Luna untuk putus darinya.
"Lalu? Aku kamu anggap apa Mas?" tanya Aura mulai marah.
" Kamu? Tapi Luna lah yang lebih dulu datang di kehidupan aku." ucap Aziz.
" Lalu aku?" tanya Aura.
" Aku masih mencintai Luna! Aku ingin menikahi Luna, Aura!" ucap Aziz.
" Lalu dengan aku? Aku, kamu anggap sebagai wanita penghibur saja hah?" ucap Aura mulai bergetar suaranya.
" Aku...aku..!" Aziz tidak tidak bisa melanjutkan kata - katanya.
Kenyataan nya dalam hati kecilnya, Aziz mencintai Luna. Tetapi dia menginginkan sesuatu dari Aura. Kebimbangan nya yang menjadikan Aziz jadi resah. Apakah dirinya bisa menerima Aura seutuhnya? Apakah hatinya ada rasa cinta dengan Aura walaupun hanya seujung jari saja?
" Aku tidak tahu Aura! Beri aku waktu untuk mencintai kamu!" ucap Aziz akhirnya.
__ADS_1
" Baiklah! Aku akan menerima kamu masih berhubungan dengan wanita itu. Tapi aku akan selalu berusaha mendekati kamu sampai kamu tergantung padaku." ucap Aura sambil melingkarkan tangannya ke pundak Aziz.
Aura tidak perduli akan harga dirinya. Aura berusaha menguasai Aziz dari segala hal sampai Aziz merasakan bahwa Aura lah yang dibutuhkan bagi dirinya. Aura kembali menguasai Aziz dan kembali menikmati hubungan dewasa yang masih menghangat seperti pengantin baru. Aziz tidak menolak dengan perlakuan Aura dan kembali terbang ke langit ketujuh.