
Di atas tempat tidur yang terbilang sederhana, Momo mulai membuka matanya perlahan-lahan. Momo mulai menatap sekelilingnya, ruangan yang tidak begitu luas namun cukup terbilang bersih. Di atas meja yang tidak jauh dari tempat tidur nya berada, ada makanan ringan dan juga segelas teh. Sepertinya itu disiapkan untuk Momo.
Bu Slamet masuk ke dalam kamar itu, setelah mengetuk pintu. Momo mulai duduk di atas tempat tidur itu. Senyuman terukir dari sudut Bu Slamet.
" Kamu sudah bangun, nak? Apakah kamu sudah lebih baik?" tanya Bu Slamet. Momo mengernyit dahinya.
" Aku baik- baik saja, bu! Sekarang ini aku ada di mana bu? Kenapa aku bisa berada di sini? Tempat apa ini sebenarnya?" tanya Momo. Bu Slamet dengan sabar tetap menanggapi.
" Sekarang ini kamu di rumah ibu. Semalam suami aku menemukan kamu dalam keadaan mabok dan juga sedang dilecehkan oleh beberapa pemuda berandalan. Jadi suami aku tergerak hatinya untuk menolong kamu. Kamu boleh tinggal di sini kalau kamu mau, nak. Di sini siapa saja boleh tinggal di sini. Ibu memiliki banyak anak asuh, anak yatim piatu. Jika kamu mau tinggal di sini, bisa membantu ibu mengasuh anak- anak yatim di sini." jelas Bu Slamet. Momo mengernyitkan dahinya.
" Aku? Dilecehkan oleh pemuda berandalan? Mengasuh anak yatim?" tanya Momo heran.
"Itu jika kamu ingin tinggal di sini, nak. Di rumah ibu ini. Lalu, dimana tempat tinggal kamu, nak?" tanya Bu Slamet.
__ADS_1
" Aku tinggal di bagian selatan kota ini. Oh iya Bu, tas saya mana? Saya ingin kembali pulang." kata Momo. Bu Slamet melongo atas sikap yang ditunjukkan oleh Momo. Tidak ada ekspresi sedih dan terkejut ketika bu Slamet menceritakan kalau MoMo ditemukan suaminya dalam keadaan sedang dilecehkan oleh pemuda berandalan.
" Ada, apakah ini tas kamu?" ucap Bu Slamet seraya mengambilkan tas milik Momo. Momo mengambilnya dengan cepat. Dan mulai memeriksa nya isi di dalam tasnya.
" Apakah ada yang hilang, nak?" tanya Bu Slamet khawatir.
" Tidak ada, Bu. Terimakasih banyak sudah membawa saya kemari. Oh iya, ini sedikit yang untuk ibu. Lain waktu, saya akan datang lagi kemari bu." ucap Momo. Bu Slamet hanya diam dan berdiri mematung menerima beberapa lembar uang merah ratusan ribu itu.
" Itu, bajunya ibu cuci." kata Bu Slamet.
" Oh, baiklah! Eh.. em ini baju yang aku pakai milik siapa?" tanya Momo seraya mengamati baju yang sudah dipakai nya. Baju itu terlihat kedodoran dan bagi Momo itu bajunya terlihat kampungan.
" Maaf, itu baju ibu. Maaf jika tidak sesuai dengan selera kamu. Baju- baju ibu seperti itu semua." kata Bu Slamet. Momo tersenyum saja.
__ADS_1
" Baiklah! Baju ini saya pinjam dulu yah Bu. Lain waktu saya akan kembalikan." kata Momo.
" Tidak usah, nak! Tidak perlu dibalikin." sahut Bu Slamet.
" Tidak apa Bu, lagi pula ini baju memang benar-benar bukan selera aku. Oke Bu. Saya pamit dulu bu." kata Momo. Bu Slamet mengantarkan kepergian Momo sampai ke depan rumah. Momo mulai memperhatikan plang yang bertuliskan Yayasan Bina Kasih Mulia (Yatim Piatu).
" Setelah ini mungkin aku akan sering kemari bu. Saya akan membantu ibu. Saya akan sedikit memberikan sumbangan untuk anak-anak panti di sini." kata Momo. Bu Slamet tersenyum mendengar nya.
"Terimakasih nak, jika kamu memiliki niat baik itu." sahut Bu Slamet.
"Panggil saya Momo, bu." kata Momo memperkenalkan dirinya seraya menjabat tangan bu Slamet.
" Momo, Hati-hati di jalan!" kata Bu Slamet. Momo tersenyum seraya masuk ke dalam taksi yang sudah berhenti di depan rumah panti.
__ADS_1