PARTNER TERPANAS KU

PARTNER TERPANAS KU
TERJADILAH


__ADS_3

Lisa sedang berbaring santai di hotel mewah. Tampak nya Lisa sedang menunggu seseorang yang akan datang. Lisa berkali - kali melihat jam tangannya. Wajahnya mulai gelisah, karena seseorang yang dinantikan nya tidak kunjung tiba.


Di kamar 208 itu, Lisa menikmati semua fasilitas yang ada seorang diri. Tiba - tiba pintu depan di ketuk nya. Lisa segera membuka pintu itu dan senyumannya mulai mengembang setelah melihat yang datang adalah Rodeo yang di nantikan nya.


" Lama sekali sih?" tanya Lisa langsung memeluk dan mencium laki - laki yang ada di hadapannya.


" Jarak hotelnya sangat jauh dari rumahku Lisa!" kata Rodeo.


" Jauh yah?" ucap Lisa sambil membuka dengan cepat kemeja Rodeo.


" Makanya belikan aku rumah, agar kalau kita ketemuan tidak lagi di hotel. Ini bisa membuat tidak aman posisi kamu. Kamu bisa ke rumahku kapanpun kamu mau dan lebih aman." ucap Rodeo merayu.


" Hem! Bisa diatur sayang!" ucap Lisa.


" Kamu sudah kangen dengan aku yah?" kata Rodeo yang mulai menahan segala sentuhan yang dilakukan Lisa.


" Tentu saja sayang! Kamu lama sekali di tahanan." ucap Lisa.


" Kalau tidak karena bantuan kamu, sekarang ini aku masih meringkuk di penjara." sahut Rodeo.


" Iya dong! Makanya berterimakasih lah denganku. Puaskan aku hingga aku sampai kelelahan malam ini." ucap Lisa.


" Tentu aku akan melakukan dengan senang hati, Lisa sayang!" ucap Rodeo.


" Besok! Aku akan Carikan lokasi rumah yang tepat dan aman untuk kamu. Tentu saja aman juga untuk aku." janji Lisa sambil bergerilya tangannya.


" Oh Terimakasih sayang!" ucap Rodeo dengan nafas yang mulai tersengal karena tangan Lisa yang mulai nakal.


" Kamu sudah makan belum?" tanya Lisa.


" Belum! Tapi aku mau minum bir." kata Rodeo.


" Ada kok di kulkas. Biar aku ambilkan dulu." kata Lisa sambil membuka lemari es kecil yang ada di belakang nya.


" Ini untukmu! Aku mau wine." ucap Lisa sambil meneguk wine itu.


" Bagaimana kabar Rita?" tanya Rodeo.


" Ais! Kamu rindu juga dengan Rita?" tanya Lisa.


" Jangan cemburu dong sayang?" ucap Rodeo sambil mencubit pipi Lisa.


" Rita sekarang sudah menjadi istri yang baik. Dia sudah bertaubat katanya. Tapi aku kok belum yakin yah! Besok aku akan coba ajak dia bersenang - senang dengan kamu." kata Lisa.


" Ais! Kamu rela aku main dengan Rita?" tanya Rodeo.


" Aku kan hanya nge- tes saja." ucap Lisa.


" Hahaha!" Rodeo tertawa terbahak - bahak.


" Kejadian kemarin karena ulah penjaga villa itu!" ucap Lisa.


" Kita juga teledor! Sekarang kita harus lebih hati - hati Lisa!" kata Rodeo.


" Iya! Betul!" sahut Lisa sambil meminum wine di tangannya.


" Kamu tambah kurusan Lo Rodeo!" ucap Lisa.


" Aku kira bakal gemuk loh!" ucap Rodeo.


" Mana bisa gemuk! Kamu kan yang bisa mengurus hanya aku." kata Lisa.


" Panas yah?" ucap Lisa sambil membuka semua yang melekat di badannya.


" Kamu tambah seksi Lisa! Selama tidak ada aku,kamu sering main dengan suami kamu?" tanya Rodeo.


" Tidak! Sejak kejadian itu,suami aku tidak lagi menyentuh aku. Dia jijik dengan aku." cerita Lisa.


" Kasihan sekali kamu! Aku akan membuat kamu puas Lisa!" kata Rodeo sambil tersenyum nakal.


" Iya! Aku menanti kan itu!" jawab Lisa yang sudah siap dengan pergumulan yang membawa nikmat itu.


Malam tidak terlihat gelap,karena mereka ada di ruangan yang pencahayaan nya terang. Di hotel yang mewah dan luas itu, mereka di kamar bermandikan keringat cinta. Hasratnya tertumpah habis di atas ranjang yang membawa kenikmatan yang luar biasa.

__ADS_1


" Lisa! Kalau kita menikah bagaimana?" ucap Rodeo.


" Kalau kita menikah? Aku akan jadi miskin Rodeo! Kita lebih baik seperti ini saja! Kita buat enjoy dan kita nikmati tanpa ikatan." ucap Lisa.


" Kalau kamu hamil?" tanya Rodeo.


" Kalau aku hamil? Tentu saja akan aku gugurkan!" jawab Lisa tegas. Rodeo sangat terkejut dengan jawaban Lisa. Apakah bibir itu tidak bergetar mengatakan itu? pikir Rodeo.


*******


Aziz masih berbaring santai di kamar nya. Malam ini , Aziz ada janji dengan Luna untuk makan malam. Tetapi rasanya mulai malas bangkit dari tempat tidurnya. Aziz kembali memejamkan mata nya. Sampai akhirnya, Sintia di depan pintu kamar nya menggedor - gedor sampai Aziz bangkit membukakan pintu kamarnya.


" Mas Aziz! Di cari mbak Aura!" ucap Sintia.


" Iya sudah lihat!" sahut Aziz.


" Eh? Kamu kesini?" ucap Aziz ke Aura.


" Masih ngantuk yah?" tanya Aura sambil masuk ke dalam kamar Aziz dan kembali menutup pintu kamar itu.


" Kamu ngapain ke sini Aura!" tanya Aziz.


" Tentu saja aku kangen kamu mas!" jawab Aura manja.


" Kangen? Baru juga kemarin ketemu." ucap Aziz sambil tetap berbaring dan menarik selimut nya karena dingin AC di kamarnya.


" Jangan tidur dong mas! Aku kan sudah datang kemari!" ucap Aura sambil menarik selimut Aziz hingga terlihat celana pendek yang di pakainya.


" Dingin Aura!" kata Aziz sambil berebut selimut yang ditarik Aura.


" Ayolah bangun mas!" ucap Aura dengan manja.


Aura mulai mendekati Aziz yang tidak mau bangun. Aura mulai nakal mencari kelemahan Aziz. Aziz mulai menggeliat seperti cacing kepanasan. Matanya jadi membulat matanya dengan kelakuan Aura diluar dugaannya.


" Dengan ini pasti kamu akan terbangun bukan?" ucap Aura dengan nakalnya.


Tangan - tangan Aura mulai nakal menjamah bagian sensitif tubuh Aziz. Aziz tidak menolak dengan keagresifan Aura. Kesetiaan nya pada Luna sudah memudar. Tergantikan oleh Aura yang selalu menggodanya dengan segala kebutuhan biologis seorang laki - laki dewasa yang haus akan segala sentuhan wanita.


Aziz mulai membalas segala perlakuan Aura yang mulai menguasai dirinya. Aziz sudah tidak perduli lagi dengan hubungannya dengan Luna. Yang ada, bersama Aura segala keinginan seorang laki-laki dewasa terpuaskan.


" Iya! Aku mengaku kalah!" sahut Aziz sambil menikmati segala sentuhan hangat yang diberikan oleh Aura.


*******


Di meja makan Dodo dan Sintia sedang duduk menikmati makan malamnya. Di atas meja itu, beberapa menu sudah mulai di santap oleh Dodo dan Sintia dengan lahap. Gulai unggas dengan acar nya menjadi selera makan Dodo dan Sintia.


" Pelan - pelan makannya!" ucap Dodo.


" Enak mas! Jarang - jarang kita makan angsa yang di gulai mas!" ucap Sintia.


" Kasihan sekali adikku ini!" sahut Dodo akhirnya.


" Mas Dodo! " panggil Sintia.


" Ada apa?" tanya Dodo.


" Mas Aziz, kenapa jadi lebih dekat dengan Mbak Aura dibanding Mbak Luna yah? Kesannya seperti menduakan Mbak Luna loh!" kata Sintia.


" Memang nya begitu?" tanya Dodo.


" Iya! Mbak Aura ada di dalam kamarnya Mas Aziz loh! Aku jadi berpikiran negatif dengan mereka mas!" ucap Sintia.


" Astaga! Jangan berprasangka buruk gitu dong Sintia!" kata Dodo.


" Ya ampun! Curiga ku beralasan mas!" sahut Sintia.


" Sok tahu kamu!" ucap Dodo.


Dodo jadi terdiam sejenak. Memikirkan apa yang dikatakan Sintia. Tetapi seorang laki-laki dewasa dan wanita dewasa berada di dalam satu kamar dengan waktu yang lama, akan menimbulkan prasangka buruk bagi orang yang melihat nya.


" Aku mau ke kamarnya Mas Aziz. Aku ingin lihat sendiri." ucap Dodo.


" Eh? Mas Aziz mau lihat mereka lagi bercinta?" sahut Sintia ceplas-ceplos.

__ADS_1


" Kamu ini! Mas Aziz gak mungkin begitu sama Aura yang baru beberapa Minggu ini dikenali nya." cerita Dodo.


" Aku berani taruhan! Semua karena gaya hidup Mbak Aura yang terbawa lama dilingkungan dan budaya luar negeri.


"Eh Sintia!" sahut Dodo sambil bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju kamar Aziz.


Setelah di depan pintu kamar Aziz, mulai terdengar era ngan dan desa han bahkan teriakan kecil yang lain daripada lain. Suara itu bikin jantung deg-degan dan membuat pikiran yang mendengar nya terbayang akan adegan untuk usia delapan belas tahun ke atas.


Dodo mulai pelan - pelan mencoba membuka pintu kamar Aziz. Pikirannya, mana tahu pintu kamarnya lupa tidak dikunci kakaknya itu.


Ternyata benar, pintu kamar itu tidak dikuncinya. Dodo sangat terkejut melihat Aziz dan Aura lagi semangat melakukan permainan nya. Dodo dengan cepat menutup pintu kamar itu kembali.


" Astaga! Untung mereka tidak melihat aku." kata Dodo pelan.


" Sial! Kenapa aku melihat mereka dalam posisi seperti itu? Benar - benar sial!" ucap Dodo dengan amarah dan emosinya.


" Luna! Kamu pasti akan kecewa dengan Mas Aziz." gumam Dodo.


" Aku akan kerumahnya Luna malam ini. Eh tidak! Luna tidak akan percaya padaku!" ucap Dodo.


"Mas Aziz! Kenapa kamu mengkhianati Luna?" gumam Dodo dengan amarah yang masih tertahan.


*******


Dodo berdiri mematung di dekat pintu. Sintia yang melihat kakaknya berdiri dengan bengong seketika memanggil nya.


" Mas Dodo! " panggil Sintia yang masih duduk di meja makan.


" Ada apa manggil - manggil?" sahut Dodo sewot.


" Ya ampun! Emosi amat!" ucap Sintia.


Akhirnya Dodo kembali duduk di kursi makan dekat dengan Sintia.


" Aku tidak menyangka, Mas Aziz bisa tega mengkhianati Luna." cerita Dodo.


" Ya ampun! Bukankah tadi sudah aku bilang! Mas Dodo akan melihat adegan film dewasa tingkat nasional." ucap Sintia.


" Kasihan Luna!" sahut Dodo.


" Bukankah Mas Dodo menyukai Mbak Luna dari dulu? Gantikan posisi Mas Aziz untuk Mas Dodo saja." kata Sintia dengan santai.


" Kamu ini! Anak kecil tahu apa?" sahut Dodo.


" Aku hanya tidak menyangka saja! Mas Aziz dengan mudah tergoda dengan Mbak Aura!" kata Sintia sedih.


" Mungkin saja mereka sudah berjodoh." sahut Dodo.


" Mungkin saja! Tetapi aku tidak suka dengan Mbak Aura. Aku lebih menyukai Mbak Luna." ucap Sintia.


" Protes saja dengan papa mama. Merekalah yang menjodohkan Mas Aziz dengan Aura." kata Dodo.


"Papa dan mama kalau nanti memaksaku untuk nikah dengan cowok lain selain pacar aku. Aku mau pergi dari sini." ucap Sintia menantang.


" Siapa pula yang mau dengan kamu Sintia!" sahut Dodo.


Tidak berapa lama kemudian, Aziz dan Aura datang bergabung di meja makan itu. Mereka kelihatan nya habis mandi dan segar. Rambut mereka basah karena keramas. Wajah Aziz kelihatan berseri - seri dengan senyum yang mengembang.


" Menu makan malam apa nih?" tanya Aziz sambil membuka beberapa tempat lauk yang tertutup.


" Mbak Aura,ingin makan apa?" tanya Sintia basa - basi.


" Aku ingin ayam goreng saja, mas Aziz!" sahut Aura.


" Delivery saja!" kata Sintia.


" Okelah!" sahut Aura sambil berjalan masuk ke kamar Aziz untuk mengambil ponselnya.


Dodo mulai memandangi Aziz dengan pandangan yang tidak senang. Sintia mulai merasakan situasi yang kurang enak.


" Mas Dodo! Kita ke ruang tengah yuk! Ada film action baru loh!" kata Sintia berusaha menjauhkan Dodo dengan Aziz agar tidak bertengkar.


" Mas Aziz! Kenapa kamu mengkhianati Luna?" tanya Dodo dengan wajah yang merah karena emosi.

__ADS_1


" Urusi saja urusan kamu sendiri, Dodo! " sahut Aziz.


Dodo mulai panas dan meninggalkan tempat makan itu. Dodo sangat kecewa dengan Aziz yang dengan mudah tergoda dengan Aura. Melupakan Luna yang dengan tulus menjalin hubungan dengan Aziz.


__ADS_2