PARTNER TERPANAS KU

PARTNER TERPANAS KU
TERBONGKAR SUDAH


__ADS_3

Di rumah Kediaman Aziz. Sore itu seperti biasa Dodo dan Sintia sedang duduk santai di ruang tengah. Kedatangan Tia yang sangat awal untuk mencari Aziz, membuat Sintia harus menemani Tia di ruang tengah. Dodo duduk santai di ruangan itu, sambil di temani rokok dengan merk yang sama. Candu rokok Dodo tidak bisa di lepas. Sehari Dodo bisa menghabiskan dua bahkan terkadang sampai tiga bungkus rokok, seperti kereta api yang selalu berasap.


" Mas Dodo! Jangan merokok terus dong mas!" ucap Sintia.


" Bagi Mas! Rokok ini adalah sahabat yang paling setia untuk di ajak berfikir Sintia!" kata Dodo.


" Tapi tidak bagus juga untuk kesehatan mas!" sahut Sintia.


" Iya benar kata Sintia! Rokok dapat menyebabkan kanker!" sahut Tia yang dari tadi asyik memainkan ponselnya.


" Itu kan kalau 'Dapat'. Mas lho beli!" ucap Dodo spontan.


" Yaelah!" sahut Sintia dan Tia bersamaan.


" Eh kalian jangan ribut yah!" ucap Dodo.


" Mas Dodo! Kita jalan - jalan yuk!" ajak Sintia.


" Ayok mbak Tia! Mau gak ikut jalan - jalan?" tanya Sintia.


" Kemana?" tanya Tia.


" Ke pusat pembelanjaan di kota dong!" sahut Sintia.


" Aku ngikut saja Sintia!" ucap Tia.


" Iyalah! Mas Aziz masih lama pulang dari kantor nya. Lagi pula biasanya juga malam - malam pulangnya. Suka mampir - mampir dulu ke tempat kawannya." cerita Sintia.


" Iya! Aku kan ke mari tidak hanya ingin mencari mas Aziz,tapi memang lagi suka main ke mari dengan kamu Sintia." kata Tia sambil melihat Dodo.


" Oh baguslah!" sahut Sintia.


" Ayo Mas Dodo! " ajak Sintia.


" Kalian pergi saja sendiri! Mas, di rumah saja!" kata Dodo.


" Ayolah mas! Temani kami jalan - jalan." rengek Sintia.


" Eh! Ada film bagus loh! Bagaimana kalau kita sekalian nonton." ajak Tia.


" Hadeuh! Pakai acara nonton film lagi! Paling males Mas!" ucap Dodo.


" Ayolah mas! Biar aku yang traktir semua!" ajak Tia mencoba ikut merayu Dodo.


" Hah? Jatuh harga diri aku, di traktir cewek!" ucap Dodo.


" Ayolah mas! Di rumah terus nanti kita bertelur loh mas!" ucap Sintia.


" Astaga! Baiklah kalau kalian memaksa!" ucap Dodo akhirnya sambil melangkah masuk ke kamar nya untuk berganti pakaian nya.


Sintia dan Tia ikut bersiap - siap dengan dandanan santai di dalam kamar Sintia.


" Aku begini saja gak papa yah Sin?" tanya Tia.


" Iya! Mbak pakai apa saja sudah cantiknya luar biasa!" ucap Tia suka memuji.


" Eh! Kamu juga cantik kok Sin!" sahut Tia.


" Oke deh! Ayo kita keluar! Mas Dodo paling malas kalau harus menunggu jika kita kelamaan berdandan.


Sintia dan Tia mulai keluar dari kamar itu. Dodo dengan wajah serius dan ekspresi jengkel melihat kedua nya baru keluar dari kamar.


" Lama sekali dandannya! Jadi pergi enggak!" ucap Dodo.


" Ya ampun Mas! Namanya juga wanita. Harus dandan yang cantik dulu donk!" sahut Sintia.


" Hedeuhhh!" ucap Dodo yang langsung masuk ke mobilnya, diikuti Sintia dan Tia di belakangnya.


" Nanti kalau mas Dodo punya istri, juga harus ekstra sabar menunggu jika istri mas lama dandannya." ucap Sintia.


" Hadeuhhh! Memang ribet wanita itu!" sahut Dodo.


" Tapi aku tidak ribet kan Mas?" ucap Tia sambil tersenyum.


" Kamu juga sama - sama ribetnya." jawab Dodo.


" Hehehe!" Tia cekikikan.


" Jangan di ambil hati ya mbak! Mas Dodo memang seperti itu! Galak, judes! Makanya cewek gak ada yang mau di pacarinya." cerita Sintia.


" Hedeuhhh! Kamu selalu menghina mas Dodo. Mas, bisa dapat sepuluh cewek sekaligus kalau mau."ucap Dodo sambil menjalankan mobilnya.


" Kalau aku selalu percaya mas Dodo!" sahut Tia.


*******


Di pusat pembelanjaan di kota. Setelah melihat film action di studio 21, Dodo, Sintia dan Tia duduk di restoran siap saji. Ketiganya dengan lahap menyantap makanan yang sudah di depan nya. Mereka sudah masuk dalam obrolan tentang cerita action yang baru saja mereka tonton. Dodo senyum - senyum melihat kedua cewek itu membahas film action yang seru itu. Tiba - tiba dengan mengejutkan, Sintia melihat Aziz dan Luna berjalan masuk ke pusat pembelanjaan itu.


" Eh Mas Aziz! Mas Aziz!" teriak Sintia lalu dengan cepat berlari kecil mendatangi keduanya.


Merasa namanya di panggil, Aziz menoleh ke arah suara yang memanggil namanya. Langkahnya terhenti dengan tiba - tiba.


" Eh Sintia! Kamu di sini juga!" tanya Aziz.


" Iya Mas! Suntuk di rumah terus." jawab Sintia.


" Kamu dengan siapa kemari?" tanya Aziz.


" Sama mas Dodo dan mbak Tia." jawab Sintia.


" Mas Aziz! Kenalin dong calon kakak ipar ku!" ucap Sintia sambil tersenyum melihat Luna.


" Eh! Kenalan sendiri kan bisa to!" sahut Aziz.


" Mbak! Aku Sintia, adik kesayangan mas Aziz. " ucap Sintia sambil mengulurkan tangannya.


" Eh! Aku Luna! Senang berkenalan dengan adik mas Aziz, " kata Luna sambil menyambut tangan Sintia yang menjabat tangannya.

__ADS_1


" Oh iya mbak Luna, Gabung dulu di restoran itu! Ada adik mas Aziz yang satunya juga lho!" kata Sintia.


" Ah gak perlu! Kami ada urusan sendiri kok!" sahut Aziz menolak ajakan Sintia.


" Walah mas! Pelit sekali! Sebentar ini loh!" ucap Sintia merengek.


" Sebentar saja mas! Tidak apa - apa kan? Sekalian kita makan dan minum dulu. Bukankah Mas Aziz juga belum makan kan, dari kantor tadi?" ucap Luna.


" Baiklah kalau begitu!" sahut Aziz akhirnya menerima ajakan Luna.


" Wah! Senengnya bisa berkenalan dengan calon kakak ipar ku." sahut Sintia sambil berjalan menggandeng tangan Luna.


" Kamu ini jangan pegang - pegang tangan Luna dong!" kata Aziz.


" Astaga! Kenapa pula mas Aziz ini?" sahut Sintia. Luna hanya diam dan tersenyum melihat ekspresi adik kakak yang gaduh itu.


Mereka bergegas menghampiri Dodo dan Tia yang duduk di sudut ruangan. Betapa terkejutnya Dodo melihat Luna dan Aziz datang bersama Sintia masuk di restoran itu.


Tia pun dengan ekspresi yang sama, mulai menata hatinya melihat Aziz, datang bersama seorang cewek yang cukup cantik. Bahkan lebih cantik di banding dirinya. Penampilan yang elegan dan penuh kharisma terpancar dari cewek yang ada di samping Aziz. Aziz,laki - laki yang sudah sekian lama ia dambakan untuk menjadi pendamping hidup nya. Di depan matanya menggandeng wanita yang menjadi pilihan nya.


" Eh?" Tia dan Dodo terperanjat dengan mereka yang sudah berdiri dari tempat duduknya.


" Eh Dodo! Kamu di sini juga?" tanya Luna.


" Lho? Kalian sudah saling kenal?" tanya Aziz.


" Dodo ini sahabat ku dari kuliah S1 mas!" jawab Luna.


Dodo terdiam dan terpaku dari tempat duduknya. Dodo berusaha menutupi rasa kecewa dan terkejut nya.


" Mas Dodo! Mbak Tia! Ini calon ipar aku!" ucap Sintia akhirnya.


" Mbak Luna! Mas Dodo ini adalah kakak ku, adik nya Mas Aziz juga." tambah Sintia.


" Oh ho! Begitu." sahut Luna.


" Ini mbak Tia! Mbak Tia ini adalah..." ucap Sintia yang kalimat nya tidak di teruskan.


" Tia ini adalah cewek ku Luna. Eh Mbak Luna!" sahut Dodo.


" Ayo gabung dulu di kursi ini! Mbak Luna dan mas Aziz mau makan dan minum apa?" tanya Sintia.


" Terserah! Kamu yang pilih Sintia!" jawab Aziz sambil mendudukkan pantatnya di samping Luna.


*******


Di Rumah Rita.


Di rumah Rita ada Lisa. Ita dan Lisa sedang duduk santai menikmati pagi hari bersama. Di atas meja ada gelas yang berisi juz jeruk dan kue basah. Obrolan ringan muncul dari keduanya. Obrolan ibu muda yang mengikuti trend mode dan fashion. Kedua nya memang sangat nyambung kalau bicara soal masalah seperti ini karena Rita dan Lisa adalah istri dari pengusaha yang kaya raya. Tidak ada kekurangan uang belanja.


" Tam! Minggu ini kita jalan ke villa lagi yuk!" ajak Rita.


" Hadeuh! Minggu ini aku mau jalan - jalan ke luar negeri Ta!" ucap Lisa.


" Oh! Suami kamu sudah sehat?" tanya Rita.


" Sudah mulai bosen aku Lis!" ucap Rita.


" Suami kamu kapan pulang?" tanya Lisa.


" Minggu depan!" jawab Rita.


" Bagaimana kalau sekarang saja kita ke villanya!" ajak Lisa.


" Aku hubungi Rodeo dulu deh!" tambah Lisa sambil membuka layar ponsel nya dan mencari kontak Rodeo.


" Rodeo! Ini Lisa!" ucap Lisa setelah panggilan masuk itu di angkat oleh Rodeo.


" Iya ada apa Lisa?" kata Rodeo yang jauh di luar sana.


" Aku lagi bosen nih! Kita ke villa lagi yuk!" ajak Lisa dengan manja.


" Kok mendadak sekali sih?" sahut Rodeo.


" Iya! Bete banget! Nanti aku transfer lebih deh buat kamu." ucap Lisa.


" Baiklah! Kebetulan sekali, aku lagi perlu dana 300 JT nih Lis." ucap Rodeo.


" Hah?? Buat apaan?" tanya Lisa.


" Buat investasi lagi dong!" jawab Rodeo.


" Oh.. baiklah!" ucap Lisa.


" Tapi aku perlu sekarang juga Lis." kata Rodeo.


" Iya aku transfer! Tapi kamu cepetan datang ke rumah Rita ya! Nanti aku serlok deh!" ucap Lisa.


" Beres! Terimakasih banyak Lisa!" ucap Rodeo.


" Iya! Jangan lama-lama ya! Buruan datang ke mari!" kata Lisa.


" Iya jangan khawatir!" sahut Rodeo.


" Oke!" sahut Lisa sambil menutup panggilan keluar nya.


Rita yang duduk di sebelah Lisa tersenyum dan segera bersiap - siap.


" Kamu ngajak siapa Rit?" tanya Lisa.


" Ngajak Dodi saja! Wanto lagi sibuk dengan Sasa." ucap Rita.


" Dodi? Yang mana sih?" tanya Lisa.


" Yang tinggi atletis,kulitnya eksotis. Pokoknya bukan selera kamu Lis!" ucap Rita.


" Ah dasar pelit. Bilang saja tidak rela kalau aku pakai!" ucap Lisa.

__ADS_1


" Ais! Kalau kamu mau, pakai saja tapi syaratnya kamu main tiga." ucap Rita sambil tertawa terbahak - bahak.


" Aku gak bisa seperti kamu!" ucap Lisa.


" Coba saja dulu!" kata Rita.


" Hahahaha!"


" Kamu ini Rita, Dasar otak mesum!!" sahut Lisa.


" Kamu juga sama saja Lisa!" ucap Rita sambil tertawa.


******


Di villa yang sama. Rita lagi di kamar mandi belakang seorang diri. Diam - diam Somat mengikuti Rita dari belakang.


" Hai!" sapa Somat setelah Rita keluar dari kamar mandi wanita.


" Eh iya! Ada apa?" tanya Rita.


"Aku bisa minta waktunya sebentar non!" ucap Somat masih sopan.


" Mau apa ya Aa'?" tanya Rita.


" Aku mau menunjukkan sesuatu." kata Somat sambil memperlihatkan video waktu di villa tempo hari yang lalu.


" Astaga! Kenapa ada video ini? Kamu mengintip kami?" tanya Rita.


" Hehehe!" Somat tertawa.


" Tolong! Secepatnya di hapus!" perintah Rita.


" Hehehe. Tidak ada yang gratis non di zaman sekarang ini." ucap Somat mulai liar melihat tubuh seksi Rita.


" Hadeuh! Kamu mau apaan? Hah?" ucap Rita mulai emosi.


" Aku hanya mau di puas kan oleh kamu!" ucap Somat.


" Ais! Itu saja?" ucap Rita yang membuat Somat membelalak matanya.


" Hehehe iya cukup itu saja!" kata Somat.


" Mandilah kamu yang bersih, dan datanglah ke kamarku nanti." ucap Rita yang seperti tidak keberatan dengan permintaan Somat.


Rita langsung pergi begitu saja meninggalkan Somat. Somat hanya tidak percaya dengan sikap Rita tanpa penolakan.


Di ruang tengah, Lisa, ,Rodeo, Dodi sudah bersenang - senang sambil berkaraoke ria. Seperti biasa, di atas meja ada beberapa cemilan dan beberapa bir dan botol wine ada di sana. Dodi mulai akrab dengan Lisa.


Rita sudah mulai bergabung di ruang tengah itu. Rita mulai menuang botol wine ke dalam gelasnya. Lalu mulai meminumnya dengan sekali tegukan.


" Aku duluan masuk dulu yah!" kata Lisa sambil menggandeng Rodeo.


" Oke! Selamat bersenang - senang!" ucap Rita sambil menuang kembali botol wine itu ke gelasnya.


" Kita mulai sekarang yuk!" ajak Dodi.


" Sebentar lagi! Belum panas!" sahut Rita.


" Kamu bernyanyi lah untukku!" kata Rita.


" Oke!" jawab Dodi.


Dodi mulai bernyanyi dengan suara pas - pas an. Irama musik yang mengalun menjadikan Rita ikut bergoyang. Suasana malam semakin larut. Botol wine itu sudah mulai habis di minum Rita.


Dodi masih setia menemani Rita.


Somat mulai masuk ke ruangan itu.Melihat Rita dan Dodi sudah mulai mengacau ucapannya. Mereka berdua berpelukan masuk ke kamar. Somat mengikuti mereka masuk juga. Rita tertawa menyambut kedatangan Somat. Kedua laki - laki itu sudah mulai bekerja. Rita bak tuan putri yang di layani dua orang budaknya.


Malam semakin dingin. Mereka menikmati setiap pergumulan panjang dan melelahkan. Melepaskan keinginan dan gejolak yang tak terbatas. Kebebasan yang liar. Kebebasan yang sudah kebablasan.


Jiwa - jiwa kerdil yang diselimuti kabut gelap. Kehausan cahaya terang sebagai penuntun jalan.


Somat mulai kelelahan. Setelah meluapkan hasratnya, ia kembali ke pos jaga villa. Di seduh lah kopi instan itu. Diminumnya dengan tenang sambil menghisap rokoknya. Somat, anak remaja yang mulai tumbuh menjadi laki - laki dewasa. Sudah mulai terbiasa dengan kebebasan karena lingkungan nya.


Somat kembali memutar video adegan vulgar yang di perankan oleh Rita,Rodeo dan Wanto. Video itu belum di hapus nya. Setelah selesai menikmati video itu, Somat beralih ke video Lisa dengan Tomi.


******


Pagi hari tiba. Somat kembali sibuk dengan ponselnya,setelah selesai dengan kerjaannya. Dengan nekat video - video yang sudah di pindahkan di ponsel pribadi nya itu di upload di beberapa media sosial. Video itu kenyataannya tidak di hapus nya.


" Aku ingin tahu, kehebohan dari video ini, jika aku sebar di media sosial." kata Somat penuh dengan pikiran jahat.


" Dua wanita cantik ini seperti nya istri dari laki - laki yang terpandang."


" Hahahaha!" Somat tertawa.


******


Hari sudah mulai siang. Lisa, Rodeo, ,Rita dan Dodi sudah bergegas meninggalkan villa itu. Mereka segera masuk ke mobil dan kembali ke kota.


Dodi mulai menjalankan mobil itu dengan cepat. Tampak Lisa sedang sibuk membuka beberapa media sosial di ponselnya.


Tiba - tiba Sasa menghubungi ke ponselnya.


" Lisa! Kamu, Rita dan juga Rodeo dalam masalah besar!" kata Sasa melalui panggilan masuknya.


" Masalah apa Sasa?" tanya Lisa.


Rita dan Rodeo yang melihat Lisa panik mulai menyimak telepon yang masuk dari Sasa.


" Ada video kalian tersebar di media sosial!" ucap Sasa panik.


" Apa?" ucap Lisa terkejut bukan main.


Badannya seketika lemas lunglai tak bertenaga.


" Tamatlah riwayat aku! Bagaimana ini? Suami aku pasti akan menceraikan aku." ucap Lisa dengan wajahnya yang memucat. Sedangkan yang lainnya nya mulai panik dan mungkin sebentar lagi akan terjerat kasus asusila.

__ADS_1


__ADS_2