
Di ruangan yang ber AC dengan fasilitas yang modern, Wisnu duduk di meja kerja nya. Dia mulai sibuk dengan kerjaan nya. Seperti layaknya seorang CEO muda yang bekerja keras dan sangat ambisius dalam memperoleh hasil yang memuaskan. Tumpukan kertas laporan dari sekretaris nya membuat dia harus berjuang keras mempelajari tentang proposal kerjasama dan kemitraan yang sudah di jalankan selama ini. Wisnu masih baru belajar dalam mengelola bisnis perusahaan papi nya. Sebagai anak tunggal yang di harapkan bisa di andalkan di keluarga besar nya.
Wisnu, selama ini masih di pantau kerjanya oleh papi dan beberapa kepercayaan papinya. Tetapi, Wisnu termasuk sangat cepat menguasai berbagai kelemahan - kelemahan bisnis yang dijalankan di perusahaan nya. Sehingga beberapa pencegahan dan langkah - langkah untuk menanggulangi kerugian bisa dihindarkan. Otak Wisnu dalam bidang manajemen dan bisnis memang bisa di acungi jempol. Papi nya pelan - pelan mulai mempercayai kinerja Wisnu dalam memutuskan berbagai langkah bisnis. Beberapa distributor untuk pengembangan bisnis nya mulai berkembang pesat. Anak - anak cabang usaha nya makin meluas. Papi nya mulai memberikan pujian dengan hasil yang memuaskan di tiap grafik bulanan.
" Hah? Melelahkan juga untuk menjadi laki-laki tangguh dan bertanggungjawab." ucap Wisnu.
Akhirnya dengan lemas, Wisnu melangkah keluar dari ruangan pribadinya. Wisnu mencoba memantau kinerja karyawan nya dalam menjalankan tugas nya.
" Papi, sangat hebat! Memilih karyawan yang berkompeten di bidangnya. Aku harus banyak bertanya dengan papi untuk masalah karyawan nantinya." pikir Wisnu.
Mata Wisnu mulai tertuju pada gadis muda yang sibuk di depan laptop nya. Gadis yang cukup muda dengan penampilan rapi dan tertutup. Dengan riasan yang tipis dan tidak menyolok. Dia adalah sekretaris satu yang selalu keluar masuk ke dalam ruangan nya. Gadis itu bernama Zella. Kepanjangan nya adalah Zella Az-Zahra.
" Oh ho! Gadis yang sangat menarik! Kelihatan masih polos dan lugu." gumam Wisnu sambil tersenyum.
" Zella!" panggil Wisnu.
" Saya pak!" sahut Zella.
" Ke ruangan saya!" perintah Wisnu.
" Baik pak!" jawab Zella.
Wisnu masuk kembali ke ruangan nya, diikuti Zella dengan membawa buku kecil untuk mencatat.
" Kamu tahu! Kenapa aku memanggil kamu?" tanya Wisnu sambil tersenyum.
" Maaf pak! Saya belum mengetahui nya. Ada yang perlu saya lakukan pak? Atau ada kesalahan dari laporan keuangan perusahaan yang saya buat?" ucap Zella.
" Tidak! Laporan kamu sudah cukup jelas dan sangat terperinci." ujar Wisnu
" Lalu? Apakah ada yang lain yang perlu saya buat pak?" tanya Zella mulai gugup.
" Hem!! Apakah kamu sudah punya pacar?" tanya Wisnu yang membuat terkejut Zella. Mata nya yang bulat kini semakin membesar membentuk bola kelereng.
" Oh ho!!! Kamu serius sekali! Aku hanya bercanda!" kata Wisnu sambil tersenyum jail.
Akhirnya Zella menarik nafasnya dalam-dalam.
" Maaf pak! Saya sangat terkejut!" sahut Zella berusaha membawa suasana jadi akrab.
" Aku sebenarnya ingin minta bantuan kamu!" kata Wisnu akhirnya.
" Maaf sebelumnya pak! Kira - kira apa itu?" tanya Zella.
" Tapi nanti saja lah, kalau sudah sangat mendesak. Aku akan menghubungi kamu." kata Wisnu.
" Baiklah pak!" sahut Zella akhirnya.
" Oh iya! Rumah kamu di daerah mana?" tanya Wisnu mulai menyelidiki.
" Daerah perumahan C, Pak!" jawab Zella.
" Oh kebetulan sekali! Aku selalu melewati jalan itu. Rumah tinggal aku tidak jauh dari tempat kamu tinggal." cerita Wisnu.
__ADS_1
" Benarkah?" sahut Zella.
" Jadi! Sewaktu - waktu aku meminta bantuan kamu, kamu harus siap Zella." ucap Wisnu memaksa.
" Baiklah pak! Ada yang lain lagi pak?" tanya Zella.
" Hem! Tidak ada! Tapi kamu sudah makan?" tanya Wisnu berusaha lebih dekat dan mengenal Zella.
" Hem! Belum pak!" jawab Zella.
" Kalau begitu, saya bisa minta tolong belikan beberapa menu untuk makan siang aku dan juga kamu ya!" ujar Wisnu.
" Baiklah pak! Bapak ingin apa?" ucap Zella sambil siap untuk mencatat yang di inginkan bos nya itu.
" Dua juz mangga, dua porsi kentang goreng, tiga porsi besar iga bakar, dan satu porsi nasi putih." ucap Wisnu.
" Ada lagi pak??" tanya Zella.
" Cukup! Mungkin kamu ingin yang lain?" tanya Wisnu.
" Tidak pak! Terimakasih!" sahut Zella.
" Oke! Kamu bisa pergi!" ucap Wisnu sambil tersenyum.
" Baik pak! Saya permisi!" ujar Zella lalu meninggalkan ruangan pribadi Wisnu.
" Gadis yang menarik sekali!" kata Wisnu pelan.
*******
Pintu ruangan pribadi Wisnu di ketuk.
" Masuk!" teriak Wisnu.
" Maaf pak! Ini sesuai pesanan bapak!" ucap Zella.
"Oh Terimakasih Zella! Ayo temani makan aku!" ajak Wisnu.
" Tapi pak!" sahut Zella ragu.
" Kalau kamu menolak, ku anggap ini sebuah perintah dari atasan kamu!" ucap Wisnu sambil tersenyum.
" Eh?? Baik baiklah pak!" sahut Zella.
" Siapa yang beli ini semua?" tanya Wisnu sambil membuka bungkusan makanan itu.
" Maaf pak! Saya sendiri pak!" jawab Zella.
" Lain kali, suruh OB yang beli. Tidak harus kamu semua yang turun." ucap Wisnu.
" Baik pak!" sahut Zella.
" Ya sudah! Ini makanan kamu! Makanlah!" perintah Wisnu.
__ADS_1
Zella mulai memakan dan meminum sesuai perintah atasan nya itu.
" Menurut kamu, makanan ini enak tidak?" tanya Wisnu.
" Enak pak!" sahut Zella sambil menguyah makanan yang sudah masuk di mulut nya.
Wisnu mulai tertawa geli, melihat reaksi Zella dengan mulut penuh sambil menjawab pertanyaan nya.
" Maaf! Hehe!" ujar Wisnu.
Zella hanya melongo mendengar Wisnu yang mengucapkan kata maaf padanya.
*******
" Zella!" panggil Wisnu ketika jam pulang kantor sudah tiba.
" Iya pak!" sahut Zella sambil membereskan berkas - berkas yang masih di atas meja.
" Ayo pulang dengan aku!" ajak Wisnu.
" Eh? Tapi saya bisa pulang sendiri pak!" sahut Zella.
" Ini perintah! Jadi kamu tidak bisa menolak nya." kata Wisnu sedikit memaksa.
" Eh??? Baik... baiklah pak!" ucap Zella sambil mengambil tas selempang nya.
" Kamu masih suka tas selempang? Kayak anak ABG saja!" ucap Wisnu kurang senang.
" Eh?? Maaf pak! Apakah ada yang salah?" tanya Zella polos.
" Kamu kan sekretaris di perusahaan terkenal. Tas kamu harus bermerk dan mahal." ucap Wisnu.
" Eh???" sahut Zella.
" Gaji kami sebulan berapa?" tanya Wisnu yang sebenarnya tidak perlu jawaban dari Zella. Tentu saja Wisnu tahu dengan pasti gaji sekretaris nya.
" Maaf pak!" sahut Zella.
" Apakah kamu punya masalah keuangan di keluarga kamu?"tanya Wisnu menebak.
" Eh??? Maaf pak!" sahut Zella lagi.
" Kamu dari tadi di tanya, hanya bilang maaf ...maaf saja." ucap Wisnu jutek.
" Ehh iya pak!" sahut Zella.
" Iya! Iya apa ini?" tanya Wisnu.
" Iya benar! Memang kami lagi membutuhkan uang yang banyak." cerita Zella.
" Oh!!? Nanti aku antar sampai di rumah kamu, Zella!" ucap Wisnu akhirnya.
" Terimakasih banyak pak!!" sahut Zella sambil menunduk kan kepalanya.
__ADS_1