PARTNER TERPANAS KU

PARTNER TERPANAS KU
PERJODOHAN


__ADS_3

Acara pernikahan antara Karin dan Galah sudah di gelar. Di gedung serbaguna yang cukup luas itu, pasangan pengantin itu terlihat bahagia. Orang tua Karin dan Galah terlihat duduk di sebelah kanan dan kiri tempat mereka duduk. Luna dan Aziz baru masuk di gedung itu dan mulai memberi salam dan selamat kepada Karin dan Galah.


" Karin! Selamat yah!" ucap Luna sambil mencium pipi kanan dan kiri Karin.


" Terimakasih Luna! Kamu mau datang di pestaku." sahut Karin.


" Tentu saja! Mana mungkin aku tidak datang!" ucap Luna.


" Kamu harus secepatnya menyusul Luna." kata Karin sambil melirik Aziz yang ada di depannya.


"Ais!" keluh Luna.


" Selamat yah Karin dan Galah! Semoga langgeng!" ucap Dodo.


" Amin! Terimakasih Dodo!" ucap Karin dan Galah.


" Dodo! Kapan kamu menikahnya?" tanya Karin.


" Ah! Kamu selalu mengejek aku loh!" sahut Dodo.


" Lho! Kok mengejek sih?" kata Karin.


" Ya sudahlah! Jangan di bahas lagi!" Ucap Dodo sambil melihat Luna di depannya dari samping.


Kebahagiaan selalu di rasakan bagi pasangan pengantin di hari pernikahan nya. Ucapan salam dan doa mengalir deras bak air terjun dari berbagai sumber mata air. Harapan yang indah bagi keduanya selalu hidup bahagia dunia dan akhirat.


*********


Sepulang dari acara resepsi pernikahan Karin dan Galah, Luna kelihatan tidak banyak berbicara. Aziz mengantar pulang Luna pun, tidak banyak berbicara. Ekspresi keduanya sudah sangat letih. Di dalam mobil Fortuner itu, keheningan tercipta sampai di depan rumah Riana pun mereka tidak banyak berbicara.


" Mas Aziz!" panggil Luna pelan.


" Iya sayang!" sahut Aziz yang terkejut dengan panggilan Luna.


" Aku masuk kedalam yah!" kata Luna.


" Eh? Luna!" panggil Aziz.


" Iya Mas!" sahut Luna.


" Aku minta maaf yah! Belum bisa menikahi kamu!" ucap Aziz sedih.


" Eh ya ampun! Tidak jadi masalah mas! Bukankah masih banyak waktu agar kita sama - sama lebih mengenal satu sama lain." ucap Luna dengan bijak.


" Tapi sebenarnya aku ingin cepat - cepat menikah dengan kamu!" kata Aziz.


" Iya sabar saja mas! Lagi pula, papa dan mama mas Aziz juga belum merestui hubungan kita mas." ucap Luna menunduk.


" Semoga saja mereka bisa berubah pikiran dan terbuka hatinya." ucap Aziz.


" Luna! Panggil Aziz sambil mengambil tangan Luna.


Aziz mulai memberanikan diri merapat mendekati Luna. Di ambilnya dagu Luna itu dan mulai di kecup bibirnya perlahan.


Tidak ada penolakan dari Luna. Luna pasrah dengan sentuhan itu. Aliran darahnya mulai mengalir hangat. Jantungnya mulai berdetak dengan cepat. Rona wajah Luna mulai merona.


" Aku ingin, Luna!" ucap Aziz.


" Hah?" Luna terkejut bukan main.


" Jangan sekarang! Aku belum siap!" ucap Luna.


" Kapan siapnya?" tanya Aziz.


" Tentu saja kalau kita sudah menikah Mas!" ucap Luna pelan.


" Ah! Aku selalu mendambakan hubungan itu denganmu. Apakah ini terlalu berlebihan?" kata Aziz.


" Tidak! Kita sama - sama wanita dan pria dewasa. Hubungan seperti itu memang sudah sewajarnya terjadi. Tapi kalau boleh aku meminta, kita lakukan semua itu setelah kita menikah ya Mas!" ucap Luna.


" Hah?" Aziz mulai menarik nafas dalam-dalam.


" Mas!" panggil Luna.


" Kamu kecewa mas!" tanya Luna.


" Tidak! Maaf kan aku Luna!"ucap Aziz pelan.


" Iya! Kita sama - sama menahan gejolak itu." kata Luna.


" Tapi aku..." ucap Aziz sambil merengkuh tubuh Luna dan berusaha menguasainya.


Luna mulai terpancing gelora dan hasrat nya. Aziz dengan brutal menumpahkan segala hasrat nya. Mata Luna terpejam menikmati segala yang di lakukan Aziz kepadanya. Tidak ada perlawanan karena masing - masing tubuh mereka menginginkan itu. Aroma nafas rokok mulai menjalar dan menyentuh kulit - kulit yang mulai terbuka satu persatu. Luna yang idealis dan Aziz yang lugu,mulai nakal dengan pergumulan itu.


" Mas! Jangan sekarang mas!" ucap Luna.


" Luna!" panggil Aziz pelan sambil tangan - tangan itu mulai bergerilya.


" Mas!" teriak Luna.


" Eh? Maaf! Astaga! Maaf Luna!" ucap Aziz sambil membenahi gaun Luna yang mulai tersingkap.


Aziz kembali menarik nafas dalam - dalam menstabilkan emosinya. Luna pun demikian,menarik nafas pelan - pelan.


" Mas! Aku mencintaimu mas! Tapi maaf! Jangan kita lakukan sekarang yah!" ucap Luna pelan sambil memegang tangan Aziz.


" Iya sayang! Mas juga sayang dengan kamu. Maaf kan mas ya!" ucap Aziz.


" Ya sudah! Aku masuk ke dalam ya mas!" ucap Luna sambil mencium pipi kanan dan kiri Aziz.


" Luna!" panggil Aziz.


" Iya mas! sahut Aziz.

__ADS_1


" Aku boleh mampir ke rumah sebentar tidak?" kata Aziz sambil membuka pintu mobilnya.


" Ayo lah! Tidak ada yang melarang kamu untuk main di sini mas!" ucap Luna sambil tersenyum.


Aziz mulai melangkah ke teras depan dan duduk di sana. Kembali Aziz menyalakan rokok nya dan mulai menikmati nya. Luna masuk ke dalam rumah dan mulai mengganti gaun pesta nya dengan pakaian rumahan.


" Mau kopi mas!" tanya Luna sambil tersenyum.


" Boleh! Kopi hitam saja Luna!" ucap Aziz sambil menghisap rokoknya. Asap rokok mulai mengebul di depan teras itu. Tarikan rokoknya sangat dalam di hisap Aziz.


" Di minum kopinya mas!" ucap Luna sambil meletakkan secangkir kopi di atas meja.


" Terimakasih sayang!" kata Aziz sambil tersenyum melihat Luna.


" Kamu sedih mas?" tanya Luna.


" Tidak! Biasa saja!" ucap Aziz.


" Kalau kita jodoh! Suatu hari pasti akan menikah seperti Karin dan Galah." ucap Luna.


" Iya! Kalau jodoh! Kalau tidak?" sahut Aziz.


" Hah? Jangan putus asa dong mas!" ucap Luna sambil ikut menyeruput kopi hitam milik Aziz.


" Hem enak juga yah!" kata Luna.


" Hehehe! Makanya aku suka kopi buatan kamu Luna!" ucap Aziz.


" Hem boleh aku coba rokok mu mas!" kata Luna dan membuat Aziz sangat terkejut.


" Eh? Jangan coba - coba! Nanti kamu ketagihan!" kata Aziz.


" Nah! Itu kata - kata yang tepat!" ucap Luna.


" Maksudnya?" tanya Aziz.


" Iya! Kita jangan coba - coba melakukan hubungan seperti suami istri, walaupun kita tahu sama - sama menginginkan nya. Karena kita belum halal dan Sah sebagai suami istri. Jikalau itu kita lakukan sekali, berikutnya akan nagih dan menjadi candu buat hubungan kita. Akhirnya hubungan kita jadi tidak sehat bukan?" kata Luna serius dan panjang.


" Iya deh! Aku minta maaf!" ucap Aziz.


" Aku juga minta maaf Mas Aziz." sahut Luna.


" Hem! Mau makan lagi gak?" tanya Aziz.


" Mau makan apa mas?" tanya Luna.


" Delivery saja yuk! Kamu mau cireng gak?" tanya Aziz.


" Boleh! Cemilan yang bikin kenyang! hehe." ucap Luna.


" Aku paling suka sambelnya." kata Aziz.


" Ya sudah! Pesan saja! Nanti biar aku goreng kan disini." kata Luna.


Luna tersenyum melihat Aziz yang seperti anak kecil ketika menginginkan sesuatu. Semua harus dan susah kalau di bujuk jika tidak di turuti kemauan dan keinginan nya.


*******


Sepulangnya dari rumah Luna, Aziz di sambut papa dan mama nya di ruang tamu. Papa dan mama nya dengan serius mengajak berbicara dengan Aziz. Kali ini entah topik apa yang akan disampaikan papa dan mama Aziz.


Aziz sudah duduk di depan papa dan mama nya. Pak Suntoro dan Bu Sukma mulai serius di depan anak laki - laki nya itu.


" Kamu dari mana Ziz?" tanya Pak Suntoro.


" Dari tempat resepsi nikahan kawanku pa!" jawab Aziz.


" Dengan Luna?" tanya Pak Suntoro langsung menebak.


" Iya pa!" jawab Aziz singkat.


" Kamu masih berhubungan dengan janda itu?" tanya Bu Sukma.


" Ma! Apa yang salah jika aku memilih Luna? Dia janda karena suaminya selingkuh. Bukan Luna nya yang berulah." cerita Aziz.


Ibu Sukma menarik nafas panjang,tidak ingin berdebat dengan anak laki-laki nya yang paling di sayang.


" Besok keluarga Pak Zaenal akan datang kemari bersama dengan putrinya yang belum menikah. Kamu bisa berkenalan dengan anak gadisnya yang bernama Aura." cerita Pak Suntoro.


" Ya Tuhan! Papa mau menjodohkan aku dengan gadis pilihan papa?" tanya Aziz.


" Aziz! Aura wanita yang cantik dan menarik. Yang pasti masih gadis dan belum pernah menikah. Dia lulusan S3 di Australia. Pak Zaenal kawan papa di anggota dewan dan dari keluarga yang berada. Tentu saja selevel dengan keluarga kita." ucap Pak Suntoro.


" Astaga!" sahut Aziz.


" Sudahlah! Besok kalau kamu sudah berjumpa dengan Aura,pasti akan cepat tertarik dengan anak itu." ucap Pak Suntoro.


" Iya Aziz! Papa dan mama tidak akan menjerumuskan kamu! Karena kami sayang dengan kamu,makanya kami memilihkan yang terbaik untukmu." kata Bu Sukma.


" Mama! Baik menurut papa dan mama bukan berarti aku cocok dengan aku bukan?" sahut Aziz.


" Aziz! Besok malam jam 7 kamu sudah bersiap-siap. Papa yakin, kamu akan menyukai gadis itu." kata Pak Suntoro.


" Hah!" Aziz menarik nafas dalam-dalam dan berlalu dari tempat duduk itu.


Pak Suntoro dan Bu Sukma saling berpandangan menarik nafas panjang.


*******


Sesuai yang di janjikan. Jam 7 malam itu, keluarga Pak Zaenal bersama putri nya yang bernama Aura sudah tiba di kediaman rumah Pak Suntoro. Pak Zaenal bersama istrinya yang bernama Sundari sudah duduk santai di ruang tengah bersama Pak Suntoro dan Bu Sukma. Aziz dan Aura juga ikut bergabung duduk di kursi panjang yang empuk itu.


Di atas meja itu ada beberapa hidangan kecil dan minuman yang sengaja di siapkan untuk menyambut keluarga Pak Zaenal. Pembicaraan serius tapi santai itu, menjadikan Aziz banyak diam dan hanya sebagai pendengar setia.


Obrolan seputar anak - anak nya yang sekolah di luar negri menjadi topik pembicaraan yang seru bagi orang tua itu. Saling membanggakan putra dan putri nya yang kini sukses, sudah masuk ke point' penting kalau berjumpa dengan para orang tua.

__ADS_1


Aziz mulai jenuh. Aziz mulai bangkit dari tempat duduknya. Papa dan mama nya jadi melotot melihat pergerakan Aziz yang ingin meninggalkan tempat duduknya.


" Aziz! Ajaklah Aura jalan - jalan di taman kalau kamu sudah jenuh duduk disini." ucap Pak Suntoro.


" Eh?" Aziz terkejut tapi akhirnya menyetujui apa yang di sarankan oleh papa nya.


" Ayolah! Kalau ingin bersantai di depan." ajak Aziz kepada Aura.


Aura mengikuti langkah Aziz yang berjalan menuju taman depan. Di taman itulah, ada kursi kayu yang panjang dengan tanaman hias yang mulai berbunga. Aziz dan Aura mulai masuk dalam obrolan ringan dan penuh basa - basi.


" Mas Aziz sudah punya pacar?" tanya Aura menyelidik.


" Sudah!" jawab Aziz singkat.


" Oh!" sahut Aura singkat sambil manggut - manggut.


" Kalau aku sudah putus dengan pacarku setelah kepulangan aku di Indonesian." cerita Aura.


" Oh ya? Pacar mu orang Australia?" tanya Aziz.


" Bukan! Dia juga orang Indonesia tapi dia sudah kerja di Australia." cerita Aura.


"Oh! Kamu lama di Australia?" tanya Aziz mulai tertarik dengan obrolan Aura.


" Lama! Dari S1 sampai S3 aku sekolah di Australia." cerita Aura.


" Wow! Tidak bosen apa tinggal di sana?" tanya Aziz.


" Makanya punya cowok di sana biar tidak bosen." cerita Aura.


" Wah!" Aziz mulai terkejut.


" Aku juga kerja di sana Mas! Tidak semua mengandalkan kiriman dari ortu ku." cerita Aura.


" Oh ya? Kerja apa kamu di sana?" tanya Aziz.


" Kerja sebagai pelayan toko hihihi." jawab Aura.


" Kenapa tertawa? Bukankah itu juga pekerjaan yang halal juga?" ucap Aziz.


" Iya sih! Cuma terkesan rendahan kan mas!" ucap Aura.


" Mana ada yang rendah untuk semua pekerjaan yang halal." ucap Aziz.


" Hehehe." Aura terkekeh.


" Mas Aziz!" panggil Aura.


" Iya! Ada apa?" tanya Aziz.


" Kamu suka lihat film action tidak?" tanya Aura.


" Suka!" jawab Aziz.


" Besok malam kita lihat film action terbaru yuk!" ajak Aura.


" Jam berapa?" tanya Aziz.


" Mas Aziz bisa nya jam berapa?" tanya Aura.


" Hem jam 19.30 bagaimana?" kata Aziz.


" Okelah kalau begitu! Kita lihat film action jam 20. 00 wib yah?" ajak Aura.


"Oke!" sahut Aziz.


" Hem! Aku jemput kamu atau Mas Aziz yang jemput aku?" tanya Aura.


"Kita langsung ketemuan di studio 21 saja bagaimana?" ucap Aziz.


" Mana seru! Kalau begitu biar aku jemput Mas Aziz di sini sajalah!" kata Aura akhirnya.


" Terserah kamu saja!" sahut Aziz.


" Okelah! Jam 7 malam aku ke rumahmu ya Mas!" kata Aura akhirnya.


"Okelah kalau begitu!" sahut Aziz.


Aziz dan Aura mulai seru dengan obrolan ringan itu. Cerita - cerita mengenai perjalanan percintaan masing-masing membuat mereka jadi nyambung dan mulai menjadi akrab. Aura menceritakan masa - masa kuliahnya di luar negri yang banyak suka dan duka nya membuat Aziz tertarik ikut mengomentari nya.


" Aneh ya? Kita jadi cepat akrab ya Mas!" ucap Aura sambil tersenyum.


" Karena aku orangnya memang supel!" sahut Aziz.


" Iya! Mas Aziz enak di ajak ngobrol dan tidak kaku." ucap Aura.


" Oh iya mas! Pacar mas Aziz,kerja di mana?" tanya Aura.


" Di perusahaan A! Kamu pasti tahu bukan?" jawab Aziz bangga.


" Tentu saja aku tahu!" ucap Aura sambil tersenyum melihat tingkah Aziz yang selalu membanggakan Riana.


" Kalau boleh tahu nama pacar mas Aziz siapa?" tanya Aura mulai menyelidiki.


" Riana! Dia orang ke dua di perusahaan itu." jawab Aziz dengan bangganya.


" Wow! Mas Aziz direktur utama di Perusahaan B sedang Mbk Riana di perusahaan A. Sama - sama perusahaan yang ternama di kota ini. Pasangan yang serasi lo mas!" ucap Aura yang membuat Aziz jadi tersenyum bangga.


" Aku masih belajar mengelola bisnis punya papa Mas!" cerita Aura.


" Wah! Itu bagus dong!" sahut Aziz.


" Masih belajar Mas! Makanya nanti aku perlu banyak belajar dengan Mas Aziz." ucap Aura sambil tersenyum.

__ADS_1


" Oke! Aku akan siap membantu kamu Aura!" kata Aziz.


__ADS_2