
Di bilik kamar rumah sakit, Karin berbaring lemas. Di samping nya ada Tiga yang setia mendampingi. Luna duduk di samping sebelah kanan. Luna mulai sibuk mengupas apel merah kesukaan Karin setelah itu diberikan ke Galah untuk menyuapkan ke mulut istri yang dikasihi nya.
" Karin, pasti kamu hamil deh." kata Luna tiba - tiba.
" Amin!" sahut Galah dengan semangat.
" Eh? Enggaklah! Aku hanya kecapekan saja kok." ucap Karin sambil mengunyah potongan apel yang di berikan oleh Galah.
" Hamil juga tidak apa-apa kan? Ada suaminya ini loh!" ucap Galah sambil memberi lagi potongan apel kedalam mulut Galah.
Karin hanya tersenyum mendengar ucapan Galah. Setelah mereka menikah, Galah mulai bekerja keras dengan usaha kecil-kecilan yang dimodali Karin. Sebagai kepala rumah tangga, Galah sangat bertanggung jawab untuk menjadi suami yang baik untuk istrinya. Keinginan untuk segera memiliki baby sangat besar dalam pikiran Galah tetapi tidak untuk Karin. Karena Karin masih sibuk dengan kerjaan dan karir nya.
" Berani taruhan deh! Kalau kamu pasti hamil." ucap Luna.
" Mana ada! Sudah diperiksa semuanya kok, tidak ada hasil yang menunjukkan bahwa aku hamil." cerita Karin.
" Ya sudahlah! Kita berusaha terus ya sayang,supaya kita cepat dapat baby." ucap Galah.
" Eh aku nyari kopi dulu yah!" kata Galah.
" Aku mau juga deh!" sahut Luna.
" Oke! Nanti aku bawakan untuk kamu!" kata Galah sambil melangkah pergi dari bilik kamar itu.
" Eh! Aku memang hamil Luna!" kata Karin pelan.
" Tuh kan? Apa aku bilang!" sahut Luna.
" Tapi Galah memang belum aku kasih tahu. Kalau aku kasih tahu, aku bakalan disuruh berhenti dari kerjaan aku Lun! Kamu tahu sendiri kan, penghasilan Galah masih belum menentu." cerita Karin.
" Hem! Baiklah,kalau begitu kamu harus berhati-hati menjaga kandungan kamu loh. Jangan terlalu capek dengan kesibukan kamu." ucap Luna.
" Oke thanks yah Lun! Oh iya bagaimana kabar Mas Aziz?" tanya Karin.
" Baik! Cuma ada yang mengganjal dipikiran aku." cerita Luna.
" Apa itu?" tanya Luna.
" Dari tadi malam aku coba hubungi Mas Aziz dan tidak sekalipun diangkatnya. Baru tadi pagi aku coba telpon lagi diangkat oleh seorang wanita yang mengaku calon istrinya. Sebelumnya aku telpon Dodo dahulu,katanya Mas Aziz masih tidur di dalam kamarnya." cerita Luna.
" Lalu? Apa yang kamu pikirkan sekarang, setelah ada wanita yang mengaku calon istri Mas Aziz?" tanya Karin.
" Entahlah! Memang hubungan kami belum mendapatkan restu dari papa dan mama Mas Aziz. Sedangkan orang tua ku sudah sibuk untuk sesegera mungkin agar aku cepat menikah. Capek banget Karin!" cerita Luna.
" Apa tindakan kamu sekarang?" tanya Karin.
" Aku tidak bisa berbuat apapun Karin! Lagi pula aku tidak ingin gagal lagi dalam membina rumah tangga." kata Luna.
__ADS_1
" Iya! Kamu harus lebih hati-hati dan selektif yah!" ucap Luna.
" Tentu saja!" sahut Luna.
" Mas Aziz yang aku kenal dari dulu sangat alim dan agamis loh!" cerita Karin.
" Di kantor saja, banyak cewek-cewek yang berusaha mendekatinya tapi Mas Aziz cuek saja." cerita Karin lagi.
" Yah tidak tahu juga Karin! Masalahnya papa dan mamanya tidak menyetujui hubunganku dengan Mas Aziz. Papa dan mama Mas Aziz tidak menyukai aku." cerita Luna.
" Sabar Luna! Kalau jodoh tidak akan kemana!" ucap Karin akhirnya.
Tidak berapa lama kemudian, Dodo masuk kedalam bilik kamar rumah sakit itu.
" Assalammualaikum!" ucap Dodo sambil menjabat tangan Karin dan Luna.
" Waalaikum salam!" jawab Luna dan Karin.
" Cepat sembuh ya Karin!" kata Dodo.
" Terimakasih banyak Mas Dodo!" ucap Karin sambil tersenyum.
" Luna! Kamu sudah lama datangnya?" tanya Dodo.
" Hem kurang lebih setengah jam yang lalu." jawab Luna yang tidak berani menatap bola mata Dodo.
" Eh? Karin?" sahut Luna sambil mencubit lengan Karin.
" Aku maunya seperti itu Rin!" sahut Dodo.
" Oh ya?" kata Karin.
" Aku tahu kalian pasangan yang serasi dibanding Mas Aziz." nilai Karin.
" Karin!" sahut Luna dan kelihatan melotot matanya.
" Jangan dengan aku! Kamu pasti tidak akan direstui oleh papa dan mama kamu!" sindir Luna.
" Lagi pula aku kan seorang janda, masih banyak gadis - gadis yang antri ingin menjadi istri kamu." ucap Luna menyindir lagi.
" Eh?" Dodo terkejut.
" Sudahlah! Kamu harus semangat Luna! Kamu tidak boleh rendah diri." ucap Karin.
" Kenyataannya memang seperti itu. Aku dan Mas Aziz tidak direstui apalagi Dodo." ucap Luna pedas.
" Luna!" panggil Karin pelan.
__ADS_1
" Luna! Karin yang akan menjadi saksinya. Jika Mas Aziz tidak jadi menikah dengan kamu, aku mau menikahi kamu karena aku sangat mencintai kamu. Aku tidak akan perduli jika papa dan mama aku tidak setuju." ucap Dodo.
" Ah sudahlah! Bukankah aku masih pacar kakak kamu? Kenapa kamu mengharapkan kami putus dan tidak menikah?" ucap Luna sewot.
" Eh bukan begitu maksud aku!" ucap Dodo jadi salah tingkah.
" Sudah! Sudah! Jangan ribut Dong!" kata Karin sambil memegang tangan Luna dan Dodo.
" Eh maaf!" ucap Luna kepada Dodo.
" Iya gak papa! Memang aku selalu salah." sahut Dodo.
" Tuh kan! Mulai lagi!" ucap Luna kini menunduk kepalanya.
" Sudahlah!" sahut Karin.
*******
Di kafetaria rumah sakit, Dodo dan Luna sedang duduk bersama minum kopi.
" Jadi apa benar kalau Mas Aziz sudah dijodohkan?" tanya Luna sambil meminum kopi hitam yang sudah diatas mejanya.
" Hah? Darimana kamu tahu Lun?" ucap Dodo.
" Tadi pagi ponsel Mas Aziz yang angkat seorang wanita. Dia mengaku bernama Aura dan mengaku kalau dia adalah calon istrinya Mas Aziz." cerita Luna.
" Oh!" sahut Dodo sambil manggut - manggut.
" Jadi benar tidak?" tanya Luna.
" Kamu salah Luna! Dia keponakan ku, sengaja mengganggu kamu supaya cemburu dengan Mas Aziz." cerita Dodo bohong.
" Dodo! Kamu tidak bisa berbohong padaku! Aku sudah lama mengenalmu. Jadi cerita saja yang sebenarnya." kata Luna.
" Lho memang seperti itu kok! Aku harus cerita apa lagi?" ucap Dodo berusaha menyembunyikan kenyataan nya.
" Baiklah! Aku tahu kamu menutupi semuanya dari aku. Karena Mas Aziz adalah kakak kamu kan?" ucap Luna.
" Luna! Aku sangat mencintai kamu,sangat menyayangimu dari dulu sampai sekarang. Kalau aku jahat, aku bisa cerita jelek dan buruk tentang Mas Aziz agar kalian bisa putus. Dan kamu bisa aku miliki lagi." ucap Dodo.
" Ya sudah! Cerita saja! Keburukan Mas Aziz dan kenyataan nya." ucap Luna sedikit memaksa.
" Aku tidak ingin mencampuri urusan pribadi kalian. Jadi kalau kalian putus, itu bukan karena aku, Luna. Yang pasti hati kecilku,aku masih berharap cinta aku akan berbalas dan aku bisa bersama dengan kamu selamanya." ucap Dodo serius.
" Bukankah itu sama saja,kamu mendoakan kalau hubungan aku dengan Mas Aziz bakal putus?" ucap Luna.
" Hah??? Luna!" gumam Dodo pelan menahan getir yang dirasakan nya.
__ADS_1
" Maaf! Aku saat ini sedang kacau. Aku merasa jika kakak mu itu telah mengkhianati aku. Dan bagi aku kesetiaan itu nomer satu dalam menjalin hubungan. Apalagi aku pernah mengalami kegagalan dalam berumahtangga itu karena suatu pengkhianatan atau perselingkuhan." ucap Luna. Dodo menyimak dengan serius kata- kata Luna.