PARTNER TERPANAS KU

PARTNER TERPANAS KU
KENCAN DAN REUNI


__ADS_3

Malam yang sudah di rencanakan tiba. Aura ke rumah Aziz jam tujuh malam. Di rumah itu Aziz di sambut hangat oleh papa dan mama Aziz. Tentu saja, karena Aura lah yang di setujui oleh papa dan mama Aziz untuk menjadi calon mantunya di banding Luna.


Aziz sudah bersiap-siap untuk berangkat malam itu. Dengan penampilan santai,celana jeans dan kaos casual nya dan dipadukan jaket Lea nya. Aziz kelihatan menjadi anak muda yang kekinian. Bukan Aziz yang selalu berpenampilan resmi selayaknya direktur utama di sebuah perusahaan. Gayanya mulai mengikuti Aura yang berpenampilan bak gadis ABG yang mengenakan rok mini yang di padukan dengan atasan yang santai.


Aura mulai menarik hati papa dan mama nya Aziz. Aziz yang biasanya selalu menolak perintah papa dan mamanya itu,kini jadi anak yang penurut.


Setelah berpamitan dengan Pak Suntoro dan Bu Sukma, Aura dan Aziz bergerak ke studio 21 sesuai yang di rencanakan.


Di dalam mobil itu, mereka sudah mulai akrab dengan obrolan - obrolan ringan. Kasus - kasus selebritis yang lagi menghangat pun jadi topik pembicaraan mereka.


Aziz jadi anak muda gaul yang mengikuti trend anak muda masa kini. Aura terkekeh geli melihat tingkah laku Aziz yang jadi kekinian.


Setelah beberapa lama, akhirnya mereka mulai fokus menyaksikan film action kegemaran mereka. Adegan - adegan yang bikin jantung berdetak membuat Aura dan Aziz terbawa suasana tegang.


" Hah? Seru habis film nya Mas!" ucap Aura sambil berusaha merapatkan badannya lebih dekat dengan Aziz.


" Iya!" sahut Aziz yang mulai kikuk dengan sikap Aura.


Suasana tegang masih menyelimuti mereka ketika melihat adegan-adegan film action itu. Dan sudah hampir satu setengah jam film itu diputar. Akhirnya film itu usai dan mereka keluar dengan perasaan yang lega tapi masih terbawa suasana romantika kisah action di film itu.


" Gila! Tokoh utamanya super Maco habis ya Mas?" ucap Aura sambil menggandeng tangan Aziz.


Aziz membiarkan tangan itu melingkar di tangannya.


" Mana ada! Maco Mas lah!" sahut Aziz sambil tersenyum.


" Hehe! Iya! Mas tidak ada lawan nya." sahut Aura terkekeh.


" Eh! Ke kafe yuk!" ajak Aura.


" Ngapain?" tanya Aziz.


" Ya Ampun! Nongkrong sebentar dong! Masih sore ini mas!" ucap Aura.


" Sudah jam 10 pun di bilang sore Lo!" ucap Aziz.


" Biasa melek malam Mas!" ucap Aura.


" Ke kafe mana?" tanya Aziz.


" Ke kafe Z!" jawab Aura.


" Aku tidak pernah ke tempat gitu - gitu lhoh!" ucap Aziz.


" Gitu - gitu gimana maksudnya Mas?" kata Aura.


" Ya ke tempat hiburan malam atau tongkrongan remang - remang." jawab Aziz.


" Oh! Hihihi..Mas Aziz bener - benar masih polos yah?" ucap Aura menggoda.


" Sering ke tempat club' kafe music gitu?"tanya Aziz.


" Iyalah! Kalau suntuk dan lagi bete habis ya ke sana sama kawan - kawan." cerita Aura.


Di dalam mobil itu, Aura dan Aziz masih ramai berbincang dengan obrolan yang tidak berfaedah. Aziz mulai memperlambat kecepatan mobilnya.


" Di mana tempat nya?" tanya Aziz.


" Terus dulu mas! Nanti ada pertigaan ambil kanan!" kata Aura yang mulai merapatkan badannya lebih dekat ke Aziz. Aziz jadi kikuk ketika mengemudi.


" Kamu jaga jarak denganku kenapa sih?" ucap Aziz.


" Hehehe maaf Mas!" sahut Aura mulai menggeser duduknya agak jauh.


Aziz mulai mengikuti petunjuk Aura. Jalannya mulai pelan dan sampai akhirnya mobil itu di hentikan di tempat parkiran.


" Ini yah tempatnya?" tanya Aziz.


" Iya betul Mas!" jawab Aura.


" Tidak ada yang menarik!" ucap Aziz.


Aura dan Aziz keluar dari mobil itu. Aura mulai menarik lengan Aziz yang berjalan malas ketika memasuki kafe itu. Suasana kafe dengan suasana lampu yang sengaja dibuat remang - remang pencahayaan nya. Tempat itu sangatlah cocok untuk pasangan muda - mudi yang ingin memadu kasih. Tempat yang membawa nuansa romantis bagi pasangan yang sengaja berkunjung di tempat itu. Alunan grup musik di kafe itu menambah suasana menjadi romantis.


" Kita duduk di sudut itu saja Mas!" ajak Aura sambil tetap menarik lengan Aziz.


" Kamu sudah terbiasa di sini?" tanya Aziz sambil mendudukkan pantatnya di kursi sudut itu.


" Tidak sering sih tapi pernah ke tempat ini dengan pacarku. Kalau malas pulang kami bermalam di penginapan dekat sini juga." cerita Aura.


" Astaga! Hubungan kamu dengan pacar kamu sebebas itu?" tanya Aziz.


" Ya ampun! Bukankah kami sudah sama - sama dewasa. Apa yang salah Mas! Lagi pula pacaran anak zaman sekarang sudah sejauh itu Mas!" cerita Aura.


" Oh!" sahut Azis mulai manggut - manggut.


" Mas! Kamu mau pesan apa?" tanya Aura.


" Juz apel ada gak?" tanya Aziz.


" Ada! Yang lain?" tanya Aura.


" Gak ada! Itu saja!" jawab Aziz.

__ADS_1


Tidak berapa lama kemudian, pelayan kafe mengantar beberapa minuman yang di pesan Aura. Dua piring kentang goreng dan pisang goreng krispi, juz apel dan mangga dan satu botol bir.


" Kamu suka minum itu Aura?" tanya Aziz.


" Biar hangat di badan Mas!" jawab Aura.


Malam semakin larut. Alunan musik mulai mengantarkan suasana romantis setiap pasangan yang duduk di kafe itu. Minuman - minuman yang beralkohol tinggi sudah mulai keluar dan mengisi meja - meja pengunjung itu. Aura mulai memesan dua gelas yang berisi wine. Dua gelas itu di teguk nya sampai habis tak bersisa.


" Kamu minum apa Aura?" tanya Aziz.


" Minuman surga Mas!" jawab Aura.


" Kamu mau coba mas! Biar aku pesankan untuk kamu!" ucap Aura.


" Tidak perlu!" ucap Aziz.


" Kita turun yuk Mas!" ajak Aura sambil menarik tangan Aziz dan di ajaknya berjoget.


Aziz diam mematung tapi akhirnya dengan terpaksa mengikuti irama musik yang ada.


" Asyik bukan?" ucap Aura sambil melambaikan tangannya ke pelayan kafe itu.


" Wine nya lagi dua gelas yah!" ucap Aura.


Pelayan itu segera pergi dan mengambil minuman yang di pesan Aura. Dua gelas itu di ambil Aura lalu gelas satunya di berikan ke Aziz.


" Ayo Mas! Coba sedikit saja!" kata Aura.


Akhirnya dengan terpaksa Aziz meminum gelas yang di berikan Aura sampai habis.


" Hadeuh! Mana enaknya sih!" ucap Aziz.


" Ayo kita pulang!" ajak Aziz sambil menarik lengan Aura. Aura mulai mengacau dan mabuk.


" Aku gak mau pulang Mas! Aku disini saja, sampai pagi." ucap Aura.


" Haduh! Kamu jadi gila begini Aura!" Ucap Aziz mulai memapah tubuh Aura.


" Aku sudah gila! Aku gila!" Aku gak mau pulang Mas! Aku di sini saja!" ucap Aura mengacau mulutnya.


Akhir nya Aziz memapahnya di penginapan yang tidak jauh dari lokasi kafe itu berada.


Di penginapan itu, Aura masih terhuyung badannya. Aziz mulai gelisah dengan Aura yang sedang mabuk. Seumur hidupnya, Aziz belum pernah tidur sekamar sekalipun dengan wanita manapun. Apalagi dengan Luna, pacarnya.


Aura mulai melepas kemejanya.


Rok nya yang pendek mulai terlihat jelas pahanya yang mulus. Pemandangan yang indah untuk laki-laki yang normal membuat menelan ludah.


Aziz mulai menjauh dari jangkauan Aura. Tidur berbaring di sofa yang panjang. Aura seperti cacing kepanasan dan mulai menggoda Aziz di kursi sofa.


Aura menggoda.Aziz terdiam dengan perlakuan Aura yang menggodanya. Jiwa laki - laki nya memberontak. Hasrat nya sudah tidak bisa dibendungnya. Aziz diam menikmati perlakuan Aura yang berusaha menguasai dirinya. Aziz seketika lupa diri ada Luna di hatinya. Yang ada di pikirannya adalah hasratnya yang sudah memuncak bagaikan gunung berapi yang siap mengeluarkan laharnya.


Sekian lama Aziz bertahan dengan perjaka nya. Hasratnya sudah bertumpuk dipendamnya. Semua akan diberikan untuk Riana,kekasih hatinya. Tapi malam ini? Aziz mengakui kekalahan nya menghadapi godaan yang bertubi - tubi yang dilakukan oleh Aura.


Aura yang sudah terbiasa hidup di luar negri. Kebebasan yang sudah sering ia lakukan dengan laki - laki yang di dekatnya. Aura yang berpendidikan tinggi lulusan S3 di Australia, mulai terpengaruh budaya luar. Kebebasan anak muda zaman sekarang dalam berpacaran.


Aziz mulai menikmati segala perlakuan Aura. Menikmati segala sentuhan hangat wanita itu yang sudah berpengalaman melakukan nya. Aziz yang lugu dan masih polos, akhirnya mengikuti irama yang di mainkan Aura. Aziz lupa akan adanya Luna.


" Luna? Masa bodoh!" pikir Aziz sambil memejamkan matanya.


" Lagipula Luna tidak pernah memahami keinginan aku sebagai laki-laki." batin Aziz yang kini benar-benar menikmati segala pergumulan panas itu.


*******


Di kediaman Pak Suntoro. Dodo sudah bersiap-siap untuk berangkat ke acara reuni di kampus universitas nya. Acaranya di gelar di hotel berbintang dan terkemuka di kota itu. Tentu saja, Luna juga mendapatkan undangan tiket yang sama di acara reuni itu. Pasalnya memang Luna dan Dodo adalah kawan sekampus waktu kuliah strata satu dengan fakultas dan jurusan yang sama. Bahkan mereka satu kelas juga. Tidak heran jika mereka sudah saling mengenal satu sama lain dari dulu.


Di kamarnya, Aziz masih bermalas-malasan setelah semalam kencan dengan Aura dan baru pulang pagi ini.


Dodo diam - diam masuk ke kamar kakak nya itu. Dan hasilnya Aziz masih tidur dengan pulasnya setelah tadi pagi di antar oleh Aura ke rumah.


Sudah jam sembilan, Dodo akhirnya bergegas berangkat ke lokasi reunian nya. Acara reunian nya akan dimulai jam sepuluh pagi, sesuai jadwal undangannya. Dodo tidak ingin melewatkan acara tersebut karena banyak kawan - kawan kuliahnya yang ingin ia jumpai. Rasa kangen karena sudah beberapa tahun tidak berjumpa dengan kawan - kawan di masa kuliahnya dulu.


" Mau kemana Mas?" tanya Sintia.


" Mau tau aja atau mau tau banget?" tanya Dodo menggoda.


" Mau tahu sekali!" jawab Sintia.


" Mau reunian adikku yang manis!" jawab Dodo sambil mencubit pipi Sintia.


" Mas Dodo! Salam buat Mas Dimas yah!" ucap Sintia.


" Malas!" ucap Dodo sambil meninggalkan Sintia.


" Sampai kan ke papa dan mama kalau mas keluar reunian yah!" teriak Dodo yang sudah di dalam mobilnya.


Pasalnya papa dan mama Dodo keluar untuk menghadiri acara nikahan putra dari relasi nya.


Dodo mulai menjalankan mobil itu dengan cepat. Pagi itu Dodo semangat sekali menghadiri acara reuni itu yang sudah sekian tahun baru di selenggarakan acara kumpul bersama itu.


Sekitar setengah jam, akhirnya Dodo telah sampai di lokasi yang dituju. Di gedung serbaguna yang cukup luas dan mewah itu sudah mulai ramai orang. Dodo segera masuk kedalam setelah memperlihatkan tiket undangan VVIP itu. Dodo di antar oleh kepanitiaan ke tempat duduknya sesuai nomor kursinya.


"Dodo!" panggil Dimas yang disebelah nya ada Luna yang duduk dekat Karin dan Winda.

__ADS_1


" Eh?" Dodo sedikit terkejut dan menoleh ke arah suara yang memanggil namanya.


Matanya langsung tertuju pada Luna yang pagi ini kelihatan bersinar dengan kecantikan nya.


Hati Dodo seketika berdetak kencang karena sudah beberapa bulan Dodo tidak pernah berhubungan lagi dengan Luna. Tentu saja setelah tahu, bahwasanya Luna berpacaran dengan Mas Aziz.


" Ini tempat duduk kamu Dodo!" ucap Dimas.


" Oh Iyah Terimakasih!" ucap Dodo sambil menjabat tangan Karin, Luna dan Winda di meja yang sama.


" Bagaimana kabar kamu?" tanya Dimas.


" Seperti yang kamu lihat!" jawab Dodo.


" Kamu sudah menikah?" tanya Dimas.


" Belum Dimas! Mana ada yang mau sama aku." ucap Dodo sambil melihat Luna.


Luna yang mendengar jawaban Dodo menunduk dan pura - pura tidak mendengar pembicaraan mereka.


" Acara sudah dimulai belum?" tanya Dodo.


" Belum! Seperti nya sebentar lagi akan dimulai!" jawab Dimas.


" Karin sudah menikah. Itu ada Luna dan Winda! Kamu mau pilih yang mana?" tanya Dimas menggoda Dodo.


" Hah? Mereka tidak ada yang mau sama aku Dimas!" ucap Dodo menyindir.


" Apa yang salah dengan kamu? Kamu jadi suka merendah. Mereka single loh!" ucap Dimas.


" Kamu sok tahu! Mana tahu mereka sudah punya pacar dan calon suami. Kamu jangan asal jadi Mak comblang." ucap Dodo sambil tersenyum dan melirik Luna.


Tidak berapa lama kemudian, acara reuni kampus itu di mulai. Pembawa acara sudah membacakan berbagai susunan acara di reuni pagi itu. Luna dan Karin fokus menatap ke depan panggung. Diam - diam Dodo selalu menatap dengan bebasnya wanita yang sudah sekian lama disukai nya yaitu Luna.


Panggung yang super mewah itu tampak meriah dengan sorot lampu yang warna - warni. Acara sambutan - sambutan dari penyelenggaraan reuni dan tamu kehormatan sudah di lalui. Berikut nya adalah pemutaran video - video dari masa - masa ospek, kegiatan kampus sampai acara wisuda telah di putar. Semua jadi kembali mengingat kenangan manis waktu di bangku kuliah itu.


Ada rasa haru dan bahagia terbawa suasana masa - masa kuliah dulu. Luna ikut terhanyut dalam suasana pemutaran video yang berdurasi sekitar setengah jam.


Setelah acara yang bikin mewek itu dilalui. Acara selanjutnya adalah hiburan - hiburan. Acara band musik di gelar dengan meriah. Beberapa orang tampil secara mendadak menyanyikan lagi favoritnya. Dodo pun di tarik oleh pemandu acara untuk menyanyi di atas panggung. Dodo mulai menyanyikan lagu andalannya yaitu penyanyi dari artis Judika. Sesekali Dodo menatap wanita yang dicintainya. Seolah lagu itu curahan perasaan hati nya. Luna yang sempat beradu pandang dengan Dodo hanya bisa menunduk dan pura - pura memainkan ponselnya. Karin yang mulai menggoda Luna dengan mencubit pinggang Luna pelan.


Acara istirahat makan siang sudah tiba. Beberapa orang sudah mulai mengambil makanan yang sudah di tata dengan rapi di sebelah kanan dan kiri gedung serbaguna. Luna masih malas bangkit dari tempat duduknya. Karin dan Winda sudah ikut dalam antrian mengambil makan siang.


" Tidak makan Mbak!" ucap laki - laki yang sudah sangat di kenal Luna. Luna sempai terperanjat karena lagi fokus dengan ponselnya.


" Eh? Ya ampun! Sampai terkejut aku!" ucap Luna.


" Aku boleh duduk di sini kan Mbak?" tanya laki - laki itu.


" Silahkan saja!" jawab Luna sambil dipaksakan tersenyum.


" Mau aku ambilkan makan siang untuk mbak?" kata laki - laki itu.


" Dodo!Tolong jangan selalu meledek aku dengan embel-embel mbak dong! Kita kan sudah kenal lama dan saling bersahabat." ucap Luna yang mulai emosi jika dipanggil 'mbak itu.


" Tapi bukankah aku jadi tidak sopan jika aku memanggil kamu dengan nama saja." ucap Dodo.


" Dodo! Kamu jangan berubah gitu dong. Kita jadi canggung dan kamu mulai menjaga jarak denganku. Bukankah kita bersahabat?" ucap Luna.


" Tapi aku menganggap kamu lebih dari sahabat! Aku dari dulu menyukai kamu. Aku dari dulu mencintai kamu. Dan itu tidak akan pernah berubah Luna!" ucap Dodo pelan dan tertahan suaranya agar tidak terdengar oleh orang di sebelah nya.


" Dodo!" panggil Luna pelan.


" Ingat Luna! Aku akan selalu rindu dengan kamu." ucap Dodo pelan.


" Dodo!" sahut Luna pelan dan hampir tak terdengar.


" Aku mencintaimu Luna! Tapi kenapa kamu jalan dengan kakak aku? Itu sangat menyakiti aku Luna!" ucap Dodo.


" Aku minta maaf Dodo! " ucap Luna.


Tiba - tiba Karin dan Winda datang dengan membawa piring yang berisi makanan. Dimas pun sudah mulai duduk di kursi nya. Dodo dengan berat pindah dari kursinya di dekat Dimas. Dodo masih sesekali mencuri pandang ke arah luna. Luna hanya diam menundukkan kepala.


" Kamu tidak makan Luna" tanya Karin.


" Nanti saja! Pulang dari reuni. Aku ingin iga bakar." jawab Luna yang membuat Dodo terkejut mendengar nya.


" Selera kamu masih sama ya Luna!" sahut Dodo. Luna hanya melempar senyumannya ke arah Luna. Senyum itu begitu manis. Apalagi jika Dodo tidak memanggil namanya dengan tambahan mbak lagi.


Tidak berapa lama kemudian. Acara kembali dilanjutkan. Acara hiburan kembali dilanjutkan kembali sampai akhirnya di penghujung acara yaitu penutupan.


Acara demi acara sudah terlewati dengan tertib. Akhirnya acara reunian sudah selesai. Akhirnya sesi terakhir adalah berfoto-foto ria.


" Aku boleh foto berdua dengan kamu kan Luna?" tanya Luna sambil memfoto di dekat Luna tanpa persiapan. Alhasil foto itu, Luna tampak melotot matanya.


"Dodo!" panggil Luna.


" Iya!" sahut Dodo.


" Yang tadi di hapus saja! Aku kan belum siap. Do!" ucap Luna.


" Kita foto lagi yah! Yang tadi biar saja, tidak perlu di hapus." ucap Dodo dengan senyum yang mengembang.


" Satu dua tiga..!" ucap Dodo sambil memegang ponselnya berfoto ria.

__ADS_1


" Luna! I love you!" ucap Dodo pelan di dekat telinga Luna.


Luna hanya diam membisu.


__ADS_2