
Matahari sudah mengintip malu- malu menyongsong pagi. Kalisa masih dalam dekapan Aziz. Pelan- pelan matanya membuka melihat sekelilingnya. Dirinya masih dalam kungkungan Aziz. Kalisa mengangkat tangan Aziz dan melepaskan pelukan itu dari pinggang nya.
" Aku harus segera kembali. Jam berapa ini?" pikir Kalisa lalu mencari keberadaan ponselnya dan melihat jam berapa saat ini.
" Apa? Sudah jam sembilan? Aku harus segera pulang." kata Kalisa lalu mulai turun dari kasur itu dan mencari pakaian nya yang berserakan di lantai. Kalisa mulai mengenakan pakaian nya dan membenahi dirinya sekedarnya tanpa mandi terlebih dahulu.
" Aku mandi di rumah saja. Anakku pasti akan mencari aku." kata Kalisa. Namun ia kembali berpikir kalau dirinya saat ini belum mendapatkan imbalan dari Aziz setelah melayani nya sampai beberapa kali. Bahkan Aziz minta tambah dan bilang akan memberikan lebih dari penawaran yang pertama.
" Gimana ini, laki-laki itu masih tidur? Apakah aku harus membangunkan dia?" pikir Kalisa lagi. Akhirnya Kalisa mulai membangunkan Aziz pelan- pelan. Namun beberapa kali Kalisa mengguncang- guncang tubuh Aziz, namun Aziz masih tetap tidak bergeming dan belum juga bangun dari tidurnya. Akhirnya Kalisa mulai membangunkannya dengan cara lain. Kalisa mulai. menyingkapkan selimut yang menutupi tubuh polos Aziz. Kalisa mulai merunduk dan kembali naik di atas peraduan itu. Pagi itu sesuatu milik Aziz terlihat sombongnya menantang langit. Barangnya terlihat mengeras, dan membesar. Kalisa mulai memainkannya supaya Aziz terbangun dari tidurnya. Dan benar saja, Aziz membuka matanya melebar. Kalisa menyudahi permainan nya. Lalu mulai turun dari tempat tidur itu.
" Mas, aku harus segera kembali! Anakku sudah menunggu aku untuk pulang. Pengasuh anakku pasti akan bekerja pagi ini. Dia akan menunggu aku." kata Kalisa. Aziz mulai turun dari ranjang itu dan mencari dompetnya.
__ADS_1
Aziz mengambil beberapa lembar uang berwarna merah itu dari dalam dompetnya yang tebal. Kini. uang itu diambilnya lalu diberikannya kepada Kalisa. Kalisa tersenyum menerima uang pemberian Aziz yang lebih dari kesepakatan.
" Ini banyak sekali, mas!" ucap Kalisa.
" Tidak apa- apa! Kamu sudah sangat menghibur aku. Hem, kasih nomer WA kamu, supaya aku bisa menghubungi kamu jika aku membutuhkan kamu kembali." ucap Aziz. Kalisa mengambil ponselnya dan mulai menyimpan nomer Aziz.
" Itu nomer aku!" kata Kalisa setelah miscal dan mengirimkan chat sekedarnya di nomer milik Aziz.
" Mas, aku pamit pulang! Terimakasih atas kerjasama kita sepanjang malam ini." ucap Kalisa lalu mulai memasukkan uang yang diperolehnya dari Aziz ke dalam tasnya.
" Hati-hati di jalan, Kalisa! Hem, oh iya Kalisa." kata Aziz.
__ADS_1
" Ada apa lagi, mas?" tanya Kalisa.
" Aku akan mencukupi segala kebutuhan kamu setelah ini. Setelah ini berhentilah dari pekerjaan ini. Jadi, akulah pelanggan kamu yang pertama dan terakhir bagi kamu. Oke?" kata Aziz memberikan penawaran. Kalisa mengernyitkan dahinya.
" Apakah ini artinya, kamu adalah pelanggan tetap dan satu-satunya yang memboking aku, mas?" ujar Kalisa. Aziz tersenyum.
" Bisa dikatakan seperti itu! Tapi aku mohon, hanya aku saja kamu menjual diriku." kata Aziz.
" Aku akan membayar mahal atas semua itu.' tambah Aziz. Kalisa tersenyum kecil.
" Baiklah!" sahut Kalisa lalu meninggalkan kamar penginapan itu. Meninggalkan laki-laki yang kasih polos belum berbusana itu.
__ADS_1
" Syukur lah, paling tidak, aku tidak akan bergonta-ganti dengan laki-laki lain. Hanya pria itu saja yang akan memboking ku." gumam Kalisa.