PARTNER TERPANAS KU

PARTNER TERPANAS KU
KENALKAN


__ADS_3

Luna dan Aziz sedang duduk di sudut kafetaria. Di atas meja ada beberapa minuman dan makanan dari menu kafetaria. Luna mulai sibuk menyikat habis makanan yang sudah di sajikan. Seharian kerja di kantor menguras energi nya.


" Pelan - pelan Luna!" ucap Aziz sambil tersenyum melihat Luna sangat berselera dengan menu makanan yang dipilihnya.


" Hem! Ini sangat enak Mas!" sahut Luna sambil mengunyah makanan.


" Mau tambah lagi?" tanya Aziz.


" Hehe Cukup! Ini sudah membuatku kenyang." ucap Luna sambil meminum air mineral di dekat nya.


" Lihat film yuk!" ajak Aziz.


" Hah? Males banget!" sahut Luna.


" Ayo Luna! Sesekali boleh dong kita seperti anak remaja yang lagi pacaran." kata Aziz.


" Hadeuhhh! Capek banget ingin pulang! Besok kerja dan harus bangun pagi lagi." ucap Luna.


" Kali ini saja!" ajak Aziz.


" Ayah Ibu di rumah sudah menunggu ku Mas!" sahut Luna.


Aziz diam memainkan ponselnya. Tidak ada komentar lagi karena Luna tidak ingin di ajak lihat film. Luna seketika melihat perubahan Aziz yang seperti anak kecil yang minta di belikan mainan tetapi tidak di turuti oleh ibu nya.


" Hem! Ya sudah, ayo kalau mau nonton!" ucap Luna mengalah.


" Hehe!" Aziz tertawa senang.


" Mau lihat film apaan sih?" tanya Luna.


" Film action donk!" sahut Aziz sambil membayar tagihan di kafetaria itu lalu berjalan beriringan dengan Luna.


"Luna!" panggil Aziz.


" Iya!" sahut Luna.


" Pelan - pelan saja Jalan nya." ucap Aziz sambil mengambil tangan Luna.


Luna terkejut dengan perlakuan Aziz terhadap dirinya.


******


Setelah selesai melihat film action di studio 21. Aziz mengantar Luna pulang ke rumahnya dengan mobilnya.


" Mampir ke rumahku yuk!" ajak Aziz.


" Lain kali saja Mas! Sudah mulai larut malam." sahut Luna.


" Luna!" panggil Aziz.


" Kamu sudah kenal lama dengan adikku Dodo? Tidakkah kamu punya sedikit rasa suka pada adikku?" tanya Aziz pelan.


" Hah?" Luna terkejut dengan pertanyaan Aziz yang bikin jantung an.


" Harus di jawab?" tanya Luna dengan ekspresi yang serius.


" Eh? Maaf Luna! Tidak usah di jawab, aku hanya bercanda." ucap Aziz berusaha mencairkan suasana.


" Tidak apa - apa! Aku sudah menganggap Dodo sebagai sahabat ku dari dulu." ucap Luna sambil menatap wajah Aziz dengan serius.


" Jadi kamu jangan khawatir! Dan kamu tidak perlu cemburu." tambah Luna.


" Oke! Oke! Maaf Luna!" ucap Aziz.


" Wanita yang bersama Dodo kelihatan nya benar - benar menyukai kamu Mas!" kata Luna.


" Tia?" ucap Aziz.


" Iya Tia!" jawab Luna singkat.


" Tia sekarang lagi dekat dengan Dodo."cerita Aziz.


" Lalu kamu cemburu?" tanya Luna.


" Ah tentu tidak Luna!" jawab Aziz sambil menepikan mobilnya karena sudah sampai di depan rumah Luna.


" Luna!" panggil Aziz.


" Aku boleh minta sesuatu dari kamu?" tanya Aziz.


" Apa itu?" tanya Luna.


Aziz berusaha mendekati Luna. Mendekati wajah Luna yang bersih. Pusat mata Aziz tertuju pada bibir mungil yang merah itu. Aziz ingin mengecup nya dengan keberanian nya. Tapi rasa takutnya mengalahkan keinginan nya. Mata Aziz terpejam setelah jarak diantara mereka tinggal beberapa sentimeter. Luna mulai mencium aroma tembakau karena memang Aziz pecandu berat rokok.


Tiba - tiba Aziz mengurung kan niatnya. Dan kembali ke posisi duduknya.


" Eh? Maaf!" kata Aziz pelan.


Luna menarik nafas panjang. Wajahnya seketika merona karena sikap Aziz terhadap dirinya.


" Kenapa tidak jadi?" tanya Luna menggoda.


" Ah! Aku takut kamu marah!" ucap Aziz dengan polosnya.


" Hehehe! Nanti kalau kita sudah suami istri, aku menjadi milik kamu seutuhnya Mas!" ucap Luna sambil keluar dari mobil itu.


*******

__ADS_1


Di teras depan rumah Luna. Setelah Luna berganti pakaian.


" Malam Minggu, aku kenal kan kamu dengan papa mama ku ya?"ucap Aziz.


" Apakah tidak terlalu cepat Mas!" jawab Luna.


" Aku ingin menikahi kamu secepatnya Luna!" kata Aziz.


" Tapi aku belum siap Mas!" sahut Luna.


" Kita sudah sama - sama dewasa. Aku sangat menginginkan kamu untuk menjadi istriku Luna." kata Aziz.


" Jiwa muda kita bergelora ya?" sahut Luna.


" Tentu saja! Aku laki - laki normal Luna! Hehehe." ucap Aziz sambil tersenyum.


" Aku juga wanita normal." sahut Luna.


" Lalu apa lagi yang kita tunggu Luna!" tanya Aziz.


" Oke oke! Jam berapa kamu mau mengenalkan aku dengan papa mama kamu?" tanya Luna.


" Nah gitu dong!" sahut Aziz.


" Besok aku jemput kamu saja di rumah. Pulang kerja yah?" tanya Aziz.


" Jadi tidak menunggu malam Minggu? Besok malam saja?" tanya Luna


" Iya! Lebih cepat lebih baik bukan?" ucap Aziz.


" Okelah! Besok aku usahakan pulang cepat." kata Luna.


*******


" Kamu tampak gugup Luna?" ucap Aziz.


" Tentu saja! Mau berjumpa dengan calon mertua. Siapa yang tidak akan gugup?" ucap Luna.


" Jangan khawatir! Papa mama ku tidak akan memakan kamu Luna!" kata Aziz menggoda.


Di dalam mobil Fortuner milik Aziz, Luna berusaha tenang. Ponsel yang ada di tangannya berkali - kali dibuat nya mainan. Ponselnya di lemparkan dari tangan ke kiri ke kanan, kegelisahan itu semakin kentara sekali.


" Luna!" panggil Aziz.


" Iya?" sahut Luna.


" Hehehe! Kenapa se gelisah itu? Aku ada di samping kamu!" ucap Aziz sambil mengambil tangan Luna.


Telapak tangan Luna mulai berkeringat. Aziz menggenggam tangan itu semakin erat.


" Yuk! Turun!" ucap Aziz sambil tersenyum.


Papa dan mama Aziz sedang duduk di ruang tengah. Mereka menunggu kedatangan Aziz dan Luna sesuai rencana ingin memperkenalkan gadis yang di cintai nya.


" Assalammualaikum! Papa mama!" ucap Aziz sambil menjabat tangan papa dan mama nya.


Luna mengikuti langkah Aziz, menjabat tangan ke dua orang tua Aziz.


" Siapa namanya?" tanya mama Aziz sambil tersenyum ramah.


" Luna, ma!" jawab Aziz.


" Aziz! Mama bukan bertanya dengan kamu loh!" ucap mama Aziz.


" Eh iya Tante! Saya Luna Tante!" ucap Luna sambil tersenyum.


" Sudah lama kenal dengan Aziz?" tanya papa Aziz.


Papa Aziz bernama Suntoro sedangkan mama Aziz bernama Sukma. Pak Suntoro dan Ibu Sukma adalah anggota dewan pemerintah di kota besar itu.


"Belum lama om! Kira - kira baru empat bulan ini." jawab Luna yang sudah tidak gugup lagi.


" Oh! Baiklah kita makan malam dulu yuk!" ajak Ibu Sukma sambil tersenyum dan menarik tangan Luna menuju dapur.


Aziz mengikuti dari belakang ketika melihat Luna di tarik ibu nya ke belakang rumah.


" Eh! Kamu ngapain ikut kami! Ini urusan wanita." kata Ibu Sukma.


" Ya ampun Mama!" sahut Aziz.


" Iya! Kamu di sini saja dengan papa. Papa ingin bicara dengan kamu." ucap Pak Suntoro.


Akhirnya dengan malas, Aziz duduk di kursi sofa yang tidak jauh dengan papa nya duduk.


" Di mana kamu kenal dengan Luna!" tanya Pak Suntoro.


" Waktu di rumah kawan pa!" jawab Aziz.


" Dia wanita karier atau masih kuliah?" tanya Pak Suntoro.


" Lebih tepatnya sudah bekerja di perusahaan ternama di kota ini pa. Orang ke dua di perusahaan A. Jadi Luna wanita karier!" ucap Aziz bangga.


" Oh! Papa kira masih kuliah." sahut Pak Suntoro.


" Menurut papa, bagaimana dengan Luna?" tanya Aziz mulai takut - takut.


" Bagus! Kesan pertama,bisa di terima. Pilihan kamu memang tidak di ragukan." ucap Pak Suntoro.

__ADS_1


" Alhamdulillah!" sahut Aziz sambil tersenyum senang.


" Bagaimana dengan status nya?" tanya Pak Suntoro tiba - tiba dan membuat Aziz terkejut dengan pertanyaan itu.


" Kalau dia orang ke dua di perusahaan A, Papa kenal dekat pimpinan di perusahaan itu. Baru saja bapak bertanya melalui Wa,katanya dia seorang janda?" kata Pak Suntoro.


" Astaga! Cepat sekali papa mencari informasi mengenai Luna. " ucap Aziz sedikit gusar.


" Tentu saja! Siapa saja yang akan masuk di keluarga besar kita, papa harus tahu asal usul nya,latar belakang dan lingkungan pergaulan nya." ucap Pak Suntoro.


" Jadi apa benar, Luna adalah seorang janda?" kata Pak Suntoro.


" Iya benar pa! Tapi aku sudah terlanjur mencintai nya pa!" ucap Aziz.


" Oke! Oke! Kita bicarakan saja nanti yah! Jalan mu masih panjang. Gadis - gadis yang masih perawan dengan status single juga banyak di luar sana." ucap Pak Suntoro.


" Astaga! Papa jangan begitu dong! Aku sudah terlanjur menyukai Luna, pak!" ucap Aziz mulai keras nada bicaranya.


" Aziz! Bukankah kamu masih perjaka? Masih banyak yang mau dengan kamu!" ucap Pak Suntoro.


"Apa salahnya dengan status janda pa!" sahut Aziz yang tertahan emosinya.


"Oke! Oke! Nanti kita lanjutkan pembicaraan kita nanti saja. Kita makan dulu. Mama dan Gadis pilihan kamu sudah menunggu di belakang." Ucap Pak Suntoro sambil bangkit dari tempat duduknya dan melangkah ke ruang makan.


" Astaga!" teriak Aziz sambil memukulkan tangganya ke tembok di dekatnya.


" Aw!" teriak Aziz sendiri.


*********


Di meja makan itu Luna dan Aziz tidak banyak berbicara. Suasana jadi kurang hangat setelah pembicaraan pribadi antara Aziz dengan Pak Suntoro. Tiba - tiba Dodo dan Sintia datang dan bergabung di meja makan itu. Suasana yang tadi nya sepi bak kuburan berubah menjadi ramai. Sintia mulai sibuk mengambil makanan di atas meja makan itu. Demikian juga Dodo.


Tatapan Dodo tertuju ke Aziz yang tampak berwajah kurang ceria. Di lihatnya wajah Aziz dan Luna berulang-ulang. Dodo mencari sesuatu yang tidak beres di antaranya. Tanda tanya besar dalam pikiran Dodo. Sesekali melihat raut wajah papa dan mama nya. Mungkin saja sesuatu sudah terjadi.


" Siapa yang masak hari ini Ma?" tanya Dodo sambil menguyah makanan yang sudah masuk ke dalam mulutnya.


" Mbak Fatimah! Mama mana sempat masak!" ucap Ibu Sukma sambil meminum air putih di samping nya.


" Kamu tidak memperkenalkan calon istri mu Dodo? " tanya Ibu Sukma.


" Hah?" Dodo terkejut.


" Lebih cepat lebih baik! Nanti kalau papa mu tidak setuju, biar kamu tidak patah hati dan stress." ucap Ibu Sukma menyindir.


" Lho! Bukankah papa mama sudah berjanji akan setuju dengan pilihan kami?" sahut Dodo sambil melirik Aziz dan Luna yang mulai canggung.


Pak Suntoro dan Ibu Sukma bergegas meninggalkan meja makan itu lalu meninggalkan mereka yang masih belum selesai makan malam.


" Mas! Aku pulang sekarang yah!" ucap Luna sambil berdiri dan melangkah keluar dari meja makan itu.


" Mbak Luna!" Panggil Sintia.


" Iya! Ada apa Sin?" tanya Luna.


" Tidak perlu buru - buru pulang mbak!" kata Sintia.


" Iya! Santai dulu di sini Mbak!" sahut Dodo yang merubah panggilannya di tambah dengan embel-embel mbak.


" Eh? Dodo aku bukan kakak mu Dodo! Kamu jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan seperti itu." ucap Luna sambil melirik ke arah Azis.


" Luna! " panggil Aziz pelan sambil menarik lengannya keluar dari ruangan itu sampai di bawa masuk ke dalam kamar pribadinya.


Dodo dan Sintia saling berpandangan. Keduanya sudah dapat menduga bahwasanya papa mamanya tidak menyetujui hubungan Aziz dengan Luna.


" Papa dan mama selalu seperti itu!" ucap Sintia.


" Kamu senang mas? Papa dan mama tidak setuju jika mas Aziz menikah dengan Mbak Luna" tanya Sintia yang membuat Dodo terkejut dan membelalakkan matanya.


" Kamu ngomong apa sih Sintia!" ucap Dodo keras.


" Aku sangat paham! Bahwasanya Mas Dodo belum bisa melupakan mbak Luna, Masih belum ikhlas jika Mbak Luna berhubungan dengan mas Aziz." ucap Sintia.


" Kamu tahu apa Sintia!" sahut Luna.


" Sudahlah! Jangan munafik mas!" ucap Sintia.


" Cukup! Kamu tidak perlu mengatur hidupku. Kamu anak kecil tahu apa soal perasaan!" ucap Dodo sambil menggebrak meja makan itu.


" Eh?" Sintia terkejut bukan main.


*******


Di dalam kamar Aziz.


" Luna!" panggil Aziz dengan lembut.


" Aku sudah terlanjur mencintai kamu. Aku menyukai dan menyayangi kamu. Kamu harus percaya itu." ucap Aziz.


" Lalu?" sahut Luna.


" Setuju atau tidak setuju, aku harus menikahi kamu!" ucap Aziz sambil mengambil tangan Luna dan menggenggamnya.


"Bagaimana dengan papa dan mama kamu?" tanya Luna.


" Aku tidak perduli!" ucap Aziz.


" Jangan! Aku yang tidak mau, jika memang papa dan mama kamu tidak menyukai aku. Sebaiknya kamu ikuti saja kemauan papa dan mama kamu mas!" ucap Luna mulai bergetar suaranya.

__ADS_1


" Tidak akan! Aku harus menikah dengan kamu!" sahut Aziz sambil merengkuh tubuh Luna.


__ADS_2