PARTNER TERPANAS KU

PARTNER TERPANAS KU
KETEMU IBU RODEO


__ADS_3

Di kediaman Pak Suntoro dan Bu Sukma. Siang itu setelah makan siang bersama, Pak Suntoro dan Bu Sukma duduk santai di ruang keluarga. Di sofa yang panjang itu, Pak Suntoro dan Bu Sukma berbincang-bincang ringan dengan Aura, dan Aziz. Percakapan orang tua yang sangat mendambakan cucu dari anaknya yang sudah menikah.


" Papa, mama, bukankah sudah memiliki empat cucu dari Mas Joko dan Mas Jhohan." ucap Aziz ketika Bu Sukma dan Pak Suntoro mulai menyinggung keinginan nya untuk mendapatkan cucu.


Mas Joko adalah anak pertama dari Pak Suntoro dan Bu Sukma. Sedangkan anak ke dua bernama Mas Jhohan. Yang ketiga barulah Aziz. Jhohan dan Joko sama - sama sudah menikah dengan hasil perjodohan orang tua. Aziz pun demikian juga.


" Tapi dari kamu kan belum Ziz!" sahut Pak Suntoro.


" Aura! Ajak lah suami kamu periksa kesuburan. Agar kamu bisa secepatnya hamil dan punya anak. Mumpung kamu masih muda, Aura." ucap Bu Sukma.


" Iya ma!" sahut Aura sambil memberi kode Aziz.


Aziz mulai tersenyum getir. Pernikahan nya dengan Aura tidak sesuai dengan keinginannya. Betapa tidak, Aura sangat susah di atur dan masih bergaya ala anak muda. Masih sering bermain dan bergaul dengan teman - temannya yang masih single. Selalu meminum obat agar tidak hamil atau memakai alat kontrasepsi agar tertunda kehamilan nya.


" Kami akan terus berusaha ma, agar bisa secepatnya hamil. Bukankah begitu mas?" imbuh Aura.


" Betul Ma! Pa!" sahut Aziz.


" Kalau begitu, kami permisi dulu Ma!" ucap Aura sambil menarik tangan Aziz meninggalkan ruangan keluarga itu.


Aura menarik tangan Aziz sampai masuk ke dalam kamar utama mereka.


" Mas! Aku masih belum mau punya anak Mas!" ucap Aura setelah mereka masuk ke dalam kamar.


" Kenapa begitu? Bukankah tugas istri adalah mengandung anak dan melahirkan , Aura! Apakah aku harus hamil dan melahirkan seorang anak?" ucap Aziz geram.


" Mas Aziz! Jangan marah dong sayang! Dua tahun lagi, aku janji akan memberikan kamu anak." ujar Aura sambil melepaskan kaos Aziz yang dikenakan.


" Janji Tuhan selalu benar dan nyata adanya. Kalau janji kamu? Apakah kamu bisa dipercaya, Aura?" ucap Aziz.


" Sayang! Kamu harus percaya dengan aku. Aku sangat mencintai kamu mas!" kata Aura sambil mengelus dada bidang Aziz yang sudah telanjang dada.


" Kalau kamu sungguh - sungguh mencintai aku, kamu harus berusaha membuat aku senang dan bahagia Aura. Aku sangat bahagia, jika kamu memberiku kabar yang baik. Kabar baik itu tentu saja, jika kamu hamil." ucap Aziz panjang lebar.


" Tentu sayang! Tapi tidak sekarang! Aku bisa membuat kamu bahagia dengan cara yang lain." kata Aura sambil berusaha membuat Aziz berhasrat.


Tangan - tangan nakal Aura mulai menjelajahi tempat - tempat sensitif yang berbukit. Aziz mulai merasa kan sensasi yang membangkitkan gairah nya.


" Aura! Kamu memang lihai soal ini." ucap Aziz mulai terpancing dengan kenakalan Aura.


Tangan - tangan Aziz pun mulai bergerilya. Suami istri itu siap dengan pertempuran sengit di siang bolong. Tiba - tiba Aura menghentikan gerilya nya.


" Eh Mas Aziz! Maaf kan aku! Aku harus pergi siang ini. Ada acara reuni SMA siang ini." ucap Aura beralasan.


Aziz menahan amarahnya. Gejolak hasrat nya tiba - tiba dihentikan dengan paksa. Aziz berusaha menarik nafas dalam-dalam.


" Aku janji Mas! Nanti malam kita lakukan dua ronde deh!" ucap Aura merayu.


" Terserah kamu!" sahut Aziz sambil meninggalkan Aura di kamar utama itu.

__ADS_1


" Hehehe...Ya ampun! Aku sampai lupa kalau sudah kencan dengan Wisnu siang ini." gumam Aura.


*******


Hari ini Rodeo mengajak Silvi berkunjung di rumah orangtuanya. Silvi yang kelihatan gugup, mulai berkeringat telapak tangannya.


" Bunda! Kenalkan ini Silvi!" ucap Rodeo yang memperkenalkan Silvi dengan Bunda nya.


" Oh Silvi! Duduklah di dekat Bunda!" ujar Bunda Rodeo.


" Baik Bunda!" sahut Silvi.


" Sudah berapa lama kenal dengan Rodeo nak?" tanya Bunda Rodeo.


" Rodeo adalah kawan SMA saya Bunda!" jawab Silvi sambil memainkan jari tangan nya.


" Kamu harus banyak bersabar jika bersama dengan anak Bunda!" kata Bunda Rodeo.


" Iya Bunda!" sahut Silvi.


" Bunda! Rodeo sudah berubah sekarang Bun!" ujar Rodeo.


" Berubah menjadi satria baja hitam?" sahut Silvi sambil berbisik dekat Rodeo.


Bunda Rodeo yang mendengar celotehan Silvi jadi tersenyum.


" Silvi! Kamu sanggup, jika hidup bersama Rodeo yang tidak punya apa - apa?" tanya Bunda Rodeo.


" Bunda! Aku sudah berubah! Aku akan bekerja lebih keras untuk mendapatkan uang yang berlimpah. Aku sudah banyak uang, Bunda!" ucap Rodeo.


" Eh? Manusia sombong!" sahut Silvi sambil berbisik pelan di telinga Rodeo.


" Eh! Silvi!??" panggil Rodeo pelan.


" Sudahlah! Kalian sudah sama-sama dewasa! Kalian bisa menentukan jalan hidup yang lebih baik. Bunda hanya bisa merestui dan mendoakan kebahagiaan kalian. Semoga kalian berjodoh." ucap Bunda Rodeo.


" Amin!!???" sahut Rodeo.


" Eh??? Memangnya aku mau menikah dengan kamu?" bisik Silvi di dekat telinga Rodeo.


" Eh??? Aku akan terus mengejar kamu!" ucap Rodeo pelan.


" Bunda! Bolehkah saya permisi pulang? Saya harus membantu paman saya, untuk bersiap - siap jualan." kata Silvia.


" Oh tentu saja! Biar Rodeo mengantar kamu pulang!" ujar Bunda Rodeo sambil menjabat tangan Silvi.


" Bunda! Saya juga sekalian pergi kerja di warung paman Silvi." kata Rodeo.


" Alhamdulillah! Semoga berkah!" ucap Bunda Rodeo.

__ADS_1


" Amin!??" sahut Rodeo dan Silvi bersamaan.


" Assalammualaikum!" ucap Rodeo dan Silvi.


" Waalaikum salam?" jawab Bunda Rodeo.


*******


Di dalam mobil Rodeo.


" Kamu terlalu pede sekali Rodeo!" ucap Silvi.


" Kenapa?" tanya Rodeo sambil melirik ke arah Silvi.


" Aku loh,belum tentu mau menikah dengan kamu!" ucap Silvi sambil memainkan jari - jari tangan nya.


" Kamu akan rugi jika menolak aku yang super ganteng ini, Silvi!" ucap Rodeo penuh percaya diri.


" Oh ya?" sahut Silvi tersenyum geli.


" Silvi!" panggil Rodeo.


" Apa lagi?" sahut Silvi.


" Astagfirullah! Jutek sekali!" ucap Rodeo.


"Apakah kamu sudah punya pacar? Atau seseorang yang kamu sukai diam - diam?" tanya Rodeo mulai menyelidik.


" Tentu saja, ada!" jawab Silvi yang membuat Rodeo terdiam.


" Oh! Jadi aku mulai sekarang harus mundur yah!" ucap Rodeo akhirnya.


" Iya! Kami harus jaga jarak dengan aku." ucap Silvi sambil menatap wajah Rodeo yang mulai sedih.


" Baiklah! Tapi aku masih boleh belajar dengan paman kamu bukan?" tanya Rodeo serius.


" Kalau soal itu, aku mendukung kamu!" ucap Silvi.


Rodeo mulai fokus menjalankan mobilnya. Dalam pikirannya sudah kacau dan kecewa. Hatinya sangat sedih, ketika Silvi mengatakan ada yang lain yang Silvi sukai. Rodeo pelan - pelan harus menghapus rasa suka nya dengan Silvi.


" Kamu kenapa jadi banyak diam?" tanya Silvi sambil tersenyum.


" Tidak apa-apa!" jawab Rodeo singkat.


" Kamu ingin tahu siapa yang aku sukai bukan?" tanya Silvi akhirnya.


" Tidak usah! Aku takut sakit hati jika mendengar nya." ucap Rodeo.


" Oh? Benarkah? Tidak ingin tahu?" tanya Silvi lagi.

__ADS_1


" Tidak perlu! Hati ini sudah menangis ketika kamu mengatakan sudah ada yang lain di hati kamu!" kata Rodeo mulai melow.


" Oh!!" sahut Silvi sambil menahan tawa.


__ADS_2