PARTNER TERPANAS KU

PARTNER TERPANAS KU
JALAN CERITA


__ADS_3

Di kamar Aziz. Di kamar itu ada Dodo berbaring di kasur Spring Bed berbincang dengan Aziz. Aziz kelihatan serius mendengarkan cerita Dodo. Ada sesal yang muncul ketika Dodo menceritakan yang sebenarnya, gadis yang di cintai nya selama ini. Kakak adik itu saling berpelukan. Mereka sama- sama menyukai wanita yang sama.


"Dodo! Maaf kan Mas Aziz!" ucap Aziz sambil memeluk adiknya itu ketika sudah merubah posisi nya menjadi duduk.


"Iya mas! Mas Aziz tidak bersalah. Lagi pula, dari dulu Luna menganggap aku hanya sebagai teman dan sahabat dekatnya. Beberapa kali aku menyatakan dan mengungkap kan perasaan ku padanya, selalu di tolaknya." cerita Dodo.


" Jadi! Selamat untuk Mas Aziz,bisa memenangkan hati Luna." tambah Dodo.


"Dodo!Tapi kamu tidak apa - apa bukan?" tanya Aziz.


" Iya tidak jadi masalah. Bukankah Mas Aziz tidak menyukai Tia?" ucap Dodo.


" Hah? Apa maksudnya?" tanya Aziz.


" Hahahaha!" akhirnya Aziz dan Dodo saling berpandangan dan akhirnya mereka tertawa terbahak - bahak.


" Hahahaha! Kamu mau dengan Tia?" tanya Aziz.


" Hehehe. Aku akan berusaha menumbuhkan rasa tertarik ku menjadi rasa sayang dan suka. Sampai akhirnya aku bisa mencintai nya." ucap Dodo.


"Oh ho! Aku rasa Tia akan lebih cepat menyukaimu Dodo."kata Aziz.


"Hehehe!"


"Bagaimana kalau malam Minggu ini,kita buat acara barbeque di rumah ini!" ucap Dodo.


" Boleh! Kamu yang atur saja Dodo." sahut Aziz.


" Kita undang Luna dan Tia di sini." kata Dodo.


" Iya! Kamu atur saja!" ucap Aziz.


*******


Di rumah Pras. Di rumah itu mulai gaduh. Ribut - ribut terdengar di ruangan tengah. Pras dan Lisa tampak bersitegang karena pertengkaran itu. Beberapa guci besar pecah, sehingga ruangan itu mulai tidak aman dari jangkauan anak - anak.


" Jadi apa mau kamu? Hah?" tanya Lisa.


" Aku tidak ingin bercerai dengan mu Pras!" teriak Lisa.


"Kenapa aku harus mempertahankan kamu? Kamu selalu bermain dengan laki - laki lain di belakang ku." kata Pras dengan emosi.


"Aku bertaubat Pras! Aku janji tidak akan mengkhianati kamu lagi." kata Lisa sambil memeluk ke dua kaki suaminya untuk memohon.


"Aku janji Pras! Aku tidak mau jika kamu meninggalkan aku." tambah Lisa.


"Baiklah! Aku beri kesempatan kamu sekali lagi." ucap Pras sambil berlalu meninggalkan Lisa yang mengeluarkan air mata buaya itu.


*******


Di rumah Rita. Rita di dalam kamar meratapi nasibnya. Penyesalan selalu datang setelah akibat perbuatan yang di lakukan itu terjadi. Pasalnya Rita sudah mendapatkan talak dari suaminya. Video yang tersebar itu sudah sampai di tangan suaminya.


Rita harus menerima segala konsekuensinya dari perbuatan yang telah ia lakukan. Apa boleh buat. Suaminya tidak mau menanggung malu dari aib perbuatan Rita.


" Bang!" ucap Rita dengan tangis isak tangis penyesalannya.


" Tidak kah, Abang memberikan pintu maaf untukku? Dan memberikan aku kesempatan sekali lagi untuk memperbaiki semuanya?" ucap Rita.


" Aku malu Rita! Bagaimana aku harus menaruh mukaku untuk menghadapi klienku dan keluarga besar ku dengan kelakuanmu?"


" Kamu harus membantu aku bang! Menyelesaikan segala urusan dan permasalahan ini. Bukankah kamu punya banyak uang, agar bisa menutup semua kasus ku ini?" ucap Rita.


" Aku menyayangimu Rita! Tapi aku sangat kecewa dengan tingkah laku kamu di luar sana. Pergaulan kamu sangat bebas." sahut suami Rita.


" Aku minta maaf bang! Sungguh aku sangat menyesal. Betapa aku kesepian karena jauh dari kamu." ucap Rita dengan suara bergetar dan tangisannya yang memilukan.


" Kamu harus menanggung semua perbuatan mu Rita!' sahut Suami Rita.


" Jangan bang! Aku mohon bantulah aku! Kamu jangan menceraikan aku! Dan bantulah aku agar lepas dari kasus ini. Aku tidak mau di penjara bang!" ucap Rita sambil menangis histeris.


" Aku mau berubah lebih baik lagi bang!" tambah Rita.


"Baiklah! Demi anak - anak. Aku akan mempertahankan kamu dan berusaha membebaskan dan melepas kasus mu." kata suami Rita dengan suara lembut.


*******


Di rumah kediaman Aziz, Dodo dan Sintia. Di rumah dengan pekarangan yang cukup luas itu, tampak Aziz dan Dodo sedang sibuk mempersiapkan acara Barbekyu. Di pekarangan belakang dekat kolam renang itulah, Mereka membuat acara kecil - kecil an di rumah itu.


Luna dan Karin sudah berada di rumah Aziz. Galah dan Tia pun sudah ada di pekarangan belakang rumah Aziz. Sintia dan Tia kelihatan sibuk mengoles bumbu ke daging iga dan daging sapi lalu memanggangnya.


Karin dan Luna sudah mulai mempersiapkan minuman segar dan beberapa Snack yang Luna bawa. Snack itu di belinya ketika perjalanan ke rumah Aziz. Aziz mulai mendekati Luna yang menuangkan beberapa minuman ke dalam gelas.


" Luna!" panggil Aziz.


" Iya? Mau minum?" tanya Luna sambil memberikan gelas yang berisi minuman sirup rasa jeruk itu.


" Nanti saja! Pingin buat kopi dulu." kata Aziz.


" Oh! Mau aku buatin?" tanya Luna.


" Boleh!" jawab Aziz.


" Aku ke dapur dulu yah?" ucap Luna sambil berjalan menuju dapur yang berada tidak jauh dari pekarangan belakang rumah itu.


" Ayo biar aku antar!" sahut Aziz mengikuti langkah Luna ke dapur.


" Kamu mulai mengantuk?" tanya Luna.


" Iya lumayan! Hari ini kerjaan padat." cerita Aziz.


" Hem! Biasa dipijit tidak?" tanya Luna.


" Suka sih! Tapi tidak biasa. Kenapa mau mijitin aku?" ucap Aziz dengan senyum menggoda.


" Bukan! Aku ada langganan tukang pijit yang enak atau kamu ingin terapi?" tanya Luna.


" Terapi apa?" tanya Aziz.


" Terapi kesehatan!" jawab Luna.


" Aku maunya di terapi sama kamu Luna!" sahut Aziz.


" Hah? Aku mana bisa!" ucap Luna.


" Eh! Gula nya satu sendok cukup?" tanya Luna yang mulai menyeduh kopi hitam itu ke dalam cangkir.


" Setengah sendok saja Luna!" sahut Aziz.


" Oh? Kamu tidak suka yang terlalu manis yah?" tanya Luna.


" Karena lihat senyum kamu saja sudah manis Luna. Jadi kalau terlalu banyak gula,jadi manis kopi hitam ini." ucap Aziz.


" Ais! Mulai deh merayu nya." ucap Luna.


" Luna!" panggil Aziz pelan.


" Iya!" sahut Luna.


" Hem!" ucap Aziz sambil tersenyum dan mendekati wajah putih Luna. Semakin dekat dan dekat sampai Luna tidak berani bernafas.

__ADS_1


" Ini! Ada bulu mata di dalam kelopak matamu." ucap Aziz sambil tersenyum.


" Eh? Oh ho!" ucap Luna mulai gugup.


Aziz berusaha mengambil bulu mata yang jatuh itu. Tangannya dengan lembut mulai mengusap pipi Luna dengan lembut.


" Eh? Kita gabung bersama yang lain yuk!" ucap Luna sambil berusaha menghindari sentuhan Aziz yang membuat dirinya jadi sangat gugup tiba - tiba.


" Kamu tidak mau kopi hitamnya Luna?" tanya Aziz.


" Nanti aku bisa minum berdua dengan kamu." ucap Luna sambil tersenyum.


Aziz berjalan mengikuti Luna. Dengan senyuman nya yang mengembang.


******


" Coba kita ukur tingkat kematangan daging sapi ini." ucap Dodo sambil meletakkan alat pengukur kematangan daging yang masih di atas panggang an itu.


" Ya Ampun! Memang harus pakai alat begitu segala?" ucap Tia sambil terkekeh.


"Alat ini masih di perlukan Tia! Tapi kalau untuk mengukur rasa sayang seseorang, mungkin alatnya hanya satu." ucap Dodo sambil tersenyum.


" Apa itu?" tanya Tia sambil membalik daging yang di panggang itu.


" Kesetiaan!" jawab Dodo akhirnya.


" Hah?" ucap Tia dengan bola matanya yang membulat.


" Eh aku mau bakar jagung Tia!" ucap Dodo sambil meletakkan jagung di atas panggangan itu setelah di olesi bumbu yang menimbulkan aroma yang menggugah selera.


" Kamu suka jagung ya mas?" tanya Tia.


" Suka dong!" jawab Dodo singkat.


" Alasannya?" tanya Tia.


" Suka saja!" ucap Dodo.


" Kamu masih suka dengan Mbak Luna, bang?" tanya Tia sambil berbisik.


" Hah?" Dodo terkejut dan menatap wajah Tia seketika.


" Dan kamu masih menyukai Mas Aziz, Tia?" Dodo ganti bertanya.


" Hah?" Bola mata Tia menjadi membulat.


" Masih perlu jawaban tidak?" tanya Dodo menggoda.


" Tidak perlu! Kita sama - sama tahu saja. Hehe." ucap Tia.


" Mbak Luna memang cantik. Tetapi sekarang dan mulai malam ini yang lebih cantik adalah kamu, Tia!" ucap Dodo sambil melirik ke arah Tia.


" Hah?" Bola mata Tia seketika membulat lagi bak kelereng.


" Kalau begitu! Aku juga akan menilai bahwa kamulah yang paling spesial malam ini." balas Tia menggoda


" Spesial? Pakai telor dong!" sahut Dodo sambil membalik jagung yang sedang di panggang nya.


" Mas Dodo! Aku minta tolong iga bakar nya di panggang yah!" teriak Sintia sambil menyodorkan beberapa iga yang belum matang.


" Ya ampun! Tunggu dulu dong sampai jagung dan daging sapi ini matang." ucap Dodo.


" Hadeuh!" sahut Sintia.


" Mbak Luna sama Mas Aziz dimana?" tanya Sintia.


" Ngapain mencari mereka?" tanya Dodo.


" Hehehe tidak ada!" sahut Sintia sambil garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal itu.


" Teman - temanmu ajak makan dulu Sintia!" perintah Dodo.


" Siap Mas!" sahut Sintia sambil berlalu meninggalkan Dodo dan Tia yang sedang memanggang.


*******


" Aku tidak menyangka, kalo bos mu akan jadian dengan Luna." ucap Galah yang duduk santai menikmati beberapa snack dan minuman rasa buah itu.


" Aku juga tidak mengira! Aku pikir Dodo lah yang akan meluluhkan hati Luna." kata Karin.


" Aku baru tahu,kalau Mas Aziz adalah kakak nya Dodo lho!" sahut Galah sambil tersenyum.


" Aku juga!" kata Karin sambil menatap ke arah Dodo yang lagi asyik berduaan dengan Tia.


" Kelihatannya mereka akrab!" kata Galah sambil melihat Dodo yang tertawa lepas dengan Tia.


" Siapa?" tanya Karin.


" Dodo dan gadis itu!" jawab Galah.


" Eh? Aku ikut senang!" sahut Karin.


" Karin!" panggil Galah sambil memegang tangan nya.


" Kita nikah secara hukum yuk!" ucap Galah.


" Hah?" Karin terkejut.


" Aku menyayangimu dengan segala kelebihan dan kekurangan kamu Karin" ucap Galah tulus.


" Bukankah kamu masih berhubungan dengan kekasih hatimu Galah?" kata Karin.


" Demi Allah! Setelah pernikahan siri kita, aku tidak berani mempermainkan janji suci pernikahan kita." ucap Galah.


" Benarkah?" sahut Karin mulai terharu.


" Aku sudah mencintai kamu Karin! Sungguh! Tetapi dengan segala kekurangan aku, aku yang tidak punya apa - apa dan miskin ini, apakah kamu mau menerima aku?" ucap Galah.


" Galah! Demi Tuhan! Aku juga menyayangi kamu karena kamu selalu menuntun aku ke arah yang lebih baik. Demi Tuhan! Aku berterima kasih, karena kasih sayang mu." kata Karin sambil tersenyum tulus.


" Katakan sekali lagi Karin! Kalau kamu menyukai aku!" kata Galah.


"Galah! Aku mencintai kamu! Kamulah suami ku!" ucap Karin pelan.


"Aku akan menikahi kamu Karin!" ucap Galah.


" Benarkah?" tanya Karin.


" Iya! Orang tuaku harus mengetahui ini semua." ucap Galah dengan semangat.


" Terimakasih Galah!" ucap Karin.


" Akulah yang harus berterimakasih,karena kamu mau menjadi istriku." sahut Galah sambil tersenyum dan menggenggam tangan Karin dengan lembut.


*******


Di kontrakan Momo, Pras duduk dengan santai melepas segala permasalahan rumah tangga nya. Kopi hitam yang di sajikan di atas meja sudah mulai habis tak bersisa. Asbak tempat abu rokok dan puntung rokok yang tersisa pun sudah penuh di dalamnya.


Momo dengan penampilan celana jens pendek dengan tank top nya mendampingi Pras yang lagi suntuk.

__ADS_1


" Kenapa om?" tanya Momo dengan senyum nya yang mengembang.


" Apakah kasus pornografi istri Om sudah kelar?" tambah Momo dengan pertanyaan.


" Sebentar lagi semua bisa di selesaikan." jawab Pras dengan malas.


" Jangan cemberut gitu dong om! Di rumah Momo harus selalu gembira." kata Momo dengan gaya bicara yang manja.


" Ada bir tidak?" tanya Pras.


" Gak ada om! Beli dulu lah om!" sahut Momo.


" Masih nyimpan wine gak?" tanya Pras lagi.


" Hehehe ada om! Om Pras selalu tahu kalau aku masih menyimpan minuman itu." ucap Momo.


" Iya dong! Karena kemarin aku beli banyak untuk mu. Jadi mana mungkin secepat itu habis." kata Pras.


" Jadi? Mau minum wine sekarang Om?" tanya Momo.


" Iya! Stress sekali aku Momo." keluh Pras.


" Kalau stress,kenapa kita tidak keluar saja Om!" ajak Momo.


" Kamu ingin kemana Mo? " tanya Pras dengan tangannya yang mulai nakal.


" Ke mall atau liburan kemana saja dong om! Asal tidak di rumah aja." keluh Momo.


" Besok saja kita pergi ke puncak!" kata Pras.


" Okelah kalau begitu! Eh Om! Bagaimana kabar istri Om sekarang?" tanya Momo.


" Yah begitulah! Di janji mau meninggalkan Rodeo. Tetapi aku tidak yakin kalau mereka tidak berhubungan lagi dan putus begitu saja." cerita Pras.


" Om! Kamu tidak menceraikan istri Om?" tanya Momo terkesan mempengaruhi.


" Tidak! Itu bukan jalan yang bagus untuk pisah. Aku punya banyak anak-anak dari Lisa. Lagi pula keluarga Lisa sangat berpengaruh terhadap kemajuan bisnis ku Mo! ." cerita Pras.


" Oh! Bagaimana dengan aku om?" tanya Momo yang membuat mata Pras membulat seperti kelereng.


" Hah? Kamu?" tanya Pras.


" Iya! Bagaimana dengan hubungan kita?" tanya Momo.


" Hubungan kita suka sama suka saja Momo! Tidak ada kelanjutan dan kamu jangan berharap yang lebih dariku. Yang terpenting aku bisa memenuhi segala kebutuhan kamu Mo!" ucap Pras.


" Aku penghibur mu saja Om?" tanya ? Momo.


" Tentu saja! Memangnya kamu ingin apa lagi?" tanya Pras.


" Bisa kah aku menjadi istri ke dua kamu Om?" tanya Momo.


" Apa? Itu tidak mungkin! Eh? Jangan harap kamu bisa aku nikahi ya Momo!" ucap Pras.


" Oh Oke! Oke! Maaf Om!" sahut Momo.


" Sudahlah! Ambilkan wine untukku dan layani aku dengan baik. Aku akan memberikan kamu harga yang tinggi tiap kita berhubungan." Kata Pras.


"Baiklah om!" sahut Momo sambil berjalan dengan lemas mengambil botol wine yang ia simpan di dalam lemari.


Raut wajah kesedihan Momo mulai tampak. Tidak ada kelanjutan dari hubungan nya dengan Pras. Semua di lakukan karena jual beli dan suka sama suka. Hubungan simbolis mutualisme dan saling menguntungkan. Lalu apa yang ingin di harapkan Momo dengan Pras? Tentu saja menjadi wanita yang bisa di hargai sebagai seorang istri. Harapan yang nol untuk angan - angan Momo.


"Ini om! Jangan banyak - banyak nanti mabuk!" ucap Momo sambil menuang botol wine itu ke dalam gelas kecil.


Pras meneguk minuman itu dengan sekali tegukan dan mengisinya kembali untuk di berikan nya ke Momo.


"Minumlah! Aku tahu hidupmu juga dalam kesepian." ucap Pras sambil memberikan gelas yang berisi wine itu.


" Om! Kamu tahu aku sedih? Tapi sedih itu karena aku yang membuat nya sendiri." ucap Momo mulai menitik kan air matanya.


" Hahahaha! Kamu bisa menangis Momo?" tanya Pras.


" Tentu saja!" jawab Momo sambil kembali meminum wine itu banyak - banyak.


" Aku pikir, akulah yang sedih sendiri. Ternyata kamu juga terbawa kesedihanku." ucap Pras sambil kembali menuang botol wine itu dan meminumnya kembali.


" Om! Usiaku sudah 32 tahun om, sudah selayaknya untuk menikah dan punya anak. Aku mendambakan punya keluarga yang utuh dan sehat." ucap Momo dengan air matanya yang keluar di sudut - sudut matanya.


" Sudahlah! Kita bersenang - senang sekarang! Aku akan membuat kamu terbang melayang malam ini!" ucap Pras sambil tangannya berusaha meraih celah-celah sensitif punya Momo.


" Ah! Baiklah! Malam ini aku akan melayani kamu dengan baik om! Aku akan melupakan segala kesedihan aku." sahut Momo sambil menahan geli dari tangan - tangan nakal Pras.


Dua Botol wine itu sudah habis tak bersisa di minum Pras dan Momo. Mulut mereka sudah mulai mengacau mengeluarkan kata - kata kasar,cacian dan jorok. Era ngan dan desa han kembali keluar dari mulut Pras dan Momo. Mereka menikmati malam panjang dengan pergumulan yang panas dan menguras keringat. Menyatukan tubuh tanpa sehelai kain di badan mereka.


Alam mulai sedih dengan kelakuan mereka. Mereka juga sedih dengan jiwanya yang haus akan kasih sayang Tuhan. Sentuhan hangat dari Pencipta. Cahaya petunjuk yang terang masih belum terpancar dari kedua mata mereka.


Momo dan Pras masih dengan hasratnya yang meluap-luap. Air mata di ujung kelopak Momo mulai mengalir seperti kristal. Mungkin saja hatinya sedih dengan apa yang telah di pilihnya.


" Om Pras!" panggil Momo.


" Iya Momo! " sahut Pras.


" Apakah kamu tidak bisa menikahi aku?" tanya Momo memohon.


" Apa kamu bilang? Bukankah tadi sudah aku katakan! Hubungan kita hanya suka sama suka tidak lebih dari itu." ucap Pras sambil menarik rambut Momo sambil melampiaskan hasrat nya dengan kasar.


" Aw! Pelan- pelan Om!" ucap Momo sambil bergetar suaranya menahan sakit dan sedih.


" Sudahlah! Kita bersenang-senang sampai pagi. Aku akan memberimu lebih banyak uang dari sebelumnya." ucap Pras.


**********


Percakapan Lisa dengan Rita melalui sambungan telepon.


"Lisa! Aku akan berusaha meninggalkan kebiasaan buruk ku dan mulai membatasi pergaulan bebas ku. Kalau tidak? Suamiku akan meninggalkan aku." cerita Rita dengan suara bergetar.


" Kamu menyerah dengan semua nya? Bukankah kita bisa main belakang lagi?" ucap Lisa.


" Tidak Lisa! Aku benar - benar ingin bertaubat." kata Rita.


" Baguslah! Kalau begitu kita jangan pernah berhubungan dan berkawan lagi! Karena kamu bisa kembali terjerumus lagi seperti dulu." kata Lisa.


" Bagaimana dengan kamu?" tanya Rita.


" Aku?" tanya Lisa.


" Iya!" sahut Rita.


" Aku masih seperti dulu! Aku tetap membuat hidupku bebas dan senang. Aku masih menjalin hubungan dengan Rodeo. Bahkan aku punya lagi yang baru,tentunya lebih keren dan ganteng di banding Rodeo." cerita Lisa.


" Lisa! Aku pamit yah! Aku mulai sekarang belajar menjadi baik. Menjadi istri dan ibu yang baik untuk keluarga kecil dan besar ku." ucap Rita.


" Syukurlah! Aku ikut senang! Walaupun aku akan kehilangan kamu di lingkungan kebebasan kita." ucap Lisa.


Sambungan telepon itu terputus. Dan Rita kembali tersedu dengan segala perbuatan hina yang telah di lalui nya selama ini.


" Lisa! Semoga kamu akan bertaubat dan insaf seperti aku." kata Rita pelan.


Rita kembali menegakkan ibadah dan taubatnya tanpa kenal lelah. Beberapa kali, Rita melakukan ibadah itu demi membersihkan dosa dan perbuatan yang sudah ia lakukan. Mengkhianati suaminya dan mengecewakan keluarga nya. Demi apapun itu, Rita akan mengaduh dan memohon ampunan Nya.

__ADS_1


__ADS_2