
Julius tiba di istana cinta nya. Sambutan hangat dari sang istri memberikan rasa lelahnya di perjalanan seketika hilang.
" Aneh sekali, Julius tidak segera menuntut aku untuk melayani nya." pikir Windi.
" Ada apa sayang? Kok kamu cemberut?" tanya Julius seraya memberikan kotak hadiah untuk istrinya. Windi menerimanya dengan senyuman nya.
" Wow jam tangan model terbaru! Wah kamu paling tahu yang aku mau saat ini, sayang!" ucap Windi dengan senangnya.
" Iya, dong! Akukan suami kamu. Akulah yang paling tahu apa yang kamu sukai." kata Julius sambil menjatuhkan tubuh nya ke kasur empuk kamar mereka. Windi mendekat suaminya dan mulai mencumbunya.
" Sayang! Aku lelah! Boleh gak, kalau aku istirahat dulu?" ucap Julius sambil membelai rambut istrinya yang wangi.
" Baiklah!" kata Windi dengan kecewa.
" Tuh, benar kan? Julius seperti tidak menginginkan aku? Apakah Julius sudah kenyang makan di luar? Apakah di luar sana, Julius menemukan wanita-wanita yang memberikan keinginan nya? Biasanya kalau sudah pulang seperti ini, Julius minta sampai beberapa kali dengan aku. Ada apa ini?" pikir Windi seraya menatap wajah Julius yang kini memejamkan matanya.
__ADS_1
" Windi sayang! Aku lagi lelah. Kamu jangan mikir yang tidak- tidak yah, sayang!" ucap Julius sambil memejamkan matanya seolah-olah tahu apa yang sedang dipikirkan istrinya itu.
" Eh?? Oke! Oke! Aku tidak mengganggu kamu, sayang! Boboklah dulu, aku mau berenang dulu." ucap Windi. Julius tersenyum menatap istrinya yang melenggang keluar dari kamarnya.
" Di sana remuk, disini pulang bisa hancur! Aku perlu istirahat dulu sebelum melakukan kegiatan yang enak- enak dengan istri aku. Kalau tidak, dia akan curiga jika aku tidak menyentuh nya." pikir Julius.
@@@@@@@
Kehamilan Luna sudah memasuki bulan ke sembilan dan sebentar lagi Luna dengan Dodo akan segera menjadi orang tua. Betapa hal ini sangat dirindukan oleh Dodo dan Luna.
" Mas Dodo, kita istirahat dulu yuk. Di sana ada bubur ayam. Aku mau beli bubur ayam dulu, mas." kata Luna. Dodo tersenyum melihat Luna dengan wajah sudah terlihat letih.
" Iya, ayo kita ke sana." sahut Dodo sambil menggandeng Luna dengan pelan.
Keduanya duduk di bangku panjang di dekat gerobak bubur ayam itu.
__ADS_1
" Pak, bubur ayamnya dua ya, pak!" kata Dodo. Luna mengatur nafasnya yang sudah terasa payah.
" Capek sayang!" tanya Dodo penuh perhatian sambil mengusap perut buncit milik Luna.
" Capek tapi ini akan membuat adik bayi sehat dan lancar dalam persalinan nanti." ucap Luna.
" Aamiin!" sahut Dodo sambil tetap mengusap perut buncit milik Luna.
" Sayang! Bagaimana kalau operasi cesar saja, sayang! Aku tidak ingin melihat kamu sakit ketika melahirkan bayi kita ini." kata Dodo khawatir.
" Tidak mas Dodo sayang! Doakan aku lahir normal dan lancar. Adik bayi ini tidak nakal. Kamu tahu mas Dodo, justru aku takut jika operasi cesar. Doakan aku lancar ketika melahirkan anak kita ini, mas." ucap Luna.
" Kamu adalah istri aku yang patuh, aku yakin kamu akan diberi kemudahan dalam proses kelahiran anak kita itu. Jika boleh aku minta, biar aku yang merasakan sakit itu." kata Dodo. Luna tersenyum mendengar nya.
" Inilah perjuangan untuk menjadi seorang ibu, mas." sahut Luna.
__ADS_1