
Di suatu pagi. Rodeo berjalan disepanjang trotoar. Kakinya yang putih tampak terlihat sampai mata kaki. Sepatunya ia jinjing. Rodeo ingin merasakan telapak kakinya menyentuh nenek bumi. Bukan sekali ini. Setiap kegalauan dalam hatinya,Rodeo selalu mengukur jalan disepanjang trotoar tanpa alas kaki. Entah apa yang dirasakan dengan melakukan tindakan se konyol itu. Perjalanan hidupnya semakin kacau dan tidak terarah. Dia butuh seseorang yang menuntunnya. Rodeo perlu seseorang yang menyadarkan dirinya,bahwa hidup tidak sekedar mencari kesenangan di dunia.
Rodeo tetap berjalan melewati taman - taman ibu kota yang terawat dengan rapi. Pandangannya semakin lama semakin menunduk. Rodeo sudah tidak bersemangat lagi. Seseorang yang dulu sempat hadir dalam kehidupan nya,kini telah semakin menjauh darinya. Bukan orang itu yang salah. Melainkan karena semua kesalahan yang telah ia perbuat yang membuat perpisahan itu terjadi.
Nasi sudah menjadi bubur. Rodeo hanya berusaha menjadi orang yang memahami akan dirinya sendiri. Tiba - tiba Rodeo tanpa sengaja menabrak seseorang yang berjalan berlawanan arah dengan nya.
" Eh? Maaf!" ucap Rodeo sambil menatap seseorang yang ada di depannya.
" Eh tidak apa - apa bang!" ucap seorang gadis yang mengenakan jilbab pasmina berwarna hitam.
" Eh kamu Silvi?" tanya Rodeo sambil berusaha mengenali gadis yang ditabraknya.
" Benar! Hem?? Siapa yah? Aku benar-benar lupa!" kata gadis yang dipanggil Rodeo oleh Silvi itu.
" Aku Rodeo! Teman sewaktu SMA dulu." jawab Rodeo sambil tersenyum berusaha mengembalikan ingatan Silvi ke masa kenangan putih abu-abu.
" Oh iya! Kamu anak IPS 2 yah?" sahut Silvi.
" Ah syukurlah kamu masih ingat aku." ucap Rodeo.
" Tentu saja! Anak yang badung dan nakal yang sering kena hukuman dari guru BP pasti banyak yang mengenalnya." kata Silvi sambil terkekeh.
"Astaga! Kenapa yang diingat yang jelek-jelek saja yah?" sahut Rodeo.
" Hehe. Selain itu kamu anak band yang dikenal playboy bukan? Hehehe!" kata Silvi menambah ceritanya.
" Iya betul! Tapi sebenarnya aku tidak playboy loh!" ucap Rodeo.
" Kamu mau kemana?" tanya Silvi.
" Tidak tahu! Aku cuma suka berjalan - jalan seperti ini." kata Rodeo.
" Bagaimana kalau kita ngobrol di taman itu!" ajak Silvi sambil menunjuk tempat duduk yang sengaja dibuat untuk bersantai di taman.
" Kamu mau kemana?" tanya Rodeo.
" Aku mau berkunjung ke anak-anak panti." jawab Silvi.
" Oh ya?" sahut Rodeo.
" Kamu kalau tertarik,bisa ikut aku berkunjung di sana bang!" ajak Silvi.
" Benarkah? Kalau begitu aku ikut!" sahut Rodeo.
" Tentu saja!" ucap Silvi.
" Kamu tinggal dimana?" tanya Rodeo.
__ADS_1
" Aku tinggal dengan pamanku di dekat sini. Kalau kamu ingin mengobrol denganku, cari saja aku di soto Betawi dekat sini. Aku selalu membantu pamanku berjualan mulai sore sampai malam hari." cerita Silvi bersemangat.
" Oke!" sahut Rodeo.
" Hem! Kamu lagi ada masalah ya Rodeo?" tanya Silvi mulai menyelidik.
" Tidak! Aku lagi suntuk saja!" ucap Rodeo.
" Oh syukurlah! Kirain lagi ada masalah serius! Oh iya! Kamu sekarang kerja dimana?" tanya Silvi.
" Aku? Aku...Hem. Aku wiraswasta,Silvi." jawab Rodeo mulai gelagapan.
" Wiraswasta juga bagus! Kenapa kamu jadi sungkan mengatakannya? Aku yang hanya membantu usaha pamanku saja bangga menceritakan ke kamu." kata Silvi.
" Iya! Yang penting halal yah?" sahut Rodeo.
" Iya benar!" kata Silvi.
" Bagaimana kalau aku antar kamu ke panti sekarang?" ucap Rodeo.
" Kamu lagi tidak ada kerjaan? Eh maksudnya tidak merepotkan kamu kan?" ucap Silvi.
" Tentu saja tidak! Aku tertarik untuk mengunjungi panti seperti yang kamu ceritakan tadi. Pasti menyenangkan bertemu anak - anak tanpa orang tua mereka." ucap Rodeo.
" Baiklah!" sahut Silvi.
" Terserah kamu! Aku hanya bisa titip dana sukarela untuk ibu panti hari ini." ucap Silvi.
" Oh! Antar aku ke toko roti dulu! Aku akan membelikan mereka hari ini dengan itu saja." kata Rodeo.
" Baiklah! Terserah kamu! Mereka pasti senang dengan kunjungan kita walaupun kita tidak membawa apapun." kata Silvi.
*******
Setelah membeli roti hampir seratus biji, Rodeo dan Silvi ke panti dengan berjalan kaki.
" Masih jauh tidak?" tanya Rodeo.
" Enggaklah! Sebentar lagi sampai!" jawab Silvi.
" Nah itu tempatnya! Ayo kita masuk!" ajak Silvi sambil melangkah dengan pasti masuk ke ruangan ibu panti.
Ibu panti menyambut kunjungan Silvi dan Rodeo dengan ramah. Setelah berbincang - bincang dan mengisi buku tamu, Silvi dan Rodeo diajak ke ruang belajar anak - anak panti. Anak - anak sedang berkumpul di ruangan itu untuk mendapatkan pengarahan dari beberapa kakak - kakak pengasuh panti.
Silvi dan Rodeo mulai memperkenalkan diri didepan anak - anak yang sudah tidak memiliki ayah maupun ibu lagi.
Dengan semangat, Silvi memberi sedikit cerita yang menarik untuk didengarkan untuk mereka. Beberapa anak sampai melongo,dan ada pula yang sampai tertidur. Sampai akhirnya, Rodeo membagikan beberapa roti kepada mereka. Anak- anak yang sebelumnya mengantuk dan tidur menjadi melek dan bersemangat dengan pembagian roti dari Rodeo.
__ADS_1
Kepolosan dan keluguan dari anak - anak panti membuat Rodeo terhibur. Wajahnya tampak ceria setelah kunjungan di panti itu. Sampai akhirnya, Silvi dan Rodeo pamit untuk kembali. Anak - anak panti menyalami keduanya dengan penuh hormat.
Betapa bahagianya Rodeo ditengah - tengah anak - anak yang membutuhkan dirinya.
" Aku pasti akan sering - sering kemari bersama kamu!" ucap Rodeo.
" Kenapa harus dengan aku? Kamu bisa langsung ke tempat ini." sahut Silvi.
" Aku masih canggung kalau datang sendiri ditempat ini." kata Rodeo.
" Baiklah!" ucap Silvi.
" Oh iya? Aku minta no WA kamu dong!" kata Rodeo.
" Gak usah! Kamu kalau mencari aku do warung soto Betawi saja!" ucap Silvi.
" Ya ampun! Pelit amat!" ucap Rodeo sambil tersenyum.
" Hadeuh! Ya sudah! Aku paling benci dibilang pelit!" sahut Silvi.
" Hehehe gitu dong! No WA saja gak mau ngasih, kayak kamu artis saja." ucap Rodeo.
" Eh? Kamu!" sahut Silvi.
" Hehe! Hem! Makan yuk!" ajak Rodeo.
" Gak bisa! Aku harus cepat - cepat ke warung soto pamanku!" kata Silvi.
" Di mana tempatnya? Jauh tidak dari sini?" tanya Rodeo.
" Tidak jauh! Kamu mau ikut?" tanya Silvi.
" Boleh! Aku mau makan soto Betawi di warung kamu saja!" kata Rodeo.
" Ayolah! Kamu sekali makan di warung ku,kamu akan ketagihan." ucap Silvi.
" Benarkah?" sahut Rodeo.
Rodeo dan Silvi berjalan penuh semangat. Rodeo berusaha mensejajarkan langkahnya dengan Silvi yang terkesan lambat dibanding dirinya.
" Kamu sering jalan kaki seperti ini?" tanya Rodeo.
" Iya! Aku suka berjalan kaki, karena memang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah paman ke panti. Warung sotonya pun tidak jauh dari rumah paman." cerita Silvi.
" Hem! Suka naik sepeda tidak?" tanya Rodeo.
" Berhubung akan tidak punya sepeda, aku jawab saja tidak suka... ha-ha-ha." ucap Silvi sambil terkekeh.
__ADS_1
" Hehehe nanti ku belikan kalau kamu ulang tahun." sahut Rodeo.