PARTNER TERPANAS KU

PARTNER TERPANAS KU
BELAJAR MENCINTAI


__ADS_3

Luna bergegas pergi dari kamar Aziz tatkala pintu itu di buka Aura setelah puas memberikan adegan panas bersama Aziz di depan mata Luna. Hal itu sangat cukup membuat Luna sakit hati dan dengan teratur mundur dari kehidupan Aziz.


" Mas Aziz! Kamu tega mempermainkan hatiku! Kamu berhasil membuat aku membencimu." ucap Luna setelah masuk kedalam mobilnya.


Diam - diam Aziz melihat Luna yang berlari keluar dari kamar Aziz. Luna mulai mengikuti Luna yang kembali pulang ke rumahnya.


Tidak ada air mata di kelopak mata Luna. Hanya muak, jijik dan merasa hina,tidak dihargai dengan kejadian yang di sengaja dibuat di depan matanya.


" Aura memang sudah gila! Aku jadi kasihan dengan kamu Mas! Kenapa kamu menemukan cewek seperti itu." kata Luna sambil menjalankan mobilnya dengan cepat.


Luna mengemudikan mobilnya dengan cepat. Ia ingin segera pulang kerumahnya. Ingin meluapkan segala keresahan jiwa nya. Hancur berkeping - keping seperti beling.


Setelah beberapa menit kemudian, Luna telah sampai di rumahnya. Luna ingin meluapkan segala amarahnya. Mobilnya dibiarkan di halaman depan. Dengan semena kunci mobil itu di lemparkan ke arah penjaga rumahnya dengan isyarat supaya memasukkan nya kedalam garasi. Penjaga rumah itu hanya melongo. Tiba-tiba seseorang datang mengagetkan nya.


" Biar saya saja yang memasukkan nya pak!" ucap pemuda itu sambil mengambil kunci di tangan penjaga itu.


Pemuda itu masuk kedalam mobil dan mulai menjalankan mobil itu masuk kedalam garasi.


Setelah itu baru ia duduk sendiri di teras depan rumah Luna sambil menyalakan rokok nya.


Luna mulai berganti pakaian nya. Sekarang yang dipakai nya adalah pakaian renang. Luna melangkah dengan pasti ke kolam renang di taman belakang rumahnya. Setibanya di kolam itu, Luna mulai menyeburkan badannya dan mulai beraktivitas dengan renangnya.


Pemuda itu masih di depan teras rumah Luna sambil menikmati rokoknya. Penjaga itu mulai mendekati pemuda itu dan menawarkan kopi untuknya.


" Mau saya buatkan kopi hitam Mas?" tanya penjaga itu.


" Boleh! Kalau tidak merepotkan pak!" jawab pemuda itu sambil tersenyum.


Pemuda itu membuatkan kopi di pos jaga. Tidak lama kemudian penjaga itu datang sambil membawa segelas kopi buatannya.


" Ini Mas!" ucap penjaga itu.


" Punya bapak mana?" tanya pemuda itu.


" Saya sudah buat Mas! Saya letakkan di pos jaga." jawab penjaga itu.


" Saya kembali ke depan dulu Mas!" ucap penjaga itu sambil berjalan ke pos jaga.


Pemuda itu menikmati setiap tarikan rokoknya. Kopi hitamnya mulai ia seruput sedikit demi sedikit.


Pemuda itu masih duduk di teras. Tidak berani masuk atau memencet bel. Entah apa yang dia nanti.


Pemuda itu tampak tertidur di kursi itu. Angin semilir meniup rambutnya yang mulai memanjang. Malam sudah semakin larut. Pemuda itu masih bertahan di kursi teras itu.


*******

__ADS_1


Minggu pagi hari, Luna masih bermalas - malasan di atas kasurnya. Suara Rizki anaknya sudah mulai heboh terdengar di ruang tengah. Luna masih berpakaian tidurnya.


Hari ini, Luna masih berat menjalani hidupnya. Kejadian semalam yang membuat nya muak dan sakit hati masih teringat jelas. Betapa tidak, disaat ia sudah mulai merasakan rasa sayang dengan seorang pemuda, dengan disengaja dirusaknya lagi. Disaat Luna mulai belajar mencintai, akhirnya semuanya menjadi benci.


Luna dengan malas keluar dari kamar nya. Di ruang tengah terdengar Rizki sedang bermain dengan seseorang. Tawa Rizki lepas bak layangan putus.


" Eh Dodo! Sudah lama datangnya?" ucap Luna.


" Sudah cukup lama!" jawab Dodo sambil bermain dengan Rizki.


" Mama!" panggil Rizki.


" Iya sayang!" ucap Luna sambil mendekati Rizki lalu menciumnya.


" Kamu sudah dibuat kan minum?" tanya Luna.


" Belum!" jawab Dodo.


" Baiklah! Mau kopi apa teh?" tanya Luna.


" Kopi saja!" jawab Dodo.


" Aku buatin dulu ya!" kata Luna sambil berjalan ke dapur.


" Mau sarapan apa? Delivery saja yah! Aku lagi bete banget! Aku mau tidur lagi!" kata Luna mencoba masuk kamar nya.


" Luna!" panggil Dodo.


" Iya! Ada apa?" ucap Luna.


" Kamu baik - baik saja kan?" tanya Dodo.


" Tentu saja aku tidak baik!" sahut Luna.


" Iya aku tahu!" ucap Dodo akhirnya.


" Aku boleh masuk kamar ku lagi bukan? Aku lagi mager banget!" ucap Luna.


" Iya! Istirahat yang benar ya!" kata Dodo.


Dodo masih bermain dengan Rizki. Rizki memang sudah dekat dengan Dodo dan terbiasa kalau diajak main.


Pagi itu, Luna memang masih mengurung diri di dalam kamarnya. Kesediaan dan kekecewaannya masih ia rasakan. Akhirnya tidak berapa lama Luna kembali keluar dari kamarnya.


" Sudah datang makanan nya?" tanya Luna.

__ADS_1


" Belum!" jawab Dodo.


" Aku sudah pesankan makanan di go food kok. Mungkin sebentar lagi juga diantar!" kata Luna sambil duduk mendekati Rizki.


" Rizki sudah mandi yah?" tanya Luna sambil mencium pipi kanan dan kiri Rizki.


" Udah!" jawab Rizki singkat sambil tetap fokus dengan mainannya.


" Hem! Wanginya anak mama!" ucap Luna sambil mencium lagi pipi Rizki.


" Luna!" panggil Dodo pelan.


" Aku minta maaf atas kelakuan Mas Aziz terhadap kamu!" ucap Dodo.


" Hem!" Luna mulai menarik nafas dalam-dalam.


" Aku juga minta maaf, tidak memberitahu kamu sebelumnya soal Aura." ucap Dodo sambil menatap wajah Luna yang layu.


" Kalian sama saja! Membohongi aku soal Aura dan perjodohan mereka!" kata Luna mencoba menyembunyikan getir di hatinya.


" Jika aku cerita ke kamu. Apakah kamu akan percaya padaku? Bukankah aku dari dulu memang ingin berhubungan yang lebih dari sahabat dengan kamu?" kata Dodo serius.


" Setidaknya kamu menceritakan perjodohan Mas Aziz dengan Aura. Paling tidak biar aku lebih siap dengan ini. Aku tahu, papa dan mama kamu memang tidak menyetujui hubungan aku dengan Mas Aziz." ucap Luna.


" Aku mau menggantikan posisi Mas Aziz disisi kamu Luna!" sahut Dodo tanpa basa-basi.


" Apa yang kamu katakan? Papa dan mama kamu saja tidak menyetujui hubungan aku dengan Mas Aziz. Kini kamu mau masuk dan ingin menjalin hubungan asmara dengan aku. Apa kamu tidak pernah berpikir. Kamu akan lebih menyakiti aku nantinya. Keluarga kamu akan lebih menghina aku mati - Matian. " ucap Luna panjang lebar.


" Aku tidak perduli! Aku akan menikahi kamu walaupun tanpa restu papa dan mama aku. Kita akan membina hubungan rumah tangga yang bahagia Luna! Aku janji!" ucap Dodo sambil memegang tangan Luna dengan kuat.


" Tidak Dodo! Aku seorang janda! Dimana - mana, seorang janda akan dianggap hina oleh pandangan orang. Kamu cukup menjadi sahabat aku saja Dodo!" ucap Luna.


" Tidak Luna! Aku akan menunggu sampai hatimu terbuka untuk aku." ucap Dodo.


" Kamu terlalu terburu-buru mengambil kesimpulan perasaan kamu sendiri. Kamu tidak menyukai aku Dodo. Kamu hanya terbiasa dengan aku." ucap Luna.


" Sama saja Luna! Aku memang sudah terbiasa dengan kamu. Dan aku menyukai kamu dari dulu. Kamu selalu tahu itu Luna!" ucap Dodo.


" Sudahlah Dodo! Kalau kamu menjalin hubungan asmara dengan aku. Bagaimana hubungan kamu dengan Mas Aziz? Hubungan kalian akan menjadi rusak gara - gara ini." ucap Luna.


" Aku tidak akan perduli. Aku laki - laki yang sudah mapan. Aku sudah tidak tergantung dengan keluarga aku. Aku hanya mau dengan kamu saja Luna." ucap Dodo.


" Beri aku waktu lagi. Aku tidak ingin belajar mencintai seseorang lagi. Ketika aku sudah mencintai, aku di khianati. Itu lebih menyakitkan hati." Ucap Luna.


" Baiklah. Aku akan membuatmu mencintai ku Luna!" sahut Dodo.

__ADS_1


__ADS_2