
Lukman mengantar Windi ke tempat salon. Windi melakukan perawatan komplit hari ini. Lukman menunggu Windi dengan sabar. Sampai menjelang tengah hari, akhirnya Windi selesai semuanya. Keduanya melenggang keluar dari tempat itu.
" Apakah hari ini, Julius akan kembali?" tanya Lukman. Windi mencari arti dari pertanyaan Lukman terhadap dirinya.
" Benar!" jawab Windi singkat. Kali ini Windi enggan untuk menanggapi Lukman yang seperti tersingkir jika keberadaan Julius di rumah itu.
" Berarti aku nanti malam tidak bisa menemani kamu , dong!" sahut Lukman. Windi tersenyum manis seraya mengusap lembut pipi Lukman. Lukman meraih tangan Windi yang wangi habis spa. Tangan itu diciumnya hingga sampai ke lengannya yang terbuka. Windi mendesis merasakan geli karena Lukman sedikit memainkan lidahnya di sana. Sampai ke leher jenjang Windi, Lukman menciumnya di sana lama. Lukman menikmati aroma wangi Windi setelah perawatan di salon tadi.
" Kamu sangat wangi sayang!" bisik Lukman. Windi tersenyum mendengar nya.
" Lukman, ayo jalankan mobilnya!" kata Windi sambil mendorong pelan Lukman hingga kembali memposisikan duduknya yang benar di tempat kemudi.
__ADS_1
Lukman mulai membelah jalanan yang terbilang tidak padat. Sesekali Lukman melihat Windi yang terlihat segar setelah perawatan di salon tadi.
" Kita kemana lagi, yank?" tanya Lukman.
" Antar aku pulang! Aku mau istirahat! Julius akan datang, aku harus menyusun tenaga ku. Aku harus mempersiapkan stamina ku, supaya bisa mengimbangi Julius nanti." ucap Windi. Lukman cemberut mendengar semua itu.
Sesampainya di istana megah milik Julius, mobil mewah itu masuk ke garasi. Lukman segera memarkirkan di sana. Windi bergegas turun dari mobil itu. Dengan langkah lebar Windi segera masuk ke istana nya. Di susul oleh Lukman dengan langkah yang tidak kalah lebar dari kaki Windi. Seolah-olah Lukman hendak mengejar Windi dan Windi seperti ingin menjauh dan menghindari dari serangan yang akan dilakukan oleh Lukman.
Dengan ritme yang pelan, Lukman menikmati setiap jengkal lekuk mulus tubuh Windi yang sangat wangi menggoda.
" Kamu memang bang sat, Lukman! Bahkan Julius kamu kasih sisa dari kamu!" racau Windi yang mulai dengan lenguhannya. Lukman merasa menang atas semua yang ada pada Windi. Julius akan terus menjadi nomer dua setelah dirinya.
__ADS_1
" Aku sudah menunggu kamu sangat lama di salon tadi, jadi sebelum Julius yang menikmati tubuh wangi kamu, Akulah yang terlebih dahulu. Bukankah kamu suka ini, yank?" kata Lukman. Windi kini mulai membalikkan posisi. Windi tidak ingin di dominasi, ia ingin mengendalikan permainan kali ini. Lukman tersenyum menatap dua benda yang terlihat kenyal bergelantungan di depan matanya. Tangannya seolah-olah sangat gatal jika tidak menyentuh nya, apalagi memainkan nya. Kedua tangannya mulai liar mere mas kedua benda itu. Windi mengeluh merasakan sensasi yang makin tidak bisa diungkapkan. Sampai beberapa waktu akhirnya, Windi mengaku kalah setelah ia merasa cukup dengan rasa puasnya. Lukman mengecup hangat kening Windi.
" Kalau boleh aku meminta kepada mu, yank. Ikutlah dan pergi lah bersama dengan aku. Tinggalkan Julius dan hiduplah bersamaku." ucap Lukman serius. Windi terkekeh mendengar nya.
" Apa? Aku tidak mungkin melakukan itu, Lukman! Julius adalah ATM aku. Bersama Julius aku mendapatkan semua kemewahan ini. Bagaimana jika aku hidup dengan kamu? Apakah kamu bisa memberikan aku seperti yang Julius berikan kepada ku? Bahkan kamu saat ini pun, masih di gaji oleh suami aku." ucap Windi. Lukman terperangah mendengar semua itu.
Windi dan Lukman mulai mengenakan pakaian nya yang tadi berserakan disegala tempat. Keduanya saling pandang dan Lukman terlihat sangat sedih dengan semua yang baru saja ia dengar dari mulut Windi. Wanita yang benar-benar Lukman sayangi.
" Lukman, sayang! Kita jalani saja hubungan seperti ini. Oke?" ucap Windi seraya mengecup bibir Lukman sebelum masuk ke dalam kamarnya.
" Baiklah! Jika ini yang kamu mau, yank!" sahut Lukman.
__ADS_1