
" Sering main ke rumah Karin ya Mas?" tanya Luna sambil berlari kecil di jalan ber cor itu yang sengaja di buat untuk area berlari ataupun untuk pejalan kaki.
" Tidak juga! Lagi pingin saja ngajak Karin keluar. Lagi pula aku lagi sedang mencari istri. Tapi baru pagi ini, aku tahu kalau Karin sudah menikah siri." cerita Aziz sambil berlari mengimbangi Luna yang berlari kecil.
" Oh ya? Jadi sedikit kecewa dong?" tanya Luna sambil melihat wajah Aziz di sebelahnya.
" Iya sedikit!" jawab Aziz sambil tersenyum.
" Mereka sudah berapa bulan ini menjadi suami istri." cerita Luna.
" Iya! Syukurlah! Semoga secepatnya mereka bisa menikah secara hukum." sahut Aziz.
Luna hanya menatap Aziz yang mendoakan kebaikan untuk Karin dan Galah.
" Kalau kamu sudah menikah? Jangan - jangan aku lagi ngobrol dengan istri orang lagi." kata Aziz sambil tertawa.
" Hahahaha! Aku janda beranak satu mas." jawab Luna sambil tertawa.
Aziz terkejut sambil memandang Luna. Mencari pembenaran dari ucapan wanita di samping nya itu.
" Kenapa? Tambah parah statusku bukan?" kata Luna.
" Oh tidak! Maaf! Aku hanya terkejut saja. Wanita secantik kamu, laki - laki mana yang rela melepas dan menceraikan mu?"
" Nyatanya ada tuh!" sahut Luna sambil berhenti dan duduk menepi di rumput yang kering.
Aziz mengikuti Luna yang duduk di rumput itu. Kedua kakinya di lurus kan dengan sengaja.
" Minuman kita ada di mobil." kata Aziz sambil berdiri hendak mengambil minuman.
" Eh jangan repot - repot mas!" sahut Luna.
" Tidak haus yah?" tanya Aziz.
" Bukan begitu. Kita ke warung itu saja yuk! Sambil sarapan pagi." ajak Luna.
" Oh! Ayolah!" sahut Aziz sambil berdiri dan mulai melangkah ke warung yang di tunjuk Luna.
" Mereka cukup serasi, tapi kenapa Karin masih belum mantab menikah dengan Galah yah?" cerita Luna.
" Mungkin saja takut gagal seperti kamu." sahut Aziz.
Luna terkejut dan menatap tajam ke arah Azis. Bahasa Aziz, bagi Luna adalah tamparan yang membuat nya sakit.
" Eh? Maaf Luna!" kata Aziz memohon.
" Tidak jadi masalah! Memang kenyataannya seperti itu, mau gimana lagi." sahut Luna.
" Pak! Siomay nya dua pak!" kata Luna ketika sudah sampai di gerobak siomay yang mangkal di pinggir trotoar.
" Eh? Aku tidak usah!" sahut Aziz.
" Kenapa?" tanya Luna
" Eh tidak apa - apa." sahut Aziz.
Aziz sebenarnya tidak terbiasa makan yang di jajakan di pinggiran seperti ini. Kurang higienis bagi penilaian nya.
" Terimakasih pak." kata Luna sambil mengambil piring yang berisikan siomay itu.
Luna dengan lahap memakan siomaynya tanpa memperdulikan Aziz yang ada di samping nya.
" Minum nya pak!" teriak Aziz yang melihat Luna mulai tersedak.
" Hehe! Terimakasih! Sampai lupa minta minum." sahut Luna sambil minum air mineral yang di berikan oleh Aziz.
" Cobalah Mas! Siomay ini tidak ada tandingannya. Restoran mewah kalah rasanya dengan ini." kata Luna sambil menunjuk piring satunya yang masih utuh dengan siomay nya.
" Kenapa? Tidak higienis yah?" tebak Luna.
Aziz hanya diam dan tersenyum saja. Hanya air mineral saja yang masuk ke dalam mulut Aziz.
" Kemana Karin dengan suaminya yah?" tanya Aziz.
" Mungkin mereka juga lagi jajan Mas!" kata Luna mencoba menebak.
" Oh!" sahut Aziz singkat.
" Kamu kerja di mana Luna?" tanya Aziz.
" Aku?" tanya Luna.
" Iya!"
" Aku buruh pabrik biasa mas!" jawab Luna bohong dan berusaha menutupi identitasnya.
" Tapi kamu bermobil mewah. Tidak mungkin kalau hanya buruh biasa." kata Aziz.
" Itu mobil bos ku!" jawab Luna bohong.
" Hebat yah! Bos mu bisa mempercayakan kamu membawa mobilnya." sahut Aziz curiga.
" Karena bos ku cewek dan aku juga merangkap jadi sopirnya." kata Luna bohong.
" Oh begitu!" sahut Aziz mulai percaya.
" Rumah kamu di mana Luna?"
" Hah? Rumah? Aku aku nge kos!" jawab Luna bohong.
" Iya! Nge kos dimana? Kalau kamu kerja dan pergi main seperti ini, anakmu dengan siapa Ria?" tanya Aziz mulai rempong.
" Hah? Dengan adikku." jawab Luna bohong.
" Aku boleh ke kost mu tidak Luna?" tanya Aziz.
" Jangan! Kost ku sempit dan aku tidak berani membawa laki - laki main ke rumah." cerita bohong Luna.
" Ya ampun! Tapi aku boleh minta nomer Wa kamu kan?" tanya Aziz memaksa.
" Hah! Baiklah!"
Dengan berat hati Luna memberikan kontaknya kepada Aziz. Mereka saling tukar nomor pribadi.
*******
Di kantor Luna. Luna sedang sibuk di meja kerjanya. Tumpukan kertas - kertas di atas meja masih belum di periksa.
Matahari sudah tepat di atas kepala. Panasnya mulai menyengat tetapi tidak di dalam ruang kerja yang ber AC itu. Kacamata nya mulai melorot karena sudah letih mata itu melotot di depan layar komputer.
Di mejanya sudah mulai ada secangkir kopi hitam yang baru di antar oleh petugas OB di kantornya. Akhirnya kacamata itu di lepaskan nya,lalu memijit pelan ke daerah hidung atas dan kedua pelipisnya.
Anak buahnya masuk dengan membawa bungkusan makanan dan seikat mawar putih untuknya.
" Dari siapa?" tanya Luna yang mulai melihat kertas kecil yang ada di dalam rangkaian bunga mawar putih itu. Tidak ada nama yang tertera, hanya bertuliskan secarik kalimat.
" Jangan lupa makan! Jangan kerja terus! Kalau duit banyak mau buat apa lagi? Cukup aku saja yang akan menghidupi mu." Luna membaca dengan pelan.
" Memangnya aku harus selalu bergantung denganmu?" gumam Luna.
" Ini pasti kerjaan Dodo. kata Luna pelan.
Di bukanya bungkusan makanan yang masih di dalam plastik.
" Hem! Iga bakar dengan sambel Pete goreng hehehe. Tahu saja yang bikin selera." kata Luna pelan.
Di ambilnya ponsel yang tergeletak di samping nya. Di bukalah layar itu lalu mencari kontak Dodo di sana.
" Hay! Terimakasih ya! Iga bakarnya!" teriak Luna setelah sambungan telepon itu mulai di angkat Dodo di seberang sana.
" Itu saja?" tanya Dodo.
" Itu saja? Apalagi? Eh mawar putih? Untuk apa kamu kasih bunga mawar putih segala? Itu tidak bikin kenyang aku Dodo!" kata Luna sambil menimang bunga mawar putih itu.
" Kamu menyukai nya tidak Luna?" tanya Dodo.
" Suka! Suka! Terimakasih banyak!" jawab Luna.
" Pulang kerja, aku jemput kamu di kantor yah?"
" Jemput? Bukankah aku juga bawa mobilku sendiri?"
" Hah? Hehe aku langsung ke rumahmu saja kalau begitu." kata Dodo.
" Ngapain?" tanya Luna.
__ADS_1
" Kangen Rizki!" jawab Dodo. Rizki adalah panggilan dari anak angkat Luna yang sudah berumur satu tahun.
" Oh! Baiklah!" sahut Luna.
" Sudah di makan Iga bakar nya?" tanya Dodo.
" Sebentar lagi!" jawab Luna.
" Hem..kamu sudah makan Dodo?" tanya Luna.
" Sudah dong! Aku tidak akan lupa makan kayak kamu!" jawab Dodo.
" Pantas saja badanmu sudah mulai berisi..hehe." sahut Luna asal.
" Eh! Sudah dulu Dodo! Aku tutup telepon nya yah! Terimakasih banyak untuk semua nya." kata Luna.
" Iya!" sahut Dodo.
**********
Di kantor Aziz. Di ruangan pribadi Aziz.
" Karin! Kamu tahu tidak kost nya Luna?" tanya Aziz.
" Kost? Hah?" Karin terkejut dan bingung.
" Iya! Kamu tahu tidak?" tanya Aziz lagi.
" Oh saya tidak tahu pak! Karin selalu menyembunyikan tempat tinggalnya." jawab Karin yang berbohong.
" Kalau tempat kerjanya, kamu tahu?" tanya Aziz.
" Iya pak saya tahu!" jawab Karin.
" Dimana?" tanya Aziz.
" Eh? Eh? Hem.. dimana yah?" Karin mulai gelagapan. Karin mulai mengerti Luna sahabatnya itu masih menyembunyikan identitas nya.
" Kamu ini gimana sih, bilangnya tahu!" kata Aziz.
"Saya lupa tempatnya pak." sahut Karin.
" Katanya kerja di pabrik,tapi tidak ngasih tahu di pabrik apa." cerita Aziz.
" Bapak telepon langsung ke orang nya saja pak!" kata Karin.
" Oh iyalah. Biar aku yang hubungi Luna langsung." ucap Aziz.
Aziz mulai mengambil ponselnya. Di carinya nomer kontak yang di beri Luna waktu lalu. Nomer itu sudah tersambung.
" Halo ! Ini Luna?" tanya Aziz.
" Iya! Bang Aziz?" sahut Luna di seberang sana.
" Iya! Kamu lagi ngapain?" tanya Aziz.
" Lagi makan!" jawab Luna
" Oh! Kamu pulang kerja jam berapa? Aku bisa jemput kamu tidak?" tanya Aziz.
" Hah? Gak bisa aku nglembur harus ngantar bos ku janjian dengan relasinya." cerita Luna.
" Oh! Tempat kerjamu di mana Luna? " tanya Aziz menggebu.
" Ah kenapa bang? Aku tidak bisa di temui lho!" alasan Luna.
"Kalau begitu, bisa kah nanti malam kita ketemuan?" ajak Aziz.
" Hah?"
" Aku ke kost kamu, gak boleh. Ke tempat kerjamu, kamu gak bisa di ganggu. Kalau aku ngajak ketemuan di luar harus mau donk!" kata Aziz sedikit memaksa.
" Bukan begitu, tapi.." Luna berusaha beralasan.
"Aku tunggu di kafe Sepur yah habis isya!" ajak Aziz memaksa.
"Hah? Tapi.."
Sambungan telepon itu terputus. Aziz terlalu memaksakan kehendak. Luna yang berusaha menutup hatinya dengan laki - laki mana pun, jadi suka berbohong akhirnya.
" Iya pak" jawab Karin melalui pesawat telepon seluler.
" Ke ruangan ku Sekarang!" kata Aziz.
Setelah beberapa menit kemudian. Ima masuk ke ruangan Aziz sebelumnya mengetuk pintu nya.
" Iya masuk Ma! Duduklah!" perintah Aziz.
" Jadi! Apa yang kamu ketahui tentang Luna?" tanya Aziz mulai menyelidik.
" Soal apa pak?" tanya Karin.
" Apa saja! Rumahnya, masa lalu nya, pekerjaan nya, semua nya." kata Aziz.
"Hem!"
" Kamu tidak mau memberi tahu semuanya?" tanya Aziz.
" Saya takut salah nanti pak!" jawab Karin.
"Hem, baiklah! Saya mengerti. Maaf mengganggu pekerjaan kamu."
" Iya pak! Sebelumnya saya juga minta maaf pak. Jika tidak bisa memberitahu tentang kehidupan pribadi Luna.
" Iya tidak apa - apa. Aku yang terlalu memaksakan diri." kata Aziz akhirnya.
" Kalau begitu! Saya boleh pergi kan pak?" kata Karin. akhirnya.
" Iya! Silahkan!"
*******
Di rumah Luna.
" Luna! Aku sudah di depan rumahmu." kata Dodo melalui sambungan telepon.
" Ya Ampun! Maaf Dodo Aku mendadak harus menjumpai klien ku nih." jawab Luna yang masih di kantor.
Hari - hari biasa, Luna memang sering pulang jam 19.30. Terkadang nglembur sampai jam setengah sepuluh malam. Karena sudah janjian dengan Aziz,dari kantor langsung meluncur ke kafe yang di janjikan.
" Hem! Kamu tidak apa - apa kan? Hem! Hari Sabtu aku janji deh stanby di rumah. Bagaimana?" kata Luna mencoba membujuk Dodo.
" Dodo! Kamu masih di sana?" tanya Luna
" Iya gak papa! Kamu jangan lupa makan yah!" sahut Dodo menyembunyikan rasa kecewa nya.
" Oke! Siap Dodo! ." kata Luna.
" Baiklah! Aku tungguin kamu. Cepat pulang kalau urusanmu selesai Luna!" kata Dodo lalu memutuskan panggilan keluar nya.
" Hah? Aku tunggu sampai kamu pulang Dodo!" kata Dodo pelan.
********
Di kafe yang di janjikan.
" Nah! Sekarang kita sudah bertemu. Kamu mau bicara apa?" tanya Luna.
"Tidak ada! Ingin mengajak kamu makan malam saja." jawab Aziz.
"Ya ampun! Aku pulang kerja langsung ke kafe ini lho bang! Ternyata tidak ada yang penting?" sahut Luna.
" Tapi bagiku ini penting, jika berkaitan dengan kamu." ucap Aziz sambil tersenyum.
" Kamu tidak jujur denganku. Aku tahu itu! Aku ingin tahu di mana rumahmu,biar aku bisa menjumpai kamu di sana. Atau tempat kamu kerja biar aku bisa mengajak kamu untuk makan siang bersama." cerita Aziz.
" Iya maaf! Tapi aku belum siap kalau kamu masuk ke dalam kehidupan ku."
" Apakah kamu selalu membatasi semua laki - laki yang ingin mendekati kamu?" tanya Aziz pelan.
" Hem! Benar!" jawab Luna.
" Baiklah! Tapi aku sudah dapat info banyak tentangmu!" cerita Aziz.
" Siapa? Karin?" tebak Luna.
__ADS_1
" Oh bukan! Dia tidak berani menceritakan tentang kamu ketika aku menanyakan semuanya, tadi siang." cerita Aziz.
" Lalu?" tanya Lun.
" Direktur utama yang memimpin di perusahaan ternama di kota ini."
" Tentunya namamu sudah di kenal banyak orang di kalangan pengusaha." tambah Aziz sambil tersenyum.
" Sudahlah! Aku manusia biasa bang! Pernah mengalami kegagalan dalam berumahtangga." cerita Luna.
" Tapi aku tertarik dengan kehidupan kamu." sahut Aziz.
" Okelah! Kita tidak perlu membahas yang lain yah! Kamu mau pesan makanan apa?" tanya Luna.
" Baiklah! Tidak perlu terburu - buru. Kita perlu banyak waktu untuk saling mengenal." kata Aziz akhirnya.
Luna hanya mlongo. Aziz ternyata laki - laki yang langsung ke sasaran. Tidak ada basa - basi nya untuk memulai suatu hubungan. Seperti yang di katakan waktu di rumah Ima tempo hari yang lalu. Aziz memang lagi mencari seorang istri yang bisa mendampingi dirinya dan tentunya cocok dengan nya.
" Hai! Ayolah kamu mau pesan makanan apa Luna?" tanya Aziz.
" Eh? Iya! Hem apa yah?" kata Luna sambil membaca menu yang ada di atas meja.
" Mie ramen saja kali yah! Dengan juz jeruk saja." tambah Luna.
" Oke. Aku juga pesan itu!" sahut Aziz.
" Hah????" Luna kembali melongo.
*******
Siang itu, terik matahari membakar tapak kaki. Pancaran sinar nya menusuk pori - pori. Waktu istirahat siang, Luma segera meluncur ke Bandara. Pasalnya hari ini ayah dan ibu Luna tiba di kota metropolitan ini. Dari Yogyakarta, ayah ibu Luna sengaja mengunjungi putrinya yang tinggal di Jakarta itu.
Mobil Alphard itu melaju dengan cepat. Luna tidak ingin ayah ibunya terlalu lama menunggu di ruang tunggu bandara. Sudah sekian lama Luna tidak berjumpa dengan kedua orang tuanya. Sejak pernikahan dengan Rodeo orang tua Luna tidak pernah mengunjungi putrinya di Jakarta. Tentu saja, Luna yang berkunjung ke Yogyakarta.
Luna mulai mencari ayah dan ibunya di depan bandara setelah mobil Alphard itu,ia parkir di tempat nya. Ayah dan ibu nya sudah duduk menunggu di kursi depan itu. Wajahnya yang tidak lagi mulus dan tampak keriput mulai jenuh menanti sosok putrinya yang ditunggu. Tiba - tiba senyuman yang lebar tersungging di wajah itu. Luna segera menjabat erat tangan kedua orangtuanya dan menciumnya dengan kasih dan kerinduan.
" Ayah! Ibu! Sehat kan?" ucap Luna yang tampak terharu dengan pelukan hangat kedua orang tua itu.
" Luna! Kamu tambah cuantik lho!" kata ibu Luna yang belum mau melepaskan pelukannya.
" Anaknya siapa to bu!" sahut ayah Luna yang berdiri di sampingnya sambil memegang tas trevel yang di bawa dari Yogyakarta.
" Ayah bawain kamu oleh - oleh lho nak!" cerita ibu Luna.
" Kenapa repot - repot Yah! Ayah dan ibu mau datang ke Jakarta saja, Luna sudah sangat senang sekali."
" Walah! Cuma bawain makanan ringan kesukaan kamu saja kok." sahut Ayah Luna.
Ibu Luna mulai melepas pelukannya dan ikut membantu membawa barang bawaannya.
" Monggo Bu! Ayah! Kita ke Parkiran, di sana mobil Luna di parkir kan." ucap Luna sambil membantu mendorong tas trevel punya ayah dan ibu nya.
Ayah dan ibu Luna mengikuti langkah Luna ke depan halaman parkiran. Setelah meletakkan barang - barang bawaan ayah dan ibu nya, Luna segera menghidupkan kembali mobil Alphard nya.
" Ayah, ibu jangan lupa di ikat tali pengaman nya yah!" ucap Luna lembut.
" Iya! Kamu kenapa tidak mencari sopir pribadi saja Luna!" kata ayah Luna.
" Benar apa kata ayahmu. Hidup di kota besar seperti ini, kamu perlu sopir yang bisa mengantarkan dan menemani kamu pergi." sambung Ibu Luna.
" Iya Bu!" jawab Luna.
" Hem! Bagaimana kabar Rizki! Kita sudah kangen lhoh!" kata ibu Luna.
" Rizki semakin hari semakin pintar donk Bu!" ucap Luna.
" Baguslah! Kamu kapan mencari papa baru untuk Rizki, Luna." sahut Ayah Luna.
" Hehehe. Ayah ini, jangan buru - buru menyuruh Luna nikah lagi donk!" kata Luna sambil tersenyum.
" Kalau sudah ada yang cocok, kenapa harus mengulur - ulur waktu." kata Ibu Luna.
" Iya! Jangan kwatir Ibu, ayah! Putri mu ini masih cantik dan muda lho! Pasti ada yang mau dengan saya." ucap Luna.
" Hahahaha." ayah Luna tertawa.
" Ayah,ibu! Mau makan apa?" tanya Luna.
" Hem! Soto ayam saja Luna. " jawab ibu Luna.
" Oke siap!" sahut Luna.
Mobil Alphard masih meluncur dengan kecepatan sedang. Mobil itu mulai cepat setelah singgah di warung soto sesuai keinginan ayah dan ibu Luna. Tidak ada sebahagia hari ini yang Luna rasakan,ketika orang tuanya hadir di tengah - tengah kesibukan nya bekerja.
" Ayah, ibu! Luna segera kembali ke kantor dulu. Luna janji nanti pulang lebih cepetan dari biasanya." kata Luna setelah mobil Alphard itu berhenti di depan rumahnya. Mbak Ita dan Rizki menyambut kedatangan ayah dan ibu Luna dengan gembira ria.
******
Malam ini Luna sudah kembali dari tempat kerjanya. Ayah, ibu, dan Luna sedang duduk santai di meja makan. Sambil menyantap hidangan malam, mereka mengobrol ringan, bercanda dan menceritakan keadaan di kampung halaman tercinta,yaitu Yogyakarta.
Bagi orang tua Luna ,hal yang menyenangkan adalah bercocok tanam di kebun dekat rumahnya. Tidak hanya untuk mengisi kekosongan, hiburan, hasil yang di peroleh bisa untuk mencukupi kebutuhan sehari - hari. Berbeda dengan hidup di kota.
Ucapan salam dan bunyi bel masuk terdengar di telinga. Rupanya ada tamu datang berkunjung di rumah Luna. Mbak Ita segera bergegas membuka pintu depan rumah Luna.
" Siapa tamu malam - malam begini yang biasa berkunjung ke rumahmu Luna?" tanya ayah Luna.
" Pasti orang dekat Luna to Yah! Siapa lagi to?" jawab Ibu Luna tersenyum menggoda Luna.
" Mana ada orang yang menyukai janda kembang seperti saya Bu!" sahut Luna.
" Walah! Bukankah kamu sendiri yang bilang! Kamu masih cantik dan muda, dengan mudah dan cepat laki - laki akan datang berusaha mendekati kamu." ucap ibu Luna.
" Hehehe ibu!" sahut Luna.
" Mbak Luna! Ada yang mencari mbak, di depan!" kata Mbak Ita yang berjalan cepat untuk menyampaikan ke tuan rumah.
"Siapa mbak Ita?" tanya Luna.
" Tidak tahu Mbak! Saya Belum pernah lihat tamu ini datang ke rumah." jawab Mbak Ita.
" Oh! Baiklah! Ibu, ayah! Saya ke depan dulu yah!" kata Luna sambil berjalan menjumpai tamu yang di maksud.
Di depan teras, laki - laki dewasa yang masih cukup muda sedang menikmati rokok yang sudah menyala itu. Pandangan nya ke depan,melihat tanaman yang mulai berbunga. Sesekali menghisap rokok nya, sehingga asap itu mengebul ke luar.
" Hah? Bang Aziz! Kok bisa?" ucap Luna dengan ekspresi terkejut.
" Halo Luna! Aku bisa menemukan rumahmu bukan?" ucap Aziz sambil tersenyum penuh kemenangan.
" Hah? Kenapa tidak menelepon dulu bang?" tanya Luna
" Nanti kalau, aku telepon dulu, kamu akan memberikan seribu alasan supaya aku tidak bisa menjumpai kamu di rumah ini." jawab Aziz.
" Hah?"
" Kamu sudah makan belum?" tanya Aziz.
" Sudah! Baru saja!" jawab Luna.
" Eh Luna! Kenapa tamunya tidak disuruh masuk ke dalam!" kata ibu yang tiba - tiba keluar membawa secangkir kopi dan kue basah.
" Eh ibu! Jangan repot - repot Bu!" ucap Aziz sambil menjabat tangan ibu Luna yang tampak berkeriput itu.
" Nama kamu siapa nak?" tanya Ibu Luna mulai menyelidik.
" Aziz, Bu!" jawab Aziz singkat.
" Kamu teman kantor dengan Luna atau..." tanya Ibu Luna sambil ikut duduk nimbrung.
" Bukan Bu! Kami beda instansi Bu." sahut Aziz.
" Oh gitu yah! Kamu harus sabar - sabar kalau mau mendekati Luna. Dia itu keras kepala." cerita Ibu Luna.
" Ibu! Astaga!" ucap Luna.
" Hehehe! Maaf yah! Ibu mengganggu. Di minum kopinya! Ibu juga baru datang dari Yogyakarta bersama ayah Luna jadi perlu istirahat dulu." cerita ibu Luna.
" Monggo - Monggo Bu!" sahut Aziz dengan halus.
Ibu Luna bergegas masuk ke dalam rumah. Ekspresi Luna sudah mulai tidak senang. Ucapan ibu nya membuat ruang gerak Aziz semakin bebas. Di samping nya, Aziz tersenyum sambil menghisap kembali rokoknya.
" Ibu ku selalu begitu!" ucap Luna akhirnya.
" Karena beliau ingin, anaknya selalu bahagia dengan pilihan hidupnya nanti!" sahut Aziz.
" Hah?"
__ADS_1
*******