PARTNER TERPANAS KU

PARTNER TERPANAS KU
JALAN DIPILIHNYA


__ADS_3

Bulan sabit mengintip dibalik awan gelap. Sinarnya terpancar karena pantulan cahaya mentari. Bintang - bintang berserakan. Cahaya kecilnya bersinar indah dengan latar awan yang gelap.


Cahaya itu telah menuntun seseorang untuk kembali mengingat Sang Pencipta. Cahaya itu,menyadarkan bahwa hidup di dunia hanyalah sementara. Ada kehidupan lain yang akan menantikan kita di sana. Alam gaib dan alam sesudah manusia dimatikan. Suatu saat,manusia akan dimintai pertanggungjawaban. Segala perbuatan dan amal yang telah ia lakukan. Segala apapun yang telah dititipkan olehnya. Baik harta,tahta dan wanita. Bukan! Bukan kecantikan dan kegantengannya kamu yang akan dinilai,melainkan hati,amal dan perbuatan kamu selama hidup di dunia ini.


Malam itu,Rodeo dengan semangat nya belajar mengaji dan mengkaji ilmu agama. Pak Yakub dengan sabar memberi pelajaran sedikit demi sedikit. Seperti gelas yang masih kosong diisi dengan air sesuai dengan kapasitas nya. Rodeo dengan penuh semangat dan tanpa rasa malu memulai kembali menjadi manusia yang ingat akan jatidirinya. Paling tidak,hari ini dia memulai untuk lebih baik dari kemarin. Entahlah dengan besok ketika harus menghadapi Lisa dengan segala kesepakatan yang telah dibuat. Jalan dia masih panjang. Rodeo sudah mantap untuk memutuskan langkahnya agar lebih dekat dengan Sang Pencipta. Pelan tapi pasti, Rodeo memulai semua dari nol. Apapun yang telah ia perbuat kemarin, harus ia sesali dan di insyafi. Berusaha menjadi Rodeo yang baru yang mengikuti aturan dan sesuai Al Qur'an dan hadits itu.


Cukup lama Rodeo terbata -bata mempelajari huruf Hijaiyah sebagai dasar membaca Alquran itu. Tidak surut untuk mengulang setiap apapun yang sudah diajarkan oleh Pak Yakub.


Silvi tiba - tiba keluar dari kamarnya. Tidak menunggu waktu diperintahkan oleh pamannya,Silvi membuatkan kopi untuk Rodeo dan pamannya.


Mereka masih dengan kegiatan Mengajar dan diajar. Tidak berapa lama kemudian,Silvi keluar dari dapur dengan membawa dua cangkir kopi lalu diletakkan di atas meja tamu. Silvi akhirnya duduk ditempat itu, sesekali mengikuti proses pembelajaran Rodeo dalam belajar ilmu tajwid itu.


Silvi sesekali tersenyum dengan kegigihan Rodeo dalam belajar membaca Alquran itu. Pamannya,Pak Yakub dengan semangat menyimak tiap huruf - huruf yang di baca oleh Rodeo.


Akhirnya, proses belajar itu berhenti. Pak Yakub menyudahi pelajaran hari ini. Rodeo akhirnya mengulurkan tangan dan menyalami Pak Yakub.


" Hari ini cukup sekian dulu! Besok kita sambung lagi ya Rodeo! Yang penting kamu semangat dalam belajar. Insyaallah kamu akan cepat lancar." kata Pak Yakub.


" Iya Om! Terimakasih untuk pelajaran hari ini." sahut Rodeo lalu duduk di meja tamu dan tanpa dipersilahkan langsung meminumnya yang sudah disediakan di atas meja.


" Capek tidak?" tanya Silvi menggoda.


" Alhamdulillah tidak capek kok!" ucap Rodeo.


" Hehe! Bagus! Semangat nya aku kasih jempol 10." kata Silvi.


" Kamu lapar tidak?" tanya Rodeo.


" Enggak! Kamu belum makan?" tanya Silvi.


" Belum! Mau temani aku makan tidak?" ucap Rodeo.


" Makan apa?" tanya Silvi.


" Nasi lalapan!" sahut Rodeo.


" Tidak mau makan di sini?" tanya Silvi.


" Enggak! Sudah diajari ngaji,mau numpang makan di sini pulak." kata Rodeo.


" Mumpung ada! Kalau tidak ada aku tidak akan menawari kamu makan."


" Gak enak sama Paman kamu! Ayolah sebentar saja keluar makan." ajak Rodeo.


" Ya sudahlah! Ayo kalau begitu." sahut Silvi akhirnya.


*******


Pernikahan yang dinanti akhirnya telah tiba. Tim wedding organizer pelaksanaan pernikahan antara Aziz dan Aura sudah siap dengan segala prosesi akad pagi itu. Telah duduk dengan tenang pasangan pengantin itu. Aura yang mengenakan kebaya putih terlihat duduk di samping Aziz yang mengenakan setelan jas putih.


Dodo dan keluarga nya sudah rapi mengenakan busana yang senada. Pak Suntoro dan Bu Sukma terlihat sangat elegan dengan pakaian yang dipilihnya itu. Keluarga dari besan yaitu papa dan mama nya Aura pun mengenakan pakaian yang senada.


Pak Zaenal dan Bu Zaenal tampak gelisah dengan proses akad nikah yang belum berlangsung itu.


" Mas Aziz! Apakah kamu grogi?" tanya Dodo yang mendekati Aziz dan membisikkan ke telinga nya.


" Tidak ada sama sekali!" jawab Aziz singkat.


" Oh! Ada Luna dan Tia lho!" ucap Dodo menggoda yang membuat Aziz mulai menengok ke kanan dan kiri mencari dua wanita yang di sebut oleh Dodo.


" Tapi itu bohong!" sahut Dodo sambil berbisik.


" Kamu ini!"kata Aziz sambil mencubit lengan Dodo.


" Tapi undangan untuk Luna dan Tia sampai ditangan mereka bukan?" tanya Aziz.

__ADS_1


" Tentu saja! Mungkin nanti malam ketika acara resepsi pernikahan di gedung." kata Dodo.


" Oh!" sahut Aziz manggut-manggut mendengar ucapan Aziz.


Tidak beberapa lama kemudian proses akad nikah itu akhirnya di mulai. Akhirnya dengan lancar, Aziz mengikrarkan janji suci dalam pernikahan antara dirinya dengan Aura. Kini Aziz dan Aura sudah sah menjadi pasangan suami istri secara hukum dan agama.


" Selamat ya Mas! Jadi suami yang setia dan bertanggung jawab!" ucap Dodo.


" Oke terimakasih banyak Dodo! Selanjutnya aku tunggu kamu untuk segera menikah." sahut Aziz sambil memeluk Dodo itu.


" Mas! Aku ijin menggantikan posisi Mas di hati Luna!" bisik Dodo ketika pelukan itu belum dilepas nya.


Aziz melepas pelukannya dari Dodo dan memandang wajah adiknya yang tulus mencintai Luna itu.


" Jaga dia baik - baik Luna. Jangan buat sakit hati untuk yang kesekian kali. Dia wanita yang sempurna." ucap Aziz berusaha mengikhlaskan.


" Eh? Mas Aziz! Thanks yah!" sahut Dodo sambil tersenyum dan menjabat tangan nya.


Pasangan pengantin itu mulai sungkeman dengan orangtuanya. Dari Pak Suntoro, Bu Sukma dan Bapak dan ibu Zaenal. Tangisan haru mewarnai kedua mempelai dengan acara sungkeman itu. Kedua orang tua itu mulai larut dalam situasi keharuan melepas masa lajang anak-anak nya.


Setelah itu ucapan selamat mulai hilir mudik menghampiri kedua belah pihak yang sudah menjadi satu keluarga itu.Senyuman Aura yang mengembang tanda hatinya sangat bahagia dengan pernikahannya dengan Aziz. Beberapa kolega dan karyawannya di perusahaan nya sudah mulai berdatangan di acara pernikahan Aziz.


Karin, Galah dan Luna sudah mulai antri untuk memberikan selamat kepada pasangan mempelai.


Hidangan yang beraneka ragam dan jenisnya sudah berderet rapi di meja - meja yang sudah disiapkan oleh Wedding organizer.


Sintia mulai mendekati Luna dan menarik tangan Luna dari antrian.


" Mbak Luna!" panggil Sintia sambil menarik tangan Luna sampai keluar barisan antrian.


" Eh? Ada apa Sintia?" tanya Luna kaget.


" Tidak usah antri! Kita duduk di sini saja dulu." ajak Sintia.


" Baiklah!" sahut Luna sambil mendudukkan pantatnya ke kursi dekat nya.


" Tidak perlu capek-capek. Duduk saja dulu." ajak Luna.


" Mbak Lun, Mbak Karin dan Mas Galah! Bagaimana kalau kita ambil makanan dulu yuk!" ajak Sintia.


Luna dan Karin saling pandang dengan ajakan Sintia.


" Ayo tidak apa-apa! Atau ambil minuman dan makanan ringan dulu!" ajak Sintia.


" Oh okelah! Ayo Luna!" ajak Karin.


Karin, Galah serta Luna akhirnya menuju meja yang menyajikan beberapa aneka minuman dan meja yang menyiapkan aneka makanan ringan atau Snack.Setelah mengambil minuman dan Snack, Karin, Galah, Luna


kembali ke tempat duduknya.


Tamu - tamu dari dua keluarga itu semakin siang semakin ramai berdatangan. Alunan musik penghibur sudah mulai terdengar. Suara biduan nya semakin menambah kemeriahan acara pernikahan antara Aziz dan Aura.


" Kita pulang yuk!" ajak Luna yang mulai bosan duduk berlama-lama di sana.


" Sebentar! Kita belum bersalaman dengan pasangan pengantinnya." ucap Karin.


" Dodo dimana yah?" tanya Galah memancing reaksi dari Luna.


" Itu ada di dekat panggung musik!" jawab Luna yang menunjuk ke arah Dodo.


" Cie cie! Ternyata dari tadi sudah menangkap dimana posisi Dodo berada yah?" sahut Karin.


" Eh? Kamu!" ucap Luna.


" Aku coba samperin Dodo dulu deh!" kata Galah sambil berjalan mendekati Dodo.

__ADS_1


Tidak berapa lama kemudian Dodo mulai naik panggung musik itu sambil memegang mic. Tampaknya Dodo akan menyumbangkan lagu untuk kedua mempelai.


" Eh! Dodo mau bernyanyi!" ucap Karin.


Akhirnya Dodo mulai unjuk gigi dengan suara khasnya. Lagu dari Judika ' Cinta karena Cinta' telah dilantunkan oleh Dodo dengan penghayatan yang penuh. Tatapan mata Dodo seolah tertuju kearah Luna.


" Cie cie! Hatiku meleleh mas!" teriak Karin sambil melirik Luna.


" Karin! Kalau kamu nakal, akan aku bilang sama suami kamu kalau kamu sudah mengandung loh!" ucap Luna marah.


" Eh Luna! Jangan mengancam soal itu dong!" sahut Karin.


" Dodo ganteng yah, kalau sedang bernyanyi seperti itu!" tambah Karin sambil melihat ke arah Luna.


" Hadeuh! Ganteng juga Galah ,suami kamu!" sahut Luna.


" Kamu kenapa sih? Hari ini sewot sekali?" tanya Karin.


" Ayolah kita pulang saja yuk!" ajak Luna.


" Nantilah! Kita juga belum makan besar!" kata Karin sambil tersenyum.


" Astaga!" sahut Luna.


Setelah Dodo menyanyikan lagu dari Judika tersebut, Dodo turun dan mendekati Luna yang sedang duduk.


" Hay!" sapa Dodo.


" Hay juga! Bagus suara dan penampilan kamu!" ucap Luna.


" Oh Terimakasih! Kamu sudah makan?" tanya Dodo.


" Belum! Nanti saja!" jawab Luna.


" Ayolah makan sekarang saja! Aku juga ingin makan kok!" ucap Dodo sambil menarik tangan Luna menuju meja - meja yang berisi aneka jenis makanan besar.


" Kamu ingin makan apa Luna?" tanya Dodo.


" Mau sate aja!" ucap Luna sambil mencari meja yang menyajikan sate beserta lontong nya.


" Aku juga ingin itu saja!" ucap Dodo yang mengikuti Luna mengambil sedikit lontong dan sate itu.


" Hari ini kamu cantik sekali Luna!" bisik Dodo yang berada dibelakang Luna dekat ditelinga nya.


" Eh? Kamu juga terlihat ganteng Dodo!" sahut Luna.


Dodo mulai tersenyum mendengar ucapan Luna yang memujinya.


" Eh? Benarkah?" tanya Dodo yang ingin mendengar lagi pujian dari Luna itu.


" Iya! Kamu terlihat ganteng, kalau dilihat dari ini loh!" ucap Luna sambil mengambil pipet ditempat minuman yang berbotol.


" Eh astaga!" ucap Dodo.


" Hehehe!" Luna terkekeh melihat reaksi Dodo.


Setelah menghabiskan makanan yang sudah diambil nya, Luna bergegas ingin kembali ke rumah.


Antrian panjang dari tamu - tamu masih memadati ruangan itu. Akhirnya dengan bantuan Dodo, Luna, Karin dan Galah berhasil menerobos untuk berpamitan duluan.


" Mas Aziz! Selamat menempuh hidup baru yah!" ucap Luna.


" Terimakasih Luna! Kamu mau datang dan mendoakan kebahagiaan kami!" kata Aziz.


" Tentu saja mas! Kebahagiaan Mas Aziz kebahagiaan kami semua." sahut Luna sambil menjabat tangan Aziz.

__ADS_1


" Aura! Selamat menempuh hidup baru yah! Semoga pernikahan nya langgeng sampai nenek dan kakek!" ucap Luna dan kemudian berlalu meninggalkan pasangan pengantin itu.


__ADS_2