PARTNER TERPANAS KU

PARTNER TERPANAS KU
MELAHIRKAN


__ADS_3

Pagi itu Rodeo beserta istrinya Silvi sedang berolahraga. Mereka jalan- jalan pagi bersama. Pasangan suami istri itu terlihat begitu bahagia.


" Setelah ini kita langsung ke pasar membeli beberapa bahan- bahan yang diperlukan. Persedian bahan- bahan untuk warung tinggal sedikit." kata Silvi.


" Siap sayang!" sahut Rodeo.


" Ih makin cinta deh ama kamu, mas!" ucap Silvi seraya mencubit pipi Rodeo dengan gemas.


" Kita mampir sarapan bubur ayam di sana itu yuk!" ajak Rodeo. Silvi mengikuti Rodeo yang menarik tangannya.


Sesampainya di dekat gerobak bubur ayam, Rodeo dan Silvi melihat Luna bersama dengan Dodo sedang sarapan bubur ayam.


" Eh, mbak Luna dan... " sapa Silvi.


" Mas Dodo!" sambung Luna sambil tersenyum ketika melihat Rodeo datang bersama dengan Silvi.


" Ayo kemari kita sarapan bersama." ajak Luna. Dodo pun dengan ramah mengajak Rodeo dengan Silvi bergabung di bangku yang sama.


" Rizki tidak diajak?" tanya Rodeo.


" Rizki tinggal di rumah nenek kakek nya." kata Luna. Dodo membenarkan ucapan Luna.


" Oh, begitu yah." sahut Rodeo.


" Lama tidak bertemu dengan mbak Luna, ternyata sudah hamil rupanya." kata Silvi.


" Iya, alhamdulilah! Ini sudah bulannya. Tinggal nunggu harinya saja." sahut Luna.

__ADS_1


" Syukur lah! Akhirnya Rizki akan segera mendapatkan adik." kata Rodeo.


" Alhamdulillah mas, semoga Silvi segera menyusul dapat momongan yah!" ucap Luna.


" Aamiin! Do'akan yah, mbak!" kata Silvi.


" Ayo silakan dimakan bubur ayamnya, nanti keburu dingin bubur ayamnya." kata Dodo. Mereka menikmati makan bubur ayam di pinggir jalan bersama.


@@@@@@@


Malam tiba, Dodo sudah membaw Luna ke rumah sakit. Luna sudah merasakan keluhannya. Betapa Dodo sangat khawatir ketika Luna merasakan sesekali sakit di perutnya. Namun itulah awal- awal hendak pembukaan dimana proses sang jabang bayi mencari jalan untuk keluar.


Dodo sudah menghubungi mama nya dan juga Karin. Namun karena mamanya sedang diluar kota bersama dengan papanya akhirnya Karinlah yang menemani Luna saat ini.


" Karin, maaf aku merepotkan kamu kali ini. Mama aku saat ini sedang diluar kota bersama papa. Jadi aku minta tolong bantu aku menjaga Luna di saat lahiran ini. Nanti sebentar lagi adik aku Sintia akan datang juga ke rumah sakit ini." kata Dodo.


" Bukan seperti itu, takutnya Galah jadi sendirian di rumah. Aturan kalian enak- enakan berolahraga malam, kamu malah di rumah sakit menjaga Luna." ucap Dodo. Karin terkekeh mendengar ucapan Dodo.


" Besok pun juga bisa enak-enakan beberapa kali. Saat ini yang penting Luna dulu. Luna butuh semangat untuk melayani bayinya." ucap Karin.


Tidak lama kemudian Sintia datang bersama dengan Aziz.


" Mas Dodo, bagaimana mbak Luna?" tanya Sintia yang datang dengan mas Aziz.


" Baru masuk ke ruang persalinan." jawab Dodo.


" Kamu tidak mendampingi istri kamu?" tanya Aziz.

__ADS_1


" Peraturannya tidak diperbolehkan siapa pun masuk ke ruangan itu termasuk suaminya. Aku bisa apa coba?" keluh Dodo.


" Berdoa lah!" sahut Karin, Sintia dan Aziz bersama. Mereka akhirnya tersenyum lantaran menyahut kata- kata yang sama.


Setelah selang beberapa lama, dari ruang tunggu mereka mendengar suara tangis bayi.


" Itu suara anakku!" ucap Dodo pelan. Aziz dan Sintia mengelus punggung Dodo.


" Selamat mas Dodo! Mas Dodo sudah menjadi ayah sekarang ini." kata Sintia.


" Selamat Dodo, mas ikut bahagia kamu sudah menjadi ayah sekarang ini." sahut Aziz.


" Luna!" gumam Dodo masih khawatir lantaran Luna masih belum keluar dari ruang persalinan itu.


Selang beberapa lama akhirnya Luna dipindahkan di kamar ruang inap VVIP. Kebahagiaan terpancar dari suami istri itu. Akhirnya mereka menjadi seorang ayah dan ibu dari anak buah hati mereka.


" Selamat Dodo, putri kamu sehat dan cantik sekali seperti mama nya." ucap Karin ikut senang. Karin Kini memonopoli bayi yang masih merah itu dalam gendongan nya. Padahal sejak tadi Sintia sudah ingin menggendongnya. Karena melihat Karin yang judes itu, Sintia jadi takut untuk meminta ponakan nya itu dari gendongan Karin. Alhasil mulut Sintia hanya mengerucut karena kesal. Tentu saja Aziz dan Dodo melihat hal itu. Aziz dan Dodo jadi menahan tawanya.


" Oh iya, Dodo! Apakah kalian sudah menyiapkan nama putri kalian ini?" tanya Karin. Luna dan Dodo kini saling berpandangan.


" Nura Putri Ludovico." sebut Dodo dan Luna bersama-sama. Sintia akhirnya memberanikan dirinya mendekat ke bayi merah ponakannya itu.


" Nura Putri! Mari digendong tante cantik. Tante Karin pasti sudah capek kan?" ucap Sintia sambil mengambil Nura bayi dalam pangkuan Karin. Aziz, Dodo dan juga Luna seketika tersenyum melihat Karin yang cemberut bibir nya lantaran Luna diambil Sintia dari pangkuan nya.


" Makanya kamu bikin sendiri, cepat!" goda Luna.


" Bikinnya sudah, tapi belum jadi juga!" sahut Karin. Luna cekikikan mendengar hal itu.

__ADS_1


__ADS_2