
Takdir manusia tiada mampu di tebak. Terkadang jodoh kita datangnya terlambat. Atau bahkan tanpa kita bisa menduga-duga nya ternyata jodoh kita ada di dekat kita. Awalnya yang tidak saling mengenal, pada akhirnya berkenalan dan saling berdekatan. Yang jauh itu akhirnya mendekati jodohnya melalui proses bergaul dan berkomunikasi dilingkungan sekolah, pekerjaan atau melalui perantara teman kita. Siapa pun tidak pernah menduganya.
Seperti halnya Rodeo dengan Silvi. Kini keduanya akhirnya meresmikan hubungan mereka dalam ikatan halal dan suci. Dengan wali nikah Pak Yakub paman Silvi akhirnya Silvi bisa menikah bersama laki-laki teman sekolah nya dulu. Walaupun sudah lama mereka terpisah karena memiliki kehidupan Masing-masing namun akhirnya mereka dipertemukan kembali. Rodeo sendiri, tidak menyangka jika pertemuan nya dengan Silvi mengembalikan jalan kehidupannya menjadi lebih teratur dan pergaulan bebas itu telah Rodeo tinggalkan.
Pelajaran dari masa lalunya yang hanya menggantungkan ekonomi nya pada istrinya itu menampar Rodeo, itu salah satu penyebab gagalnya rumah tangga nya yang saat itu bersama dengan Luna Dirgantara. Sekarang dirinya dan Luna sudah mendapatkan kehidupan Masing-masing. Mereka mendapatkan jodoh dari pasangan yang benar-benar menerima kekurangan dan kelebihan itu.
Di rumah sederhana yang telah dibelinya antara Rodeo dengan Silvi, kini mereka mulai membangun rumah tangga itu. Dan Rodeo sendiri benar-benar meninggalkan pekerjaan nya sebagai laki-laki yang memberikan kenikmatan sesaat pada tante- tante kaya. Rodeo dan Silvi mulai memperbaiki ekonomi mereka dan ingin mandiri berdagang. Mereka ada tugas dan kewajiban untuk memikirkan yayasan panti asuhan dan memikirkan anak- anak yatim piatu. Dengan berjualan soto betawi seperti pamannya pak Yakub, Rodeo dan Silvi mulai belajar membangun perekonomian rumah tangga nya itu dari nol. Tidak ada keluhan dari Silvi atas ekonomi mereka yang masih terbilang cukup itu. Rodeo benar-benar meninggalkan gaya glamor dan hanya mengutamakan gaya. Dulu mungkin saja, Rodeo harus menjaga penampilan nya dengan barang- barang mewah dan bermerek serta tentu saja mengikuti trend masa kini. Namun sekarang ini, asal cocok dan nyaman dipakai, keduanya antara Rodeo dan Silvi tidak bersikap boros.
__ADS_1
Malam ini selepas berjualan keduanya ambruk di atas kasur di kamar mereka. Silvi membalur kaki suaminya dengan balsam. Seharian melayani pembeli tentu saja kaki menjadi pegal berdiri. Seutas senyuman Rodeo karena mendapatkan perlakuan dan perhatian dari istrinya itu.
" Kamu juga pegal kan? Sini giliran kamu aku pijat." kata Rodeo. Silvi menelungkup badannya siap mendapatkan pijatan dari suaminya.
" Bagaimana kalau besok libur tidak jualan?" kata Rodeo. Silvi seketika memprotes nya.
" Besok malam minggu, mas! Malam minggu biasanya lebih ramai pengunjung dan pembeli nya. Sayang jika dilewatkan begitu saja." kata Silvi. Rodeo terkekeh sambil memijat kaki Silvi dengan pelan.
__ADS_1
" Hem, lebih baik uangnya ditabung saja, mas. Anak-anak kita di panti lebih membutuhkan." protes Silvi.
" Itu juga kita pikirkan. Namun aku ingin kamu juga bahagia bersama aku. Aku tidak ingin dianggap sebagai suami yang tidak baik. Lantaran membuat istrinya bekerja ikut mencari nafkah." sahut Rodeo.
" Oh tidak, mas! Selagi aku bersama-sama dengan kamu, aku bahagia dan ikhlas melakukan itu." kata Silvi.
" Kalau begitu, boleh tidak jika aku minta sesuatu dari kamu malam ini." kata Rodeo dengan memainkan matanya.
__ADS_1
" Apa?" tanya Silvi.
" Itu... itu! Kita buat adik bayi." ucap Rodeo. Silvi seketika menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut sampai ujung kepalanya. Rodeo tidak kehabisan akal. Rodeo menyusup ke dalam selimut itu lalu mulai dengan kenakalan nya. Akhirnya keduanya mulai memainkan irama yang bersahut-sahutan.