
Di kediaman Pak Suntoro. Hari Sabtu di sore hari, keluarga Pak Suntoro kedatangan tamu dari keluarga Aura yaitu Pak Zaenal. Mereka duduk di ruang tamu dengan pembicaraan serius tapi santai. Di ruang tamu itu ada Bu Sukma dan mama nya Aura. Sedangkan Aziz dan Aura tidak terlihat di sana.
" Jadi kedatangan saya kemari ini adalah menindak lanjuti perjodohan anak - anak kita. Kami tidak ingin anak - anak kita ini menjalin hubungan yang tidak jelas. Kita tahu sendiri, anak - anak kita semua sudah cukup usia dan dewasa. Saya pribadi tidak menginginkan jika mereka melakukan hal - hal yang belum boleh dilakukan selayaknya suami istri." kata Pak Zaenal panjang lebar.
" Tentu saja Pak Zaenal. Saya juga menginginkan mereka secepatnya menikah. Anak zaman sekarang pergaulan nya sudah mulai tidak ada aturannya. Jadi saya sangat setuju,jika antara Aziz dan Aura secepatnya menikah dalam waktu dekat ini." ucap Pak Suntoro.
" Betul! Jadi kira - kira kapan Pak Suntoro melamar anak saya. Yang saya dengar, Aura sering menginap di rumah ini. Saya sangat khawatir dengan putri saya dan hubungan mereka yang sudah kebablasan." ucap Pak Zaenal.
" Secepatnya Pak Zaenal! Saya pribadi minta maaf atas kelakuan putra kami si Aziz." ucap Pak Suntoro.
" Mohon maaf sebelumnya Pak Suntoro! Bukan berarti saya menyalahkan putra Pak Suntoro, tetapi putri saya Aura pun juga salah dalam hal ini. Mereka anak muda gejolak nya masih membara bak petasan yang siap meledak - ledak." kata Pak Zaenal.
" Iya Pak Zaenal. Saya paham maksud Pak Zaenal. Kita tunggu anak saya si Aziz." ucap Pak Suntoro.
Bu Sukma dan mama nya Aura hanya manggut-manggut mendengar percakapan antara Pak Suntoro dan Pak Zaenal.
" Aziz di mana ma?" tanya Pak Suntoro kepada Bu Sukma.
" Lagi keluar Pak dari pagi." jawab Bu Sukma.
" Kemana dia?" tanya Pak Suntoro berbisik sambil mendekati telinga istrinya itu.
" Kemana lagi kalau tidak ke rumah si Janda itu!" jawab Bu Sukma ikut berbisik.
" Hubungi Aziz ma! Biar cepat pulang!" perintah Pak Suntoro kepada Bu Sukma.
" Baiklah!" sahut Bu Sukma sambil bangkit dari tempat duduknya dan menjauh dari ruang tamu itu.
" Kita santai dulu Pak Zaenal! Diminum dulu kopi nya. Bu Zaenal silahkan! Santai dulu, bukankah kita sudah menjadi keluarga?" ucap Pak Suntoro sambil tertawa kecil.
" Iya Pak. Terimakasih!" sahut Pak Zaenal dan Bu Zaenal.
__ADS_1
*******
Tidak berapa lama kemudian Aziz tiba di rumah kediaman itu. Aziz kelihatan sumringah kepulangan nya kali ini. Sesampainya di ruang tamu itu, Aziz di sambut hangat oleh keluarga Aura. Pak Zaenal dan Bu Zaenal tersenyum melihat kedatangan Aziz.
" Aziz duduklah dulu!" perintah Pak Suntoro.
" Iya Pa!" sahut Aziz sambil mendudukkan pantatnya di kursi sofa panjang itu.
" Pak Zaenal dan Bu Zaenal kemari, bertujuan untuk mengingatkan kamu dan kita. Secepatnya kamu dan Aura untuk menikah. Kalau bisa dalam waktu dekat ini." ucap Pak Suntoro.
" Kenapa terburu-buru Pa?" sahut Aziz mulai terkejut.
" Tentu saja! Bukankah kalian sudah cukup umur dan sudah mapan. Jangan terlalu lama berpacaran, Aziz!" ucap Pak Suntoro.
" Siapa yang berpacaran pa?" tanya Aziz sambil berdiri meninggalkan tempat duduk itu.
" Aziz! Tidak sopan anak itu!" ucap Pak Suntoro mulai emosi.
" Tidak apa-apa Pak Suntoro! Nanti bisa dibicarakan baik - baik. Tetapi saya harap, apa yang saya utarakan tadi secepatnya ditindaklanjuti. Saya tidak mau jika terjadi sesuatu terhadap anak - anak kita, terutama anak gadis saya." ucap Pak Zaenal.
" Tentu saja Pak Zaenal! Anak saya pasti akan selalu bertanggungjawab atas semuanya." sahut Pak Suntoro.
" Kalau begitu, kami permisi pulang Pak Suntoro. Masih ada kepentingan lain yang akan kami kerjakan hari ini. Sebelum nya kami minta maaf kepada keluarga Pak Suntoro dengan kedatangan kami ini." kata Pak Zaenal.
" Iya Pak. Terimakasih atas kunjungan nya Pak!"
Pak Zaenal dan Bu Zaenal keluar dari rumah kediaman Pak Suntoro dan melaju dengan mobil pribadi nya.
*******
" Di meja makan itu, papa dan mama Aziz sedang duduk bersama Dodo dan Sintia. Mereka menikmati makan malam yang tertunda karena kedatangan tamu dari keluarga Aura. Aziz yang baru keluar dari kamar nya,langsung bergabung di meja makan itu.
__ADS_1
" Aziz! Sesuai kesepakatan, kamu harus secepatnya menikahi Aura. Papa dan mama tidak ingin menanggung malu dengan kelakuan kamu terhadap Aura." ucap Pak Suntoro.
" Papa! Aku hanya ingin menikahi Luna pa! Bukan Aura!" sahut Aziz.
" Apa kamu bilang? Tapi apa yang kamu lakukan dengan Aura? Jangan dikira papa dan mama tidak tahu kalau kamu sudah menjalin hubungan dengan Aura. Tidak bisa begitu Aziz! Kamu harus bertanggung jawab!" kata Pak Suntoro.
" Tapi Pa! Aku lebih menyukai Luna dibandingkan Aura!" ucap Aziz.
" Tapi, apa yang kamu lakukan dengan Aura sudah diluar batas hubungan selayaknya berpacaran. Itu sudah tidak bisa diterima lagi Aziz. Kamu harus bertanggung jawab!" ucap Pak Suntoro.
" Kenapa aku harus bertanggung jawab? Aura sendiri yang datang kepada aku. Bukankah Aura tidak hamil? Jadi kenapa aku harus bertanggung jawab pa?" ucap Aziz.
" Plaaaakk! Apa kamu bilang?" teriak Pak Suntoro dan tangannya dengan cepat mendarat menampar pipi Aziz dengan keras.
" Papa dan mama tidak mengajari kamu tidak bertanggung jawab seperti ini! Kamu harus menanggung semua yang sudah kamu lakukan terhadap Aura." ucap Pak Suntoro .
" Tapi Pa! Aura memang dari dulu sudah bergaul dengan banyak laki - laki. Dan aku bukan orang yang pertama melakukan nya." ucap Aziz.
"Aziz! Kamu sudah keterlaluan! Kamu jangan membuat anak gadis orang rusak gara - gara tingkah laku kamu!" ucap Pak Suntoro.
" Pokoknya papa dan mama tidak mau tahu! Kamu harus secepatnya menikahi Aura! Nanti kita bicarakan lagi untuk proses nya." ucap Pak Suntoro.
Aziz terdiam tidak berbicara lagi. Memang kenyataannya, dia sendiri juga salah. Tidak bisa menahan dan menolak ajakan Aura untuk melakukan hubungan yang membawa kenikmatan itu. Penyesalan nya tidak bisa merubah segala keputusan yang sudah dibuat oleh papa dan mama nya. Mau tidak mau, Aziz harus menikah Aura dan segera menjauh dari Luna.
Dodo dan Sintia hanya sebagai pendengar setia. Tidak ada komentar dari keduanya. Apalagi Dodo hanya diam dan memilih sibuk dengan ponselnya.
" Dodo! Kamu ada rekomendasi wedding organizer yang terbaik di kota ini bukan?" tanya Pak Suntoro.
" Iya Dodo! Kamu harus membantu kelancaran pernikahan Mas Aziz mu nanti." sahut Bu Sukma.
" Tentu saja Pa, ma! Saya akan membantu kesuksesan acara Mas Aziz nanti." ucap Dodo semangat.
__ADS_1