PARTNER TERPANAS KU

PARTNER TERPANAS KU
WARNA BARU


__ADS_3

Momo di rumah kontrakannya bersama Pras. Momo dan Pras duduk santai di sofa panjang di depan televisi. Pras dengan manja berbaring di pangkuan Momo. Hari ini, Pras sengaja bermain di kontrakan Momo karena Rodeo sudah mulai jarang pulang ke rumah Momo.


"Keluar jalan - jalan yuk Om!" ajak Momo dengan manja.


" Nanti malam saja!" sahut Pras.


" Om Pras mau minum apa?" tanya Momo.


" Ada wine gak?" tanya Pras.


" Ada dong! Momo simpan di lemari." jawab Momo.


" Aku maulah! Entar om ganti deh!"


" Oke! Tiga kali lipat yah om!" ucap Momo.


" Jangan khawatir! Jangankan tiga kali, om ganti sepuluh kali lipatnya." kata Pras.


" Masih siang om! Masak harus minum wine." kata Momo.


" Buat tambah semangat!" sahut Pras.


" Momo ambilkan dulu om!" kata Momo sambil berjalan ke belakang,mengambil wine itu disimpan.


" Jangan sampai mabuk yah om!" kata Momo sambil menuang minuman itu ke gelas. Pras dengan semangat meminumnya dengan sekali tegukan.


" Kamu minum dong!" kata Pras sambil menuang minuman wine itu lalu memberikannya ke Momo. Momo langsung meminum nya dengan sekali tegukan.


" Kita habiskan sajalah, satu botol ini." kata Pras.


Botol wine itu semakin lama semakin tak bersisa di minum Pras dan Momo. Gelak tawa dan canda sudah mulai terdengar kedua nya. Omongan yang mulai ngelantur dan kasar sudah mulai keluar dari mulut kedua nya. Cacian,makian,dan juga rayuan muncul begitu saja dari mulut Pras dan Momo tanpa kontrol. Curhatan hati masing-masing mulai terdengar. Pras dengan permasalahan rumah tangga nya dan Momo dengan kegalauan nya bersama Rodeo dan memikul tanggung jawab di keluarga nya.


Semakin lama semakin panas. Mereka mulai lupa diri. Suara nakal Momo mulai keluar dari mulutnya. Rayuan gombal Pras pun dengan spontan ikut mewarnai celotehan di antara mereka. Tangan - tangan nakal mulai menjamah. Momo mulai melakukan gerakan eksotis yang mengundang selera Pras di depannya. Musik di ruangan kecil ikut mengiringi kegilaan mereka di siang hari itu. Sampai lupa pintu depan rumah itu ditutup tapi tanpa di kunci.


" Om! Panas om!" ucap Momo nakal sambil satu persatu baju yang melekat di badannya tak bersisa.


Pras tertawa terbahak - bahak. Melihat tarian eksotis yang di mainkan Momo dengan musik ala kadarnya. Semakin lama semakin terbawa suasana panas. Desa han dan erangan sudah mulai terdengar oleh mulut Momo. Keduanya sudah terbang ke awan - awan yang tinggi nan panas. Menerobos terik matahari yang membakar. Hasrat nya terbakar. Keduanya terbakar lautan api yang tak ter padam kan.


Tiba - tiba pintu depan rumah itu di buka oleh seseorang. Laki - laki yang masih muda,ganteng dan berperawakan tinggi besar masuk dengan mata yang memerah melihat adegan panas antara Momo dan Pras.


Laki - laki itu adalah Rodeo. Emosinya meluap. Amarahnya tidak bisa di kendalikan. Rodeo mendekati ke duanya. Momo dan Pras tertawa terbahak - bahak.


" Rodeo! Ayolah gabung dengan kami!" kata Pras yang otaknya sudah pindah ke dengkul nya.


" Hahahaha! Bang Rodeo! Ayo kemari!" ajak Momo sambil tertawa terbahak - bahak.


Rodeo dengan mata merah mengambil botol wine yang masih tergeletak di atas meja. Dengan emosi dan amarahnya, botol itu di pukul kan ke kepala Pras.


Kepala Pras seketika mengucur darah segar. Momo tertawa melihat Pras yang tiba - tiba ambruk di di badannya. Rodeo dengan marah kembali memukul muka Pras sampai puas. Momo hanya tertawa seperti orang gila yang mengacau tak karuan.


" Kamu!" teriak Rodeo sambil menjambak rambut Momo.


" Aku sudah meninggal kan Istriku demi kamu! Ternyata kelakuanmu tidak lebih dari binatang liar yang tidak punya tuannya." ucap Rodeo dengan Suara bergetar karena amarahnya.


" Hahahaha! Bukankah kamu juga sama seperti aku? Menjadi laki - laki simpanan tante kesepian?" ucap Momo sambil tertawa terbahak - bahak.


" Kamu!" sahut Rodeo marah dan terkejut.


" Kita sama Rodeo!" teriak Momo


" Aku tidak memintamu, untuk menceraikan istri kamu! Kamu yang terlalu bodoh Rodeo." teriak Momoi sambil tertawa.


" Sial! Kamu wanita rendah!" teriak Rodeo sambil mencengkeram dagu Momo dan meludahinya.


" Hahaha!" Momo semakin tertawa.


Tidak puas meludahi wanita yang tak berbalut kain di badannya itu. Tangan Rodeo dengan kuat menampar muka wanita itu sampai merah pipinya.


" Aw! Sakit Rodeo! Apakah kamu sudah tidak berhasrat lagi padaku?" tanya Momo.


Rodeo dengan marah membanting pintu depan rumah kontrakan Momo itu dan berlalu meninggalkan Pras yang tergeletak tak berdaya di lantai. Sedangkan Momo tertawa melihat kepergian Rodeo.


Hati kecil Momo menangis. Hatinya sangat tersayat dan merasa menyedihkan sekali dengan keadaannya. Momo dengan segala beban dan tanggung jawab yang di pikul untuk keluarga nya. Momo yang harus terpaksa menjalani kehidupan bebas dan liar ini, supaya lebih cepat mendapatkan uang yang banyak.


Hidup ini adalah pilihan. Pilihan itu yang akan menentukan, ke arah yang lebih baik atau semakin menjerumuskan. Aturan dan norma - norma yang ada, sebagai barometer untuk kontrol diri dalam melangkah.


" Kenapa aku seperti ini? Hahaha!" ucap Momo.


" Om Pras! Bangun!" teriak Momo sambil menggoyang - goyang tubuh Pras yang lagi tak sadarkan diri. Bukan mati tapi memang lagi pingsan karena pukulan Rodeo.


Rodeo berjalan dengan malas. Pikirannya kacau dengan keadaan nya. Hati kecilnya menyesali segala keputusan yang sudah dibuatnya. Rumah tangganya hancur karena keputusan dan pilihannya. Dan sekarang? Ia semakin berjalan terlalu jauh tanpa pegangan. Menjadi laki - laki pemuas wanita yang kesepian, itulah jalan yang sudah di pilihnya. Semua demi apa? Demi uang dan gaya hidup yang tidak ada Unjung kepuasan nya.


Manusia tidak akan pernah puas dengan apa yang sudah di dapatkan. Manusia akan terus menambah dan mencari yang belum ia peroleh nya. Sampai semua menggunung pun,tidak pernah merasa puas dan berhenti. Jika rasa syukur itu muncul, semuanya akan terasa cukup dan hatinya akan kembali duduk mengingat yang sudah di beri oleh Nya.


" Aku telah menganiaya istriku!" ucap Rodeo.


" Luna! Maafkan aku." kata Rodeo pelan sambil menarik rambut di kepalanya sendiri.

__ADS_1


" Aku benar - benar bodoh!" teriak Rodeo di sepanjang jalan yang berjalan kaki tak beralaskan kaki.


" Aku sudah gila! Ya Tuhan!" teriak Rodeo.


Penyesalan manusia selalu datang terlambat. Apa yang sudah dijalani harus menerima segala konsekuensinya. Rodeo dengan segala pilihannya sekarang. Masih ada waktu untuk merubah dan mengembalikan keadaan seperti semula. Memperbaiki semuanya menjadi lebih baik,dengan meninggalkan hal - hal yang buruk dan merusak jalan sendiri.


Tuhan selalu menerima dan mendengar setiap penyesalan dari taubat kita. Segala kesalahannya dan perbuatan yang melanggar, tidak akan kembali ia lakukan. Demi masa depan dunia dan akhirat.


*******


Di rumah Luna, Aziz duduk di meja makan bersama Ayah Luna. Dengan secangkir kopi dan pisang goreng di atas meja, percakapan diantara keduanya saling sambung menyambung. Dari cerita soal bercocok taman sampai cerita bisnis.


Ibu Luna sedang sibuk memasak di dapur. Memasak kesukaan suaminya dan Luna. Masakan rumahan yang cocok di lidah suami dan Luna. Rawon khas Jawa timur. Dengan kuah yang hitam dan dagingnya, membuat lezat dan pas di lidah.


Obrolan ayah Luna dan Aziz mulai melebar, sampai muncul pertanyaan yang tidak di duga oleh Aziz.


" Kamu, kapan mau menikahi Luna?" tanya Ayah Luna serius.


" Hah? Hem." Aziz mulai gugup.


" Luna sudah lama sendiri, sejak perceraian itu. Dia butuh orang yang melindungi nya." ucap Ayah Luna.


" Iya pak! Cuma semua terserah Luna saja Pak!" kata Aziz.


" Luna itu, anaknya pemalu. Jadi kamu yang harus duluan mempertanyakan semua itu." kata ayah Luna.


" Iya pak!" sahut Aziz singkat.


" Nanti coba lah bicara serius dengan Luna. Mau tidak jika secepatnya,kamu nikahi. Terlalu lama hidup sendiri dengan status janda juga tidak bagus." ucap Ayah Luna.


" Iya pak! Nanti saya akan bicara dengan Luna, kalau dia sudah pulang dari kantor nya." kata Aziz.


" Itu lebih baik!" sahut Ayah Luna.


Tidak berapa lama, ibu Luna ikut bergabung di meja makan itu.


" Kita makan sekarang atau menunggu Luna pulang dari kerja nya Yah?" tanya Ibu Luna.


" Sebentar lagi, Luna juga pulang Bu! Kita tunggu saja! Bukankah begitu Aziz?" ucap Ayah Luna.


"Iya Bu! Kita tunggu saja Luna datang!" sahut Aziz.


" Baiklah kalau begitu!" kata Ibu Luna.


Tidak berapa lama Luna datang dengan membawa bungkusan makanan. Dengan ucapan salam, Luna masuk rumah dan mencium tangan kedua orang tuanya.


" Riana! Duduklah dulu. Kita makan masakan ibu mu." kata Ayah Luna.


" Ibu! Hari ini masak apa?" tanya Luna.


" Masak rawon daging kesukaan kamu!" jawab ibu Luna yang mulai menyajikan masakan yang sudah di masaknya.


" Aduh ibu! Kenapa repot - repot?" ucap Luna sambil mencium aroma masakan ibunya.


" Masakan ibu mu tidak ada duanya loh!" kata ayah Luna.


" Tentu saja! Seperti ibu yang menyayangi ayah tiada duanya." ucap Luna.


" Hehe! Kamu ini bisa saja menggoda ibu mu." sahut Ayah Luna.


" Memang kenyataannya seperti itu." ucap Luna yang mulai mengambil sedikit nasi dan mengambil rawon yang di sajikan di atas meja.


" Hem! Memang lezat! Ayo makan mas Aziz!" tambah Luna.


Aziz tersenyum melihat Luna yang mulai memakan yang sudah ada di di dalam piringnya.


" Ambilkan Mas Aziz mu itu Luna!" perintah ibu Luna.


" Hah? Tidak perlu Bu! Biar saya ambil sendiri." sahut Aziz sambil mengambil makanan yang ada di dekatnya.


" Kalau aku yang mengambilkan, porsinya tidak sesuai dengan porsi mas Aziz." ucap Luna sambil mengunyah nasi di dalam mulutnya.


" Jangan banyak - banyak sambel nya Luna!" kata ayah Luna.


" Eh? Rawon ini paling enak di kasih sambel yang banyak Yah!" sahut Luna.


Aziz segera menjauhkan letak sambel itu dari Luna duduk. Ayah dan Ibu Luna tersenyum melihat tingkah laku Aziz dan Luna yang mulai rebutan dengan sambel itu.


" Mas Aziz!" panggil Luna dengan cemberut.


" Jangan banyak sambel! Kata ayah juga begitu kan?" ucap Aziz sambil tersenyum.


" Astaga! Mau makan saja di larang loh!" sahut Luna.


" Bukan di larang! Tapi jangan banyak sambelnya." kata Ibu Luna.


Mereka asyik menikmati makan malam itu bersama. Sesekali obrolan ringan kembali mewarnai percakapan mereka di meja makan itu.

__ADS_1


" Aku mandi dulu!" kata Luna sambil bangkit dari tempat duduknya dan melangkah menuju kamarnya.


Aziz mulai pindah duduk di teras depan sambil menyalakan rokok nya.


Bulan terlihat bulat penuh seperti telor. Malam purnama terlihat jelas di awan yang terang. Aziz sudah mulai terbiasa duduk di depan teras rumah Luna. Rumah itu sudah menjadi rumah ke duanya setelah rumah orangtuanya. Bukan Aziz tidak mampu membeli rumah sendiri, tetapi memang rumah yang ia beli dari hasil keringat nya sendiri masih belum berpenghuni. Suatu hari nanti, Aziz akan menempatinya ketika sudah beristri.


Tiba - tiba mobil berhenti di depan rumah Luna. Terparkir di tepi tepat depan gerbang. Sosok pemuda keluar dari mobil itu dengan percaya dirinya. Pemuda tinggi besar itu mulai membuka gerbang dan masuk ke dalam pekarangan rumah.


" Assalammualaikum!" sapa pemuda itu dengan sopan.


" Waalaikum salam!" ucap Aziz.


Pemuda itu langsung duduk di dekat Aziz. Aziz mulai menyelidik dan menebak siapa pemuda yang baru datang itu.


" Abang, siapanya Luna?" tanya pemuda itu tanpa basa - basi.


" Aku?" tanya Aziz.


" Iya! Siapa lagi?" ucap pemuda itu dengan suara lantang.


" Dia calon suamiku!" jawab Luna yang tiba - tiba muncul dari dalam.


" Oh bagus! Bagus!" kata pemuda itu sambil bertepuk tangan.


Luna berdiri mendekati Aziz di tempat duduknya. Tangannya dengan sengaja memegang tangan Aziz. Luna ingin pemuda itu, segera pergi meninggalkan rumahnya. Aziz mulai menebak - nebak, bahwasanya pemuda yang ada di sampingnya adalah mantan suami Luna. Aziz mulai memahami kalau Luna lagi ingin bersandiwara.


" Belum ada satu tahun kita bercerai, kamu dengan cepat bisa mendapat kan pengganti dariku." ucap Rodeo dengan kecewa.


" Hah?Apakah itu masih menjadi urusanmu?" kata Luna.


Aziz di tempat duduknya masih belum bisa ikut mencampuri permasalahan di antara mereka. Aziz masih menyimak percakapan diantara keduanya yang penuh emosional.


"Tentu saja! Aku ingin rujuk kembali!" ucap Rodeo tegas.


" Hah? Hehehe! Kamu seperti nya belum minum obat." ucap Luna.


" Kenapa? Aku adalah ayah Rizki, dan aku ingin Rizki punya keluarga yang lengkap." Rodeo beralasan.


" Rizki akan punya keluarga yang lengkap,tetapi ayahnya bukan kamu lagi!" sahut Luna dengan keras.


" Kamu dari dulu terlalu sombong!" sahut Rodeo.


" Tentu saja! Karena aku masih mampu. Dan ada orang yang mau menikahi ku dengan kasih sayang yang tulus. Bukan seperti kamu yang hanya memanfaatkan kekayaan ku." ucap Luna dengan suara bergetar.


Aziz mulai mengeratkan tangannya dari genggaman tangan Luna.


" Kamu jangan mudah percaya laki - laki ini Luna! Bisa jadi dia lebih parah kelakuan nya di banding aku." kata Rodeo sambil melihat Aziz dengan memandang sebelah mata.


" Aku percaya Mas Aziz! Dia laki - laki yang bisa di andalkan!" ucap Luna sambil menunjukkan kemesraan nya dengan Aziz di hadapan Rodeo.


" Oh ho! Namanya Aziz! Mas Aziz!" ucap Rodeo dengan nada menghina.


" Kamu kalau tidak ada kepentingan yang lain, silahkan pergi!" ucap Luna.


" Hah? Kamu dari dulu masih sombong!" sahut Rodeo sambil melangkah pergi meninggalkan rumah itu.


Luna menarik nafas panjang dan mulai duduk di sebelah Aziz.


" Maaf Mas! Aku jadi melibatkan Mas Aziz dalam urusan ini." kata Luna.


" Tidak apa - apa Luna! Lagi pula aku menyukai nya!" ucap Aziz.


Luna menatap wajah Aziz yang serius.


" Aku ingin secepatnya menikahi kamu Luna! Tentu saja jika kamu mau menerima aku sebagai calon suamimu!" kata Aziz serius.


" Tadi ayah menanyakan hal ini kepadaku. Kapan aku menikahi kamu." cerita Aziz.


" Apakah kamu berani membuka kembali hatimu kepadaku? Paling tidak berilah kesempatan itu padaku,jika kamu ada sedikit rasa itu padaku." ucap Aziz serius.


" Hah? Aku pikir ini terlalu cepat Mas!" sahut Luna.


" Lebih cepat lebih baik! Aku bisa melindungi kamu Luna!" kata Aziz.


" Tapi aku tidak mau terburu - buru menikah mas!" ucap Luna.


" Tidak masalah! Berarti kamu mau menerima aku sebagai kekasih mu?" tanya Aziz sedikit memaksa.


Tidak ada jawaban. Hanya anggukan pelan dari kepala Luna. Aziz tersenyum penuh kemenangan.


" Syukurlah! Aku akan memberikan warna yang baru di hatimu Luna!" ucap Aziz sambil mengambil tangan lembut Luna.


" Bantulah aku untuk lebih mencintai kamu mas!" ucap Luna.


" Tentu saja! Aku akan membuatmu,tidak bisa melupakan aku! Aku akan membuatmu mencintai aku! Aku akan membuatmu selalu merindukan aku." ucap Aziz sambil tersenyum.


" Karena aku sudah menjatuhkan hatiku untukmu Luna!" tambah Aziz.

__ADS_1


" Ah Gombal!" sahut Luna sambil mencubit pinggang Aziz.


__ADS_2