
Sudah hampir satu bulan, Lisa tidak pernah lagi datang menemui Rodeo di rumahnya. Rodeo mulai tenang dan mulai sibuk dengan belajar private nya dengan Pak Yakub. Atas desakan Pak Yakub, akhirnya Rodeo membantu berjualan soto Betawi di warung itu.
Rodeo mulai belajar bagaimana mencari uang yang halal. Dengan membantu berjualan soto Betawi itu,Rodeo semakin memahami bagaimana cara berdagang dan mengumpulkan uang recehan dari hasil keuntungan berdagang. Semua tidak semudah yang dibayangkan. Selama ini, Rodeo selalu memperoleh apa saja dengan mudah. Segala uang, fasilitas,bisa Rodeo dapatkan hanya dengan membuat Lisa senang.
Kini semua seperti cerita dalam sebuah perjalanan hidupnya. Segala kenikmatan duniawi yang pernah ia rasakan tidak membuat dirinya tenang. Rodeo sangat bersyukur bisa dipertemukan oleh Silvi dan Pak Yakub. Mungkin saja Tuhan sempat mendengar penyesalan dalam hatinya ketika kegelisahan, kesedihan,dan kesepian dalam hatinya ketika tidak ber Tuhan.
Semakin hari kedekatan antara Rodeo dan Silvi seperti seorang sahabat yang masing-masing saling melengkapi dan memahami kekurangan masing-masing. Silvi jadi tambah bersemangat ketika melayani warung soto Betawi yang dikelola oleh pamannya itu.
Dengan lingkungan yang baik dan kawan yang tepat akan menjadikan perubahan yang lebih baik. Dengan siapa kita bergaul pun,akan mempengaruhi pandangan kita dalam melangkah. Sahabat sejati tidak akan menjerumuskan kita ke jalan yang salah. Dia akan mengarahkan dan menuntun kita hal - hal yang lebih baik.
Rodeo mulai rajin menjalankan ibadah sholat lima waktu. Mulai belajar menjalankan puasa sunah. Rodeo merasa segala yang sudah ia perbuat selama ini,jauh dari kata benar. Setiap malam tiba, Rodeo selalu memperbanyak sholat taubat dan berusaha tidak mengulangi segala perbuatan yang bisa merugikan dirinya sendiri.
Manusia memang ada kalanya selalu mencoba segala yang menggiurkan. Apalagi ketika dihadapkan dengan berlimpah harta benda. Tidak sedikit yang menjadi lalai ketika memiliki banyak harta.
Di warung soto itu, Rodeo mulai bekerja dengan gigih. Dalam setiap usaha dan kegiatan nya diniatkan untuk beribadah. Tidak semata-mata mengejar duniawi tetapi memang manusia perlu menyambung hidup di dunia ini.
" Kamu kalau capek, istirahat dulu Rodeo!" kata Pak Yakub sambil meracik soto pesanan dari beberapa pengunjung yang mulai antri.
" Tidak apa-apa Om! Nanti kalau sudah sepi bisa istirahat bersama - sama." ucap Rodeo.
Silvi tersenyum mendengar percakapan diantara pamannya dan Rodeo. Silvi sibuk membuat minuman es teh manis dan es jeruk sesuai pesanan pengunjung warung soto itu.
" Nanti kalau capek, tidak usah belajar ngaji dulu Rodeo!" sahut Silvi.
" Eh! Kamu anak kecil ikut - ikutan nyambung pembicaraan kami berdua. Soal belajar agama, tidak boleh menyerah gara - gara capek." ucap Pak Yakub.
" Ais! Sejak kapan paman menjadi sekejam ini?" kata Silvi.
" Semua juga demi kebaikan Rodeo loh!" sahut Pak Yakub.
" Iya om! Saya dengan senang hati belajar dengan Om Yakub!" ucap Rodeo.
" Tuh! Kamu dengar sendiri bukan?" kata Pak Yakub kepada Silvi.
" Hehehe!" Silvi terkekeh sendiri.
" Hari ini banyak pengunjung di warung soto kita ya paman!" ucap Silvi.
" Iya Alhamdulillah! Besok pagi pergilah dengan Rodeo ke panti!" kata Pak Yakub.
" Hem! Rodeo! Besok pagi sibuk. Jadi tidak bisa pergi ke panti bersama aku paman!" ucap Silvi sambil melirik Rodeo yang mulai mencuci piring - piring kotor bekas soto.
" Eh? Siapa yang bilang? Aku besok pagi bisa kok!" sahut Rodeo.
" Eh kirain sibuk!" ucap Silvi.
__ADS_1
" Kalau bersama dengan kamu, sesibuk apapun bisa diupayakan loh Silvi!" ucap Pak Yakub sambil melihat Rodeo yang masih fokus mencuci piring dan gelas yang kotor.
" Iya om! Aku senang kalau sudah berada di tempat itu. Anak-anak panti sangat menyenangkan." sahut Rodeo.
" Tuh kan!" sahut Pak Yakub sambil menoel pinggang Silvi.
" Paman!" teriak Silvi.
*******
Setelah warung soto Betawi itu tutup, Rodeo mulai belajar mengaji dengan Pak Yakub. Bacaan nya sudah mulai lancar. Bacaan Tajwidnya sudah mulai benar. Silvi yang beristirahat dan berbaring dikamar tidurnya mendengarkan suara Rodeo yang sedang melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an itu. Di dalam hatinya mulai ada rasa salut kepada Rodeo. Kegigihan Rodeo dari awal bisa di acungi jempol. Semangat nya untuk belajar ilmu agama tidak pernah surut.
Akhirnya sekitar satu jam lewat,Pak Yakub menyudahi simak an ayat suci Al-Quran itu.
" Silvi!" panggil Pak Yakub.
" Iya!" sahut Silvi sambil keluar dari kamarnya.
" Kopi nya mana neng?" tanya Pak Yakub.
" Kopi nya habis paman!" ucap Silvi.
" Astagfirullah! Kenapa tidak beli ke warung dari tadi." ucap Pak Yakub.
" Semua toko sudah tutup semua!" ucap Silvi bercanda.
" Toko material Paman!" sahut Silvi terkekeh.
" Kamu itu! Dari dulu tidak bisa serius!" ucap Pak Yakub.
Rodeo yang mendengar candaan Silvi jadi ikut terkekeh.
" Saya ijin pulang dulu om! Minta ijin sebentar bawa Silvi bolehkah?" ucap Rodeo.
" Tapi sekarang sudah jam sepuluh malam loh!" ucap Pak Yakub khawatir.
Rodeo dan Silvi saling pandang. Menunggu reaksi Pak Yakub untuk memberi ijin mereka keluar rumah.
" Memangnya kalian mau kemana?" tanya Pak Yakub.
" Mau ajak jalan-jalan dan makan malam saja Om!" ucap Rodeo.
" Tapi kamu harus jaga Silvi dengan baik ya Rodeo! Silvi ini kalau dibiarkan bisa merajalela." ucap Pak Yakub.
" Paman! Aku dari dulu anak baik! Tidak sombong dan suka menolong." sahut Silvi.
__ADS_1
" Baiklah! Jangan lama-lama ya Rodeo!" kata Pak Yakub akhirnya memberi ijin keduanya untuk keluar rumah.
Rodeo dan Silvi akhirnya masuk kedalam mobilnya Rodeo.
" Besok - besok jangan bawa mobil lagi lah Rodeo! Enakan juga jalan kaki." ucap Silvi.
" Sekali - kali gak papa kan?" sahut Rodeo
" Kita mau kemana?" tanya Silvi.
" Mau kemana saja!" ucap Rodeo.
" Kamu masih lapar?" tanya Silvi.
" Tidak juga! Aku hanya ingin mengajak kamu jalan saja!" ucap Rodeo sambil melirik Silvi.
" Ada apa dengan mata kamu? Lirik - lirik aku tidak jelas?" ucap Silvi yang sok jutek.
" Silvi!" panggil Rodeo sambil menghentikan mobilnya dipinggir jalan.
" Iya! Ada apa? Serius amat Rodeo." ucap Silvi mulai penasaran.
" Aku akan cerita perjalanan hidupku selama ini dengan kamu!" kata Rodeo.
" Serius amat! Soal apa? Jangan yang sedih - sedih yah? Aku paling tidak suka cerita sedih." kata Silvi.
" Aku pernah menikah satu kali dengan seorang gadis yang aku sukai, dan selama menikah kami tidak dikaruniai seorang anak. Akhirnya kami sepakat mengadopsi seorang anak laki-laki dari rumah sakit. Karena kesalahan yang aku perbuat, aku menjalin hubungan dengan wanita lain. Dan hal inilah yang membutakan mataku untuk bercerai dengan istri ku." cerita Rodeo mulai terputus.
" Hem! Terus? Kenapa kamu jadi cerita kepada aku?" tanya Silvi.
" Karena aku ingin kamu tahu! Masa lalu dan keburukan ku!" ucap Rodeo.
" Oh! Lanjut kan ceritamu!" ucap Silvi.
" Aku sekarang jadi menyukai kamu,Silvi! Tapi kamu bisa menolak aku, setelah aku bercerita tentang masa lalu aku yang buruk." ucap Rodeo.
Silvi terkejut dan tiba - tiba terdiam mendengar perkataan Rodeo.
" Aku ingin serius dengan kamu,Silvi!" kata Rodeo.
" Tapi masa lalu aku,membuat aku rendah diri untuk memulai hidup bersama kamu." ucap Rodeo.
" Apakah kamu menyukai aku Silvi?" tanya Rodeo.
Silvi hanya diam dan jadi canggung.
__ADS_1
" Ah sudahlah! Tidak perlu aku lanjutkan lagi! Lagipula kamu tidak menyukai aku kan?" ucap Rodeo sambil menghidupkan kembali mobilnya dan mulai menjalankan mobil itu.
Sepanjang perjalanan keduanya jadi terdiam. Tidak ada lagi candaan. Silvi yang biasanya ramai dan bikin seru suasana jadi hening. Entah apa yang sedang Silvi pikirkan. Tetapi yang pasti, di dalam diri Rodeo ada penyesalan ketika mengutarakan perasaannya yang mengakibatkan hubungan antara dirinya dan Silvi jadi kaku.