
" Kamu mau kemana sayang?" tanya Julius kepada Momo yang sudah rapi dengan pakaian tertutup nya setelah mandi. Momo tersenyum menatap Julius.
" Hem, aku tinggal sebentar yah! Aku harus memberikan sedikit uang untuk anak-anak panti." kata Momo. Julius malah melongo mendengar Momo ketika bilang hendak memberi uang ke anak- anak panti.
" Bagaimana kalau aku yang mengantarkan kamu?" tanya Julius.
" Tidak usah! Aku sebentar saja kok sayang! Setelah itu aku akan cepat kembali ke apartemen ini." ucap Momo.
" Hem, apakah kamu mau nitip sesuatu kepada ku?" tanya Momo.
" Aku? Hem? Titip pesan buat kamu saja, Hati-hati di jalan!" kata Julius. Momo tersenyum mendengar Jawaban dari Julius.
" Baiklah!" sahut Momo. Momo bergegas meninggalkan apartemen itu dan mulai dengan tujuan nya yaitu ke panti.
@@@@@@
Bu Slamet dan Pak Slamet menyambut kedatangan Momo ke panti itu. Momo langsung memberikan amplop coklat yang berisi lembaran uang itu kepada Bu Slamet. Bu Slamet ragu- ragu untuk menerimanya lantaran Bu Slamet sudah bisa menduga pekerjaan apa yang dijalani oleh Momo. Namun untuk menghormatinya akhirnya Bu Slamet menerima amplop coklat itu.
" Terimakasih nak Momo! Semoga ibu dan bapak bisa amanah dengan uang titipan kamu ini." kata Bu Slamet. Pak Slamet pun membenarkan ucapan istrinya.
__ADS_1
" Semoga menjadi ladang pahala buat kamu non Momo." sahut Pak Slamet. Momo tersenyum dengan sikap ramah Pak Slamet dan Bu Slamet.
" Kalau begitu saya undur diri pak!" kata Momo tidak mau berbasa-basi. Momo segera pergi meninggalkan panti itu. Namun sebelum ia keluar dari ruangan itu Momo berjumpa dengan Rodeo dengan Silvi.
" Eh, Rodeo! Kamu!" ucap Momo. Rodeo terkejut melihat Momo.
" Kamu kenapa di sini?" tanya Rodeo akhirnya.
" Kalian sudah saling mengenal?" tanya Bu Slamet dan Pak Slamet. Rodeo dan Momo tidak menjawab nya. Silvi pun menatap keduanya secara bergantian.
" Saya pamit Bu, pak!" kata Momo lagi tanpa menghiraukan Rodeo yang masih menatap Momo tidak percaya.
" Setelah ini, kamu harus menjelaskan nya kepada ku, mas!" bisik Silvi seraya mencubit pinggang Rodeo.
" Ayo, kalian duduk lah!" suruh Pak Slamet. Silvi dan Rodeo akhirnya duduk di ruangan itu.
" Kalian bagaimana kabarnya? Usaha kalian lancar bukan?" tanya Bu Slamet.
" Alhamdulilah, bu!" sahut Silvi.
__ADS_1
" Syukur lah, ibu ikut senang jika warung kalian semakin ramai." kata Pak Slamet menyahuti.
" Pak, bu ini ada sedikit sumbangan dari kami." kata Rodeo seraya menyodorkan amplop yang berisi uang. Mungkin saja kalau dibandingkan dengan amplop pemberian Momo tidak setebal pemberian MoMo. Namun bu Slamet tanpa ragu- ragu menerimanya.
" Alhamdulilah, semoga rejeki kalian semakin bertambah dan berkah. Ibu dan bapak insyaallah akan amanah menjaga anak- anak dalam mendidik, membina dan membentuk pribadinya yang mandiri dan tidak malas." kata Bu Slamet. Rodeo dan Silvi meng aamiin kan doa yang baik dari ucapan Bu Slamet.
@@@@@@@
Sepulang nya dari panti, Silvi mencecar pertanyaan soal wanita yang ditemui mereka ketika di panti.
" Dia sudah tidak penting lagi untuk dibahas, sayang! Yang paling penting sekarang adalah kamu, sayang! Kamulah cahaya aku, untuk memperbaiki segala jalanku yang selalu tanpa arah dan tujuan." ucap Rodeo berusaha membuat Silvi istrinya tidak lagi cemburu.
" Iya, aku tahu kalau aku ini bintang kamu, aku ini bulan kamu, aku ini bidadari kamu. Yang aku tanya sekarang, dia itu siapa kamu?" cecar Silvi. Rodeo nepuk jidat nya sendiri.
" Baiklah, aku akan berkata jujur. Dia dulu adalah pacar aku." ucap Rodeo.
" Pacar tapi berasa seperti istri?" tuduh Silvi. Rodeo memeluk Silvi dengan cepat.
" Bukankah kamu sudah tahu dengan jelas, sayang! Masa laluku yang suram. Haruskah kamu mengungkit nya kembali?" ucap Rodeo seraya mengusap puncak kepala Silvi yang masih tertutup oleh hijab nya.
__ADS_1
" Ma maaf kan aku mas! Aku cemburu!" sahut Silvi. Rodeo mencium kepala istrinya.
" Aku tahu! Percaya dengan aku, sayang! Hanya kamu bidadari aku." kata Rodeo mulai menggombali istrinya. Silvi mencubit pinggang suaminya yang mulai ada maunya itu.