
Luna sudah duduk di teras depan rumah kediaman Pak Suntoro. Menunggu Dodo yang sedang mandi di dalam kamarnya. Luna mulai gelisah. Hari sudah mulai gelap. Ia harus segera pulang menyiapkan segala laporan dan bahan rapat untuk besok pagi di kantor nya.
Tiba - tiba Aziz datang dan duduk di kursi kosong yang dipisahkan oleh meja bulat di tengah mereka.
" Luna!" panggil Aziz pelan.
" Eh mas Aziz!" sahut Luna.
" Masih di sini?" ucap Aziz basa - basi.
" Iya! Masih mandi Dodo nya mas!" kata Luna berusaha membawa suasana menjadi akrab.
" Bagaimana kabarmu?" tanya Aziz basa - basi lagi.
" Baik - baik saja mas! Mas Aziz lagi ada masalah?" tanya Luna mulai menyelidik.
" Ada!" jawab Aziz singkat.
Aziz diam cukup lama dan belum ingin menjelaskan masalah apa yang di maksud.
" Aku akan cerai dengan Aura!" ucap Aziz akhirnya.
Luna yang mendengar nya jadi terkejut dengan berita yang disampaikan oleh Aziz itu.
" Kenapa mas?Eh maaf?" ucap Luna.
Aziz tidak mau menjelaskan kenapa perceraian itu akan terjadi. Aziz malu jika harus bercerita tentang masalah rumah tangga nya dengan Luna.
" Aku ingin kembali dengan kamu Luna!" ucap Aziz tanpa berpikir panjang.
Kembali Luna di kejutkan dengan kalimat yang di lontarkan oleh Aziz.
" Mas! Aku akan segera menikah dengan Dodo! Bukankah mas Aziz tahu itu?" ucap Luna pelan.
" Tapi aku ingin kembali bersama kamu Luna!" sahut Aziz.
" Itu tidak mungkin Mas!" kata Luna tegas.
" Kenapa? Apakah kamu sudah tidak punya hati padaku?" tanya Aziz sedikit memaksa.
" Aku tidak bisa kembali ke mas Aziz! Itu tidak akan pernah terjadi mas!" ujar Luna.
" Jawab dengan jujur Luna! Apakah kamu sudah tidak menyukai aku?" tanya Aziz dengan tatapan tajam.
" Jawaban nya adalah ' TIDAK' mas!" ucap Luna tegas.
Aziz terdiam. Hanya mata nya mulai berkaca. Kesedihan nya begitu dalam. Aziz tidak sanggup menerima kekecewaan untuk kedua kalinya.
" Seandainya dulu, kedua orangtuaku merestui hubungan kita. Mungkin saja kita sudah menikah Luna! Dan mungkin saja kita sudah memiliki seorang anak. Betapa aku mempunyai angan - angan indah itu bersama dengan kamu." keluh Aziz dengan berkaca matanya.
" Mas Aziz! Tolong jangan cerita lagi masa lalu." sahut Luna.
" Apakah sedikit pun kamu tidak memiliki rasa suka itu lagi padaku, Luna!" tanya Aziz lagi.
Luna mulai terbawa suasana sendi Aziz. Luna takut untuk menjawab dan mengatakan ' TIDAk' untuk kedua kalinya.
" Aku sangat sedih Luna! Melihat kamu nanti bersanding di pelaminan dengan Dodo adikku." keluh Aziz.
" Aku mungkin saja, tidak akan sanggup menerima nya." ujar Aziz tanpa di sadari satu butiran air matanya terjatuh.
" Ehh?? Maaf Mas! Aku jadi menyakiti hati kamu. Lalu aku harus bagaimana? Apakah aku harus menggagalkan pernikahan ini?" ucap Luna mulai bawa perasaan bersalah.
Aziz hanya diam merasakan kepedihan dan kekecewaannya. Masalah pribadinya yang bertumpuk menjadikan Aziz menjadi frustasi. Apalagi Aziz akan melihat kebahagiaan antara Dodo dan Luna. Aziz mungkin saja jadi iri. Kenapa sepenggal kisah cinta nya jadi kacau.
Tidak berapa lama kemudian, Dodo datang menghampiri mereka.
" Ayo Luna!" ajak Dodo dengan ceria. Tapi ketika melihat wajah Aziz, Dodo jadi bertanya-tanya.
" Hemm? Ada apa Mas?" tanya Dodo.
" Tidak apa-apa!" jawab Aziz lalu bangkit dari tempat duduknya dan masuk ke dalam rumah.
Dodo memandangi punggung Aziz yang tidak bersemangat melangkah. Kemudian beralih ke arah Luna yang penuh tanya.
" Ada apa dengan Mas Aziz?" tanya Dodo.
" Tidak apa-apa!" jawab Luna sambil menundukkan kepalanya.
*******
" Pembicaraan apa yang di sampaikan Mas Aziz kepada kamu Luna?" tanya Dodo yang sudah duduk di taman rumah Luna.
" Tidak ada yang serius Dodo! " jawab Luna berusaha menyembunyikan sesuatu dari Dodo.
" Kamu tidak bisa berbohong kepada ku Luna!" ucap Dodo akhirnya.
" Huuhh!!" Luna menarik nafas dalam-dalam.
" Cerita kan! Atau aku yang akan bertanya sendiri dengan Mas Aziz." ancam Dodo.
" Ha?? Mungkin papa mama kamu tahu permasalahan yang terjadi dengan Mas Aziz." ucap Luna.
__ADS_1
" Aku ingin tahu dari kamu, Luna!" kata Dodo.
" Jangan aku! Kamu bisa tanya mereka persis nya." sahut Luna.
" Apa bedanya?" tanya Dodo.
" Bedanya mereka tahu persis duduk permasalahan nya. Sedang aku, memang tidak tahu apa-apa!" jawab Luna.
" Hadeuh! Kamu jadi berbelit - belit Luna!" kata Dodo.
" Sudahlah! Kamu pulang saja! Aku mau bobok dulu!" ucap Luna mulai marah.
"Ehh?? Tuh kan jadi sensi gitu deh!" sahut Dodo sambil menahan Luna meninggalkan tempat duduk nya.
" Habis kamu ini! Aku paling tidak suka dipaksa, Dodo! " ucap Luna masih merajuk.
" Ya sudah! Maaf! Aku minta maaf!" kata Dodo akhirnya.
Cukup lama akhirnya mereka terdiam. Entah apa yang dipikirkan dari kedua kepala mereka. Mereka sama-sama keras kepala.
" Baiklah! Aku pulang dulu yah!" ucap Dodo akhirnya.
" Pulanglah! Besok - besok jangan kesini lagi!" sahut Luna masih dengan emosi nya.
" Eh astaga!! Kamu kenapa sih? Kok jadi marah seperti itu, Luna?" tanya Dodo penuh selidik.
" Tidak ada! Pulanglah!" ucap Luna masih kesal.
" Kalau begitu, aku gak jadi pulang lah!" ucap Dodo sambil kembali mendudukkan pantatnya di kursi kayu taman yang panjang.
Dodo mulai senyum - senyum melihat Luna yang merajuk tidak jelas. Dodo berusaha merangkaikan kata supaya Luna tidak marah dengan nya.
" Malam ini langit terlihat gelap Luna!" ucap Dodo yang berusaha hendak merayu Luna.
" Memang Gue pikirin?" sahut Luna.
" Kenapa terlihat gelap? Karena bulan nya ada di dekat ku saat ini." ujar Dodo.
" Tidak lucu!" sahut Luna.
" Astaga!!!" ucap Dodo. Dodo mulai berpikir keras lagi supaya Luna kembali tersenyum kepadanya.
" Kamu tahu Luna! Laut di pantai selatan sekarang lagi surut loh!" ucap Dodo.
" Itu hoaks!" sahut Luna.
" Hahahaha!" Dodo malah terkekeh tidak jadi merayu.
" Tapi aku bisa membuat kamu kembali tersenyum!" sahut Dodo.
" Ais!? Gombal!" ucap Luna sambil mencubit lengan Dodo.
" Sebenarnya aku sangat khawatir Luna!" ucap Dodo.
" Kenapa?" tanya Luna.
" Aku takut, kalau pernikahan kita tidak akan terjadi." kata Dodo serius.
Luna diam menatap Dodo yang mulai serius.
" Kenapa kamu berpikir seperti itu, Dodo! Aku sudah mencintaimu dengan tulus, Dodo! Apakah kamu mulai meragukan aku?" ucap Luna.
" Bukan! Bukan itu maksud aku. Malah aku semakin takut, jika kita tidak bisa mewujudkan keinginan itu." ucap Dodo khawatir.
" Bismillah saja Dodo! Kita sudah berusaha. Dan tinggal selangkah lagi acara itu berlangsung. Semua sudah kita persiapkan. Wedding organizer pun sudah siap dengan acara pernikahan kita sesuai tanggal nya." kata Luna.
" Kamu kalau marah, membuat aku takut Luna!" sahut Dodo.
" Kapan aku marah?" tanya Luna.
" Tadi baru saja!" jawab Dodo.
" Siapa yang marah?" tanya Luna.
" Jadi? Tadi itu tidak marah yah?" tanya Dodo sambil tersenyum.
" Aku tidak marah Dodo! Aku hanya sedikit emosi saja!" ucap Luna beralasan.
" Oh!!? Eh kapan ayah ibu datang dari Jogjakarta?" tanya Dodo.
" Besok lusa!" jawab Luna.
" Kabari aku yah! Biar aku ikut menjemput nya." ucap Dodo.
" Iya!" sahut Luna.
" Dodo! Panggil Luna pelan.
" Iya sayang!" sahut Dodo.
" Setelah nikah, kita tinggal di rumah ini saja yah!" ucap Luna sambil menatap Dodo serius.
__ADS_1
" Oh tidak bisa! Kamu harus ikut aku dong!" ucap Dodo.
" Aku tidak mau kalau di rumah itu!" kata Luna.
" Rumah itu yang mana? Maksudnya rumah besar orang tua ku?" tanya Dodo.
" He emm!" sahut Luna sambil mengangguk.
" Pokoknya di rumahku Luna! Di rumah baru kita!" ucap Dodo gembira.
" Di mana?" tanya Luna terkejut.
" Lokasi nya tidak jauh dari kantor kamu dan aku,tentu nya." sahut Dodo.
" Benarkah?" tanya Luna.
" Iya!" ucap Dodo.
" Alhamdulillah! Yang penting kita tinggal di rumah sendiri. Mau itu di rumah aku atau rumah kamu yang baru, terserah saja!" ucap Luna bersemangat.
" Kenapa Riana? Kamu takut jika serumah dengan Mas Aziz, kamu jadi timbul rasa suka lagi?" ucap Dodo tanpa basa-basi.
" Idih kamu ngomong apa sih?"sahut Luna sambil mencubit pinggang Aziz.
" Karena godaan mantan itu lebih berbahaya, di banding godaan setan!" ucap Dodo.
" Astagfirullah! Kamu ini mulai deh!" sahut Luna kembali mencubit pinggang Dodo.
" Atau kamu tidak ingin di omeli ibu dan bapak mertua kamu?" tanya Dodo menggoda.
" Hahahaha! Kamu ini kalau bicara selalu benar loh Dodo! Hehe!" sahut Luna.
" Tapi bukan berarti setelah menikah kita melupakan orang tua kita bukan?" kata Dodo.
" Itu tidak akan mungkin, Dodo! Kita dari kecil sampai dewasa dan akhirnya sukses seperti sekarang ini karena bimbingan mereka juga, Dodo Walaupun terkadang berbeda pendapat dan sudah berbeda cara pandang kita dengan orang tua kita dulu." kata Luna serius.
" Iya sayang! Kalau sudah bicara serius seperti ini, macam menteri saja!" sahut Dodo.
" Eh?? bukankah kamu yang di kementrian? Aku mah apa atuh?" ucap Luna.
" Kamu orang nomer satu di hatiku, Luna!" sahut Dodo. mulai keluar rayuan gombal nya.
" Kamu juga!" ucap Luna.
" Juga apa nih?" tanya Dodo.
" Nama kamu juga sudah berdiam di hati aku." jawab Luna ikut merayu.
" Haha!!! Mulai lagi rayuannya!" sahut Dodo dengan suara keras.
" Yang penting kamu senang saja! Padahal semua bohong!" ucap Luna.
" Eh awas yah!!!" sahut Dodo sambil menarik hidung mancung Luna.
*******
Di rumah Paman Silvi.
" Jadi kamu benar-benar serius dengan Silvi, Rodeo?" tanya Pak Yakub, paman Silvi.
" Iya om!" jawab Rodeo.
Pak Yakub melihat reaksi Silvi yang duduk di samping nya. Silvi terlihat malu - malu seperti anak ABG yang hendak di tembak seorang laki-laki.
" Kamu mau Silvi? Menikah dengan Rodeo?" tanya Pak Yakub.
" Paman! Iya paman!" jawab Silvi tegas.
" Cepat sekali reaksi kamu dalam menjawab. Berbeda sekali kalau menjawab soal matematika waktu sekolah dulu." ucap Pak Yakub yang membuat Rodeo terkekeh.
" Kamu kenapa Rodeo? Tertawa tidak jelas!" sahut Paman pura - pura galak.
" Tidak apa-apa Om! Jadi boleh ya om!" ucap Rodeo.
" Boleh apa?" tanya Pak Yakub.
" Aku menikahi Silvi om!" jawab Rodeo.
" Berhubung Silvi mau menikah sama kamu, mana bisa om tidak memberi restu kalian!" ucap Pak Yakub akhirnya.
" Alhamdulillah!" sahut Rodeo dan Silvi bersamaan.
" Ais! Kalian sudah ngebet sekali yah?" ucap Pak Yakub.
" Hehehe!" Rodeo hanya terkekeh.
*******
Isi Hati Aziz
Apa yang akan aku tulis? Aku sudah mulai bosan! Tinta ini sudah mulai habis. Lembar putih ini sudah menjadi kecoklatan. Kenangan bersama kamu akan indah terpatri dalam kalbu. Seandainya kamu bisa mendengar keluh kerinduan ini. Kamu akan mengetahui. Betapa malangnya aku ketika aku dalam sunyi merindukan kamu. Aku akan selalu mengingat kamu. Dalam setiap hembusan nafas ku. Aku selalu merindukan mu.
__ADS_1