
Hari ini adalah hari terakhir pengantin baru itu honeymoon di labuan bajo, mereka benar-benar menikmati waktu dan tak sedikit pun menyia-nyiakan waktu mereka selama di sana. Mereka berdua benar-benar menghabiskan hari-hari mereka dengan berkeliling di sekitar resort, bermain air di pink beach, naik kapal pinisi untuk mengarungi pulau-pulau yang ada di Nusa tenggara Timur serta menikmati keindahan pulau-pulau yang ada di sana, melihat komodo, tracking, scuba diving, snorkeling, bermain di air terjun, bahkan melihat sunset dan sunrise dan masih banyak lagi kegiatan pasutri baru itu.
Saat ini dua sejoli itu sedang membeli oleh-oleh untuk dibagikan ke keluarga, kerabat, sahabat dan juga teman-teman mereka saat nanti tiba di Jakarta. Lebih tepatnya Alesha yang lebih banyak membeli oleh-oleh, kalau Aqiel hanya sekedar nya saja, karena dia juga baru di Indonesia, jadi ia tidak memiliki banyak teman dekat untuk ia bagikan oleh-oleh.
"Cinta, kamu capek?" Tanya Aqiel perhatian.
"Lumayan mas, aku haus deh mas," ucap Alesha sambil mengelap keringat nya.
Ya, sedari pagi mereka telah mengelilingi pusat perbelanjaan hingga siang hari, Aqiel sebagai suami yang pengertian selalu menuruti apa keinginan sang istri tercinta.
"Tunggu sebentar di sini ya, cinta. Mas belikan kamu minuman di seberang sana." Ucap Aqiel sambil mengelus kepala sang istri yang tertutup jilbab dengan sayang.
"Iya mas, jangan lama-lama ya mas." Ucap Alesha tersenyum.
"Iya sayang, mas nggak akan lama. Sekarang ketahuan ya kamu udah mulai bucin banget sama mas, padahal Mas cuma beli minum di seberang." Ucap Aqiel menggoda istrinya itu.
"Ih..mas selalu aja begitu," ucap Alesha mencebikkan bibirnya, Aqiel yang melihat ekspresi istrinya seperti itu, semakin gemas dibuatnya.
"Jangan gemas-gemas dong, cinta. Kan mas jadi makin berat ninggalin kamu." Goda nya lagi.
"Mas ini bercanda terus, aku serius loh," Alesha semakin memanyunkan bibirnya.
"Oke-oke mas serius, mas kesana dulu ya beli minum buat kamu." Ucap nya dengan penuh kelembutan.
"Iya mas, hati-hati nyebrang nya." Teriak Alesha karena Aqiel telah mulai menjauh dari tempat Alesha mengistirahatkan dirinya.
Di saat Alesha sedang memperhatikan suami tampan nya itu dari kejauhan, ia melihat Aqiel sedang berbicara dengan wanita cantik, entah apa yang mereka bicarakan saat ini.
"Mas Aqiel sama siapa? Alesha jangan berpikiran yang aneh-aneh deh, mana tahu hanya orang yang sedang mencari alamat. Lagian kan mas Aqiel bucin banget sama aku. Eh tunggu-tunggu, emang benar mas Aqiel cinta nya cuma buat aku, aduh Alesha please jangan berfikiran macem-macem." Gumamnya seorang diri sambil menepuk-nepuk pipinya dengan pelan.
Di saat Alesha sedang termenung memikirkan sang suami, ia tak menyadari bahwa suami tampannya itu sudah berada di hadapannya.
"Sayang kamu lagi mikirin apa? Kenapa wajah kamu serius banget? Ucap Aqiel kepada istrinya itu. Namun, Alesha masih belum menyadari keberadaan sang suami.
"Bidadari nya mas, hey sayang, kamu mikirin apa?" Tanya nya lagi menyadarkan lamunan sang istri.
"Astaghfirullah, eh mas, kapan tiba dihadapan ku? Bukannya tadi lagi ngobrol sama cewek cantik di depan toko minuman itu?" Tanya nya penuh selidik.
"Astagfirullah sayang, jadi kamu dari tadi lagi melamun kan mas?" Tanya lelaki tampan itu.
"Enggak, mas g-er deh, mana ada." Kilah Alesha membuang wajahnya kesamping kanan.
"Kalau nggak, kenapa wajahnya masam gitu sama mas, hhmm?" Tanya nya lagi dengan penuh perhatian.
"Itu aku lagi mikir, apa yang belum aku beli untuk oleh-oleh di Jakarta." Ucap Alesha mengalihkan.
"Benaran ini? Emang sayang nggak penasaran tadi wanita yang ngobrol sama Mas itu siapa?" Godanya lagi agar sang istri mau jujur dengan nya.
"Enggak tuh, aku juga nggak perduli dia siapa," ucap Alesha menahan gengsinya. Padahal Ia penasaran setengah mati, namun ia urung bertanya karena tak ingin terlihat terlalu berlebihan karena cemburu pada sang suami.
"Ini minum nya sayang, diminum dulu, tadi katanya haus." Ucap Aqiel menyerah kan cup jumbo minuman rasa green tea kesukaan sang istri.
"Loh.. kok cuma satu? Mas nggak beli untuk mas?" Tanyanya heran.
"Ini jumbo Lo sayang, kita minum nya berdua aja, biar romantis," ucap Aqiel sambil menaik-turunkan alisnya yang tebal.
"Tapi kan mas nggak suka green tea." Ucap Alesha keheranan.
"Mulai sekarang mas akan menyukai semua apa yang kamu suka, termasuk green tea." Ucap Aqiel tersenyum lebar, terlihatlah deretan giginya yang rapi dan putih.
Alesha hanya mengangguk-angguk kepalanya.
Yasudah, ini diminum mas, mas haus juga kan?" Ucap Alesha sambil mengarahkan minuman ke mulut sang suami.
__ADS_1
"Terimakasih sayang," ucap Aqiel.
"Oiya, tadi mas dapat brosur dari wanita yang berbicara sama mas tadi, dia memberikan brosur tabligh Akbar, kamu mau kesana?" Tutur Aqiel menjelaskan.
"Tabligh Akbar? Jadi wanita tadi hanya memberikan brosur? Ucap Alesha.
"Iya cinta, kamu mau kesana? Kita datang ke pengajian itu, mas tau kamu suka sekali datang ke pengajian kan?" Ajak Aqiel berusaha memahami apa yang disukai sang istri.
"Kapan mas?" Tanya Alesha kembali memasang wajah datar, karena teringat lagi dengan wanita yang sedang berbicara dengan suaminya tadi.
"Sore nanti sayang, loh kok wajah sayang nya mas masam lagi" ucap Aqiel sambil menggenggam jari-jemari lentik sang istri dan mengelus nya lembut.
"Enggak ah, perasaan mas aja, aku biasa aja." Ucap Alesha masih mempertahankan ekspresi nya.
"Hhmm.. sore ya, oke deh." Ucap Alesha lagi.
"Yaudah ini masih mau ada yang dibeli? Atau kita kembali ke resort sayang?" Tanya Aqiel dengan penuh kesabaran.
"Sepertinya udah cukup mas, kita kembali ke resort aja," ucap Alesha, karena dia sudah benar-benar lelah.
"Oke sayang, ayo.. mau mas gendong nggak kalau capek? Goda Aqiel lagi, dia senang sekali melihat ekspresi sang istri yang cemberut.
"Emang aku anak kecil di gendong, aku bisa jalan mas," ucap Alesha memanyunkan bibirnya.
"Hhhh... Iya sayang, mas hanya bercanda, kamu makin gemesin tau kalau seperti itu." Ucap Aqiel malah terkekeh.
***
Saat ini pasutri yang selalu romantis itu sedang bersiap-siap untuk pergi ke tabligh Akbar, eh ralat, untuk saat ini Aqiel yang selalu terlihat romantis. Kebetulan tempat tabligh akbar yang akan mereka datangi tidak terlalu jauh dengan penginapan yang mereka tempati.
"Sayang, pakai baju ini ya, biar couple sama mas." Ucap Aqiel menyerah kan gamis dengan warna senada dengan baju muslim yang ia kenakan, yaitu warna biru laut.
"MasyaaAllah bagus banget mas, kapan mas siapin?" Ucap Alesha terharu.
"Mas nggak malu pakai baju couplean sama aku? Kan biasanya para lelaki malu kalau pakai baju couplean." Tutur Alesha memastikan jawaban dari suaminya.
"Kenapa harus malu cinta? Justru mas senang kalau pakai baju pasangan sama kamu, jadi lelaki di luar sana tahu, kamu miliknya Mas." Jawab Aqiel jujur.
"Begitu ya, terimakasih ya mas," ucap Alesha tersenyum lebar, memperlihatkan lesung pipi nya yang dalam.
"Sama-sama cinta." Ucap Aqiel mengecup kening sang istri.
Kini mereka sedang siap-siap untuk pergi ketempat kajian itu.
"Sudah sayang?" Tanya Aqiel menunggu sang istri setelah sepuluh menit lamanya. Maklum wanita akan lebih lama berdandan daripada lelaki, hihi.
" Iya mas, ini sudah, ayo mas." Ucap Alesha keluar dari kamar.
"Masyaa Allah cantiknya istri mas, mas nggak salah pilih istri, kamu benar-benar bidadari nya mas cinta." Puji Aqiel kepada sang istri. Dia memang selalu bisa jika memuji istrinya itu.
"Terimakasih mas, mas juga selalu tampan." Ucap Alesha kembali memuji sang suami.
"Ayo sayang," ajak Aqiel menggandeng tangan istri tercintanya.
Mereka menaiki mobil yang telah disewa oleh Aqiel selama di sana, Lima belas menit perjalanan, akhirnya mereka sampai juga di masjid besar itu. Mereka memisahkan diri saat akan memasuki pintu masjid. Aqiel bergabung ke bagian lelaki, sedangkan Alesha ke bagian perempuan.
Di dalam mereka menyimak setiap kajian yang disampaikan oleh ustadz kondang itu, dan juga ada beberapa penampilan Raudhah serta shalawatan bersama serta pembacaan hadist-hadist yang dibawakan oleh para pemudi masjid besar itu. Hingga tak terasa, kajian pun berakhir juga. Semua jama'ah keluar dengan tertib dan rapi.
Di halaman masjid, ada seorang wanita cantik yang menghampiri Aqiel.
"Assalamu'alaikum akhi," ucap wanita itu kepada Aqiel. Yang ia lihat hanya Aqiel, ia tidak menyadari bahwa Aqiel sedang bersama dengan Alesha. Alesha yang menyadari ada yang berbeda dengan wanita itu, hanya mengamati.
"Wa'alaikumsalam, kenapa mbak? Tanya nya tanpa melihat ke arah wanita yang bukan mahramnya itu.
__ADS_1
"Mas yang tadi di depan toko minuman kan? Saya yang tadi menyerahkan brosur kepada mas, dan juga tampil membacakan beberapa hadits." Ucap nya membanggakan dirinya.
"Maaf, saya tidak memperhatikan, karena tak baik memandang yang bukan mahram." Jawab Aqiel menohok, ia tak nyaman dengan wanita yang mengajak ia ngobrol, sedangkan disampingnya ada istrinya.
"Mas, dia siapa?" Cicit Alesha.
"Mas tidak kenal cinta," jawab Aqiel melihat kearah istri nya.
"Ini siapa nya mas?" Tanya wanita itu memotong pembicaraan.
"Istri saya, kalau begitu kami permisi, Assalamu'alaikum." Ucapnya tanpa melihat ekspresi wanita itu.
"Wa'alaikumsalam," jawabnya.
Wanita itu malu setengah mati, ia hanya mematung memperhatikan punggung dua sejoli itu. Ia fikir Aqiel lelaki belum beristri, ia tertarik sejak pertama kali melihat Aqiel saat membagikan brosur.
***
Kedua pengantin baru itu sudah berada di tempat penginapan mereka, mereka berada di dalam kamar, tepatnya duduk berhadapan di ranjang berukuran big size itu.
"Mas, apakah aku salah bila mengkhawatirkan hal yang tidak perlu?" Tanya Alesha kepada suaminya itu.
"Hal apakah itu sayang?" Tanya Aqiel menatap sepasang mata indah istrinya itu.
"Hhmm.. " Alesha ragu untuk menyampaikan isi hatinya, ia hanya memanyunkan bibirnya.
"Istriku.. wajahmu terlalu cantik untuk cemberut, apa yang kamu khawatirkan cinta?" Tanya Aqiel dengan penuh kelembutan.
"Aku khawatir hati Mas tergerak pada gadis sore tadi." Ucap Alesha menyampaikan apa yang ia khawatirkan.
"Huufftt, mengapa begitu? Istriku unggul dalam segala hal, mengapa di hatinya masih bersarang tidak percaya diri?" Jawab Aqiel tak menyangka apa yang akan disampaikan oleh istri cantiknya itu.
"Lihatlah Mas, dia pandai dan hafal beratus hadist. Bibitnya dari golongan orang yang beriman serta berilmu, lalu bisakah aku tidak mengkhawatirkan hal itu?" Tutur Alesha sendu.
"Lihatlah.. lihatlah.. ! Bahkan malaikat pun tertawa hatinya saat melihat kecantikan bidadari surganya mas. Lalu apa yang harus Mas pandang dari kelebihan-kelebihan wanita lain cinta?" Ucap Aqiel berusaha meredam rasa tidak percaya diri wanita cantik yang kini sudah halal baginya itu.
"Mas, benarkah yang Mas katakan? Itu lucu sekali. Aku hanya manusia biasa, kalau aku memiliki kelebihan di baliknya Allah memberi kekurangan. Apalagi aku juga tidak pandai dan menguasai hadist seperti dia." Tutur Alesha masih dengan Kekalutan nya.
"Begitu rupanya? Kalau begitu.. Dia sangat harus melihat kelebihan mu saat melantunkan ayat-ayat Allah! Betapa menggetarkan jiwa bacaan istrinya mas." Ucap Aqiel jujur dan benar adanya.
"Mas, jangan katakan begitu," ucap Alesha tersipu malu.
"Kelak, jangan ada lagi perasaan khawatir seperti demikian ya cinta. Mas tidak akan berbuat maksiat di luar sana." Tutur Aqiel meyakinkan sang istri.
"Justru itu, aku khawatir mas." Jawab Alesha.
"Karena?" Tanya nya.
"Aku khawatir Mas tidak berbuat maksiat, tapi berbuat yang halal tanpa sepengetahuanku." Jawab Alesha dengan ketakutan nya.
Ya, ada alasan kenapa Alesha mengatakan hal demikian apa yang ia takutkan, setelah Alena melihat kejadian antara Sandra dan suaminya, saat tiba di rumah Alena segera menghubungi Alesha, ia menyampaikan semua apa yang ia dengar dan lihat tanpa terlewatkan sedikitpun. Maka dari itu Alesha juga takut kelak suami tampannya itu akan melihat wanita lain yang lebih darinya diluar sana, atau lebih parah menikah tanpa sepengetahuannya seperti apa yang dirasakan oleh Sandra.
"MasyaaAllah cinta, mas ridho sekali malam ini dengan mu." Goda Aqiel.
"Jangan macam-macam ya mas." Tegas Alesha.
"Meski poligami halal, bidadari Mas ini sangat sayang diduakan. Mas akan memohon kepada Allah agar disatukan denganmu sampai kelak berada di jannah Nya." Jawab Aqiel penuh kesabaran dan kejujuran.
Alesha hanya membalas dengan senyuman, ia sudah cukup puas dengan jawaban sang suami, ia harap semoga Allah selalu melindungi rumah tangga mereka berdua.
.
.
__ADS_1
To Be Continued