
Saat ini Arfa sedang bersiap untuk berangkat ke kampus, hari ini adalah hari yang cukup menegangkan untuk mahasiswa tampan itu, ia tengah mondar-mandir di ruangan dengan warna gelap dan di penuhi dengan aroma maskulin itu.
"Bang Arfa, ayok sarapan, sudah ditungguin sama ibu dan ayah tu." Teriak si bungsu karena Abang satu-satunya nya itu tak kunjung keluar dari kamar.
"Iya duluan aja, bilangin sama ayah dan ibu dek, sebentar lagi Abang nyusul." Balas teriak lelaki yang kini sudah rapi itu dari dalam kamar. Tak berselang lama ia pun telah bergabung bersama kedua paruh baya dan adik nya itu di meja makan.
"Ayo Ar, makan dulu, diisi dulu perutnya, biar nanti menjawab pertanyaan penguji bisa fokus." Ucap ibu Alice melihat anak lelaki pertama nya itu dengan ekspresi tegang.
"Iya Bu," jawab Arfa berusaha menahan kegugupan nya saat ini.
Keluarga ayah Anggara itu kini makan dengan penuh keheningan setelah menggumamkan doa sebelum makan, tak ada suara-suara lagi yang terdengar, hanya dentingan sendok dan garpu saja yang memenuhi ruangan berukuran empat kali lima itu.
Setelah menyelesaikan sarapan nya, Arfa pamit kepada kedua orang tuanya, sebelum ia berangkat ke kampus ternama itu, ia lebih dulu harus mengantarkan sang adik ke sekolah nya.
"Nak, nanti jangan lupa sebelum masuk ruangan minta sama Allah agar dimudahkan urusan, ibu do'akan kamu lancar sidangnya serta lulus dengan nilai terbaik." Tutur Ibu Alice menyemangati sang putra.
"Iya Bu, terimakasih do'a nya Bu." Jawab Arfa dengan senyum terkembang, rasanya setelah mendapatkan restu dan doa membuat lelaki tampan itu percaya diri untuk menghadapi ujian yang sebentar lagi di depan mata.
"Ya sudah, kalau begitu Arfa pamit ya Bu, Ayah, Assalamu'alaikum." Ucap Arfa lalu berangkat dengan unggas besi miliknya yang berwarna hitam itu, tak lupa menyalami kedua orang tuanya dengan penuh takzim.
"Adek juga berangkat ya Ayah, Ibu, Assalamu'alaikum." Ucap sibungsu mencium punggung tangan ayah dan ibu nya dengan penuh takzim.
"Wa'alaikumsalam, hati-hati nak." Jawab ayah dan ibu, setelah itu kedua paruh baya itu bersiap-siap berangkat ke warung sembako milik mereka.
***
__ADS_1
"Mas sudah wangi dan rapi, kelihatan tampan," ucap Alesha melihat pemandangan yang setiap hari kini sudah menjadi prioritas nya itu.
"Terimakasih ya zaujati." Jawab Aqiel, tak biasanya istri cantik nya itu memuji dirinya.
"Tapi, awas aja mas genit di kantor dengan karyawan-karyawan wanita mas." Alesha mengingatkan sambil menatap tajam ke arah sang suami.
"MasyaaAllah istrinya mas kini tengah cemburu," goda Aqiel mencolek dagu sang istri.
"Enggak, siapa yang cemburu." Jawab Alesha mengalihkan pandangannya ke arah samping kanan.
"Kalau nggak cemburu namanya apa dong cinta ku?" Godanya lagi, melihat ekspresi sang istri nya kini, membuat lelaki tampan itu semakin senang menjahilinya.
"Perasaan mas aja, yaudah ayo sarapan, ntar telat." Ucap Alesha berlalu ke meja makan meninggalkan sang suami.
"Tapi mas senang, kalau kamu cemburu sama mas, berarti kamu cinta sama mas." Goda nya lagi.
"Mas ge-er deh, siapa yang cemburu, sekarang kita sarapan ya mas suami, ntar telat gimana." Ucap Alesha segera mengajak sarapan karena tak ingin membahas perihal tadi dengan senyuman kaku.
"Oke-oke mas percaya sama kamu cinta." Jawab Aqiel yang tak ingin membuat istrinya itu nanti ngambek, karena wanita yang tengah kedatangan tamu bulanan pasti mood nya berubah-ubah.
Kini dua pasutri itu sedang menikmati sarapannya, Alesha yang memasak nya sendiri setelah Shubuh tadi, karena kedua asisten rumah tangga mereka izin pulang kampung karena saudara mereka ada yang pesta. Ya, kedua asisten itu adalah adik dan kakak. Jadilah kini Alesha dan Aqiel bersama-sama menjalankan tugas rumah tangga itu.
Setelah sarapan mereka siap-siap berangkat bekerja, seperti biasa Aqiel mengantar kan sang istri ke tempat ia mengajar, walaupun arah kantor dan sekolah berlawanan arah, namun ia tak ingin mengambil resiko jika sang istri harus membawa kendaraan sendiri atau naik taksi, lebih aman jika ia mengantarkan istri tercintanya itu, walupun harus muter jauh-jauh.
"Mas, hari ini Arfa sidang, aku jadi deg-degan deh." Tiba-tiba Alesha mengingat adik pertamanya itu.
__ADS_1
"Kok malah istrinya mas yang tegang, do'akan sidang Arfa lancar cinta, mas yakin Arfa pasti bisa, bukannya kamu bilang adik kamu itu pintar." Jawab Aqiel mengelus tangan sang istri yang kini ia genggam, yang sebelah lagi memegang kemudi.
Iya mas, Aamiin... hanya saja sebagai kakak aku juga ada rasa khawatir, jadi ke bayang dulu aku sidang deh, di cecar dengan berbagai pertanyaan, belum lagi tatapan para penguji yang seperti menusuk sampai menghunus ke jantung, rasanya dulu itu aku sampai mau pingsan, Alhamdulillah aku lulus dengan nilai terbaik." Keluh Alesha mengingat dulu bagaimana ia sidang kelulusan."
"Oh ya? Mas sih yakin saja kamu pasti bisa, dan lulus dengan nilai terbaik, kamu saja dulu selalu juara umum disekolah, nggak salah sih kalau Arfa pasti bakalan ngikutin jejak kamu sayang." Tutur Aqiel mengalihkan kegugupan sang istri karena sang adik yang kini tengah menghadapi sidang skripsinya itu.
"Aamiin Allahumma Aamiin, semoga ya mas. Ntar sore sepulang dari jemput aku, kita beli kado ya mas, aku mau kasih Arfa kado, sebagai apresiasi nya menyelesaikan studi nya selama ini, jadi di hari Minggu kita langsung ketempat ibu." Tutur Alesha yang memang sudah janji akan kerumah kedua orang tuanya.
"Siap istri ku, laksanakan." Jawab Aqiel terkekeh.
"Laksanakan," ucap Alesha mengikuti sang suami juga dengan tawanya.
Tak berselang lama kendaraan roda empat berwarna putih itu tiba juga di halaman sekolah nan besar itu. Ya, Aqiel kini selalu mengantarkan sang istri sampai ke halaman sekolah karena tak ingin istri tercintanya kelelahan jika harus berjalan jauh dari gerbang sekolah.
"Yasudah aku turun ya mas, Assalamu'alaikum ya Jauzi." Ucap Alesha mencium punggung tangan sang suami dengan penuh takzim.
"Wa'alaikumsalam ya Zaujati," jawab Aqiel mencium lama kening sang istri.
Alesha turun dari kendaraan roda empat itu setelah suaminya membukakan pintu mobil, melangkahkan kaki sambil melambaikan tangan, Aqiel baru masuk ke dalam mobil hingga punggung sang istri tak terlihat oleh sepasang netra berwarna coklat itu. Barulah ia menaiki mobil mewahnya itu meninggalkan pelataran sekolah terbesar di Jakarta itu dengan senyuman nya yang mengembang sembari mengingat momen-momen manis dengan sang istri.
.
.
To Be Continued
__ADS_1