Penantian Kekasih Halal

Penantian Kekasih Halal
Penjelasan (1)


__ADS_3

Kini Alesha masih betah di tempat tidur, kepalanya masih teramat pusing, dan mual yang tak kunjung reda juga, membuat tenaga nya rasanya terkuras habis, karena sejak pagi Alesha hanya bolak-balik ke kamar mandi, sampai membuat sang suami khawatir dengan keadaan nya.


"Cinta, ayo kita kerumah sakit, mas khawatir dengan keadaan kamu, dari semalam kamu muntah-muntah seperti ini, wajah kamu juga pucat sekali." tutur nya lembut sambil mengusap kepala sang istri. Namun Alesha hanya diam seribu bahasa, membuat sang suami penuh tanda tanya.


"Cinta, kamu marah sama mas? kenapa dari tadi kamu hanya mendiamkan mas? Apa kamu marah karena semalam mas pulang malam, hhmm?" ucapnya menatap lekat punggung sang istri yang masih betah dengan diamnya.


"Ayo kita berbicara cinta, mas tidak bisa jika kamu mendiamkan mas seperti ini, tolong jelas kan salah mas dimana, kalau karena mas pulang terlambat mas minta maaf istriku, mas tidak ada maksud untuk membuat mu khawatir." ucapnya masih berusaha membujuk sang istri agar mau berbicara dengan nya.


Melihat sang istri hanya mendiamkan kan nya, membuat Aqiel semakin gelisah saja, pasalnya terakhir kali sewaktu sang istri menelfon untuk meminta izin pulang dengan Sandra karena sudah kadung janji dengan sahabat istrinya itu, Alesha masih baik-baik saja. Namun kini sikapnya berubah seratus delapan puluh derajat, pasal nya sejak pernikahan mereka, baru kali ini sang istri mendiaminya seribu bahasa. Aqiel memutar badan sang istri, dan mendapati sang istri tengah menangis.


"Astaghfirullah cinta, kamu kenapa menangis sayang? apa ada yang sakit, atau mas ada salah? Maaf kan mas cintaku," tuturnya mendekap sang istri erat, Alesha yang mendapatkan perlakuan seperti itu tangisnya semakin terisak.


Apakah seorang suami seperti suaminya itu akan tega menodai ikatan suci pernikahan mereka, apa mungkin ia akan mengkhianati sang istri, tapi kenapa sang suami tak mengabari kepulangan nya yang terlambat, terlebih mendengar penuturan teman sesama mengajar nya di khianati oleh sang suami, jadilah pikiran nya kalut sendiri.


"Mas tidak ada yang mau di jelaskan dengan ku," ucapnya akhirnya membuka suara sambil terisak.

__ADS_1


"Menjelaskan apa cinta?" Tanyanya, karena sang istri tak langsung menanyakan perihal yang membuat ia mendiami dirinya.


"Apakah tidak ada yang mas tutupi dari aku?" tanyanya yang masih dengan isakan tangisnya, Aqiel sebenarnya kini kebingungan dengan perubahan sang istri yang tiba-tiba dan mendapatkan pertanyaan seperti itu.


"Benar cinta, tidak ada yang mas tutupi dari kamu, mas tidak berbohong, percaya sama mas ya sayang," Ucapnya mengecup lama kening sang istri yang masih di dalam dekapan nya.


"Apa mas selingkuh di belakang ku?" tanyanya yang tak bisa menyimpan pertanyaan yang memang ingin ia tanyakan dari semalam.


"Astaghfirullah cinta, mengapa istri mas sampai berfikiran sejauh itu, tidak mungkin mas mengkhianati cinta mas sama kamu sayang. Disaat mas mengucapkan ijab qobul, disitu mas telah berjanji di hadapan Allah dan Ayah kalau mas akan setia dengan mu dan tidak akan mengkhianati kamu cintaku." Ucapnya yang kini menangkup kedua pipi sang istri dimana air mata telah membanjiri pipi mulus istrinya. Dia pun menghapus lembut air mata itu dengan kedua tangan nya.


"Ya Allah cinta, maaf kan mas jika membuat kamu khawatir, dan bagaimana kamu tau mas bertemu seorang wanita?" Tanya nya menatap netra sang istri.


"Kenapa? apa mas ketahuan sedang selingkuh dari ku?" tanyanya masih dengan persepsi nya karena tengah cemburu.


"Sekarang coba jawab dulu pertanyaan mas, dimana kamu melihat mas bersama wanita?" tanyanya lembut.

__ADS_1


"Aku semalam ke mall menemani Alena, saat itu aku dan Alena bertemu Sandra di sana, kami memutuskan untuk makan di salah satu restoran di mall itu, di saat aku telah memesan menu makanan, aku melihat mas dengan seorang wanita, kalian seperti nya sangat akrab, jika dia klien mas, kenapa hanya berdua? Bukan kah jika urusan kantor mas Alex akan ikut bersama mas sebagai sekretaris pribadi mas?" tuturnya menjelaskan semua yang ia lihat semalam.


"Astaghfirullah istriku, seperti nya kamu salah paham cinta. Oke mas akan jelaskan semuanya, kamu tolong dengarkan mas baik-baik dan jangan berasumsi yang bukan-bukan dulu, oke istriku?" ucapnya yang kini menggenggam erat jari jemari lentik istri cantiknya itu. Alesha hanya diam tanpa menjawabnya.


"Semalam mas memang bertemu klien di restoran itu, dan ternyata klien mas itu teman semasa sekolah menengah pertama, kami hanya membahas tentang kerja sama perusahaan, dan memang dia berusaha membuka obrolan lain, tapi mas tak terlalu menghiraukan nya. Dan disitu ada Alex, hanya saja mungkin di saat kamu melihat mas dan klien mas itu kenapa mas dan dia hanya berdua, bisa jadi sewaktu Alex permisi ke toilet, karena bajunya sempat ketumpahan minuman oleh salah seorang pelayan. Dan mas sama sekali tidak ada niatan untuk melirik wanita lain apalagi berpikiran sampai selingkuh." Tutur nya menjelaskan, lalu menarik nafasnya dalam.


"Dan kenapa mas pulang malam, setelah selesai meeting dengan klien mas, sewaktu di jalan mas dan Alex melihat gerombolan preman mencegat seorang pria paruh baya di jalanan, mereka menikam bapak itu, sehingga bapak itu mengeluarkan banyak darah dan pingsan. Melihat kejadian itu tentu saja mas dan Alex tidak bisa diam, bukan kah sesama manusia apalagi sesama muslim harus saling tolong menolong. Mas dan Alex segera menghampiri bapak itu, dan ternyata sebelum mereka juga berhasil melukai mas dan Alex, warga disekitar berdatangan menghentikan tindakan mereka. Karena para preman sudah di tangani warga, mas dan Alex segera membawa bapak itu ke rumah sakit terdekat karena beliau sudah banyak kehilangan darah. Sampai dirumah sakit mas harus mengurus administrasi terlebih dahulu dan menghubungi keluarga korban, kebetulan waktu itu anaknya sedang ada di luar kota, mas dan Alex menunggu kedatangan anak dari bapak itu sampai pukul 22.30, barulah mas dan Alex bisa pulang." Ucapnya menjelaskan sedetail mungkin tanpa ada yang terlewat kan.


"Ya Allah mas, jadi bapak itu tidak apa-apa kan mas? Maafin aku ya mas, karena aku telah su'udzon sama mas," ucapnya khawatir dan segera meminta maaf kepada sang suami karena merasa bersalah telah berpikiran yang bukan-bukan.


.


.


.

__ADS_1


To Be Continued


__ADS_2