Penantian Kekasih Halal

Penantian Kekasih Halal
Kedatangan Karin


__ADS_3

Hari ini Alesha berniat ingin kekantor suaminya lagi untuk mengantarkan makan siang, namun urung karena seseorang tiba-tiba mendatangi nya di kediaman rumah mewah nya.


Tok.. Tok.. Tok..!


"Ya, sebentar." ucap Alesha membuka pintu kamarnya.


"Maaf non, itu di bawah ada tamu. Katanya teman non Alesha." ucap mbak Irna.


"Siapa mbak Ir?" tanya Alesha heran. Karena teman-teman nya tidak ada yang mengabari akan kerumah.


"Mbak kurang tau siapa non, baru pertama kali kesini. Dia cuma mengatakan teman mbak Alesha." jawab mbak Irna lagi.


"Tamunya perempuan apa lelaki mbak?" Tanya Alesha mewanti-wanti. Iya tidak akan menerima tamu lelaki jika tidak ada suami nya dirumah.


"perempuan non, kalau begitu mbak kebawah ya non. Mau buatkan minuman buat tamunya non Alesha." pamit mbak Irna.


"Iya mbak, terimakasih ya mbak Ir." ucap Alesha segera menemui tamunya. Namun, sebelum turun Alesha mengabari sang suami bahwa ia akan terlambat datang, karena ada tamu perempuan dirumah mereka.


Saat Alesha menuruni anak tangga, Alesha tak dapat melihat wajahnya, karena wanita itu memunggungi dirinya yang sedang melihat foto pernikahan Alesha dengan Aqiel.


"Assalamu'alaikum, maaf mbak siapa ya?" tanya Alesha karena merasa tak pernah mengenal wanita itu. Wanita itu memutar badannya saat suara Alesha memanggil nya.


"Wa'alaikumsalam, hai Alesha." ucapnya tersenyum.


Deg!


Tiba-tiba saja perasaan Alesha tak nyaman mendapati rekan bisnis sang suami menyambanginya kerumah.


"Maaf, mbak rekan bisnis suami saya kan? Yang waktu itu jumpa di rumah sakit?" tanya Alesha.


"Benar Sha, kamu melupakan aku?" tanya nya pura-pura sendu.


"Maaf, saya tidak bermaksud, silahkan duduk." ucap Alesha mempersilahkan tamunya duduk. Hati Alesha kini bertanya-tanya kenapa wanita ini tiba-tiba datang kerumahnya, dan tahu dari mana ia alamat rumah nya dan Aqiel.

__ADS_1


"Thanks," jawab Karin segera duduk.


"Anda tahu rumah saya dari mana?" tanya Alesha yang memang sudah penasaran.


"Itu tidak penting saya tahu dari mana. Yang jelas ada yang ingin saya sampaikan sama mbak." ucap Karin tiba-tiba saja memanggil Alesha dengan sebutan mbak.


"Panggil saja Alesha, jangan panggil mbak, sepertinya kita seumuran." ucap Alesha canggung.


"Tidak.. Tidak.. Tidak pantas jika aku memanggil mbak dengan nama. Karena sebentar lagi kita akan menjadi satu keluarga." Ucapnya percaya diri dan membuat Alesha kebingungan.


"Maksud kamu? bagaimana kita bisa menjadi keluarga?" tanya Alesha to the point. dadanya kian bertalu-talu. Ingin segera mengetahui apa maksud wanita yang ada di depannya itu.


"Langsung saja ya mbak, dari pada mbak bertanya-tanya. Sebelumnya saya mohon maaf jika saya lancang tiba-tiba datang di kediaman mbak dan Aqiel. Tapi saya kesini hanya ingin meminta restu kepada mbak Alesha." ucapnya menggantung ucapnya.


"Maksud kamu restu apa?" tanya Alesha semakin bingung.


"Izinkan saya untuk menjadi istri kedua Aqiel mbak." ucapnya bersimpuh di hadapan Alesha.


Deg!


"Istri kedua? Apa maksud kamu? sebagai seorang wanita kamu pasti lebih paham, mana ada seorang istri yang ingin dimadu." jawab Alesha tegas. Ia tak akan membiarkan rumah tangga nya hancur begitu saja.


"Mbak, saya sudah meminta secara baik-baik kepada mbak, dari pada saya harus menjadi pelakor dalam rumah tangga mbak dan Aqiel. Mbak wanita paham agama, pasti mbak lebih mengerti mengenai hal ini." ucapnya tanpa perasaan.


Jangankan Alesha yang hanya manusia biasa, seorang wanita Sholehah seperti Siti Fatimah saja tidak ingin dimadu. Bagaimana bisa ia bisa berbagi suami dengan wanita lain. Tak pernah ia bayangkan barang sedetikpun.


"Kenapa kamu menyangkut pautkan dengan wanita yang paham agama, saya hanya wanita biasa. Saya tidak ingin berbagi suami dengan wanita manapun. Jika kamu ada di posisi saya, apa kamu bisa menerima kehadiran wanita lain di dalam rumah tanggamu." tegas Alesha menahan gejolak yang ada di dada. Kenapa rumah tangganya yang adem ayem harus di hadapkan dengan cobaan seperti ini. Perkataan Alesha membuat Karin bungkam, namun hanya sepersekian detik saja.


"Mbak, tolong pikirkan permintaan saya. Saya jamin mas Aqiel akan bersikap adil terhadap kita berdua. Saya sudah sangat lama memendam perasaan kepada suami mu mbak, mbak pasti tahu bagaimana rasanya disaat lelaki yang mbak cintai sudah menikah dengan wanita lain." ucapnya mengeluarkan air mata. Pandai sekali Karin ini berdrama.


"Sayangnya saya tidak pernah mencintai lelaki manapun sebelum saya menikah dengan mas Aqiel. Suami saya adalah cinta pertama saya setelah ijab qobul itu terucap." Jawab Alesha tak gentar sedikitpun. Ia akan mempertahankan keutuhan rumah tangganya.


Sebenarnya kini perut Alesha sudah sangat keram. Apalagi menahan emosi menghadapi wanita yang tiba-tiba saja menyambangi nya, dan mengatakan hal konyol. Namun Alesha berusaha tetap kuat dan setenang mungkin.

__ADS_1


"Anak-anak Umma, tolong kerjasamanya. Yang kuat ya anak-anak Sholeh dan Sholehah." Bathin nya berbicara sembari mengelus perutnya yang sudah membesar.


"Mohon maaf sebelumnya, saya tidak bermaksud untuk kurang ajar kepada anda. Tapi sepertinya apa yang sudah saya sampaikan jelas ditelinga anda, sekarang silahkan tinggalkan rumah ini." Ucap Alesha dingin.


"Brengsek, Awa saja Lo. Gue akan menghancurkan rumah tangga Lo." Bathin Karin berbicara.


"Baik, kalau begitu saya permisi, tolong pikirkan lagi. Atau tidak saya akan mendatangi mas Aqiel kekantor nya dan membuat kekacauan di perusahaan nya itu." Ancam Karin.


Setelah Karin meninggal kediaman nya, Alesha langsung terduduk di sofa panjang itu, mencengkram perut nya yang semakin keram saja.


"Mbak Irna, Mbok Darmi, tolongin Alesha." teriaknya menahan keram pada perutnya.


Mendengar teriakan sang majikan, membuat mbak Irna dan Mbok Darmi tergopoh-gopoh menghampiri.


"Ada apa non?" tanya mbak Irna yang belum mengetahui apa-apa.


"Astaghfirullah, non Alesha kenapa? Aduh mbok harus bagaimana ini?" panik mbok Darmi yang melihat sang majikan kesakitan.


"Mbok, tolong hubungi mas Aqiel, suruh pulang sekarang." Ucap Alesha menahan keram yang semakin melanda.


"Non, mbak harus bagaimana? Kita kerumah sakit ya." bujuk mbak Irna.


"Tidak usah mbak, saya hanya mau ketemu mas Aqiel. Sudah di hubungi mas Aqiel nya?" tanya Alesha, keringatnya juga mulai bercucuran. Mbak Irna menyeka keringat sang majikan.


"Sudah mbok telfon barusan non. tuan sekarang sedang dalam perjalanan." ucap mbok Darmi menjelaskan.


"Mbok ambilkan air hangat dulu ya non." ucap Mbok Darmi, yang di anggukan kepala oleh Alesha.


Kurang lebih empat puluh lima menit Alesha menunggu kepulangan suaminya, akhirnya Aqiel tiba juga di kediaman rumah mewah mereka.


.


.

__ADS_1


To Be Continued


__ADS_2