Penantian Kekasih Halal

Penantian Kekasih Halal
Pendarahan


__ADS_3

Saat Alesha akan menuruni tangga, tiba-tiba saja ia tergelincir dan terhempas di salah satu anak tangga. Perutnya sakit saat itu juga, dan darah segar mengalir ke kakinya. Terlihatlah dari gamisnya nya yang berwarna pink kini sudah menjadi merah. Ia meremas perutnya dan teriak memanggil sang suami.


"Mas, Mas perut aku sakit. Tolongin aku mas." teriaknya sembari memegang perutnya.


Mbok Darmi yang akan membersihkan lantai bagian atas terkejut melihat sang majikan tengah kesakitan dan darah segar sudah mengalir di kakinya.


"Astaghfirullah non, ya Allah, ini mbok harus bagaimana." paniknya tak tahu harus bagaimana.


Ia celingak-celinguk mencari orang dirumah. Suaranya tertahan karena syok melihat darah segar itu.


"Tolong, siapapun tolong, tolongin mbak Alesha." teriaknya sekuat tenaga, tak tahu harus memanggil siapa. Mama Selly yang mendengar teriakan sang art segera menghampiri.


"Ada apa mbok? Astaghfirullah sayang, kamu kenapa sayang?" tanya nya panik.


"Mbok kenapa dengan menantu saya?" paniknya, sang anak juga tidak ada dirumah, karena sedang keluar kota untuk melihat proyek yang ada di luar kota.


"Saya tidak tahu nyonya, saat saya menaiki tangga, saya sudah melihat non Alesha seperti ini." jawabnya cemas.


"Pa, papa.. Tolong menantu kita pa. Kita harus kerumah sakit. Cepat pa, mama tidak mau menantu dan calon cucu-cucu kita kenapa-kenapa, mama mohon pa cepat." Teriaknya.


Mama Selly terus memanggil sang suami dan berdo'a untuk keselamatan menantu dan calon cucu-cucu nya. Melihat sang menantu sudah terlihat lemah, membuat mama Selly meneteskan air mata.


"Ya Allah, Allahuakbar. Kenapa dengan Alesha ma? Ayo kita bawa kerumah sakit." ujar Papa Roy yang baru saja tiba, berusaha tenang agar sang istri tidak panik.


Papa Roy menggendong sang menantu menuju luar rumah. Tadinya mama Selly dan papa Roy memang mau pergi ke acara rekan bisnisnya. Namun sekarang tidak mungkin mereka pergi, karena keadaan sang menantu sudah sangat lemah.


"Ma buka pintu belakang. Bibi coba segera telfon anak saya. Katakan Alesha dibawa ke rumah sakit karena pendarahan." ujar Papa Roy. Mama Selly segera membuka pintu belakang. Setelah itu ia duduk disamping sang anak. Sedangkan papa Roy duduk di kursi kemudi. Ia melajukan kendaraannya dengan kecepatan yang cukup tinggi.

__ADS_1


"Ma, sakit ma. Mas Aqiel mana ma. Aku mau sama mas Aqiel ma." Racaunya. Melihat sang menantu kesakitan, mama Selly tak henti mengeluarkan air mata. Sakit rasanya melihat keadaan sang menantu dimana suaminya kini sedang dalam perjalanan keluar kota.


Sebenarnya sebelum sang suami pergi, Alesha memang merasa sudah tidak nyaman dan punya firasat yang tidak baik. Namun ia mencoba menepis perasaan itu. Tiba-tiba saja tadi saat ia akan menuruni anak tangga, ia tergelincir dan sedikit terhempas disalah satu anak tangga, untung saja Alesha memegang pinggir tangga itu, jika tidak bisa saja hal yang lebih fatal terjadi padanya.


"Sabar sayang, kita sekarang sedang menuju rumah sakit. Suami kamu nanti coba mama hubungi lagi ya nak. Kamu harus kuat sayang. Kamu harus kuat demi anak-anak kamu dan juga suami kamu sayang." ucap mama Selly menenangkan sang menantu. Ia tidak tahu lagi harus mengatakan apa.


"Ma, aku tidak mau terjadi apa-apa pada calon anak-anak ku ma. Mereka akan baik-baik saja kan ma." racaunya. Ia menahan sakit yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.


"Ingat selalu Allah nak, ayo istighfar. InsyaaAllah Allah akan menjaga kamu dan calon anak-anak kamu sayang." tuntun mama Selly.


Alesha terus beristighfar sepanjang perjalanan. Matanya juga mulai sayu, namun Alesha berusaha tetap membuka matanya. Ia takut jika nanti ia menutup matanya, ia tak bisa lagi bertemu dengan suami dan anak-anak nya. Itu yang sekarang ada dalam pikirannya.


"Pa, cepat pa. Mama tidak sanggup melihat Alesha kesakitan pa." ujar mama Selly.


"Sabar ma, jalanan juga macet. Terus memohon kepada Allah untuk keselamatan menantu dan calon cucu-cucu kita ma." jawab papa Roy tetap tenang.


Ya, jalanan ibukota Jakarta saat ini lumayan macet. Papa Roy mengambil jalan tikus agar segera sampai. Kurang lebih lima belas menit lagi mereka akan tiba dirumah sakit tempat biasa Alesha cek kandungan nya.


Papa Roy tak lagi menanggapi, ia fokus mengendarai kendaraan roda empat miliknya. Jika ia ikutan panik, takutnya malah mereka semua yang akan celaka. Ternyata gerimis mulai turun. Untung saja perjalanan menuju rumah sakit tak jauh lagi. Saat melihat gerbang rumah sakit, betapa leganya hati papa Roy.


"Alhamdulillah ma, kita sudah sampai. Mama tunggu sebentar, papa akan panggil kan petugas rumah sakit." ucap papa Roy berlari memanggil petugas rumah sakit.


"Tolong dok, sus, menantu saya pendarahan." teriak papa Roy di lorong rumah sakit. Para dokter dan suster datang membawa brankar. Alesha di naikkan ke atas brankar di temani mama Selly dan papa Roy.


"Bapak dan ibu tunggu disini dulu. Saya akan memeriksa pasien. Semoga tidak ada hal serius yang akan terjadi pada pasien dan calon bayinya." ucap sang dokter. Papa Roy dan Mama Selly menunggu di ruang tunggu.


"Baik dok." jawab Mama Selly. Tangan nya sudah dingin dan gemetaran. Takut terjadi sesuatu kepada menantu dan calon cucu-cucu nya.

__ADS_1


"Ma, coba hubungi besan kita, papa akan hubungi Aqiel kembali." ujar Papa Roy yang di anggukkan kepala oleh mama Selly.


Kini mama Selly mencoba menghubungi besannya. Alhamdulillah segera diangkat diseberang sana. Saat ibu Alice mengangkat telfon, dan mama Selly memberikan kabar tentang sang menantu. Betapa terkejutnya ibu Alice. Ia pun bersama suami dan anak-anak nya segera menuju rumah sakit.


"Aduh nak, kamu sudah dimana. Kenapa belum juga mengangkat telfon papa." gumamnya seorang diri.


"Bagaimana pa? Sudah diangkat oleh anak kita?" tanya mama Selly.


"Belum ma, coba papa telfon sekali lagi." Jawab papa Roy. papa Roy mencoba menghubungi sang anak sekali lagi. Alhamdulillah di angkat juga oleh Aqiel.


(Halo pa, kenapa pa? Maaf baru Aqiel angkat, soalnya handphone Aqiel tadi silent, jadinya Aqiel tidak tahu kalau papa telfon.)


(Segera kamu kembali ke Jakarta, istri kamu sekarang dibawa ke rumah sakit karena pendarahan. Sekarang Alesha sedang ditangani oleh dokter.)


Deg!


Mendapat kabar tak baik itu, Aqiel mematikan sambungan telfon nya tanpa banyak bertanya lagi. Ia kembali saat itu juga ke Jakarta. padahal perjalanan nya sudah hampir tiba. Namun keselamatan istrinya lebih yang utama.


Sebenarnya Aqiel juga berat meninggalkan istrinya dirumah. Ada perasaan yang mengganjal di hatinya, sama dengan Alesha. Namun, karena pekerjaan nya tak bisa di wakili, maka ia menepis rasa khawatir nya itu.


Tak lama ibu Alice, Ayah Anggara, Arfa dan sibungsu Alfa sudah tiba dirumah sakit. Terlihat raut wajah khawatir pada mereka semua.


"Bu, bagaimana dengan putri saya? apa yang terjadi?" tanya ibu Alice khawatir.


"Alesha pendarahan Bu, cerita jelasnya saya juga kurang tahu bu. yang pasti tadi mbok Darmi teriak meminta tolong. Saat saya hampiri ternyata Alesha sudah pendarahan di dekat tangga. Dan sekarang Alesha sedang ditangani oleh dokter di dalam." jelas mama Selly. Ia tahu bagaimana perasaan besan nya saat ini. Sama dengan nya, mereka sama-sama memiliki kekhawatiran yang cukup besar.


.

__ADS_1


.


To Be Continued


__ADS_2