Penantian Kekasih Halal

Penantian Kekasih Halal
Kelahiran Bayi Amora


__ADS_3

"Kenapa sayang? Itu apa yang mengalir sayang?" tanya Zain panik?


"Perut aku sakit mas," Jawab Amora memegang perutnya, air ketuban nya juga sudah pecah dan mengalir di kakinya, terlihat gamis yang dikenakan Amora basah.


"Astaghfirullah, jangan-jangan istri kamu mau melahirkan nak." ucap ibu Alice kepada menantunya.


"Ya Allah, jika benar aku akan membawa istriku ke rumah sakit Bu." ucap Zain segera menggendong istrinya. Seketika semua yang ada disana panik.


"Ibu ikut nak, ayo kita bawa istri kamu kerumah sakit, ayo yah seperti nya anak kita mau melahirkan." ucap ibu kepada menantu dan suaminya.


Kini Zain telah menggendong istrinya menuju parkiran diikuti ayah dan ibunya.


"Mas, ayo kita juga ikut kerumah sakit, aku khawatir sama kak Amora." ucap Alesha kepada sang suami.


"Ayo cinta," jawab suaminya.


"Kak, adek ikut ya. Adek juga khawatir sama kak Amora." ucap sibungsu.


"Adek sama Abang saja, ayo." ucapnya. Akhirnya mereka semua pun menyusul Zain dan Amora kerumah sakit. Kini mereka semua sedang di dalam perjalanan menuju rumah sakit.


"Ya Allah, selamat kan lah kakak dan calon keponakan ku." gumamnya yang masih di dengar oleh sang suami.


"Aamiin Ya Rabb." doa Alesha diaminkan oleh sang suami.


Kurang lebih tiga puluh menit, mobil Zain tiba juga dirumah sakit. Kemudian di susul oleh mobil Aqiel dan mobil Arfa. Zain segera membawa istrinya keruang bersalin.


"Dok, sus, tolong istri saya, seperti nya istri saya mau melahirkan." ucap Zain berteriak di lorong rumah sakit itu.


"Mari pak, langsung saja bawa ibu keruang bersalin." ucap salah satu perawat.


Sesampainya di ruang persalinan, dokter segera memeriksa Amora. Benar saja Amora sudah masuk bukaan dua.


"Suaminya ibu Amora." ucap dokter kandungan.


"Saya dok, bagaimana istri saya? Apakah istri saya sudah akan melahirkan?" tanya Zain kepada sang dokter.


"Benar pak. Ibu Amora sudah memasuki bukaan dua. Silahkan bapak sebagai suami mendampingi istri bapak di dalam." ucap dokter kandungan itu.


"Ayah, ibu, mohon doakan istri Zain lancar persalinan nya ya. Zain dampingi Amora dulu di ruang persalinan." ucap Zain memohon doa kedua mertuanya.


"Iya nak, ibu sama ayah pasti mendoakan demi kelancaran persalinan istri kamu." jawab ibu Alice. Akhirnya Zain segera memasuki ruang persalinan.

__ADS_1


Alesha yang duduk diruang tunggu bersama suami dan keluarga nya juga sangat tegang, terlihat dari keringat nya yang bercucuran dan tangan nya yang dingin saat di genggaman sang suami.


"Cinta, kamu berdo'a yang banyak untuk keselamatan kak Amora. Jangan panik ya sayang." ucap Aqiel mengelus tangan sang istri demi memberikan ketenangan dan ia juga membantu mengelap keringat istrinya.


"Iya mas, aku hanya deg-degan saja. Bagaimana ya mas nantinya jika aku melahirkan. Semoga aku bisa melahirkan normal ya mas." ucap Alesha.


"Aamiin Allahumma Aamiin, semoga ya cinta, semoga kamu bisa melahirkan normal." jawab suaminya.


Sedangkan ayah Anggara terlihat tenang, dan setia duduk disamping istrinya.


"Kak, kak Amora mau melahirkan ya?" tanya sibungsu.


"Iya sayang, do'akan persalinan kak Amora lancar ya, keponakan Alfa selamat dan juga sehat, begitupun dengan ke Amora." ucap Alesha mengelus kepala adiknya itu.


"Iya kak, Aamiin." jawab sibungsu.


Di ruang persalinan, kini Amora tengah berbaring, ia merasakan sakit yang luar biasa, padahal belum proses melahirkan. Dokter masih menunggu bukaan terakhir.


"Mas sakit." lirih sang istri.


"Istighfar sayang, sebut nama Allah banyak-banyak." Ucap Zain di telinga istrinya. Amora pun menuruti perintah sang suami. Ia beristighfar sembari mengingat Allah.


"Alhamdulillah dok, pembukaan pada ibu Amora sudah sampai pada bukaan terakhir." ucap salah seorang perawat yang melihat jalannya bukaan.


"Tarik nafas dalam-dalam lalu keluarkan perlahan." perintah sang dokter. Amora pun melakukan nya. Iya juga merasakan sakit yang teramat hingga berteriak cukup kuat dan mencengkram tangan suaminya dengan kuat.


"Bapak Zain terus tuntun istrinya untuk selalu beristighfar dan mengingat Allah." ucap sang dokter tetap tenang. Zain pun melakukan apa yang di katakan dokter kandungan itu.


Nampak keringat Amora bercucuran, Zain pun membantu mengelap keringat sang istri, ia juga tak tahan melihat sang istri kesakitan. Andaikan bisa rasa sakit melahirkan diganti kan pada dirinya. Ia ingin sekali mengganti kan rasa sakit itu.


"Alhamdulillah kepala bayinya sudah mulai keluar Bu. Terus dorong perlahan Bu." ucap sang dokter.


"Mas, aku sudah nggak kuat." ucap Amora lemah.


"Sayang kamu harus kuat. Ayo sedikit lagi, kamu pasti bisa sayang." ucap Zain menyemangati istrinya.


"Jangan biarkan ibu Amora sampai menutup matanya ya pak, terus ajak ibu Amora berbicara. Jangan sampai ibu Amora kehilangan kesadarannya." ucap sang dokter memberikan arahan.


"Mas, jika nanti aku tidak selamat, tolong jaga anak kita ya mas." ucap Amora yang memang sudah sangat lemah sekali.


"Jangan berbicara begitu sayang. Kamu akan baik-baik saja, begitupun buah hati kita. Kamu pasti bisa, sedikit lagi bayi kita akan lahir, kalian berdua harus selamat." ucap Zain menguatkan istirnya, ia juga meneteskan air mata. Tak menyangka begitu besar perjuangan seorang istri yang memperjuangkan kelahiran anak mereka.

__ADS_1


Hua..! Hua..!


Terdengar suara tangisan bayi. Akhirnya buah cinta Amora dan Zain lahir juga. Suster segera membersihkan bayi mungil itu sebelum diserahkan kepada ibunya.


"Alhamdulillah, terimakasih sayang. Kamu sudah berjuang untuk melahirkan anak kita." ucap Zain mengecup kening istrinya.


"Selamat ya pak, Bu. Anaknya laki-laki, sehat dan tak kurang suatu apapun." ucap dokter memberikan selamat kepada pasangan suami istri itu.


"Terimakasih dok." ucap Zain. Sedangkan Amora masih terlihat lemah. Ia menitikkan air mata bahagia karena sudah melahirkan buah cinta yang selama ini ia dan suaminya tunggu. Begitu pun dengan keluarganya serta keluarga suaminya yang telah menunggu kelahiran buah hati mereka.


Diluar ruang bersalin. Semuanya terlihat lega karena sudah mendengar tangisan bayi yang selama ini di nanti akhirnya lahir juga.


"Alhamdulillah ayah, cucu kita sudah lahir." ucap ibu Alice yang mendengar suara tangisan sang bayi.


"Iya Bu, alhamdulilah." jawab ayah Anggara mengelus bahu Istrinya.


"Mas, Alhamdulillah keponakan kita sudah lahir. Aku bahagia banget mas." tutur Alesha memeluk suaminya.


"Iya sayang, selamat ya akhirnya kamu menjadi aunty." jawab sang suami yang membalas pelukan Istrinya.


"Alhamdulillah, Alfa akan jadi paman kecil." teriak Alfa bahagia.


"Iya dek, adek akan jadi paman kecil." jawab Arfa yang juga bersyukur karena keponakan nya lahir dengan selamat.


Sang dokter tampak keluar dari ruang persalinan.


"Dok, bagaimana anak dan cucu saya?" tanya ibu Alice.


"Alhamdulillah persalinan berjalan dengan lancar Bu. Cucu ibu berjenis kelamin laki-laki dan sehat walafiat." ucap dokter tersenyum.


"Alhamdulillah." jawab semuanya.


"Selamat ya pak, bu, atas kelahiran cucunya. Sepertinya ini cucu pertama ya Bu?" tanya sang dokter.


"Iya dok, ini cucu pertama kita." jawab ibu Alice.


"Sekali lagi selamat, setelah ibu Amora dan bayinya di pindahkan keruang perawatan baru bisa di jenguk. Kalau begitu saya permisi. Assalamu'alaikum." ucap sang dokter.


"Baik dok, Wa'alaikumsalam." jawab ibu Alice.


.

__ADS_1


.


To Be Continued


__ADS_2