Penantian Kekasih Halal

Penantian Kekasih Halal
Rumah Baru (2)


__ADS_3

Mereka kembali berpindah ke ruang keluarga, mengobrol santai melepas rindu karena sudah seminggu tidak berjumpa, biasanya mereka selalu melihat senyuman Alesha, kini mungkin hanya akan sesekali bertemu.


Tak terasa kini waktu sudah menunjukkan pukul 16.30 sore, kedua orang tua Alesha dan kedua adiknya pamit pulang setelah melaksanakan shalat Ashar berjama'ah.


"Kami pulang dulu ya nak, titip putri Ayah ya," ucap ayah Anggara kepada menantu nya itu.


"Iya ayah, ayah tenang saja, Aqiel pasti menjaga Putri Ayah dengan baik." Jawab Aqiel meyakinkan mertuanya itu.


"Alhamdulillah kalau begitu, ayah dan ibu tenang mendengar nya." Ucap ayah Anggara lega.


"Ibu pulang dulu ya nak, kamu harus jadi istri yang baik untuk suami mu, layani suamimu dengan baik," nasehat sang ibu kepada putri keduanya itu.


"Insyaa Allah Bu, Alesha akan selalu ingat nasehat ibu." Jawab Alesha tersenyum.


"Kakak, bang Aqiel, adek pulang dulu ya, kapan-kapan adek datang lagi kesini." Ucap sibungsu menatap kakak dan Abang iparnya secara bergantian.


"Siap jagoan," jawab Aqiel mewakili sang istri sambil mengacak-acak rambut sibungsu dengan sayang.


"Kak, bang, Arfa pulang dulu ya," ucap nya sambil menyalami kakak dan Abang iparnya nya itu dengan takzim, begitupun dengan Alfa.


Alesha, Aqiel dan Alex pun menyalami kedua orang tua paruh baya yang tak lain kedua orang tua Alesha dengan penuh takzim.


"Assalamu'alaikum," kata semuanya.


"Wa'alaikumsalam," jawab Alesha, Aqiel dan Alex bersamaan.


Mobil yang dikendarai Arfa meninggalkan pelataran rumah mewah pasutri itu sambil melambaikan tangan, Alesha dan Aqiel pun membalas lambaian tangan keluarga nya hingga tak terlihat dari netra mereka.


"Lo nggak pulang," ucap Aqiel kepada sahabatnya itu, yang sepertinya masih betah di sana.


"Lo ngusir," ucap Alex menatap Aqiel geram.


"Nah, tu Lo tau, gue perlu privasi dengan istri gue, kita juga perlu istirahat." Ucap Aqiel masa bodo.


"Kurang asem Lo, Sha bilangin ni sama suami bucin Lo, gue juga bakalan pulang, gue tau diri kali, nggak perlu di usir." sindir Alex menatap geram sang sahabat.


"Cinta, bilangin sama Alex, bagus deh kalau dia sadar diri," ucap Aqiel dengan lembut kalau bicara dengan istri nya itu.


"Dasar bucin, giliran sama istrinya aja lembut banget, giliran sama orang lain dingin banget," gumam Alex seorang diri.


"Ngomong apa Lo barusan," ucap Aqiel menatap tajam sang sahabat.


"Kayak ada yang ngomong, " ucap Alex sambil melirik ke kanan dan ke kiri, mengacuhkan sang sahabat.


Alesha yang melihat kelakuan dua sahabat itu hanya bisa geleng-geleng kepala, mereka kalau sudah bertemu selalu saja seperti tikus dan kucing. Walau sebenarnya saling perduli, tapi selalu gengsi satu sama lain.


"Yaudah gue pulang ya Sha, lama-lama rumah Lo angker, hati-hati Lo Sha, Assalamu'alaikum," ucap Alex sambil bergidik lalu menaiki kendaraan roda empat warna hitam metalik miliknya, meninggalkan pelataran rumah yang cukup mewah itu.


"Wa'alaikumsalam," jawab Alesha.


"Mas, kalian kalau bertemu kenapa sih selalu ribut," tanya Alesha tak habis fikir dengan suami serta sahabat suaminya. Sembari mereka memasuki rumah, Aqiel merangkul bahu sang istri menuju kamar milik mereka yang berada di lantai 2.


"Biasa sayang mas kalau sama Alex ribut, kalau nggak gitu, nggak asik," jawaban Aqiel diluar nalar.


"Ada-ada saja kalian," ucap Alesha geleng-geleng kepala.


Kini pasutri itu sudah berada dikamar milik mereka.


"Mau istirahat cinta? kamu pasti capek kan?" Tanya Aqiel dengan lembut. Kini mereka duduk di sofa kamar milik mereka dengan nuansa putih sesuai warna kesukaan Alesha.


"Lumayan mas, tapi kan nggak baik tidur selepas ashar," jawab Alesha sambil bersandar di bahu sang suami.


"Yasudah, sini mas pijitin," ucap Aqiel meraih tangan sang istri lalu memijit nya.


"Nggak usah mas, mas pasti juga capek kan," ucap Alesha tak enak hati dengan sang suami.


"Demi istri tercinta mas nggak akan capek." Ucap Aqiel menatap dengan lekat netra wanita cantik dihadapan nya itu.

__ADS_1


Cup cup cup cup


Tiba-tiba Aqiel mencium setiap inci wajah sang istri, tanpa terlewatkan satupun.


"Ih.. mas selalu begitu," ucap Alesha bersungut-sungut.


"Habisnya kamu bikin mas gemas cinta, makanya jangan gemas-gemas apalagi cantik seperti ini, kalau nggak mau mas makan," goda sang suami.


"Mas mulai deh, ini masih sore." Ucap Alesha paham maksud dari sang suami.


"Kalau ntar malam, berarti boleh dong?" tanya nya menaik-turunkan alisnya.


Alesha hanya menganggukkan kepalanya malu.


"Mas, aku mandi dulu ya, udah gerah." Ucap Alesha segera beranjak dari tempat tidur nya.


Aqiel segera menangkap tangan sang istri yang sudah mulai beranjak menuju kamar mandi, sehingga Alesha terjatuh di pangkuan suami bucinnya itu.


"Mas, aku mau mandi," ucap Alesha mulai merasakan debaran di dada. Ia selalu saja masih berdebar jika terlalu intim dengan sang suami.


"Mandi berdua aja gimana cinta," goda sang suami, dia paham kalau istrinya malu, tapi dia selalu saja senang menggoda istri cantiknya itu.


"Enggak deh, yang ada nggak kelar-kelar mandinya sampai magrib nanti, aku sendiri aja." Ucap Alesha sambil melepaskan diri, lalu segera masuk ke kamar mandi.


Aqiel hanya tertawa melihat tingkah lucu sang istri, setiap tingkah sang istri selalu berhasil membuat mood nya semakin baik, dan cintanya semakin besar setiap detiknya.


Aqiel pun melangkahkan kakinya ke kamar mandi yang lain, agar nanti sang istri selesai, dia juga sudah siap, karena waktu sudah hampir menunjukkan waktu magrib.


***


Kini kedua pasutri itu sedang melaksanakan shalat magrib berjama'ah, Aqiel yang mengimami sang istri, selepas salam lanjut zikir dan berdo'a kepada Yang Maha Kuasa, bersyukur setiap saat karena sudah dipersatukan oleh Allah SWT. 


Setelah nya seperti biasa Alesha mencium tangan sang suami penuh takzim, dan Aqiel selalu mengecup ubun-ubun istrinya dengan sayang.


Kini pengantin baru itu melanjutkan untuk mengaji, suara mereka sama-sama terdengar merdu dan menggetarkan jiwa bagi siapapun yang mendengar nya, mereka mengaji hingga menjelang waktu isya, saat terdengar azan isya, pasutri itu menghentikan aktivitas mengajinya, dilanjutkan dengan salat isya berjamaah.


Kini pasutri itu menuju dapur, untuk mengisi perut mereka. Sebelum itu mereka harus masak terlebih dahulu, IRT mereka sudah pulang sejak sore tadi, atas permintaan Aqiel mereka hanya dipekerjakan hingga sore, karena Aqiel ingin waktunya dari sore hingga malam khusus waktu berdua dengan sang istri, mereka perlu privasi di rumah itu.


"Hari ini biar mas yang masak cinta," ucap Aqiel serius.


"Mas yang masak?" Beo Alesha.


"Iya sayang, mas yang masak, kamu nggak yakin suami mu ini bisa masak?" Tanya Aqiel dengan lembut.


"Bukan begitu mas, tapi kan aku istri mas, aku harus melayani mas, jadi izin kan aku yang masak ya," ucap sang istri sambil mengerjap-mengerjapkan matanya yang bulat.


"Aduh sayang, kamu jangan lucu-lucu dong, mas kan gemas," ucap Aqiel terkekeh.


"Mas.. mulai deh, emang aku bayi," ucap Alesha menggembung kan mulutnya, terlihat semakin gemas saja dimata sang suami.


"Habisnya mas nggak tahan kalau lihat kamu begini, yang ada kita nggak jadi makan nanti," goda sang suami.


"Mas..." Ucap Alesha memukul dada bidang sang suami pelan.


"Iya sayang, kamu kalau begitu bukannya seram, tapi makin tambah lucu." Godanya lagi.


"Mas ih, nggak tau ah," ucap Alesha ngambek, ia berjalan ke meja makan sambil melipat kedua tangannya dengan mulut yang menggembung.


"Iya-iya cinta, mas hanya bercanda," ucap nya sambil mengacak rambut sang istri dengan sayang.


"Yaudah, sekarang izinkan mas yang melayani istri cantik mas ini, oke? Nurut ya sama suami." Tutur Aqiel dengan sabar.


"Iya deh, aku nurut sama mas," ucap Alesha.


"Nah gitu dong, sekarang tuan putri duduk tenang, chef Aqiel akan menyiapkan makanan terlezat untuk tuan putri." Ucap Aqiel dengan senyuman yang lebar.


Kini Aqiel sedang bertempur dengan alat masak, menyiapkan bahan-bahan yang akan ia masak untuk istri tercinta, Alesha hanya memperhatikan suaminya itu dari meja makan, karena suaminya tak mengizinkan sang istri ikut membantu.

__ADS_1


"Makan sudah siap tuan putri, ayo dicoba," ucap Aqiel tersenyum.


"Mas juga dong, ayo sini duduk," ucap Alesha sambil menepuk-nepuk kursi yang ada disebelah nya.


Ya, Aqiel hanya menyiapkan satu porsi untuk mereka, tapi satu porsi mereka cukup untuk berdua, Aqiel memang selalu ingin makan sepiring berdua dengan sang istri, katanya biar selalu romantis, hihihi.


Setelah menggumamkan do'a, mereka langsung menyantap makanan itu. Aqiel menyuapi sang istri, setelah itu ia menyuap ke mulutnya sendiri.


Baru beberapa suap mereka makan, terdengar bel dari dalam, ternyata sepupu-sepupu Aqiel yang ada di Jakarta datang malam-malam begini, jadilah mereka gagal makan romantis berdua.


Hingga menunjukkan pukul 10.00 malam, mereka baru pamit pulang. Mereka mengantar kan sepupu Aqiel yang kini juga menjadi keluarga Alesha ke depan pintu. Hingga kendaraan mereka meninggalkan pelataran rumah mereka hingga tak Terlihat oleh mata.


Setelah itu mereka menuju ke lantai atas, tepatnya kamar milik mereka, Alesha seperti biasa membersihkan dirinya, menggosok gigi, serta mengganti pakaiannya dengan baju tidur, lalu memakai serangkaian skin care. Begitupun dengan Aqiel.


"Hhhuhhff..." Terdengar helaan nafas sang istri.


"Cinta, bagaimana masakan Mas tadi? Kamu suka?" Tanya sang suami.


"Iya mas, suka," ucap Alesha tapi dengan raut wajah cemberut.


"Hhmm... Lalu, apa yang membuat wajah bidadari surgaku cemberut?


Alesha hanya menekuk wajahnya.


"Kemari lah, mas peluk. Maaf kan sepupu-sepupu mas ya cinta, harusnya kita menikmati makan malam berdua, tapi siapa sangka mereka mampir sekaligus ramai, Mas juga tidak menduga itu cinta." Ucap Aqiel dengan tenang.


"Iya mas, tidak apa-apa," ucap Alesha tersenyum.


"Hhaahh.. benarkah?" Tanya sang suami.


"Iya mas," jawab Alesha.


"Kamu tau tidak? Hati mas sakit sekali malam ini," ucap Aqiel menangkup kedua pipi sang istri.


"Mengapa mas?" Tanya sang istri.


"Ada wajah yang masam dan senyuman yang hilang, berbeda seperti malam-malam biasanya," ucap Aqiel tak kalah cemberut.


"Mas, bisa saja menggoda nya," ucap Alesha terkekeh.


"Nah, seperti itu kan cantik cinta, berjanjilah senyuman itu tidak akan pernah hilang dari wajahmu saat berhadapan dengan suamimu cinta, bisa?" Ucap Aqiel dengan penuh kelembutan.


"Mas, Mas mau membebani tanggung jawab itu seumur hidupku maksudnya? Lalu, bagaimana saat perasaanku bila suatu waktu merasa sedih? Apakah harus tetap tersenyum? Bukankah munafik sekali bila sedih tapi aku tidak menangis? Hhmm?" Tutur Alesha menyampaikan isi hatinya.


"Ah istriku, jangan terus membuatku cemburu pada malaikat-malaikat langit sayang." Ucap Aqiel merayu istrinya.


"Mengapa demikian Mas?" Tanya sang istri dengan wajah polosnya.


"Karena kecerdasanmu dalam bermain kata selalu membuat malaikat-malaikat langit ikut jatuh cinta pada wanita sholehah sepertimu cinta, bukankah mas akan sangat tidak rela bila kamu dicuri oleh malaikat." Ucap Aqiel lagi.


"Mas, Wallahi aku hampir malu karena setiap malam kewalahan dengan rayuan Mas." Ucap Alesha mencebikkan bibirnya.


"Kamu punya wajah yang cantik, punya suara yang bisa menggetarkan jiwa saat melantunkan ayat-ayat Allah, punya ketakwaan yang luar biasa pula pada suamimu. Lalu, apa yang membuatmu malu cinta?" Tutur Aqiel yang selalu berhasil membuat sang istri tersenyum lebar.


"Aku malu karena mas selalu mendoakan ku menjadi ratunya bidadari surga. Sedangkan aku masih sering merasa tidak ridho dengan mas dalam hal kecil. Bukankah tuntutan Allah kelak juga dibatalkan?" Ucap Alesha masih menekuk wajah cantiknya.


"Maka dari itu, Mas tahu Mas banyak kekurangan dalam membahagiakanmu, bila rasa tidak ridho mu itu terobati dengan kelembutan dan rayuan Mas, bukankah tuntutan Allah kelak juga dibatalkan?" Ucap Aqiel mengelus kepala sang istri dengan sayang.


"Mas, sudahkah Mas hari ini ridho denganku?" Tanya sang istri yang kini menatap netra suaminya itu.


"Mas ridho cinta, Mas mencintaimu karena Allah. Semoga Allah tetap menyelimuti kita dengan rahmat Nya." Ucap Aqiel sembari mengecup kedua tangan sang istri yang kini di dalam genggaman nya.


"Aku mencintaimu sampai surga Ta'ala." Tutur Alesha tersenyum lebar.


Aqiel lalu mendekap badan mungil sang istri, lalu mengajaknya untuk mengistirahatkan diri.


.

__ADS_1


.


To Be Continued


__ADS_2