
Terima..! Terima..! Terima..!
Lagi-lagi para pengunjung yang ada di bandara itu bersorak agar parisya menerima lamaran Alex.
"Aku nggak bisa menerima lamaran mas Alex sekarang." ucapnya. Alex yang mendengar jawaban tidak dari parisya, membuat kakinya seketika lemas.
"Maksud aku, aku nggak bisa menerima lamaran mas Alex tanpa persetujuan ibu dan ayah ku. jika mas Alex serius ingin menjadikan aku istri mas Alex. Datanglah kerumah kedua orang tua ku, utarakan niat mas Alex barusan, langsung di hadapan ayah ibuku. Jika mas Alex benar-benar serius dengan perasaan mas Alex terhadap ku." ucapnya dengan menahan debaran di dada.
Mendengar jawaban Parisya, membuat orang-orang yang menyaksikan lamaran dadakan itu bertepuk tangan serta bersorak bahagia, mereka turut bahagia dengan momen manis itu.
Alex yang tadinya sudah lemas duluan mendengar penuturan Parisya, seketika ia bangkit dan bersorak gembira. Melompat-lompat kesenangan karena niat baiknya diterima oleh Parisya. Hampir saja ia memeluk Parisya jika Aqiel tidak menarik kerah baju belakang nya.
"Maksud kamu, kamu menerima lamaran aku Sya?" tanya nya mengangkat kepalanya, menatap wanita yang ada di hadapan itu.
"Insyaa Allah aku menerima niat baik mas Alex. tapi semuanya aku serahkan kepada ayah dan ibuku. Aku harus sampai kan terlebih dahulu kepada ayah ibu jika mas Alex serius dan ingin melamar ku. Jika ayah ibuku menyetujui nya, nantinya mas Alex akan aku kabari kapan hari yang tepat untuk mas Alex datang bersama keluarga.
Seketika Alex ingin memeluk Parisya karena saking senangnya dengan jawaban calon kekasih halalnya itu.
"Eits, mau ngapain lo Lex? Lo itu bukan mahramnya Parisya, jangan main peluk-peluk saja dong, sabar bro, halalin dulu tuh calon Kekasih Halal lo." ucap Aqiel, membuat Alex menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Hehe, maaf.. Habisnya gue bahagia banget." ucapnya tersenyum canggung.
Akhirnya semua orang yang ada disana bubar juga, setelah moment manis itu berakhir.
"Bahagia sih bahagia mas. Tapi kira-kira dong. Di jaga Marwah calonnya mas Alex sebelum halal." ucap Alena mewakili yang lain.
"Masyaa Allah Na, kamu semakin bijak saja sekarang." puji Alesha.
"Mungkin karena mau ketemu mas suami, jadinya aku berubah begitu saja, naluri seorang istri pada diriku tiba-tiba keluar." ucapnya terkekeh.
"MasyaaAllah Tabarakallahu," ucap sahabat-sahabat nya.
"Sya, terimakasih ya, karena kamu sudah mau menerima niat baik ku." ucap Alex menatap Parisya. Sedangkan yang ditatap hanya menundukkan pandangannya.
"Sama-sama mas. Aku juga mau berterima kasih sama mas Alex. Karena mas Alex sudah mau menunjukkan sikap tulus Mas Alex kepadaku." ucapnya malu, pipinya kini bersemu menghadirkan rona merah jambu.
__ADS_1
"Cieee... Ada yang malu-malu ni. Selamat ya Sya, akhirnya Lo sama Naura sama-sama akan melepas lajang sebentar lagi." ucap Alena memeluk Parisya.
"Terimakasih kak, mohon doanya ya kak." ucap Parisya membalas pelukan Alena.
"Iya, gue pasti akan mendoakan Lo, kalau bisa jarak pernikahan kalian seminggu saja ya, agar gue nggak bolak-balik nantinya. Atau kalau perlu satu gedung saja dihari yang sama." ide Alena di luar nalar.
"Ide bagus tu." ucap Alesha juga setuju.
"Sya selamat ya, Kakak turut bahagia hari ini. Semoga semuanya dilancarkan, dan tidak ada rintangan apapun." ucap Alesha memeluk Parisya.
"Terimakasih bumil," ucap Parisya tersenyum, membalas pelukan Parisya.
"Sya, Aku senang banget. Akhirnya kita bareng mengakhiri masa single. Seperti janji kita. Sekali lagi selamat ya Sya" ucap Naura berkaca-kaca.
"Kok kamu malah nangis. Seharusnya kamu senang." ucap Parisya mengelap air mata Naura yang sudah membasahi pipinya.
"Justru saking senangnya aku, makanya aku nggak bisa menahan air mata bahagia ini." ucap Naura di pelukan sahabat sedari kecilnya itu.
Kini giliran Aqiel memberikan selamat kepada Alex.
"Thanks bro. Pokoknya Lo juga harus ada nanti disaat acara penting gue." ucap Alex.
"Pasti Lex." jawab Aqiel.
Tak lama Alena mendapatkan panggilan dari bandara, ia harus segera menaiki pesawatnya. Setelah berpelukan dan bersalaman dengan semua sahabat-sahabat nya, akhirnya Alena berangkat meninggalkan ibukota Jakarta menyusul sang suami tercinta. Entah kapan ia akan kembali menetap di Jakarta kembali.
Setelah haru biru di bandara tadi, kini mereka semua pulang kerumah masing-masing. Namun, kali ini Ainun mengajak sang suami untuk singgah ke cafe adiknya Arfa.
"Mas, kita ke cafe Arfa yuk, boleh?" tanya nya mengerjap-ngerjap kan matanya yang seperti Boba.
Cup
Tiba-tiba saja sang suami mengecup singkat ranum merah sang istri. Ya kini mereka sudah tiba di dalam mobil.
"Malah omes, aku ngajakin ke cafe Arfa mas. Malah di cium" ucap Alesha menggeplak gemas lengan sang suami.
__ADS_1
"Boleh cinta, hanya saja mas tidak bisa menahan kegemasan mas sama kamu." ucapnya mencubit kedua pipi sang istri.
"Suka benar cubit pipi aku. Sakit tahu mas." ucapnya memukul pelan dada bidang sang suami.
"Ini mau ke cafe Arfa atau nggak nih?" tanya Aqiel mode jahil.
"Iya jadi, ayok sekarang." ucapnya manja.
"Iya istriku." ucapnya, sebelum menjalankan kendaraan roda empat milik nya itu, Aqiel kembali mengecup kening, kedua pipi serta berakhir di ranum merah sang istri yang selalu membuat ia candu.
Dan akhirnya melajulah kendaraan roda empat berwarna hitam metalik nya itu dengan kecepatan sedang, membelah jalanan ibukota Jakarta.
Kurang lebih tiga puluh menit, akhirnya mereka tiba juga di cafe sang adik.
"Assalamu'alaikum Ar, ucap Alesha dan Aqiel saat melihat Arfa sedang membantu bagian kasir. Melihat kedatangan sang kakak serta Abang iparnya, iya menyerahkan tugasnya itu kepada karyawannya.
"Wa'alaikumsalam kak, bang. Kok kesini nggak ngabarin Arfa? Tanya Arfa senang dengan kedatangan Kakak dan iparnya itu.
"Tadi kakak dan Mas Aqiel sekalian mau pulang ke rumah, jadi mampir dulu ke sini." ucap Alesha. Arfa mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Oh iya, bang Aqiel mau ngobrol sama Aldi sekalian, biar Arfa panggil kan." ucap Arfa.
"Boleh Ar." ucap Aqiel.
Ya, sesuai permintaan Aqiel, Aldi adiknya itu bekerja di cafe milik Arfa. agar ia bisa belajar sejak dini mengenai bisnis, agar nantinya Ia juga bisa membantu pekerjaannya di perusahaan sang papa.
"Ini bos pesanan nya." ucap waiters yang mengantarkan pesanannya untuk sang kakak dan iparnya itu.
"Terimakasih." ucap Arfa ramah.
Tak lama Aldi kini sudah duduk bersama Aqiel, Alesha dan Arfa di satu meja yang sama. Ia juga sudah akrab dengan Arfa. Mereka banyak berbincang disana, Aqiel juga banyak memberikan wejangan mengenai bisnis adik iparnya yang baru saja opening agar cepat berkembang.
.
.
__ADS_1
To Be Continued