Penantian Kekasih Halal

Penantian Kekasih Halal
Taman


__ADS_3

Kini Alesha dan Aqiel sedang berada di dalam mobil setelah pulang dari rumah sakit menemani kakak mereka lahiran. Sang suami mengajak istrinya jalan-jalan terlebih dahulu sebelum kembali ke rumah mereka setelah tadi melaksanakan shalat ashar di masjid.


"Mas, kita mau kemana?" tanya sang istri sembari memperhatikan jalanan ibu kota yang tengah macet.


"Ke taman mau?" tanya sang suami, dia ingin memanfaatkan waktu senggang mereka jalan-jalan berdua.


"Mau mas, mau banget. Sudah lama kita nggak jalan-jalan seperti ini." senang nya Alesha mendengar ajakan suami tercintanya.


Aqiel tersenyum melihat ekspresi senang sang istri. Sembari menyetir, tangan kiri nya menggenggam jari jemari lentik istrinya.


Cup


Ia mengecup lama punggung tangan istrinya, melihat raut bahagia pada istirnya, membuat Aqiel juga merasakan hal yang sama.


"Cinta," ucap sang suami.


"Iya mas, kenapa?" tanya Alesha menoleh ke arah sang suami.


"Mas sangat mencintai mu sayang. Ana uhibbuki ya zaujati." ucapnya tiba-tiba saja.


"Mas, kenapa tiba-tiba? Mas lucu deh. tapi aku juga mencintai mas. Ana uhibbuka ya zauji." jawabnya tersenyum. Merasa lucu dengan sang suami.


"Sayang, apa pun yang terjadi kedepannya, mas akan selalu di hati kamu. Begitu pun sebaliknya." ucapnya lagi. Membuat sang istri heran, tumben-tumbenan suaminya berbicara begitu. Ya walaupun biasanya juga romantis, tapi perkataan nya saat ini tiba-tiba saja, begitu pikirnya.


"Memangnya apa yang akan terjadi mas? InsyaaAllah kita akan baik-baik saja mas. Allah akan menjaga keluarganya kecil kita." jawab istrinya menatap heran.


"Cinta, mas mau kita selalu bersama seperti ini. hanya maut yang bisa memisahkan." ucapnya lagi.


"Aamiin Ya Rabb. Aku juga mau kita akan selalu bersama, sampai nanti kita menua. Aku ingin kita tidak hanya berjodoh di dunia saja, tetapi juga di akhirat nanti." jawab istrinya tersenyum.


Cup


Ia mengecup lama punggung tangan sang istrinya kembali. Sedikitpun tak ingin ia lepaskan.


Kini mereka telah sampai di sebuah taman. Banyak pengunjung yang berada disana. Aqiel mengajak istrinya duduk di bangku yang ada di taman itu. Sembari terus menggenggam tangan sang istri.


"Mas, aku mau ice cream deh." gumamnya.


"Ice cream? Kamu mau mas belikan ice cream?" tanya nya memastikan.

__ADS_1


"Iya mas, rasanya sudah sampai di tenggorokan aku." jawabnya terkekeh.


"Ya sudah, kamu tunggu disini ya sayang, mas belikan dulu." jawab sang suami. Alesha hanya menganggukkan kepalanya. Ia memperhatikan punggung sang suami menuju bapak penjual Ice cream tak jauh dari ia duduk.


Tiba-tiba saja ada dua orang wanita muda mendekati suaminya, entah apa yang mereka katakan kepada suaminya itu. Karena Alesha tidak mendengar perkataan mereka.


"Mas, mas tampan banget. Boleh minta nomor handphone nya nggak?" tanya salah satu wanita kepada Aqiel. Namun, Aqiel tidak sadar bahwa gadis itu mengajak dirinya berbicara, dia hanya diam saja tak menanggapi.


"Mas, maaf ni, boleh minta nomor handphone nya gak?" tanya wanita itu lagi.


"Maaf mbak, mbak berbicara sama saya?" tanya Aqiel datar hanya melirik sebentar lalu mengalihkan pandangannya.


"Iya mas, saya perhatikan masnya sendirian, saya mau kenal mas lebih dalam." ucap gadis itu tanpa tahu malu. Sedangkan teman nya hanya diam saja.


"Mohon maaf, saya lelaki beristri, istri saya sedang menunggu saya disana." jawabnya dingin tanpa menoleh. Mendengar perkataan Aqiel, membuat gadis itu malu, wajah nya merah padam. Ia segera mengajak temannya pergi dari sana.


"Maaf mas, saya tidak tahu, permisi." ucapnya berlalu saking malunya.


"Cinta, ini Ice cream nya." ucapnya setelah kembali dari membelikan Ice cream untuk istrinya.


"Terimakasih mas." jawab Alesha menerima ice cream itu.


"Tidak penting cinta, sudah sekarang makan ice cream nya ya." ucapnya lembut, Aqiel tak ingin mood istirnya buruk jika tahu gadis itu meminta nomor telepon suaminya.


"Mas," ucapnya.


"Wanita itu meminta nomor mas cinta, tentu saja tidak mas berikan. Mas katakan bahwa mas lelaki beristri, dan kamu sedang menunggu mas disini." jawabnya jujur, tak bisa lagi menghindari.


"Oh begitu." jawabnya singkat.


"Hanya itu? Kamu tidak marah ataupun cemburu?" tanya sang suami heran.


"Kalau dibilang cemburu, tentu saja aku cemburu. Istri mana yang tak cemburu jika suami nya di dekati wanita lain. Tapi aku percaya sama mas, jika mas tidak akan melirik wanita manapun, karena mas begitu mencintai ku." jawabnya percaya diri sembari memakan ice cream nya.


"MasyaaAllah istriku, jawaban kamu bijak sekali. Terimakasih ya cinta, karena kamu selalu percaya kepada mas." ucapnya mengelus sayang kepala sang istri.


"InsyaaAllah aku akan selalu percaya dengan mas, tetapi aku tidak bisa percaya dengan wanita diluar sana yang tidak tertarik sedikitpun dengan suami tampan ku ini." jawabnya lagi.


"Yang terpenting kan sikap mas cinta, bagaimana sikap mas kepada mereka. Mas hanya bersikap manis hanya kepada kamu sayang." ucapnya menatap lekat wajah nan cantik istrinya.

__ADS_1


"Iya mas, aku percaya kepada suamiku." jawabnya tersenyum.


"Oh iya mas, Minggu depan pernikahan Alex dan Parisya. Aku jadi nggak sabar deh menanti pernikahan mereka." ucap nya sembari melihat-lihat anak-anak kecil berlarian disekitar taman.


"Iya cinta, mas juga. Apalagi Alex sahabat mas, semoga pernikahan mereka dilancarkan ya sayang." ucapnya tak henti menatap lekat wajah istrinya.


"Aamiin. Oh iya mas, kenapa dari tadi melihat aku begitu?" tanyanya merasa malu ditatap sedemikian rupa oleh sang suami.


"Tidak apa-apa, mas hanya menikmati anugrah terindah yang diberikan Allah dalam hidup mas." jawabnya, membuat rona wajah Alesha bersemu. Walaupun pernikahan mereka sudah hampir satu tahun, tapi tetap saja jika di gombali sang suami ia tersipu malu.


"Pandai banget sih mas gombalnya." ucap Alesha.


"Mas tidak gombal cinta, mas mengatakan yang sebenarnya. Kamu itu cantik, sangat cantik. Tidak hanya wajah kamu yang cantik, tetapi juga hati kamu. Mas beruntung bisa memperistri kamu." jawabnya, tak sadar apa pipi putih sang istri sudah kemerahan. Hihihi.


"Cukup mas, jangan mengatakan hal itu lagi. Aku bisa diabetes lama-lama jika terus-menerus mas mengatakan hal yang manis seperti itu." ucapnya terkekeh.


"Justru sekarang kamu yang ngegombali mas," jawabnya juga terkekeh.


"Karena aku belajar dari mas." jawabnya tak dapat menahan tawa. Tiba-tiba saja mereka di dekati beberapa orang yang ada di taman.


"Permisi, kakak Author Musim Salju kan? kami penggemar setiap karya novel yang kak Alesha tulis. Saya tidak menyangka jika kak Alesha cantik banget. Kita boleh minta foto bareng kakak nggak?" tanya penggemar novel Alesha. Alesha menatap sang suami. Aqiel menganggukkan kepalanya tanda menyetujui.


"Boleh." jawab Alesha ramah. Akhirnya mereka bergantian meminta foto dengan Alesha. Aqiel hanya mengawasi dari dekat.


"Terimakasih kak, mas. Kalau begitu kami permisi." ucap mereka bersama. Alesha hanya balas tersenyum.


"Kak, kita juga dong." ucap penggemar lelaki. Melihat istrinya di kerumuni para lelaki. Membuat Aqiel cemburu. Namun dia tidak bisa mengusir penggemar istrinya itu.


"Ya silahkan." jawab Alesha menghargai.


"Tolong jangan terlalu dekat. Saya tidak mau istri saja sampai tidak nyaman." jawab Aqiel segera menghampiri istrinya. Alesha tahu suaminya tengah cemburu, ia menggenggam tangan sang suami.


"Sama suami saya ya." tutur Alesha ramah. Mereka dengan terpaksa mengiyakan. Akhirnya penggemar lelaki itu berfoto dengan pasangan pasutri bucin itu. Setelah nya mereka berpamitan. Wajah Aqiel masih sama, rasa cemburu nya tak bisa ia tutupi. Membuat sang istri mengulum senyum.


.


.


To Be Continued

__ADS_1


__ADS_2