
"Assalamu'alaikum Warahmatullahi..." salam Aqiel setelah melaksanakan shalat sunnah tahajud. Ia lanjut zikir dan berdo'a. Lanjut membaca Al-Qur'an dengan suaranya yang merdu. Membuat sang istri terbangun karena mendengarkan suara nan merdu sang suami.
Melihat istrinya terbangun, Aqiel menghentikan bacaan ayat suci Al-Qur'an nya dan menghampiri sang istri keranjang berukuran king size itu.
"Cinta, kenapa kamu sudah bangu? apa kamu terbangun karena suara mas?" tanya nya lembut.
"Iya mas, kenapa mas tidak membangun kan aku untuk melaksanakan shalat malam?" tanya nya melihat sang suami.
"Mas lihat kamu nyenyak sekali tidurnya istriku, mas tidak tega harus membangunkan kamu. Apalagi semalam kamu tidurnya gelisah begitu." tutur sang suami.
"Mas, aku lapar," ucapnya.
"Jadi istirnya mas ini lapar? Kamu mau mas buatkan apa cinta? Biar mas siapkan." tanya Aqiel seketika menjadi suami siaga.
"Aku rasanya ingin makan puding dingin mas. Masih ada nggak mas di kulkas?" tanya sang istri.
"Sepertinya ada cinta, mas ambilkan dulu ya. Kamu tunggu disini." ucapnya mengelus sayang kepala sang istri.
Cup
Aqiel mengecup lama puncak kepala sang istri sebelum turun kebawah.
Tak sampai sepuluh menit, Aqiel sudah kembali kekamar membawa puding keinginan istrinya, dia juga membawa potongan buah apel dan juga segelas air putih.
"MasyaaAllah, kelihatan nya segar banget. Mas sini buruan bawa kesini, aku nggak sabar mau makan sekarang." ucap Alesha dengan wajah gemasnya.
"Pasti ini baby twins yang mau. Ini dimakan sayang, baca dulu doa sebelum makan." tutur sang suami.
"Iya mas suami, mas mau?" tanya sang istri mengarahkan sendok kemulut suaminya itu.
"Tidak cinta, terimakasih. Untuk kamu saja." ucap Aqiel. Ia melihat istrinya makan dengan lahap. Betapa senangnya hatinya melihat sang istri bisa memakan makanan keinginannya kembali tanpa harus mual seperti pertama kali memasuki trisemester pertama.
__ADS_1
Sembari menunggu istrinya makan, Aqiel kembali melanjutkan mengaji kembali. Alesha mendengarkan suara merdu suaminya sembari memakan puding dan juga buah yang sudah di potong kecil-kecil oleh sang suami. Aqiel juga membaca surat Yusuf dan Maryam untuk baby twins yang masih di dalam kandungan sang istri.
Tak lama azan shubuh berkumandang, Aqiel segera menghentikan bacaan ayat suci Al-Qur'an nya. Ia pamit kepada sang istri untuk shalat di masjid dekat rumah mereka.
"Cinta, mas ke masjid dulu ya. Kamu mas tinggal tidak apa-apa kan sayang?" tanya sang suami lembut.
"Iya tidak apa-apa mas. mas tidak mengambil air wudhu dulu?." tanya Alesha.
"nanti saja cinta, mas wudhunya di masjid saja, agar kamu bisa menyalami mas." ucapnya lembut.
"Ya sudah, mas pergi ya sayang, Assalamu'alaikum istriku, bidadari sholehah ku." salam Aqiel mengecup lama puncak kepala sang istri.
"Wa'alaikumsalam mas suamiku yang sholeh." jawab salam Alesha dan mencium tangan sang suami dengan takzim. Sebelum jalan Aqiel memeluk lama istrinya. Lalu keluar dari kamar dan melangkahkan kaki menuju masjid. Sedangkan Alesha shalat shubuh dikamar nya.
Pagi-pagi sekali setelah mandi dan mengganti dengan pakaian rumahan. Alesha duduk di sofa kamar dan mengambil gawainya, melihat ada notifikasi email yang masuk. Alesha segera membuka email nya tersebut. Ia melihat bahwa pihak dari produksi film yang menghubungi nya meminta mereka untuk bertemu dan membahas masalah kontrak hari ini, dan meninggalkan nomor handphone yang bisa di hubungi. Alesha yang mendapat kabar baik itu segera memberitahu sang suami.
"Mas, MasyaaAllah mas. Lihat ini mas, email aku sudah dibalas sama pihak pak Manoj. Mereka meminta pertemuan hari ini, dan ini juga ada nomor yang bisa aku hubungi. Jawab Alesha senang bukan main. Karena ini memang salah satu impiannya suatu saat karyanya bisa di filmkan.
"Mas bisa saja deh gombalnya." ucap Alesha memukul gemas dada bidang sang suami.
"Mas tidak gombal cinta, mas mengatakan yang sebenarnya. Begitulah istirnya mas Dimata suami mu ini." ucap Aqiel mendekap sang istri.
"Jadi bagaimana mas, ini kita temui pihak dari pak Manoj? Atau aku hubungi dulu beliau?" tanya Alesha meminta pendapat suaminya itu.
"Coba hubungi dulu nomor yang tertera cinta, setelah itu baru kita putuskan untuk menemui pihak dari pak Manoj." Ucap Aqiel.
Akhirnya Alesha menghubungi nomor yang bersangkutan, ternyata itu nomor pak Manoj Punjabi yang diberikan oleh pihak produksi film itu. Alesha sangat beruntung, bisa langsung berbicara dengan seorang produksi film terbesar di Indonesia.
"Bagaimana cinta?" tanya Aqiel penasaran. Melihat ekspresi bahagia sang istri.
"Ini ternyata nomor pak Manoj mas. Bukan asisten nya atau manager nya. Beliau meminta pertemuan hari ini. Bagaimana mas? Kebetulan mas juga liburkan." ucap Alesha menatap netra sang suami.
__ADS_1
"Mas akan temani kemana pun istri mas ini pergi. Ayo kita siap-siap dulu cinta, terus sarapan sama mama dan papa." ucap Aqiel menangkup kedua pipi istrinya.
Kini mereka tengah bersiap-siap untuk menemui produksi film terbesar di Indonesia itu. Setelahnya menuju ruang makan untuk sarapan bersama.
Ternyata di meja makan sudah ada mama Selly dan papa Roy menunggu kedua pasutri itu.
"Assalamu'alaikum Ma, Pa." ucap Alesha dan Aqiel bersamaan.
"Wa'alaikumsalam nak." jawab Mama Selly dan Papa Roy.
"Ada apa ini, kenapa mama lihat wajah menantu mama ini terlihat senang sekali?" tanya mama Selly melihat sang menantu hari ini lebih semangat dan ceria.
"Iya ma, Ada yang ingin Alesha sampai kan sama mama dan papa." ucapnya tak sabar ingin memberitahukan bahwa ia seorang penulis novel yang sudah banyak diterbitkan juga dan sudah banyak penggemar dalam setiap karya-karyanya. Dan selama ini Alesha sama sekali juga belum memberitahu mama dan papanya mengenai bahwa Alesha sebagai penulis novel.
"Kabar baik sayang? apa itu?" tanya mama Selly antusias.
"Bagaimana kalau nanti saja ma setelah sarapan." ucap Aqiel. Agar mereka sarapan terlebih dahulu. Akhirnya mereka sarapan pagi itu dengan penuh keheningan setelah menggumamkan doa makan.
"Nah, jadi apa kabar baiknya sayang? Mama sudah tidak sabar ni." ucap mama Selly karena mereka semua sudah menyelesaikan sarapan nya pagi itu.
"Mama dan papa jangan kaget ya. Alesha sebenarnya selain mengajar seperti sebelumnya, Alesha juga menulis novel ma. Novel yang Alesha tulis juga sudah ada yang di terbitkan menjadi sebuah buku." jawab Alesha.
"MasyaaAllah benar sayang begitu? Mama selama ini juga suka membaca novel. Nama pena kamu siapa nak? Mana tahu mama pernah baca." tanya sang mama mertua.
"Musim Salju ma." jawab Alesha tersenyum.
"MasyaaAllah, mama selama ini membaca buku kamu ini loh sayang, mama penggemar nomor satu karya musim salju. Kenapa kamu tidak pernah cerita? padahal selama ini Mama sudah sangat penasaran siapa musim salju. Tidak mama sangka menantu mama sendiri." ucap mama Selly juga sangat senang mengetahui jika menantu satu-satunya itu adalah seorang penulis yang karyanya sudah sangat dikenal.
.
.
__ADS_1
To Be Continued