Penantian Kekasih Halal

Penantian Kekasih Halal
Firasat


__ADS_3

Paginya, sewaktu Alesha bangun, ia melihat sang suami sedang membaca Al-Qur'an dengan suara merdunya yang memenuhi penjuru ruang kamar mereka, ia tatap lamat-lamat wajah tampan sang suami. Entah kenapa pagi ini perasaan nya tak enak. Ada rasa takut dan khawatir yang ia rasakan. Namun Alesha berusaha menepis perasaan itu, semoga itu bukan firasat buruk.


Alesha pun turun dari tempat tidurnya, perlahan berjalan menuju kamar mandi. Karena perut nya sudah kian besar dan pastinya berat juga. Ia pun mengambil air wudhu, karena sebentar lagi azan shubuh akan berkumandang.


Ternyata benar saja, saat Alesha keluar dari kamar mandi, azan shubuh sudah berkumandang. Ia segera mengenakan mukenah nya, dan membentangkan sajadah di belakang sang suami. Menjawab seruan azan tersebut. Setelah nya membaca doa setelah azan.


"Cinta, mas ke masjid dulu ya." ucap sang suami.


"Boleh nggak mas, shubuh ini mas imami aku shalat, aku ingin kita shalat berjama'ah." ucap Alesha sendu. Entah kenapa ia ingin menikmati waktunya bersama sang suami. Termasuk shalat shubuh berjamaah.


"Tumben istrinya mas ingin di imami shalat shubuh, biasanya suruh mas cepat ke masjid? hhmm." tanya nya lembut.


"Aku juga tidak tahu mas, entah kenapa aku ingin sekali mas imami, mungkin bawaan si baby twins." jawab Alesha mengelus perut buncitnya.


"Jadi begitu, oke tidak apa-apa, mas tidak akan ke masjid, kita shalat berjama'ah ya." ucap sang suami tersenyum.


"Terimakasih mas," jawab Alesha balas tersenyum lebar. Ia sangat bahagia karena suaminya selalu mengerti dirinya.


Akhirnya mereka melaksanakan shalat shubuh berjama'ah pagi itu.


"Sudah cinta?" tanya sang suami lembut.


"Sudah mas, ayo kita shalat." ajak istrinya. Akhirnya shubuh itu mereka laksanakan berjama'ah. Tidak lupa melaksanakan qobliyah subuh, baru lanjut melaksanakan salat shubuh dua raka'at. Setelah zikir dan doa, Aqiel memutar badannya menghadap sang istri, Alesha mengucap lama punggung tangan sang suami dengan takzim, Aqiel pun balas mengecup kening sang istri dan mengelus sayang kepala istrinya itu.


Seperti biasa setelah melaksanakan shalat Shubuh, mereka membaca Al-Waqi'ah. Aqiel juga membaca surat Yusuf dan surah Maryam untuk kedua buah hati mereka.


paginya mereka berkumpul untuk sarapan bersama di meja makan bersama mama Selly dan Papa Roy.


"Assalamu'alaikum Ma, Pa." salam Aqiel dan Alesha.


"Wa'alaikumsalam nak." jawab Mama Selly dan Papa Roy bersamaan.


"Bagaimana tidur kamu sayang? Nyenyak tidak?" tanya mama Selly pengertian. Ia tahu ibu hamil yang sudah memasuki trimester ketiga, pasti akan sulit untuk tidur. Makanya ia khawatir sang menantu juga merasakan demikian, apalagi Alesha tengah hamil kembar.


"Alhamdulillah nyenyak ma." Jawab Alesha tersenyum.


"Pasti dong ma, kan ada aku." ucap Aqiel menaik turunkan alisnya.


"Bisa saja kamu Qiel." seloroh Papa Roy.

__ADS_1


"Ya kan memang benar pa." ucapnya.


"Mulai deh berdebat kalian ini. Ayah sama anak sama saja." oceh mama Selly. Alesha terkekeh mendengar perdebatan anak dan ayah itu.


Mama Selly mengambilkan makanan untuk sang suami. sedangkan Alesha tidak diperbolehkan oleh suaminya untuk melayani nya.


"Sini mas piringnya, biar aku ambilkan." ucap Alesha.


"Tidak cinta, biar mas saja. Kita makan seperti biasa ya, mas maunya kita makan sepiring berdua." ucap Aqiel, jika suaminya sudah mengatakan hal demikian, Alesha tak bisa berkata lagi.


"Romantis benar anak mama ini." ucap mama Selly.


"Iya dong ma, kan belajar dari papa." jawab papa Roy.


"Iya sih pa, papa benar." jawab Mama Selly terkekeh.


Ya, sifat romantis Aqiel memang turunan dari sang papa. Bucin nya juga turunan dari sang papa. Jadi wajar jika Aqiel memperlakukan istrinya seromantis itu. Karena ia selalu memperhatikan bagaimana sang papa memperlakukan mamanya.


"Terimakasih mas." ucap istrinya.


"Sama-sama cinta." jawab nya.


Setelah menggumamkan do'a, mereka makan dengan keheningan, hanya dentingan sendok dan garpu yang terdengar di ruang makan itu. Aqiel dengan telaten menyuapi istri tercinta barulah ia menyuapi makanan itu kemulut nya sendiri, ia tidak perduli jika di hadapan nya ada mama dan papanya.


"Sebentar ya mas, aku bereskan piring kotor dulu." ucap Alesha.


"Tidak perlu cinta, biarkan mbak yang mengerjakan, mas tidak mau kamu kenapa-kenapa." ucap sang suami menahan tangan istrinya.


"Hanya cuci piring saja mas, tidak berat kok." jawab sang istri.


"Tidak perlu sayangku. Sekarang kamu duduk saja," cegah sang suami.


"Benar sayang, biarkan tugas mbak dan mbok mereka yang kerjakan." ucap mama Selly.


"Baik mas, ma." ucap Alesha menurut.


"Oh iya mas, mas jadi hari ini keluar kota?" tanya sang istri menatap lekat netra sang suami.


"Jadi cinta, memangnya kenapa, hhmm.." Tanya suaminya menggenggam tangan sang istri.

__ADS_1


"Memangnya nggak bisa ya nggak usah mas yang pergi mengawasi proyek yang di luar kota?" tanya Alesha yang entah kenapa berat melepaskan suaminya pergi keluar kota.


"Tidak bisa cinta, karena proyek ini proyek penting, harus mas sendiri yang handle." jawabnya lembut.


"Tidak bisa di wakilkan mas?" tanya nya lagi.


"Seharusnya ini tugas Alex, tapi kan Alex cuti menikah. Tidak mungkin kan mas harus mengganggu cuti nya Alex." jawabnya memberikan pengertian kepada sang istri.


"Sepertinya itu bawaan baby twins nak, dulu sewaktu mama mengandung kamu dan adik kamu. mama juga seperti itu, adakalanya mama tidak mau ditinggal sama papa kamu." ucap mama Selly."


"Begitu ya ma, tapi mau bagaimana lagi. Aku memang tidak bisa meninggalkan pekerjaan ini. Kamu harus sabar ya cinta, anak-anak aba sabar ya. Sama Oma dan opa dulu ya dirumah. InsyaaAllah Aba akan langsung pulang hari ini jika pekerjaan aba cepat selesai." ucap Aqiel mengelus sayang perut buncit sang istri.


"Jam berapa kamu berangkat nak?" tanya papa Roy.


"Sebentar lagi Pa, karena aku juga ada pertemuan dengan klien penting perusahaan kita." jawab Aqiel.


"Jadi mas tetap harus pergi ya?" tanya nya lagi. Entah kenapa firasat nya kali ini tidak baik mengenai sang suami. Namun Alesha berusaha berfikir positif.


"Iya sayang ku, maafin mas ya yang tidak bisa menuruti keinginan kamu hari ini. Mas janji, setelah pekerjaan mas yang di luar kota selesai, mas akan luangkan banyak waktu untuk kamu dan baby twins. Oke cinta." ucapnya selembut mungkin, agar tidak menyinggung perasaan istrinya. Karena ia tau mood ibu hamil itu mudah berubah-ubah.


"Mas janji ya, mas harus kembali secepatnya. Mas harus baik-baik saja." ucap Alesha.


"Iya istriku, mas kan hanya pergi satu hari. Tidak menginap cinta," jawabnya mengelus kepala sang istri yang tertutup hijab.


"Iya mas." jawab Alesha tersenyum.


Alesha pun mengantarkan sang suami hingga ke teras rumah. Walaupun berat, namun ia juga tidak bisa memaksakan kehendak nya agar sang suami melepas tanggung jawabnya.


"Mas pergi ya cinta, kamu baik-baik dirumah, jaga buah hati kita." ucap sang suami lembut.


"Iya mas, mas hati-hati ya." ucap Alesha tersenyum.


"Assalamu'alaikum ya Zaujati." ucap Aqiel balas tersenyum.


"Wa'alaikumsalam ya Zauji." jawab salam Alesha mengecup punggung tangan sang suami dengan takzim. Aqiel pun balas mengecup lama kening istrinya, serta kedua pipinya dan berakhir di ranum merah sang istri. Sebenarnya ia juga berat meninggalkan sang istri dirumah. Namun ia masih punya tanggung jawab di luar sana.


Alesha melambaikan tangan saat mobil itu meninggalkan pelataran rumah mewah mereka. Hingga ia tak lagi melihat mobil itu, barulah Alesha masuk kedalam rumah kembali.


.

__ADS_1


.


To Be Continued


__ADS_2