Penantian Kekasih Halal

Penantian Kekasih Halal
Rumah Baru (1)


__ADS_3

Hari ini kepulangan pasutri baru itu ke Jakarta, selama seminggu mereka menghabiskan waktu berdua di sana. Kini mereka telah sampai di bandara Soekarno, ternyata kedua orang tua Alesha dan juga adiknya Arfa serta Alfa telah menunggu kedatangan Alesha dan Aqiel.


Di saat Alfa melihat sosok kakaknya yang ia rindukan, Ia pun tak bisa menahan rasa bahagia serta kerinduannya, sosok kakak yang sangat dekat kepadanya. Ternyata Alex pun juga sudah tiba disana, ia diminta Aqiel untuk menjemput dirinya beserta istri tercintanya.


"Kak Alesha, disini kak," teriak Alfa melambaikan tangan saking senangnya melihat sang kakak yang telah ia rindukan.


"Mas itu ibu, bapak dan adek-adek." Ucap Alesha kepada suaminya saat ia melihat adiknya melambaikan tangan.


"Ayok sayang," ajak Aqiel dan tak lupa menggenggam dengan erat jari jemari sang istri.


"Assalamu'alaikum Ayah, Ibu," ucap Alesha dan Aqiel bersamaan saat mereka telah berada dihadapan kedua orang tuanya. Mereka menyalami kedua paruh baya itu dengan penuh takzim.


"Wa'alaikumsalam Nak," ucap Ayah dan Ibu bersamaan.


"Ibu, Ayah sama adek-adek kenapa harus capek-capek jemput sih, kan kita bisa pulang sendiri." Ucap Alesha tak ingin merepotkan kedua orang tuanya.


"Iya Bu, Aqiel sudah minta tolong Alex untuk menjemput kita." Ucap Aqiel menjelaskan.


"Ini loh Sha Adik kamu Alfa, heboh aja dari kemarin pengen ketemu kamu, waktu Ibu bilang kamu pulang hari ini, dia maksa ibu sama bapak untuk jemput kalian, makanya hari ini kami di sini." Tutur sang Ibu menjelaskan.


"Jadi ada yang rindu sama kakak?" Tanya Alesha kepada Alfa sembari menggoda adiknya itu.


Alfa dan Arfa pun segera menyalami kedua kakaknya itu. Ya, karena sekarang Aqiel pun telah menjadi Abang mereka juga.


"Iya, kakak lama sekali liburannya, kan Alfa kangen mau main sama kakak lagi, bang Arfa nggak seru, kalau adek ngajakin main pasti nggak mau." Adu sang adik kepada kakaknya.


"Ya kali aku nongkrong sama temen-temen bawa bocah Kak," jawab Arfa tak mau disalahkan.


"Yaudah, kapan-kapan kakak sama Abang Aqiel ajak adek jalan-jalan deh, iya kan mas?" Ucap Alesha sambil meminta persetujuan suaminya itu. 


Aqiel menganggukkan kepalanya sembari tersenyum lebar, menandakan Ia setuju.


Tak berselang lama suara Alex pun memotong pembicaraan mereka.


"Eh, Assalamu'alaikum Sha, Ibu, Bapak sama semuanya." Ucap Alex sopan.


"Wa'alaikumsalam," jawab semuanya.


"Sama keluarga istri gue lo sopan banget, giliran sama gue lo nggak ada sopan-sopan nya," ucap Aqiel bersungut-sungut.


Alex hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal, merasa tak enak ribut di hadapan keluarga Alesha. Andai saja di situ tidak ada Ibu dan Ayah Alesha. Mungkin ia sudah mendebat sang sahabat.


"Gimana rumah gue dengan Alesha, sudah siap belum?" Tanya Aqiel tanpa basa-basi.


"Aman bro, sudah siap huni," jawab Alex. Ya, karena sewaktu Aqiel dan istri honeymoon di labuan bajo, ia menyerahkan sepenuhnya untuk melengkapi perlengkapan rumah kepada Alex.


"Oke, thanks Lex, Lo emang bisa di andalkan." Puji Aqiel.


"Santai bro," jawab Alex.


"Yaudah, ayo Ibu, Ayah, Arfa dan Alfa kita kerumah baru Aqiel dan Alesha." Ajak Aqiel kepada keluarga istrinya itu.


"Iya nak, kita mengikuti dari belakang saja, Arfa yang jadi supir," jawab Ayah Anggara.


"Begitu, ayok sayang kita kerumah kamu," ucap Aqiel tersenyum manis ke arah sang istri.


"Kok rumah aku, kan itu rumah nya mas," jawab Alesha bingung.


"Iya itu rumah kamu cinta, karena sekarang rumah itu atas nama kamu," jawab Aqiel benar adanya.


"MasyaaAllah, mas tidak perlu sampai segitunya sama aku," jawab Alesha merasa sangat dihargai oleh suaminya itu.


"No problem cinta, mulai ijab qobul, apa yang jadi milik mas, semuanya akan jadi milik kamu, termasuk rumah itu. Karena bahagianya kamu adalah bahagia nya mas juga" Jawab Aqiel yakin.


"Terimakasih ya mas," ucap Alesha haru.

__ADS_1


"Sama-sama cinta," ucap Aqiel menatap netra wanita yang sudah halal baginya itu.


"Hheemm,, mau sampai kapan mesra-mesraan dihadapan gue, itu keluarga mertua Lo udah jalan di depan," tutur Alex bersungut-sungut.


"Oiya Lex, tolong bawain koper kita ya," ucap Aqiel masa bodo kepada sahabatnya itu yang kini sedang kepanasan hatinya melihat duo pasutri bucin. Ia berlalu begitu saja dari hadapan sang sahabat sambil menggandeng mesra sang istri tercinta.


"Benar-benar lo, untung lo sahabat gue, kalau nggak udah gue lempar lo ke lubang buaya." Ucap Alex sambil bersungut-sungut, tapi tetap membawakan koper-koper milik sahabat dan istri sahabatnya itu.


Kini Aqiel, Alesha berada di mobil yang dikendarai oleh Alex. Sedangkan Ayah, Ibu dan kedua adik Alesha berada di mobil satunya lagi yang dikendarai oleh Arfa. Mereka sedang dalam perjalanan menuju ke rumah baru pasutri bucin itu.


 Kurang lebih 45 menit mereka sampai di kediaman Aqiel dan Alesha. Kini kedua mobil itu telah memasuki pelataran rumah yang begitu besar dengan halaman yang luas hadiah pernikahan dari kedua orang tua Aqiel.


"MasyaaAllah mas rumahnya besar banget, kita kan hanya tinggal berdua di rumah ini." Ucap Alesha yang tak menyangka akan dihadiahkan rumah yang cukup mewah menurutnya.


"Tidak sayang, ini tidak terlalu besar jika nanti sudah ada anak-anak," jawab Aqiel menatap netra sang istri. Alesha yang mendengar jawaban suami tampannya itu hanya bisa tersipu malu, karena ada Alex di dalam mobil itu.


"Hheem,, ini nggak mau turun, nanti kali bucinnya kalau berdua," ucap Alex berdeham sambil menatap geram sang sahabat yang tak tau tempat untuk ngebucin.


"Maaf mas Alex," ucap Alesha tak enak hati. Alex hanya tersenyum menyikapi Alesha, tapi tidak dengan Aqiel, ia menatap tajam ke arah sang sahabat.


"Apa sayang, kamu panggil dia mas Alex?" Tanya Aqiel memastikan bahwa pendengarannya tidaklah salah.


"Iya mas, bukannya mas Alex lebih tua dari ku," jawab Alesha apa adanya.


"No sayang, kamu cuma boleh panggil mas hanya ke suami mu ini, panggil aja Alex cinta." Jawab Aqiel yang tengah cemburu mendengar panggilan sang istri kepada sahabatnya itu.


"Tapi mas, nggak sopan dong," jawab Alesha tak enak hati.


"Yaudah Sha, turuti aja mau suami Lo, gue nggak masalah kok, dari pada ni suami bucin Lo uring-uringan ntar hanya karena panggilan lo ke gue," jawab Alex sembari melirik sang sahabat dengan gelagat mengejek.


Alesha hanya menganggukkan kepalanya tanpa melihat kearah Alex.


"Ayo mas turun," ajak Alesha agar tidak berkepanjangan, karena kedua orang tuanya serta kedua adiknya sudah turun dari mobil.


"Benar sayang, adek suka nggak sama rumah kakak?" Tanya Alesha dengan lembut.


"Suka kak, boleh kan adek sering-sering main kesini kalau adek bosan dirumah." Tanya sang adik antusias.


"Boleh adik kakak yang tampan." Jawab Alesha membelai rambut sang adik.


"Ya udah, Bu, Ayah, Ar, dek kita masuk, kita lanjut ngobrol nya di dalam aja," ajak Aqiel kepada keluarga Alesha yang kini juga sudah jadi keluarga nya.


"Iya nak," jawab Ibu Alice.


Pembantu yang telah di pekerjakan oleh Alex atas perintah Aqiel pun kini telah berada dihadapan mereka.


Perkenalkan saya mbok Darmi, IRT dirumah ini, ucap salah satu IRT itu memperkenalkan diri. Saya mbak irna, ucap IRT satu lagi.


Aqiel dan Alesha hanya menganggukkan kepala mereka.


"Oiya Mbak, tolong bawakan koper saya sama istri ya." Ucap Aqiel kepada IRT nya itu dengan sopan.


"Siap tuan," ucap mbak irna (30 tahun), sedangkan IRT satu lagi mbok Darmi (45 tahun) menuntun majikan nya keruang tamu.


"MasyaaAllah besar sekali rumah kalian nak?" Ucap Bu Alice kagum saat sudah berada di dalam rumah, tak menyangka jika sang putri keduanya itu begitu beruntung.


"Alhamdulillah Bu, ini hadiah pernikahan dari Mama dan Papa mertua." Jawab Alesha tersenyum.


"Baik sekali mertua kamu, sampaikan terimakasih Ayah dan Ibu ya nak Aqiel, karena telah memberikan hadiah rumah mewah untuk anak Ayah." Jawab Ayah Anggara.


"Tidak perlu sungkan Yah, kini Alesha sudah menjadi istri Aqiel, apalagi Alesha sudah dianggap seperti putri sendiri oleh Mama dan Papa, karena selama ini Mama dan Papa tidak memiliki seorang putri, sudah sepatutnya Alesha mendapatkan hadiah ini" jawab Aqiel menjelaskan dengan kelembutan.


"MasyaaAllah nak, amalan apa yang kamu lakukan selama ini, sehingga mendapatkan suami seperti nak Aqiel dan mertua yang sangat baik dan menyayangi kamu." Ucap Ibu Alice haru biru.


"Alhamdulillah Bu," jawab Alesha sambil menggenggam tangan ibunya itu. ini mereka sudah duduk diruang tamu.

__ADS_1


"Aqiel justru yang beruntung diterima jadi bagian keluarga ayah dan ibu," tutur Aqiel menatap kedua mertua nya itu secara bergantian.


Ayah Anggara dan Ibu Alice tersenyum bahagia, sangat bersyukur karena sang putri mendapatkan suami tampan serta Sholeh dan sangat menyayangi putri nya, belum lagi mertua yang begitu baik.


"Maaf tuan dan nona saya mengganggu pembicaraan tuan dan nona dengan keluarga, makan siang sudah siap, mari ke meja makan." Ucap mbak irna kepada majikannya itu.


"Ayo Ayah, Bu, adik-adik Abang, Lex, kita makan, pasti sudah lapar kan? Ayo cinta." Ajak Aqiel kepada semuanya dan tak lupa menggenggam tangan sang istri. Mereka semua menuju meja makan.


"Kita bukan mau menyebrang lagi, masih gandengan aja, kuat banget lem nya," cibir Alex melihat ke bucinan sahabat nya itu.


Disaat Alesha ingin melepas genggaman tangan nya dari sang suami, Aqiel semakin mempererat genggaman tangannya.


"Berisik Lo, makanya cepat nikah, biar nggak sirik lo sama gue," jawab Aqiel datar.


"Mas, lepasin dong, malu sama yang lain, ini gimana mau makan kalau nggak mas lepasin" tegur sang istri.


"Iya, maaf cinta," ucap Aqiel meringis, lalu melepaskan genggamannya dari sang istri, walaupun tak rela barang sedetikpun.


Perlakuan Aqiel kepada Alesha tak lepas dari pandangan keluarga nya. Ayah Anggara dan Ibu Alice hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, mereka masih tak percaya jika suami Alesha ternyata sebucin itu.


"Bang Aqiel bucin ya sama kak Alesha." Ceplos si bungsu.


"Huuss... Adek nggak boleh gitu," tegur Bu Alice.


"Emang tau arti bucin," tanya Arfa kepada adik satu-satunya itu.


"Enggak bisa adek jelasin, bingung, tapi pokoknya bang Aqiel bucin sama kak Alesha." Ucap nya dengan polos.


"Adek, siapa yang ajarin ngomong gitu, nggak sopan ya," tegur Alesha.


"Maaf kak, maaf ya bang Aqiel, adek nggak bermaksud," ucap nya meminta maaf sambil menautkan kedua tangannya ke depan dada.


"Iya nggak papa dek," ucap Aqiel tersenyum gemas dengan tingkah sibungsu.


"Ayo ibu, ayah, semuanya kita makan." Ajak Aqiel kepada semuanya.


"Ayo sayang makan yang banyak," ucap Aqiel beralih menatap netra sang istri.


"Iya mas, mas sini piring nya, biar aku ambilkan nasinya," ucap Alesha kepada suaminya.


Aqiel menyerah kan piring nya, Alesha mengambil kan nasi serta lauk untuk suaminya itu.


"Mas mau sambal apa?" Tanya sang istri.


"Apa aja cinta, mas makan semuanya kalau dari kamu." Jawab Aqiel selalu bisa membuat sang istri tersipu malu.


"Hheemm... " Alex berdeham, sedang kan Aqiel tak memperdulikan reaksi sang sahabat.


"Ini mas," ucap Alesha menyerahkan piring yang sudah berisi nasi dan lauk-pauk kepada suaminya. Alesha pun juga mengambil untuk dirinya juga sang adik Alfa.


"Terimakasih cinta," ucap Aqiel tersenyum lebar. Alesha hanya menganggukkan kepalanya sembari membalas senyuman sang suami.


"Adek mau sambal apa?" Tanya Alesha beralih kepada sibungsu.


"Adek mau ayam kak goreng kak," ucap Alfa.


"Oke tampan," ucap Alesha.


Kini mereka semua makan dengan nikmat di meja makan itu, tak ada obrolan ataupun candaan lagi. Hingga satu-persatu anggota keluarga meyelesaikan makan siangnya.


.


.


To Be Continued

__ADS_1


__ADS_2