Penantian Kekasih Halal

Penantian Kekasih Halal
Tetangga Julit


__ADS_3

"Di buka dong kado dari kakak dan bang Aqiel." Ucap Alesha antusias.


"Kira-kira apa ya?" ucap sibungsu mengetuk-ngetuk jari telunjuk nya di dagu pertanda lagi berfikir.


"Bagaimana kalau Arfa dulu yang buka, karena ini kan perayaan kelulusan adik tampan kakak." ucap Amora mewakili semuanya.


"Akhirnya keluarga ku juga ada yang mengakui kalau aku tampan," seloroh Arfa terkekeh.


"Ingin sekali Abang di akui, kalau memang tampan mah nggak perlu pengakuan, lihat saja Abang Aqiel sama Abang Zain, mereka tampan, tapi nggak bilang tuh kalau mereka tampan." Tutur sibungsu menjahili abangnya, mereka kalau sudah berdua memang jarang sekali akur.


"benarkah Abang tampan?" tanya Aqiel mulai mengikuti si bungsu.


"Ia, Abang tampan, kalau adek dewasa nanti, adek maunya tampan seperti Abang, nggak mau kalau seperti Abang Arfa, soalnya Abang Arfa jelek." Si bungsu sengaja mengatakan hal itu untuk menggoda abangnya, dia kini sudah pandai sekali menggoda Abang nya atau membalas perkataan Abang satu-satunya itu.


"sembarangan kalau ngomong, ntar nggak Abang antar lagi ke sekolah, jalan kaki aja sendiri." Ucap Arfa sengaja mengatakan hal itu agar adiknya berhenti mengatai nya.


"Ibu.. Ayah.. Lihat Abang, sukanya ancam adek." adunya kepada kedua paruh baya yang tak lagi muda itu.


"Arfa.. " tegur Ibu kepada si Abang.


"Iya-iya Bu, bercanda doang." ucapnya sambil tangan nya tak berhenti membuka bungkus kado miliknya. Saat bungkus kado itu berhasil ia buka, betapa mata nya berbinar melihat hadiah yang ada di depan matanya.


"Ini benaran hadiah untuk aku? Ini kan sepatu keluaran terbaru? Dan ini mahal banget." Ucap Arfa melihat ke arah Alesha dan Aqiel secara bergantian.


"Ia buat kamu, masak buat anak tetangga." Seloroh Alesha terkekeh diselipkan candaan.


"Thanks kak, bang, ini akan jadi sepatu favorit ku mulai sekarang." jawab nya antusias.


"sama-sama Ar," jawab Alesha dan Aqiel bersamaan.

__ADS_1


Sibungsu tak mau ketinggalan, ia juga membuka hadiah miliknya, saat ia melihat hadiah itu, ia juga tak kalah bahagia.


"Wah... Bagus banget, adek suka kadonya, baju muslim dan peci ini ini akan adek gunakan saat lomba nanti, terimakasih kakak dan Abang." Tutur sibungsu langsung menghambur ke dekapan sang kakak dan Abang iparnya itu.


"Manja benar maunya di peluk," seloroh Arfa melihat adiknya itu.


"Abang iri bilang aja, kan aku senang makanya peluk kakak sama Abang Aqiel." Ucapnya tak memperdulikan perkataan si Abang.


Lalu ia melonggarkan dekapannya pada kakak dan Abang iparnya. Semua sibuk dengan hadiah masing-masing, membicarakan banyak hal, mulai dari kehamilan Amora, kedepannya Arfa mau bekerja dimana setelah wisuda, dan masih banyak lagi, hingga waktu menunjukkan jam makan siang.


Kini tiga wanita beda generasi itu sedang sibuk di dapur menyiapkan berbagai macam hidangan untuk makan siang kali ini. Sedangkan para lelaki duduk di ruangan keluarga, membahas hal-hal yang menjadi topik para lelaki pula. Si bungsu pun juga ikut nimbrung, sesekali mempertanyakan hal-hal yang tak ia mengerti mengenai pembahasan para lelaki yang usianya jauh di atasnya.


Tak berselang lama handphone milik Aqiel berbunyi, menandakan ada yang menghubungi dirinya. setelah mengangkat telepon tersebut, ia menghampiri sang istri yang ada di dapur.


"Cinta, kesini sebentar," ucap Aqiel kepada istrinya dengan lembut.


"Iya mas, sebentar ya." Ucap Alesha mencuci tangannya terlebih dahulu sebelum menghampiri suami tampannya itu, lalu ia bergegas mendekati sang suami.


"Cinta, mas harus ke kantor sekarang, ada masalah di kantor yang harus Mas tangani, dan tidak bisa di wakilkan. Kamu di sini dulu tidak apa-apa kan cinta? nanti Mas jemput kamu setelah pulang dari kantor, atau mau pulang saja bersama mas?" Ucap Aqiel menanyakan pendapat sang istri.


"Harus banget ya Mas ke kantor hari libur begini?" tanyanya, pasalnya mereka jarang berkumpul seperti ini.


"Iya istriku, mas janji deh kapan ada waktu lagi kita ke sini lagi, atau kita liburan bersama seluruh keluarga, bagaimana cintaku?" ucapnya memberikan pengertian kepada sang istri.


"Iya deh, aku disini aja ya mas, dirumah juga sendirian, mbak sama mbok kan masih di kampung." Jawab Alesha menatap manik sang suami.


"Ya sudah mas berangkat kekantor dulu ya, kamu baik-baik disini, kalau ada apa-apa kabari mas ya." ucapnya sembari mengelus lembut pipi sang istri.


"Mas nggak mau makan siang dulu, setelah makan siang berangkatnya ya mas." Tutur Alesha, karena sang suami belum makan siang.

__ADS_1


"Terima kasih istriku, mas makan siangnya di kantor saja, nanti mas seperti nya akan pulang terlambat. Kamu baik-baik ya cinta." Ucapnya terus menatap netra sang istri dengan tatapan yang meneduhkan.


"Iya mas, mas hati-hati ya." Ucapnya kepada sang suami, bagaimana pun suaminya juga punya tanggung jawab yang besar di perusahaan.


"Ya sudah mas pamit ya cinta, Assalamu'alaikum." ucapnya, Alesha mencium punggung tangan sang suami dengan takzim, Aqiel pun balas mencium kening sang istri lama serta kedua pipinya nya. Lalu pamit kepada ibu dan ayah mertuanya serta semua keluarga, meninggalkan pelataran rumah ayah Anggara menuju kantor miliknya.


"So sweet banget sih suami kamu Sha, kelihatan banget tulus dan sayang banget sama kamu dek." tutur sang kakak yang melihat reaksi keduanya tadi.


"Apaan sih kak, Kakak sama Mas Zain juga sweet banget loh, kalian sudah 3 tahun pernikahan tapi masih seperti pengantin baru." Seloroh Alesha tak mau kalah.


Amora yang mendengar penuturan sang adik hanya senyum-senyum sendiri.


"Cie.. senyum-senyum kenapa tu?" goda Alesha kepada kakaknya itu.


Ibu Alice yang melihat kedua anak perempuannya itu hanya menggeleng-gelengkan kepala sembari tersenyum, bahagia rasanya mendapatkan kedua menantu yang begitu menyayangi serta mencintai kedua anaknya dengan tulus.


Kini makanan telah tertata rapi di meja makan, Alesha memanggil para lelaki beda generasi itu di ruang keluarga untuk segera makan siang bersama. Mereka kini telah berada di meja makan, menikmati makanan yang telah disiapkan oleh para wanita beda generasi itu, setelah menggumamkan doa, semua makan dengan lahap, terutama si bungsu, ya memang sangat doyan makan.


Hingga makan siang usai, Amora dan Alesha membawa piring kotor ke dapur, mencuci piring itu bersama serta membersihkan dapur tempat mereka masak untuk makan seluruh keluarga, sesekali sambil bercerita, ada saja pembahasan dua wanita cantik itu, maklum saja mereka jarang bertemu, jadi sekali bertemu pasti banyak yang akan mereka ceritakan.


Menjelang sore, kini kedua anak perempuan ibu Alice itu jalan-jalan sore di sekitar pekarangan rumah, mereka menyapa para tetangga dan sesekali mengobrol dengan para ibu-ibu itu. Namanya tetangga pasti ada saja yang julit, sehingga salah satu perkataan ibu-ibu itu membuat mood Alesha buruk, ada saja pembahasan mereka jika membahas dirinya.


Hingga ia mengajak sang kakak kembali ke rumah karena malas mendengar omongan para tetangga. Saat Amora dan Zain akan pulang, ia pun ikut pulang dengan kedua kakak dan abang iparnya itu, mereka pamit kepada kedua orang tuanya serta kedua adiknya.


Amora dan Zain pulang dengan kendaraan roda empat berwarna hitam itu, sedang kan Alesha pulang menggunakan taksi. Awalnya Amora sudah menawarkan untuk mengantarkan ia pulang, namun Alesha menolak karena rumah nya dan rumah sang kakak jaraknya sangat jauh, ia tak ingin merepotkan kakak dan abang iparnya itu, jadilah ia pulang menggunakan taksi. Serta tak lupa mengabari sang suami jika ia kini pulang menuju rumah mereka.


.


.

__ADS_1


To Be Continued


__ADS_2